
Jalan Dewa Iblis
lelanangjagat|Bersambung
- Jumlah kata
- 159.4K
- Popular
- 23.3K
- Subscribe
- 863
- Jumlah kata
- 159.4K
- Popular
- 23.3K
- Subscribe
- 863
Sinopsis
Aku bukan dewa atau iblis tetapi aku adalah penguasa para dewa dan iblis. Dengan jalanku akan aku balaskan dendamku Dengan Jalanku akan aku hancurkan apapun yang menghalangiku. Dengan jalanku akan aku ciptakan takdirku sendiri.
Ulasan
4 ulasan
Johan Walimsyah
4/3/25 10:52
aku seperti d bawa ke jaman Majapahit masih berjaya, nama tokoh tokoh ny keren abis, mantap jiwa ,,, lanjut thooooorr
PILIHANlelanangjagat
2/9/26 09:35
apakah masih ada yang baca ceritanya ini n penasaran dengan kelanjutannya? ada yangbmau balas dunk reader's ku yang paling cantik n ganteng
bab 1. Jagat Bairawa
Buuk! Buuuk!
“Aaaaaargggh! Aaaarrrggghhh!”
Suara tendangan dan pukulan bercampur suara Jagat Bairawa yang mengerang kesakitan. Jagat Bairawa hanya bisa meringkuk sambil melindungi kepala dengan tangannya.
Semakin keras Jagat Bairawa mengaduh, maka pukulan, tendangan juga semakin keras menghantam. Orang-orang yang menyerang dirinya juga bertambah bersemangat untuk mentertawakannya. Akhirnya tubuh kurus Jagat Bairawa pingsan tidak sanggup menanggung beratnya siksaan.
“Sudah cukup Bragawangsa untuk hari ini. Membuatnya mati lebih cepat hanya menghilangkan kesenangan kita saja,” ucap Wiradigda tertawa puas setelah Jagat Bairawa pingsan.
Ayah Wiradigda adalah Akuwu Wijangsaka yang memimpin wilayah Sentongbolong dengan tangan besi. Cara itu selain rakyat takut padanya juga mudah untuk menindas mereka.
“Dasar budak lemah! Sudah pingsan saja, padahal aku juga baru mulai berkeringat, sial!” dengus Bragawangsa sambil meludah ke arah Jagat Bairawa. Mereka meninggalkan begitu saja tubuh kurus Jagat Bairawa yang tergeletak tidak bergerak di lantai.
Nasib sial yang dialami Jagat Bairawa adalah ritual rutin sebelum tidur, padahal sudah seharian tenaganya diperas habis bekerja menambang emas. Upahnya hanya semangkuk nasi yang kini telah tersebar di lantai.
Keinginan untuk membalas kematian ibunya yang dibunuh komplotan Wiradigda menjadi alasannya tetap bertahan. Andai tidak mengingat hal itu, telah lama Jagat Bairawa mengakhiri hidupnya.
“Tunggu saja sampai aku berhasil kabur, saat itu nyawa kalian aku tagih,” ucap lirih Jagat Bairawa yang telah membuka matanya.
Jagat Bairawa setelah menghela nafas panjang beberapa kali, lalu mulai memaksa bangkit, meski sekujur tubuhnya terasa remuk redam. Sambil menggertakkan giginya dengan penuh tekad tubuhnya diseret menuju pojok ruangan.
Sebilah pedang buntung berwarna hitam penuh berkarat diambil dari balik dinding batu, lalu sambil menyandarkan tubuhnya yang lemah, benda itu didekap erat ke dadanya. Seketika terlihat dari bilah pedang itu keluar aura Hitam yang langsung menyelimuti tubuh Jagat Bairawa.
Seperti sedang bersamadhi dia tetap diam sampai lebih dari satu jam lamanya. Setelah matanya terbuka sekonyong-konyong tubuhnya bergegas bangkit dengan penuh tenaga. Ajaibnya lagi luka disekujur tubuhnya yang membiru kini sudah tidak berbekas.
“Benda yang istimewa, andai aku tidak memiliki ini, tentu sudah sejak lama aku mati,” gumam Jagat Bairawa dengan senyuman lebar, seolah dia tidak pernah merasakan penderitaan yang membuatnya hampir mati.
"Kini waktunya kabur,” tekad Jagat Bairawa bergegas menarik satu-persatu batu-batu dinding sel penjara.
Sebuah lubang kini nampak. Tidak lebar dan hanya cukup dimasuki dengan cara merayap. Lubang itu dibuat Jagat Bairawa secara perlahan-lahan sejak tiga tahun lalu menggunakan bilah pedang usang di tangannya.
Malam ini Kota Kadipaten sedang mengadakan pesta besar, peringatan penobatan Adipati Rangga Bairawa yang menguasai Kadipaten Wukir Samudera. Itu alasan Jagat Bairawa memilihnya untuk kabur, karena biasanya Wiradigda dan hampir seluruh bawahannya akan pergi kesana dan hanya meninggalkan segelintir penjaga.
“Sudah aman, Ini waktunya keluar,” gumam Jagat Bairawa sambil berhati-hati membuka tutup lubang. Lalu Jagat Bairawa mulai berjalan mengendap-endap menembus gelapnya malam berniat kabur.
