
Tujuh Kakak Periku
Blue Light|Bersambung
- Jumlah kata
- 297.5K
- Popular
- 78.4K
- Subscribe
- 3.3K
- Jumlah kata
- 297.5K
- Popular
- 78.4K
- Subscribe
- 3.3K
Sinopsis
Kevin Lambert sebagai abang ojek yang mengantar makanan, tidak sengaja menemui pacarnya berselingkuh... Saat hidup terasa suram, tiba-tiba muncul tujuh kakak perempuan yang cantik dan masing-masing memiliki latar belakang luar biasa... Kakak pertama CEO cantik, kakak kedua tentara pasukan khusus, kakak ketiga ahli medis, kakak keempat peneliti ilmiah terkemuka, kakak kelima raja investasi, kakak keenam praktisi seni bela diri, dan kakak ketujuh penyanyi dengan jutaan penggemar! Kevin Lambert menerima hadiah pertemuan dari tujuh kakaknya: perusahaan, vila besar, dan berbagai mobil sport... yang lebih hebat lagi, giok yang diberikan oleh guru dari kakak perempuannya ternyata bisa membantunya berkultivasi?
Ulasan
5 ulasan
Imul Jangkit
12/6/25 01:56
nggak asik ni ceritanya ngegantung gitu, lanjutin bang sampai kepin lember menikah dan punya anak dari semua kaka_kakannya
Imul Jangkit
6/6/25 13:36
lanjutannya KA Thor supaya tidak penasaran tentang alur cerita,tentang perkawinan Kevin Lambert bersama enam Kaka Kaka nua
Bab 1
Setelah menghela napas, Kevin Lambert mengetuk pintu sebuah kamar di hotel bintang lima. Sambil menunggu respon dari pemilik barang, pemuda itu mengulang membaca alamat pengiriman, memastikan dirinya benar-benar berada di tempat yang tepat. Barulah ketika yakin tidak salah, Kevin mengedarkan pandangan ke sekeliling, sekadar mengisi kekosongan hingga penghuni kamar tersebut keluar.
Namun, hingga beberapa detik setelahnya, tak ada respon yang baik, sehingga membuat Kevin memutuskan untuk kembali mengetuk pintu itu beberapa kali, sampai akhirnya handel berhasil bergerak diiringi pintu yang terbuka dari dalam, menampilkan seorang pria bertelanjang dada yang menatapnya dengan raut wajah kesal.
"Maaf, Pak, mau mengantar paket," ucap Kevin sambil mengangsurkan barang yang dibawanya.
Namun, ketika benda itu sudah disambut oleh pria di hadapannya, sudut mata Kevin tak sengaja melihat kaki seseorang yang menggantung di kasur. Bukan, bukan sebab kakinya yang menarik perhatian Kevin, tapi gelang yang melingkar di sana, seperti tidak asing.
Kevin terdiam beberapa saat, teringat dengan Sarah Latif, kekasihnya. Beberapa hari lalu, ia memang sempat memberi hadiah gelang kaki pada gadis itu, dan entah kebetulan apa, kenapa benda itu mirip sekali dengan yang dipakai wanita berbalut selimut di dalam sana?
Pandangan Kevin lantas naik ke atas, kemudian berhenti saat melihat jemari wanita itu yang sedang memainkan ponsel. Sejenak Kevin menelan ludah, perasaannya mulai tidak enak, sebab merasa kenal dengan jari-jari lentik juga casing ponsel wanita itu, terlebih ketika sudah melihat rambutnya ….
"Lancang!" seru pria di hadapan Kevin sambil menarik bingkisan yang belum sepenuhnya berpindah ke tangannya. "berani sekali kamu mencuri pandang ke arah privasi orang?!" Pria itu tanpa sungkan mencengkram kerah baju Kevin, lalu menariknya kuat-kuat sehingga jarak keduanya kini begitu dekat.
Kevin yang terkejut dengan tindakan spontan itu kesulitan menjawab, mulutnya terbuka, tapi tak ada sepatah kata yang mampu keluar, hingga tiba-tiba terdengar suara yang sangat familier di telinganya mengalun dengan manja.
