
- Jumlah kata
- 129.2K
- Popular
- 273
- Subscribe
- 85
Sinopsis
Dia difitnah dan ditumbalkan untuk menutupi kesalahan orang lain sehingga pada akhirnya ia dibangkitkan dan menuntut balas atas semuanya.
Ulasan
1 ulasan
Aulia Hazuki
20/7/25 01:35
Hai kak semangat terus nulisnya ya 🙏 kalau berkenan boleh mampir ke novelku "Rumah Laba-laba" dan subscribe balik terima kasih banyak kak 🙏
BAB 1 DI TENGAH MALAM
"Jangan bergerak!" teriak Sandi menyaingi hujan, berusaha menangkap perhatian sosok yang melarikan diri di depannya.
Figur tinggi berjaket hitam itu hanya menoleh sejenak sebelum melesat lebih cepat.
Lari di tengah malam yang kelam membuat Sandi harus memusatkan semua penglihatannya pada sosok yang berusaha melarikan diri.
Sementara tangannya sudah siap di sabuk, menggenggam pistol dengan erat. Hatinya berdebar, bukan hanya karena adrenalin, tapi juga karena pentingnya menangkap sosok yang ditengarai sebagai buronan yang dicari selama bertahun-tahun.
Tersangka berbelok tajam ke jalan kecil, merobek kesunyian malam dengan suara langkahnya yang berat.
“Dia tidak bisa jauh.” Sandi berpikir sembari mengatur napasnya dan mengikuti jalur yang sama.
Sandi bisa merasakan jika pandangannya semakin tajam, fokus pada setiap gerakan yang ditunjukkan penjahat itu.
Tiba-tiba, penjahat itu melompat ke trotoar, berniat untuk menghilang di balik bayang-bayang gedung.
Namun, Sandi sudah siap. Dengan satu langkah cepat, dia mengarahkan pistolnya, bibirnya hampir tak berdaya mengucapkan perintah.
"Berhenti!" teriaknya, suara tegas menggema di tengah hujan.
Penjahat itu berusaha bersembunyi, namun Sandi tidak memberi ampun. Tanpa banyak bicara, peluru meluncur ke arah target, menembus udara malam.
Bunyi tembakan memecah kesunyian, dan seketika itu juga, penjahat itu terhuyung. Lalu jatuh dengan bertumpu tepat di lututnya sembari memegangi dadanya sebelum akhirnya tubuhnya menyentuh tanah berlumpur.
Hujan semakin deras, namun Sandi merasa semua rasa cemas dan lelahnya tiba-tiba menghilang.
Akhirnya, dia berhasil menangkap buronan yang selama ini ia cari—meski dengan cara yang tidak pernah ia inginkan.
“Maaf, tapi ini adalah tugas," gumamnya, sambil merenggut ponselnya untuk memanggil timnya.
Di tengah malam yang basah, di bawah remangnya lampu jalan, Sandi akhirnya dapat menarik napas lega.
Penjahat itu terkapar, sementara badai di hatinya mulai mereda, meski kesunyian malam hanya meninggalkan desakan baru—apa artinya keadilan jika harus dipertanyakan seperti itu?
Tidak berselang lama, tempat itu pun dipenuhi sirine ambulans dan juga anggota kepolisian yang lain.
Dengan sigap meski tubuhnya basah kuyup, Sandi mendatangi beberapa rekannya yang masih berada jauh dari posisinya.
"Mana target yang kau bilang sudah berhasil kau lumpuhkan itu, San?" Dari belakangnya terdengar suara berat yang dikenali Sandi sebagai komandannya.
"Siap, Dan. Target sudah berhasil saya lumpuhkan dan dia sekarang sedang diurusi oleh pihak forensik," jawab Sandi sambil memberi hormat dengan gerakan tangannya.
Pria yang hanya berbeda usia beberapa tahun saja dari Sandi itu mengangguk dan segera berjalan menghampiri sosok yang sudah diangkat ke atas tandu oleh para petugas forensik.
Dia lalu membuka kain penutup wajah tubuh yang sudah berwarna merah di bagian dadanya. Wajah pria muda tersebut terlihat sangat kecewa.
“Dia hanyalah anteknya Jeffry. Selama bos besarnya belum kita tangkap maka sia-sia saja perburuan kita selama ini, “ ujar Komisaris Besar Polisi Sagara dengan suara berat menahan kecewa. "Bagaimana bisa kau seceroboh ini?"
Sandi yang merasa terkejut dengan kalimat komandannya segera mengecek kebenaran yang dikatakan oleh Sagara.
Dan, alangkah kagetnya dia saat melihat wajah sosok yang sudah dia incar sejak sore dan akhirnya harus kehilangan nyawa di tangannya itu ternyata memang bukan lelaki yang menjadi target operasi mereka.
