
Rise of the Star Realm
Jajajuba|Tamat
- Jumlah kata
- 162.2K
- Popular
- 10.9K
- Subscribe
- 460
- Jumlah kata
- 162.2K
- Popular
- 10.9K
- Subscribe
- 460
Sinopsis
"Saat dunia mencoba menjatuhkanmu, jadilah badai yang mengubah segalanya."
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1: Malam Pengkhianatan
Chen Yan, kebanggaan Klan Chen, adalah seorang pemuda berbakat yang di masa mudanya menjadi lambang harapan. Di usia lima belas tahun, ia telah mencapai tingkat kultivasi yang melampaui banyak tetua, membuat namanya bergema di seluruh Kota Sido. Chen Yan dikenal sebagai "Naga Muda", pemimpin masa depan Klan Chen yang dipercaya akan membawa kejayaan.
Namun, kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Sebuah kecelakaan tragis lima tahun lalu merenggut segalanya. Dalam misi yang ia pimpin, ia diserang oleh musuh yang tak dikenal. Pertarungan itu meninggalkan luka yang menghancurkan dantiannya, memusnahkan kemampuan kultivasinya dan membuatnya terpuruk.
Dantiannya yang dulu bercahaya, menjadi kosong—hancur tanpa harapan pemulihan. Chen Yan, si jenius muda, menjadi seorang yang tak mampu menyerap energi Qi, terlempar dari posisi terhormatnya menjadi pecundang yang dihina semua orang.
****
Hujan deras membasahi pelataran Klan Chen. Chen Yan, yang tubuhnya basah kuyup, mengayunkan pedang kayu di bawah hujan. Setiap tebasannya membawa kemarahan, rasa sakit, dan kekecewaan yang ia tahan bertahun-tahun. Peluh dan air hujan bercampur, membasahi tanah di sekitarnya.
Namun, di tengah semangatnya, suara ejekan menghancurkan konsentrasinya.
"Chen Yan, kau masih saja mencoba?" suara Chen Saiyan, putra Patriark Klan Chen, terdengar jelas meski hujan mengguyur. Di sampingnya, Chen Melan, tunangan Chen Yan yang kini berpaling darinya, menatapnya dengan senyum sinis.
"Kau seharusnya berhenti bermimpi," tambah Chen Melan dengan nada tajam. "Tanpa dantian, kau hanyalah sampah yang tak berguna. Bahkan seekor ayam lebih berguna darimu."
Chen Yan mengabaikan mereka, terus mengayunkan pedangnya. Namun, setiap kata yang mereka ucapkan menusuk hatinya lebih dalam daripada hujan yang menerpa tubuhnya.
"Melan..." Chen Yan akhirnya bersuara, menoleh ke arahnya. "Kau pernah berjanji akan selalu mendukungku, apapun yang terjadi. Apa semua itu hanya dusta?"
Chen Melan tersenyum sinis. "Janji? Itu dulu, saat kau adalah seorang jenius. Kini kau hanya pecundang yang tak pantas berdiri di sisiku. Saiyan lebih pantas untukku, lebih kuat, lebih berharga."
Chen Saiyan tertawa keras, mendekati Chen Yan. "Aku sependapat dengan Melan. Kau tak pantas menyebut dirimu anggota Klan Chen. Bahkan sebagai sampah pun, kau tidak berguna."
Beng!
Tanpa peringatan, Chen Saiyan melayangkan pukulan keras ke arah Chen Yan. Tubuh Chen Yan terpental, menghantam tanah berlumpur.
"Berhentilah mempermalukan dirimu sendiri!" bentak Chen Saiyan, menendang tubuh Chen Yan yang sudah tak berdaya. "Klan ini tak membutuhkanmu. Lebih baik kau lenyap saja dari dunia ini."
Chen Melan menyaksikan semuanya dengan tatapan dingin, tanpa sedikit pun rasa belas kasihan. "Ayahku sudah meminta pembatalan pernikahan kita. Jangan pernah bermimpi aku akan kembali padamu."
Chen Yan, yang wajahnya berlumuran darah, menatap mereka dengan mata penuh kebencian dan kesedihan. "Kalian boleh menghina aku sekarang, tapi ingat ini: aku tidak akan selamanya terpuruk!"
