
Dewa Kematian Pengantar Maut
Black Shinigami|Tamat
- Jumlah kata
- 260.3K
- Popular
- 14.4K
- Subscribe
- 938
- Jumlah kata
- 260.3K
- Popular
- 14.4K
- Subscribe
- 938
Sinopsis
Gadis yang kusukai dilecehkan hingga tewas, tapi aku yang malah dituduh membunuhnya. Orang tuaku percaya aku tidak bersalah dan berusaha membelaku, tapi mereka berakhir tewas dalam suatu kecelakaan mobil! Aku mau balas dendam! Kalian semua bilang aku penjahat, maka aku akan menjadi penjahat yang sesungguhnya!
Ulasan
3 ulasan
Aina
2/10/25 01:38
Halo kak, saya mampir, salam kenal saya Jennie, jangan salah sangka napen saya kak berbeda 🤭 Untuk novel Kaka bagus, teruskan ya kak! Kalo berkenan mampir ke novel saya kak "Rebel Heart & Tumpukan Buku" Semoga Kaka Suka dan mengikuti sampai tamat, ya kak. Makasih banyak 🙏🏻
Leva Lorich
17/8/25 02:44
SERU-SERUAN LAGI YUK DI 'RAKA SI RAMAH (RAJIN MENJAMAH)'. KISAHNYA TENTANG RAKA YANG SUKA MERANGKUL WANITA, RAKA YANG SUKA MENEPUK BAGIAN BELAKANG TUBUH WANITA, RAKA YANG...
BAB 1
Tahun 2000, Joel Pramono menghadiri reuni sekolahnya dengan hati berdebar. Sudah tiga tahun dia menaruh hati pada gadis tercantik di sekolahnya, dan malam itu dia mengumpulkan keberanian untuk menyatakan perasaannya.
Di tengah acara reuni yang dihadiri begitu banyak mantan teman sekolahnya, Joel mengedarkan pandangan untuk mencari sosok gadis tercantik yang ia maksud.
Begitu banyaknya orang-orang yang hadir di tempat itu membuat pandangan Joel sulit menemukan gadis impian yang ia cari. Ia berjalan mengitari ruangan dari sudut ke sudut hanya untuk menemukan keberadaan sang dewi pembetot sukma yang sudah menawan jiwanya.
"Hei, Joel. Makin tampan saja kau sekarang." Tegur salah satu teman sekelasnya yang melihat Joel melintas.
Tapi Joel hanya tersenyum dan tak terlalu peduli. Fokusnya hanya pada satu tujuan. Ia kembali melangkah sambil mempertajam penglihatannya.
Dan benar saja, di pojok ruangan sebelah utara, tepat di sebelah pot bunga besar yang menghiasi ruangan tersebut, terlihat gadis cantik incaran Joel sedang berdiri dan bercengkrama dengan dua teman wanita lainnya.
Dengan penuh niat, setelah mengumpulkan seribu keberaniannya, Joel mendekat pada gadis tersebut dan reflek memetik satu bunga dari pot besar di sampingnya. "Duhai bidadari terindah di jiwa. Ijinkan aku menyuarakan gejolak di dalam dada. Aku sangat mencintaimu dan selalu berharap kau akan menjadi milikku. Maukah kau menerima permohonan cinta terbaik, yang telah lama terkatung-katung dan berlabuh di genangan sukmaku?" Joel menghela napas lega setelah mengucapkannya. Ia butuh satu bulan penuh untuk menghafal kalimat puitis tersebut.
Tak lupa Joel mengeluarkan kotak kecil dari balik saku celananya. Joel membuka kotak tersebut, berisi sebuah cincin perak bermata batu mulia blue safir. Untuk seorang pemuda berusia sembilan belas tahun seperti Joel, cincin perak seharga beberapa ratus ribu sudah cukup mahal baginya.
Gadis itu menoleh, menatap dingin. "Kau gila, ya? Sok kepedean. Sana pergi. Najis!"