"Ada apa, sih, Sayang?"
Bagai tersambar petir, Kevin menoleh pelan ke arah wanita itu, yang ternyata memanglah Sarah, kekasihnya.
Begitu pula Sarah, wanita itu seketika menelan ludah melihat siapa yang sedang berada di hadapan pria yang mengencaninya, dan setelah beberapa detik terpaku, cepat-cepat ia menaruh ponselnya lalu merapatkan balutan selimut di tubuhnya sambil gegas berdiri.
"K-Kevin, kenapa kamu bisa ada di sini?"
Mendengar nada panik dari arah wanitanya, pria matang di hadapan Kevin seketika melepas cengkeramannya, kemudian tertawa terbahak-bahak.
"Kebetulan macam ini?" tanya pria itu dengan nada mencemooh. "Sayang, jangan-jangan ini kekasih kurirmu yang miskin itu?" tanyanya pada Sarah yang membuat wajah wanita itu seketika memerah.
Untuk menutupi rasa malunya, Sarah pun pura-pura merajuk, bibirnya mengerucut sambil berucap manja, "Sayang, kok gitu, sih?"
Wanita itu lantas memunguti pakaiannya yang berserakan, lalu memakainya cepat-cepat, dan setelah selesai ia pun menghampiri dua pria itu, kemudian menatap Kevin lekat-lekat.
"Karena kamu sudah melihat semua, maka aku akan berbicara jujur padamu, kenapa aku bisa seperti ini." Sarah mengalihkan pandangannya ke arah lain, kemudian kedua tangannya dilipat di depan dada, seolah memang enggan menatap Kevin lama-lama. "Kurir miskin. Ya, itu adalah sebutan yang pantas disematkan untuk dirimu."
Kevin terhenyak. "Sarah–" ucapnya lirih yang lantas dipotong oleh kekasihnya itu.
"Kamu itu payah! Kamu tidak bisa memberi kehidupan seperti yang aku inginkan!" Sarah kembali mendongak, menatap Kevin dengan wajah kecewa. "Kamu tidak mampu membeli rumah, tidak mampu membeli mobil, tidak mampu membeli tas bermerk yang aku inginkan! Dan satu lagi." Kali ini raut wajah Sarah berubah sinis, bahkan terkesan menantang dengan menunjuk muka Kevin menggunakan jari telunjuknya. "Kamu, enggak pantas denganku. Maka dari itu, detik ini juga kita selesai!"
Kevin terdiam, menatap Sarah nanar. Ia benar-benar tidak menyangka wanita yang sangat dicintainya bisa sekejam itu. Padahal, selama ini dirinya bekerja banting tulang, tidak pandang siang atau malam, bahkan sampai punya tiga pekerjaan paruh waktu tak lain demi Sarah, demi kebahagiaan gadis itu, tapi nyatanya, malah dibalas dengan perselingkuhan juga hinaan yang sangat menyakitkan.
Kevin menggeleng lemah, merasa sangat hancur dan bodoh. Ia kira, Sarah adalah gadis yang pantas diperjuangkan, dan akan menjadi keluarga satu-satunya yang dimiliki dalam ikatan pernikahan setelah selama ini hidup sebatang kara, tapi ternyata, gadis itu tidaklah lebih baik dari seorang pembunuh berdarah dingin, atau malah bisa dibilang lebih sadis dari itu.
Detik itu, Kevin tersenyum miris, kemudian mengangguk-angguk lemah, baru menyadari bahwa benar kata beberapa orang, bahwa si yatim piatu memang tak pantas bahagia.
Kevin menghela napas, berusaha menahan amarahnya agar tidak menimbulkan kerusuhan, kemudian bertanya dengan pelan pada mantan kekasihnya itu, "Jadi, ini alasannya, kenapa kamu lebih memilih mencari pendamping seorang pria tua?"
Mendengar pertanyaan itu, pria yang sejak tadi hanya menyimak perpisahan tragis sepasang kekasih di hadapannya, tersulut emosinya. Tentu ia tidak terima dikatakan tua.