Chen Saiyan hanya tertawa sinis. "Teruslah bermimpi, Chen Yan. Tapi ingat, impian tak akan mengubah kenyataan."
Chen Yang bangkit dan mengayunkan Pedang Kayu di tangannya.
"Chen Yan, kau masih berusaha?" tanya Chen Saiyan sambil menyilangkan tangan di dada. "Kau sungguh tidak tahu malu. Pedang kayu itu tak akan mengembalikan dantianmu yang hancur."
Chen Melan tersenyum tipis, tatapannya dingin. "Lihat dirimu, Chen Yan. Kau bahkan tidak pantas disebut manusia sekarang. Jangankan memimpin klan, untuk melindungi dirimu sendiri saja kau tak mampu."
Chen Yan menghentikan ayunan pedangnya. Tatapan tajamnya mengarah pada mereka, meski tubuhnya gemetar karena kelelahan dan rasa sakit. "Melan, apa kau lupa semua yang kita lalui bersama? Kau pernah bilang akan selalu mendukungku, apapun yang terjadi."
Chen Melan mendekat, suaranya pelan namun menusuk. "Itu dulu, Chen Yan. Saat kau masih jenius. Sekarang kau hanya sampah. Aku tidak butuh pria yang hanya bisa hidup dari belas kasihan orang lain."
Chen Saiyan tertawa, suaranya bergema di tengah hujan. "Kau dengar itu? Bahkan Melan sudah tak menginginkanmu lagi. Aku tak tahu apa yang lebih menyedihkan, kehilangan kekuatan atau kehilangan tunangan yang dulu memujamu."
Chen Yan mengepalkan tangannya, namun tubuhnya terlalu lemah untuk melawan.
"Tidak ada gunanya marah," lanjut Chen Saiyan. "Kau harus menerima kenyataan. Dunia ini hanya menghormati kekuatan. Tanpa itu, kau tidak ada artinya."
Chen Saiyan mengangkat kakinya dan menendang Chen Yan dengan keras hingga tubuhnya terjatuh ke tanah berlumpur. Darah mengalir dari sudut bibir Chen Yan, namun ia tidak mengeluarkan suara sedikit pun.
"Kau bahkan tidak punya keberanian untuk melawan. Kau benar-benar pecundang," ejek Chen Saiyan sambil meludah di tanah.
Mereka meninggalkannya tergeletak di tanah, tubuhnya menggigil karena luka dan dinginnya hujan.
Malam itu, Chen Yan terbaring sendirian di halaman, dengan darah yang mengalir dari sudut bibirnya. Wajahnya menatap langit kelam, namun pikirannya dipenuhi bayangan kelam dari kejadian masa lalu.
Kecelakaan itu... Pengkhianatan itu... Semua terjadi begitu cepat. Dalam sekejap, dunia yang ia kenal berubah menjadi neraka.
"Mengapa aku harus kehilangan semuanya? Mengapa aku harus hidup dengan kehinaan seperti ini?" pikirnya, air mata mengalir di wajahnya.
Teringat masa-masa kejayaannya, Chen Yan mengepalkan tangannya. Dahulu ia berdiri di puncak, dihormati dan dikagumi. Namun kini, ia hanyalah pecundang yang dihina bahkan oleh keluarganya sendiri.
Suara ayahnya, Chen Oyang, terngiang di telinganya. "Kau telah mengecewakan klan ini, Chen Yan. Kau adalah harapan kami, tapi kini kau hanya beban. Jika saja kau tak kehilangan kekuatanmu..."
Rasa sakit itu membakar di dalam dada Chen Yan. Hujan terus mengguyur, tapi di dalam hatinya, api tekad mulai menyala.
"Aku akan bangkit. Aku akan buktikan pada mereka semua bahwa aku masih layak untuk dihormati. Aku, Chen Yan, tidak akan berhenti sampai dunia ini tahu siapa aku sebenarnya."
Di bawah hujan yang terus mengguyur, Chen Yan bersumpah pada dirinya sendiri. Sumpah itu menjadi pijar kecil di tengah kegelapan yang menyelimutinya.
Hancur memang, tapi Chen Yan belum kalah.
Chen Yan terbaring tak berdaya di tengah hujan. Tatapan matanya kosong, pikirannya dipenuhi bayangan kelam dari masa lalu.