Plakk!
Tak hanya itu, sang gadis juga menampik kotak cincin di tangan Joel hingga terlempar beberapa meter.
Dua teman wanita si gadis yang masih berdiri mematung di sebelahnya, juga beberapa pria dan wanita lain di sekitar tempat kejadian kecil itu menatap dengan berbagai ekspresi.
"Dia merayu bunga sekolah? Apa tidak salah? Seharusnya ia bercermin dulu." Bisik seorang wanita.
"Anak tolol. Dia ingin menyaingiku? Mimpi saja sana." Cibir seorang pria yang berdiri tak jauh dari sana.
"Seperti pungguk merindukan bulan. Atau lebih tepatnya, sang kodok yang mengharapkan putri istana. Itu tidak masuk akal!" Desis yang lainnya lebih pedas.
"Kasihan, Joel. Dia pria polos dan lugu," ada juga yang merasa iba melihat kejadian itu.
"Mungkin dia lupa mandi saat berangkat. Pikirannya jadi kacau."
"Mungkin dia belum keramas,"
"Mungkin celana dalamnya belum di cuci."
Berbagai bisikan orang-orang riuh rendah terdengar di telinga Joel. Namun ia mengabaikan itu semua.
Joel hanya mampu tertegun. Ia merasa seperti dunia runtuh di hadapannya. Dengan langkah gontai ia pergi dari hadapan gadis idamannya tanpa sepatah kata.
Merasa patah hati dan putus asa, Joel melangkah keluar begitu saja dari acara reuni sekolah. Pikiran Joel begitu kalut, namun hatinya juga panas karena merasa diremehkan oleh sang gadis.
"Sial! Apa aku terlalu terburu-buru untuk mengungkapkannya? Tapi ini sudah tiga tahun lho. Aku menyesal telah menyatakan cinta padanya jika tahu akan berakhir seperti ini." Joel mengomel sendiri menyesali pilihan langkahnya.
Joel tak sepenuhnya keluar dari hotel itu. Setelah keluar dari ruang pertemuan hotel tempat diadakannya reuni, Joel memantapkan langkahnya menuju bar yang juga berada di hotel tersebut.
"Mungkin sebotol alkohol bisa menenangkanku," pikir Joel asal.
Nyatanya, Joel masih terbilang awam dalam urusan minum. Sebelumnya, ia hanya pernah sesekali minum, tapi itupun hanya dari sebuah gelas kecil.
Kalut, kesal, emosi, sedih, bercampur menjadi satu dan menyesak di dalam kerongkongan jiwa Joel. Otaknya sudah tidak lagi mampu untuk berpikir jernih. Rencana hanya minum satu botol, kini berubah menjadi berbotol-botol karena terhimpit rasa sesak di dada.
"Gadis cantik, gadis terkutuk. Ternyata lebih seksi lekukan botol ini daripada tubuhmu. Dan mulut botol ini, jauh lebih sopan dari mulutmu yang bergincu itu." Racau Joel dalam kondisi mabuk berat.
"Persetan dengan bunga tercantik di sekolah. Brengsek!" lanjutnya kacau.
Joel terus menenggak botol demi botol tanpa henti. Malam itu dia kehilangan kendali, pikirannya mengabur dalam pusaran mabuk yang dalam hingga ia tertelungkup di atas meja bar dengan mata terpejam.
—-
Mentari pagi menerobos kaca jendela sebuah kamar hotel. Joel menggeliat dalam tidurnya saat rasa hangat sinar matahari menjamah wajahnya. Perlahan Joel membuka mata. Ia berusaha bangkit dengan menahan rasa pusing di kepala dan tubuh yang terasa berat.
Baru saja duduk, Joel terkesiap saat mendapati tubuhnya yang telanjang. "Dimana ini? Kok tubuhku telanjang?" Joel memutar pandangan ke segala arah.