Dengan penuh rasa bersalah Sandi menghadap Sagara, "Maaf, Komandan. Tapi, sesuai dengan laporan saya tadi bahwa orang yang saya intai adalah benar target operasi kita. Namun, saya benar-benar tidak tahu jika ternyata saya salah sasaran seperti ini. Saya siap mempertanggungjawabkan kesalahan saya."
Sagara menghela napas dalam, sembari menepuk bahu bawahannya polisi muda itu berlalu dari tempat kejadian perkara dan mendatangi beberapa tim yang masih berada di sana.
Hujan belum juga reda. Sirine ambulance yang tadi memekakkan telinga kini menjauh, meninggalkan suara rintik dan genangan lumpur sebagai saksi bisu atas kesalahan fatal yang dilakukan Sandi.
Sandi berdiri membatu, menatap darah yang masih menggenang di beberapa tempat yang berasal dari tubuh lelaki yang kini dia tahu bukan target sebenarnya.
Nafas Sandi terasa berat. Bukan karena kelelahan… tapi karena hantaman kenyataan yang tidak pernah dia perkirakan.
Salah sasaran.
Dua kata yang tak berhenti menggema dalam benak pria muda tersebut. Seperti pukulan bertubi-tubi ke dada. Aku polisi, bukan eksekutor sembrono.
Sandi berjalan perlahan ke pojok jalan, menyandarkan tubuh pada dinding gedung yang dingin dan basah.
Di balik kabut dan lampu jalan yang temaram, pikiranku berputar cepat. Apa yang salah? Apa yang membuatku yakin dia adalah Jeffry?
Polisi berpangkat Iptu itu memaksa otaknya bekerja. Dia menutup matanya. Ingatannya kembali ke sore setelah dia menerima informasi dari salah satu informannya tentang Jeffry.
Satu per satu potongan ingatan mulai muncul...
Beberapa jam sebelumnya.
Sandi duduk di dalam mobil pengintai, kamera digital di tangan, memantau sebuah apartemen tua di sudut kota.
Apartemen yang menurut informan kami adalah tempat persembunyian Jeffry, bos jaringan narkoba lintas kota yang telah menghilang selama lebih dari tiga tahun.
“Target bergerak. Pria berjaket hitam keluar dari pintu belakang. Arah timur.” Suara Irawan di radio.
Dari kejauhan, Sandi melihat target operasinya. Postur tubuh tinggi, langkah cepat dan penuh siaga. Ciri-ciri yang cocok dengan profil Jeffry. Terlalu cocok.
Aku langsung turun, mengikuti diam-diam. Bahkan ketika dia menoleh sekilas di lampu merah dan matanya menatapku dengan ketegangan jelas—aku semakin yakin, dia sadar dia sedang diintai. Semua semakin menguatkan dugaanku.
Tapi sekarang…
Sekarang Sandi sadar.
Itu bisa jadi jebakan.
“Dia memang terlihat seperti Jeffry. Tapi… terlalu terang-terangan,” gumam Sandi pelan, menatap kosong ke arah tempat kejadian perkara.
Apa dia hanya pion? Apa Jeffry tahu kita memburunya dan sengaja mengumpan kita dengan sosok yang mirip agar kita lengah?
Sandi mengepalkan tangan. Dia menggumam sendiri. “Jeffry sedang bermain catur. Dan aku baru saja memakan bidak yang dia sodorkan.”
Terdengar langkah-langkah mendekat. Sandi menoleh. Rekan satu tim Sandi, Riza, menyerahkan sesuatu—sebuah dompet kecil yang ditemukan dari jasad pria tadi.
Aku membukanya. Ada kartu identitas. Nama: Rahmat Dwi Prakoso. Usia 26 tahun. Pekerja lepas. Tak ada catatan kriminal, tak ada koneksi langsung dengan Jeffry.
Namun… di balik kartu itu, terselip selembar kertas kecil, lusuh, dengan tulisan tangan:
“13.04 – Terminal Selatan. Kunci dalam loker #88. Jangan terlambat, R.”
Jantungku berdegup cepat.
“R… Rahmat. Dia dijebak. Atau… dipaksa ikut permainan ini?” bisik Sandi.
Riza menatap Sandi bingung. “Ada petunjuk?”
Sandi mengangguk perlahan. “Mungkin dia bukan antek… mungkin dia korban. Dan loker itu bisa jadi kunci membuka semuanya.”
"Sepertinya kau memang harus mencari tahu soal itu," ujar Riza.
Sandi mengangguk lalu kembali mendatangi Sagara yang masih sibuk mengatur pasukan.
Daftar bab
114 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
114 bab