Baru juga beberapa langkah, suara mengejutkan langsung menghentikan langkah Jagat Bairawa. Tubuhnya langsung bergetar ketakutan.
“Akhirnya kau muncul!”
Prak!
“Bagaimana kalian tahu?”
“Budak bodoh, kau pikir kami tidak mengetahui rencanamu untuk kabur?” cibir Bragawangsa. Hantaman keras darinya membuat Jagat Bairawa terjungkal. “Ingin kabur, mimpi saja kau bodoh!”
Wiradigda dan juga beberapa bawahannya yang muncul langsung menghajarnya tanpa ampun. Setelah cukup puas barulah mereka menyeret tubuh Jagat Bairawa kembali ke dalam penjara bawah tanah.
“Kali ini kau akan mati menjadi santapan Randu Wingit si iblis jahanam,” ancam Wiradigda.
“Jangan, ampun tuan, ampun tuan, jangan masukan saya kesana, aku tidak mau menjadi santapan iblis jahanam!” Jagat Bairawa kali ini langsung pucat dan penuh ketakutan. Menjadi santapan iblis jahanam adalah sesuatu akhir yang sangat mengerikan.
Ratapan Jagat Bairawa yang berharap belas kasihan justru membuat Wiradigda bertambah bersemangat untuk menjadikannya santapan iblis jahanam.
“Keinginan bodohmu kali ini dibayar mahal. Kau sudah tahu seharusnya, hukuman mati bagi yang berani kabur. Jadi mulai berdoa lah, semoga iblis jahanam membunuhmu dengan cepat!” sambung Wiradigda.
Bragawangsa terus tertawa lebar sambil menyeret tubuh kurus Jagat Bairawa melewati lorong penjara bawah tanah. Para budak yang dikurung mulai berbisik-bisik. Sebagian sedih, lainnya justru bersyukur, sebab bulan ini sudah ada yang menjadi santapan Randuwingit.
Setiap satu, dua, atau tiga bulan ada saja yang sengaja diumpankan untuk menjadi santapan Randuwingit. Ada yang sial terkena hukuman mati, sebagian lagi sial menjadi korban Wiradigda dan Bragawangsa untuk bersenang-senang.
Demi memastikan Randuwingit tidak dapat kabur, pintu sel dibuat dari baja tebal dengan dihiasi gembok-gembok besar. Meskipun begitu, Wiradigda tetap tidak berani mendekatinya, bahkan dari jarak dua puluh meter dia sudah berhenti, apalagi saat itu suara menggelegar telah terdengar begitu mengerikan dari balik pintu.
“Bangsat kalian, cepat beri aku makanan! Kurang ajar, berani sekali membuatku kelaparan!”
Rupanya hawa kedatangan mereka telah dirasakan oleh Randu Wingit.
“Bragawangsa,” panggil Wiradigda.
Seperti mengerti apa yang diinginkan, Bragawangsa langsung menganggukkan kepala. Kain basah dia tutupkan ke setengah wajahnya, lalu mulai membakar sumbu bumbung bambu yang sedari tadi dipegang.
Bragawangsa kemudian berlari dan melemparkan bumbung bambu melalui lubang di tengah pintu. Dengan cepat asap tebal memenuhi ruang tahanan. Teriakan kemarahan semakin menjadi terdengar dari balik pintu baja.
“Biarkan asap beracun bekerja, setelah Randu wingit tertidur segera lemparkan sampah ini masuk!” perintah Wiradigda.
Setelah beberapa waktu ledakan teriakan Randuwingit berhenti. Wiradigda sempat mengernyitkan dahi, sebab waktu yang dibutuhkan untuk membuat Randu Wingit tertidur jauh lebih lama dari biasanya.
Mereka terlihat begitu berhati-hati tidak mau mengambil resiko, karena sedikit saja mereka membuat kesalahan, maka kematian yang justru di dapat. Alasan itu juga yang membuat WIradigda tidak berani mendekat dan memilih menyuruh anak buahnya dari kejauhan.
“Sialan, dosis racun penidur yang kita gunakan sepertinya sudah tidak ampuh, catat ini Bragawangsa, lain kali gunakan dosis yang lebih kuat,” ucap WIradigda.
Dengan isyaratnya tubuh Jagat Bairawa diseret ke dalam sel, meski berusaha berontak, tetapi sayang Jagat Bairawa tidak mampu melawan. Jagat Bairawa kini hanya bisa memohon belas kasihan, tetapi sayang suaranya yang serak hampir habis itu justru dibalas dengan tendangan tanpa ampun. Tubuhnya lalu dilemparkan ke dalam sel dan bergegas Bragawangsa mengunci dari luar.
“Tuan Wiradigda ampuni aku, keluarkan aku,” pinta Jagat Bairawa dengan penuh ketakutan. Matanya menangis deras masih berharap Wiradigda dan lainnya yang berada diluar berbelas kasihan padanya.
Mendadak sebuah suara terdengar dari arah belakangnya dan seketika itu juga tubuhnya bergetar hebat penuh ketakutan.
“Akhirnya makanan datang, kemarilah aku sudah sangat lapar!”
Daftar bab
151 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
151 bab