"Jangan asal bicara, ya!" serunya seraya menarik kembali kerah baju Kevin, tapi kali itu Kevin mampu mempertahankan diri dengan menghempaskan tangan si pria. Sementara Sara yang tidak menginginkan terjadinya baku hantam, segera melerai dengan mengambil tempat di depan si pria.
"Heh, kurir miskin, dengar baik-baik, ya! Dia namanya Angga Prasetya, bukan pria tua! Lagipula, usianya juga cuma beda belasan tahun dengan aku, dan asal kamu tahu, ini adalah masa-masa bagusnya!" Sarah lantas mendongak, menatap Angga dengan tatapan memuja sambil berucap, "Apalagi, hotel ini diurus oleh dia, gajinya mencapai sekian milyar dalam satu tahun. Punya mobil, uang, dan tabungan. Bahkan, hadiah-hadiah darinya memiliki harga jutaan rupiah!"
Diunggulkan demikian, Angga langsung memeluk Sarah dengan intim, bahkan tanpa rasa malu pria itu juga mengambil ciuman pada bibir Sarah, setelahnya menoleh pada Kevin sambil berucap, "Terima kasih, Kevin, sudah membantu menjaga kekasihku selama ini."
Gigi Kevin bergemeletuk. Api di dadanya seperti tersumat, begitu panas dan menyesakkan.
"Bisa-bisanya, gadis secantik ini masih perawan." Angga menarik dagu Sarah kilat, kemudian kembali menoleh pada Kevin yang napasnya terlihat memburu. Melihat itu, Angga semakin merasa di atas angin, dan tertarik menggoda Kevin lagi dengan mengucapkan kata-kata yang sekiranya membuat pemuda itu semakin risih. "Semuanya benar-benar kau jaga dengan baik, Kevin. Kulitnya, tubuhnya, ah, semua terawat indah dan sangat memuaskanku."
Di situ, Kevin yang sudah tidak mampu menahan rasa kesalnya, spontan saja melayangkan tinju ke arah muka Angga. Namun, sial, belum sempat bogem mentah itu mendarat, peluit petugas keamanan sudah berbunyi dari kejauhan.
Kevin menoleh ke belakang dengan geram, tapi tidak bisa berbuat apa-apa karena beberapa petugas itu sudah semakin dekat dan tanpa banyak kata membekuk tangan Kevin.
Angga tersenyum tipis, merasa benar-benar menang, sementara Sarah terus bergelayut manja di lengannya.
"Dasar, bocah ingusan. Kau kira bisa dengan seenaknya menyentuhku?" tanya Angga mencemooh. "sebagai ganjaran atas kelancanganmu, rasakan ini!"
Satu tamparan akhirnya berhasil mendarat di pipi Kevin, membuat pemuda terkejut dengan wajah menoleh ke samping.
"Tua bangka sialan!" ucap Kevin pelan, tapi penuh penekanan. "Bukankah ini tak adil? Kau menyerangku dalam keadaan terbelenggu. Padahal, katanya kau pengurus hotel, lalu kenapa mentalmu seperti mental preman pasar?" ejek Kevin yang sontak membuat dada Angga mendidih, dan berniat kembali menyerang.
Namun, di saat bersamaan, datanglah seorang wanita cantik ke tengah-tengah mereka, yang membuat semua pria di tempat itu terpanah, tak terkecuali Kevin.
"Apakah seperti ini pekerjaan seorang pengurus hotel bintang lima?" tanya wanita itu pada Angga dengan tatapan sinis. "Ribut seperti anak SD?"
Sementara semua yang berdiri di situ, tak terlalu memperhatikan ucapan wanita itu sebab merasa tidak mengenalnya, hanya saja ada sesuatu yang menarik, yakni kecantikan serta kesempurnaan bentuk tubuhnya yang tak dapat dielak membuat mata semua pria terpaku menatapnya, termasuk juga Kevin. Wanita itu berpenampilan sangat menarik dan elegan, dress yang dikenakan juga sangat cocok dengan posturnya yang tinggi dan lekukan tubuh yang indah.