Namun ia semakin terperangah saat melihat gadis yang kemarin menolaknya kini juga terbaring di sisinya dengan pakaian yang robek di sana sini mempertontonkan area-area sensitif ditubuhnya.
"Gadis terkutuk?!" pekik suara Joel tertahan.
Mata Joel terpicing mencermati kondisi tak lazim pada tubuh gadis itu. Cairan sperma dan darah mengering di bagian lembah rerumputan sang gadis. Wajahnya juga penuh lebam seperti telah mengalami penganiayaan dan kekerasan seksual.
Joel meraba hidung gadis tersebut. Mata Joel terbelalak seketika. "Tidak ada napasnya!"
Cepat-cepat Joel bergeser memeriksa nadi di pergelangan tangan. "Tak ada denyut nadi! Dia mati?!"
"Apa aku telah memperkosanya? Tidak mungkin!" Joel bahkan memeriksa ujung moncong serdadu botaknya dan memastikan tak ada sisa lelehan sperma mengering di sana.
Namun, tiba-tiba…
Brakk!
"Angkat tangan dan jangan melawan!" Sekelompok polisi masuk dengan mendobrak pintu kamar hotel. Mereka menodongkan beberapa pistol ke arah Joel.
Polisi bergerak cepat dan langsung memborgolnya. "Kau ditangkap karena telah melakukan pemerkosaan dan pembunuhan. Ada saksi mata yang melihatmu memaksa korban masuk ke kamar hotel ini." Ucap seorang polisi tegas.
"Tidak! Apa-apaan kalian? Aku bisa menjelaskan. Aku tidak bersalah." Meskipun Joel bersikeras bahwa dirinya tidak bersalah, bukti yang ada mengarah padanya.
Proses pengadilan berjalan singkat, dan dia dijatuhi hukuman penjara seumur hidup dan dikirim ke Penjara Panama pada usia sembilan belas tahun.
—-
Di depan penjara, kedua keluarga bertemu. Orang tua Joel berlutut di tanah, menangis dan memohon keadilan bagi putra mereka. Di sisi lain, keluarga korban menatap mereka dengan kebencian yang membara.
"Kalian melahirkan seorang monster!" teriak salah satu anggota keluarga korban.
Suasana semakin panas, dan tiba-tiba, perkelahian pecah. Jumlah keluarga korban lebih banyak, membuat orang tua Joel menjadi sasaran amukan mereka. Ayah Joel, Arhan Pramono, dihajar hingga wajahnya berlumuran darah, tetapi dia tetap berdiri tegak.
"Jangan takut, Nak!" teriaknya dengan suara serak, menatap putranya yang duduk di dalam mobil tahanan. "Ayah akan membuktikan bahwa kau tidak bersalah!"
Air mata Joel jatuh. Mobil tahanan melaju, membawa dia menuju kehidupan yang lebih buruk dari kematian.
---
Penjara Panama bukan tempat bagi orang yang lemah. Begitu dia masuk ke dalam selnya, tujuh pria tahanan berbadan besar sudah menunggunya.
"Kenapa kau ada di sini?" tanya seorang pria dengan luka panjang di wajahnya.
Joel menjelaskan bahwa dia dijebak. "Seorang gadis meninggal dengan tanda kekerasan seksual di dalam kamar yang sama denganku. Tapi aku merasa tak pernah melakukan itu."
"Kamu saja sudah melakukannya, masih pura-pura tidak bersalah!" Pria bercodet itu tidak percaya, lalu menghantam Joel hingga jatuh ke lantai dan menyemburkan darah.
"Coba ceritakan kepadaku, gimana kamu main-main sama wanita itu, biar aku terhibur!" Pria bercodet itu menyeringai, lalu menjilat bibirnya.
Joel menggeleng dengan lemah. Namun, dia hanya mendapatkan lebih banyak pukulan sebagai balasan. Tinju dan tendangan menghantam tubuhnya, membuatnya berguling kesakitan di lantai.