Ia teringat momen saat dantiannya dihancurkan. Dalam pertarungan itu, ia dikhianati oleh seseorang yang ia percayai. Pengkhianatan itu lebih menyakitkan daripada luka fisik yang ia derita.
"Mengapa aku harus kehilangan segalanya?" pikir Chen Yan, air mata bercampur dengan air hujan yang mengalir di wajahnya.
Ia juga teringat saat Chen Oyang, ayahnya, menatapnya dengan kekecewaan mendalam. "Kau adalah kebanggaan klan ini, Chen Yan. Namun sekarang kau hanya beban."
Kata-kata itu menusuk hatinya lebih dalam daripada ejekan Chen Saiyan atau penghinaan Chen Melan.
Namun, di tengah kehancurannya, sebuah percikan kecil muncul di dalam hatinya.
"Aku tidak bisa terus begini. Aku tidak akan membiarkan mereka menindasku selamanya."
Dengan sisa tenaganya, Chen Yan menggenggam pedang kayu yang tergeletak di tanah. Meski tubuhnya lemah, meski dunia menolaknya, ia bersumpah untuk bangkit.
"Suatu hari, kalian semua akan melihat. Chen Yan akan kembali."
Di tengah hujan yang tak kunjung reda, Chen Yan mengangkat tubuhnya perlahan. Meski luka menghiasi tubuhnya, meski rasa sakit menggerogoti jiwanya, ia tetap berdiri. Hujan menjadi saksi sumpahnya.
DING...
Saat Chen Yan mencoba bangkit, sebuah suara asing terdengar di kepalanya.
[DING... Tubuh pengguna cocok. Sistem Surgawi diaktifkan.]
Chen Yan membuka matanya lebar, tatapannya bingung. "Apa ini suara di kepalaku?"
[Selamat, pengguna. Anda telah dipilih sebagai penerima Sistem Surgawi. Misi utama Anda adalah membangun kembali kekuatan Anda. Apakah Anda ingin melanjutkan?]
Chen Yan mematung. Suara itu begitu jelas, seperti berasal dari dalam dirinya sendiri. Dalam kebingungan, ia menjawab dengan ragu, "Ya. Aku ingin melanjutkan."
[Sistem diaktifkan. Menyesuaikan tubuh pengguna.]
Seketika, Chen Yan merasakan sensasi panas yang luar biasa di seluruh tubuhnya. Rasa sakit menusuk, namun bersamaan dengan itu, ia merasakan energi aneh yang mulai mengalir dalam dirinya.
"Pemindaian selesai. Dantian hancur terdeteksi. Memulai proses rekonstruksi awal."
Chen Yan tertegun. "Rekonstruksi dantian? Apa ini nyata?"
Namun, sebelum ia bisa berpikir lebih jauh, rasa panas itu berubah menjadi nyeri yang lebih intens. Ia menggigit bibirnya, menahan teriakan yang nyaris keluar. Hujan yang mengguyur tubuhnya terasa seperti api yang membakar, seolah-olah tubuhnya sedang ditempa ulang.
Beberapa saat kemudian, rasa sakit itu mereda. Chen Yan terengah-engah, tubuhnya bergetar. Namun, ia merasakan sesuatu yang berbeda di dalam dirinya. Ada percikan kecil energi, sesuatu yang selama ini ia pikir telah hilang selamanya.
[Rekonstruksi awal selesai. Dantian telah diperbaiki. Kemampuan pengguna untuk menyerap Qi telah diaktifkan kembali.]
Chen Yan mengepalkan tangannya. Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, ia merasakan energi Qi yang mengalir di tubuhnya, meski lemah.
Ia tersenyum samar, lalu menatap langit. "Aku tidak tahu apa ini, tapi jika ini kesempatan untuk bangkit, aku tidak akan menyia-nyiakannya."
Hujan terus mengguyur, namun kali ini, Chen Yan merasa lebih ringan. Di tengah malam yang kelam, sebuah percikan harapan muncul di dalam dirinya.
"Chen Saiyan, Chen Melan dan semua yang merendahkanku. Tunggu saja. Aku akan kembali lebih kuat dari sebelumnya.”
Daftar bab
140 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
140 bab