Wanita itu benar-benar gambaran wanita yang nyaris sempurna di muka bumi ini. Kevin bahkan tak pernah melihat ada wanita secantik ini.
Bukan hanya Kevin, rupanya Angga juga terpesona padanya. Bahkan ia tanpa merasa bersalah melepas tangan Sarah, kemudian tanpa risih mendekati wanita itu dalam kondisi tubuh bagian atas yang masih belum terbalut baju. Namun, ketika jarak Angga sudah semakin dekat, wanita itu spontan menampar Angga dengan begitu keras, membuat suasana seketika menjadi tegang.
"Apa yang anda lakukan?" tanya Angga tak terima. Terang saja, setelah ditampar oleh orang tak dikenal, Angga merasa harga dirinya jatuh hingga ke dasar bumi. Sialan!
"Itu adalah balasan kecil untuk orang yang telah berani berbuat semena-mena pada adik saya, apalagi sampai menamparnya seperti yang anda lakukan tadi!" ucap wanita itu tenang, tapi juga penuh penekanan.
"Apa maksud anda–"
Ucapan Angga menggantung di udara, sebab dari kejauhan tampak beberapa pria berjas rapi tengah tergopoh menghampiri keributan yang terjadi, dan yang lebih mencengangkan, mereka semua merupakan para direksi dan pejabat tinggi di hotel ini. Melihat itu, seketika Angga merasakan sebuah firasat buruk.
"Pak Angga, apa yang anda lakukan? Tidak seharusnya anda berbicara seperti itu kepada CEO Pranata!" ucap salah seorang pria yang seketika itu juga membuat Angga ketar-ketir.
"A-apa?" tanya Angga pelan, ia masih tercengang dengan kejadian ini.
"Anda sudah sangat tidak sopan, beliau adalah CEO Pranata," sahut seorang pria yang lain yang kemudian menunduk hormat pada wanita itu.
"CEO Pranata?" gumam Angga yang seketika itu juga teringat dengan nama itu. "CEO Pranata? Sekar Pranata? Oh, astaga!" batinnya seraya mengetatkan gigi, merasa begitu bodoh menjadi orang.
"Benar-benar bodoh!" batin Angga lagi yang wajahnya mulai memerah menahan malu. Sungguh, detik ini rasanya ia ingin menampar kepalanya berkali-kali.
Benar-benar hari yang sial bagi Angga dan Sarah. Kenapa bisa ada kebetulan seperti ini! Bagaimana tidak, Sekar Pranata adalah pendiri kerajaan mega bisnis, Warrior Corp, di antara itu ada tanah dan properti, manufaktur, teknologi, internet dan industri lainnya. Sedangkan hotel ini juga berada di naungan Warrior Corp, di mana artinya Sekar ini juga adalah bos besarnya.
Mengingat itu, Angga akhirnya bergegas membungkuk pada wanita di hadapannya, lalu mengucapkan kata maaf berkali-kali.
"Sepertinya, ada kesalahpahaman di sini. Saya sama sekali tidak menyentuh adik ibu," ucap Angga dengan nada jauh lebih lembut dan sopan dari sebelumnya, tapi hal itu sama sekali tidak menyentuh Sekar Pranata yang justru tersenyum miring.
"Tidak menyentuh bagaimana? Jelas-jelas kau menamparnya, bahkan sebelumnya juga merendahkannya!" Sekar berbicara tegas.
Di situ, kening Angga mengernyit, merasa tidak paham dengan ucapan CEO Pranata, yang pada akhirnya dijelaskan oleh wanita itu jika adiknya adalah pemuda yang ada di hadapan Angga saat ini.
"Hah?" Mulut Angga seketika terbuka, yang ada di hadapannya saat ini adalah Kevin, apakah mungkin yang dimaksud CEO Pranata adalah Kevin? Kurir miskin ini? Apakah tidak salah?
Daftar bab
233 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
233 bab