Setelah wajahnya lebam dan bengkak, pria bercodet kembali bertanya, tetapi Joel tetap berpegang pada kebenarannya.
Pria itu mendengus, lalu memberi isyarat kepada anak buahnya. Mereka mengangkat tubuh Joel dan menggantungnya di sel, membiarkan dia tergantung sambil dipukuli selama lebih dari satu jam.
Mereka akhirnya berhenti ketika Joel tak sadarkan diri. Mereka takut Joel akan meninggal karena disiksa terlalu banyak.
Namun, penderitaannya tidak berakhir di situ. Joel menjadi sasaran pemukulan dan penghinaan setiap hari. Ditampar dan dipukuli sudah menjadi bagian dari kehidupannya di dalam penjara.
Ketika dia melapor kepada penjaga, salah satu anak buah pria bercodet hanya dihukum ringan. Akibatnya, malam itu dia justru dianiaya lebih brutal lagi, nyaris kehilangan nyawanya.
Sejak saat itu, setiap kali melihat mereka, dia hanya bisa berusaha menghindar.
---
Satu-satunya harapan Joel adalah orang tuanya. Mereka pasti sedang berusaha membuktikan bahwa dia tidak bersalah. Setiap bulan ada jadwal kunjungan, dan mereka tidak pernah absen.
Namun, setelah tiga bulan berlalu, mereka tak juga berkunjung lagi hingga satu bulan lebih.
Ketidakpastian itu membuat Joel gelisah. Perasaan takut mulai menghantui pikirannya. "Apa yang terjadi pada mereka?" gumamnya lirih.
Akhirnya, dia meminta seorang penjaga baik hati bernama Valentinus untuk mencari tahu keadaan orang tuanya.
Keesokan harinya, Valentinus datang dengan wajah muram.
"Ada kabar buruk, Joel..." kata Valentinus dengan suara berat.
Joel menahan napas.
"Saat mengajukan banding untukmu, orang tuamu mengalami kecelakaan mobil dan meninggal dunia."
"Tidakkk!"
Dunia Joel hancur.
Dia terjatuh ke lantai, tangannya mencakar ubin, berusaha menahan perasaan yang menghantam dadanya seperti gelombang badai. Air matanya mengalir tanpa henti.
Mereka satu-satunya harapannya. Dan sekarang mereka tiada.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia merasa benar-benar sendirian.
---
Malam itu, Joel hanya duduk diam, tenggelam dalam lautan kesedihan.
Namun, para tahanan yang selalu mengganggunya tidak peduli dengan keadaannya. Mereka merampas makanannya dan hanya menyisakan tulang-tulang.
Joel tetap diam, menatap kosong ke arah makanan yang sudah diinjak-injak.
Tatapannya membuat mereka marah.
"Kau menatap seperti itu kenapa? Mau melawan?" Pria bercodet menyeringai, lalu meludah ke dalam piringnya. "Makan itu. Sekarang."
Joel tetap diam.
"Apa kau tuli?" Pria itu menarik kerah baju Joel dan meninju wajahnya.
Namun, sesuatu dalam diri Joel berubah.
Kesedihannya berubah menjadi kemarahan yang membara.
Dia kehilangan segalanya, kebebasan, kehormatan, dan sekarang orang tuanya.
Jika dunia ini ingin menghancurkannya, dia tidak akan diam saja.
Mau mati pun, dia juga harus mengajak seseorang mati bersamanya! Joel menatap lekat pria bercodet itu, tatapan matanya kini penuh dengan kebencian. "Berani-beraninya kamu melototi aku?!" Pria bercodet itu mengumpat, lalu mengangkat nampan makanan menghantam wajah Joel. Namun, saat itu juga, Joel bergerak! Dia bergerak lincah mengambil sumpit kayu di sampingnya, menggenggam erat, kemudian mengeluarkan sekuat tenaga menusuk ke mata kiri pria bercodet itu!
Daftar bab
208 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
208 bab








