
KAMI YANG DIBUANG
Ksatria Harabu|Bersambung
- Jumlah kata
- 26.6K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 3
- Jumlah kata
- 26.6K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 3
Sinopsis
Usiaku masih terlalu muda untuk yakin bahwa, Ibu dan para tetua telah tega berkonspirasi, hingga menyebabkan aku dan kakak perempuanku dibuang keluar desa.Sampailah kenyataan menyentak, membuka mataku dengan seterang-terangnya, bahwa harta warisan milikku, adalah yang menjadi tujuan utama di balik perbuatan keji mereka.Aku membalas mereka semua tanpa terkecuali, satu demi satu kuberi balasan yang jauh lebih kejam dari apa yang mereka bayangkan!Ibu; "Maafkan Ibu, Nak. Ibu mengaku salah, ibu khilaf."Tetua; "Berbelaskasihlah anak muda, ampunilah nyawa orang tua renta ini."Dengan dingin kujawab, "Pergilah kalian ke akhirat sana! Temui dan mintalah maaf Kak Rima, lalu kembali hadapi aku jika kalian mampu!"
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
001
"Bary, kenapa belum pulang?"
"Astaghfirullah! Ma-maaf Om, aku tidak tau kalau Om mancing di sini juga."
"Cepat pulang, ayahmu sudah meninggal."
"Orang tua! Siapa kau sampai berani bicara ... lho, di mana dia? Kok tiba-tiba.. hilang?"
Detik ini, bukan cuma kata-kata, tapi amarah yang barusan sempat membuncah pun berangsur-angsur landai dengan sendirinya!
Menghela nafas panjang, lalu mengedar-edarkan pandang, mencari keberadaan orang tua barusan.
Akan tetapi, ke arah manapun kupalingkan wajah, yang terlihat hanyalah kesunyian yang bersekutu dengan pantulan cahaya benda-benda langit di permukaan air laut.
Sedangkan orang tua barusan, alih-alih, bahkan bayangan sampannya pun tidak lagi terlihat.
"Aneh ya?" gumamku setelah itu, benar-benar heran dengan apa yang sedang terjadi.
Padahal, kondisi alam saat ini sangat-sangat bersahabat. Rembulan bersinar terang, lautan nyaris setenang permukaan air telaga. Tapi kenapa orang tua itu bisa datang dan pergi tanpa menyisakan jejak sama sekali?
"Astaga, bukankah barusan itu ... o tidak tidak, ini pasti hanya halusinasiku saja!"
Kelam kabut kurapihkan peralatan pancing, menaikkan sauh, dan sesegera itu juga mendayung menuju pesisir.
Aku mendayung dengan secepat-cepatnya, benar-benar seperti sedang berpacu dengan risau yang juga dengan cepat memenuhi diri.
Aku takut apa yang dikatakan oleh Pak Hamid barusan benar adanya. Aku sangat takut sekali!
Pasalnya, pria seumuran ayahku itu, memang tetangga kami, tapi dia sudah meninggal dunia sekitar tiga tahun yang lalu.
Beberapa puluh meter sebelum garis pantai, konsentrasiku sontak terpecah dengan sendirinya. Mendayung pun pada akhirnya hanya dengan ritme sesemestinya saja.
Adalah suara lolong kawanan anjing di daratan sana. Sangat riuh, sahut menyahut dari beberapa arah sekaligus. Gaungnya pula, terasa pilu, mirip ketika anjing melolong, lalu orang tua-tua bilang, 'jangan ribut, ada setan lewat'.
Tiba di pinggir pantai, aku langsung melompat turun. Menyambar tali sauh, membawanya berlari ke tajakan gala-gala untuk kutambatkan.
"Bary, kamu sudah pulang?"
Sebuah suara menyentakku dari arah belakang. Reflek aku menoleh.
"Ayah? Ayah di sini?"
Entah bagaimana, ayahku ternyata berdiri tepat di belakangku. Padahal, barusan itu aku merasa tidak melihat ada sesebayang pun di sekitar sini.
Ayah bergeming, berdiri tegak lurus seperti patung tak bernyawa!
Ketika aku tanpa sengaja menatap wajahnya, tidak tahu kenapa, justru bulu kudukku yang mendadak meremang. Tali sauh bahkan sampai terlepas begitu saja dari genggaman. Permukaan wajah hingga ubun-ubun pula, berangsur-angsur kebas.
Diam-diam menahan nafas. Dalam hati bertanya; Apa ini? Kenapa nuansanya tiba-tiba menjadi sangat menakutkan begini?
"Ayo pulang, Nak," ujarnya menyela keheningan. "Ayah tidak kuat, di sini panas sekali."
Kini giliranku yang terdiam. Aku tahu Ayah sedang berkata-kata, jelas butuh perhatian. Hanya saja, kenapa gaung suaranya agak beda?
Lagipula, apanya yang panas? Suhu udara? Kenapa bisa? Secara, selain sekarang malam hari, ini di pinggir pantai, yang mana anginnya cukup kencang!
"Bary, apakah kamu juga akan menelantarkan Ayah?"'
"M.. tidak Ayah, tidak seperti itu. Baiklah, mari pulang," jawabku juga pada akhirnya.
Aku kemudian membuka langkah, berancang-ancang mengambil posisi di bagian belakang beliau.
Pada saat yang sama, secepat itu juga Ayah memutar badan, lalu menatapku. Dan, seperti ada kaca-kaca di sana.
Lagi, aku mengerjap, sesaat. Tatapan Ayah, entahlah. Aku hanya takut berpikiran bahwa, beliau semakin rapuh.
Tapi tunggu dulu!
Saat hendak turun melaut sebelum matahari terbit pagi tadi, Ayah sempat mengeluhkan kondisinya. Katanya, dia semakin lemah. Lalu, untuk apa dia harus datang kesini?
"Ayah?" Aku merasa sudah tahu kenapa beliau sampai harus datang ke pantai pada tengah malam buta begini.
"Hari ini tidak ada rejeki sama sekali. Aku juga tidak tau kenapa, hari ini aku seperti mancing di daratan!"
Aku berkata-kata menirukan cara Ayah dalam merangkai kata, semoga saja dia akan merasa sedikit terhibur karenanya.
"Tidak apa-apa, jangan sedih. Mulai hari ini, Ayah tidak butuh apa-apa lagi, kecuali doa-doamu."
Aku terdiam lagi. Ayah memang membalas dengan ciri khasnya, tapi doa-doa?
Haruskah menyertakan itu juga, sedangkan dia sendiri tahu, diangkatnya penyakit dari badannya, itu adalah doaku yang paling doa, nyaris tiada henti, di siang juga malamnya!
"Sudah tengah malam, ayo pulang!" ulangnya.
"Hm.. iya, ayo." Aku kemudian membuka langkah, berjalan mendahului beliau.
Tak berselang lama dan itu, kami pun tiba di jalan raya beraspal. Sampai di sini, meskipun mungkin ini sudah larut malam, tapi tidak seperti biasanya kondisi desa sunyi sepi seperti ini.
Terus melangkah satu-satu, Ayah mengekor kira-kira dua meter dariku.
Pintu rumah penduduk semuanya tampak tertutup rapat. Orang-orang yang biasa main gitar sambil minum-minum di pinggir jalan raya, malam ini tidak seorang pun yang terlihat.
Melintas di depan pos kamling, juga lengang. Kemana para petugas ronda malam yang biasanya duduk main gaple atau bermain catur di bale-bale depan poskamling?
Aneh! Suasananya sudah tidak ubahnya desa mati! Sudahlah begitu, lolongan panjang kawanan anjing, masih saja menggema dengan keras.
"Ayah, malam ini kok sepi betul, ya? Ayah tau kenapa?" Pada akhirnya aku tidak bisa lagi menahan diri untuk tidak bertanya.
Ayah hanya mendengus. Saat tanpa sengaja meliriknya, aku baru sadar kalau beliau tidak pakai sandal.
Semenjak kondisi kesehatannya memburuk, jangankan di luaran, dalam rumah saja Ayah akan selalu menggunakan alas kaki.
Katanya, kakinya seperti ditusuk-tusuk jarum kalau bersentuhan dengan benda keras, tapi kenapa sekarang dia justru tanpa alas kaki sama sekali? Sudahlah begitu, dari rumah menuju pantai barusan, itu lumayan jauh. Sekitar empat kilometeran.
Penasaran, aku menoleh sekali lagi.
Tapi bersamaan dengan itu, secepat itu juga Ayah berkata dengan dingin, "Kenapa balik belakang terus?"
"Tidak kenapa-kenapa," jawabku dan buru-buru melanjutkan langkah.
Apa ini. Kaki Ayah seperti tidak sepenuhnya menumpu di bumi.
Tapi semoga saja aku yang salah lihat.
Setelahnya, sepanjang jalan menuju rumah, tidak ada lagi komunikasi yang terjalin. Aku sibuk dengan dugaan-dugaanku, Ayah tidak tahu juga seperti apa.
Nantilah tiba di halaman rumah, barulah Ayah berkata lagi, "Masuk nyalakan lampunya, di sini gelap sekali."
Aku serasa terhenyak.
Ajuga baru sadar kalau di sini lumayan gelap. Padahal, di rumah tetangga seberang jalan raya sana, lampunya tidak padam.
Begitu melangkah ke depan pintu, kembali aku dibingungkan oleh sesuatu. Sesaat barusan, aku yakin betul kalau pintu depan ini dalam keadaan tertutup rapat. Tapi kenapa sekarang justru dalam keadaan terbuka?
"Apa aku yang salah lihat lagi ya?"
"Yang kamu lihat malam ini semuanya tidak ada yang nyata, Bary. Masuklah nyalakan lampunya."
"Oh?"
Aku menyeru tertahan! Barusan itu aku hanya menggumam. Pelan. sangat pelan sekali. Rasa-rasanya, nyaris tak terdengar bahkan oleh telingaku sendiri.
Tapi anehnya, Ayah yang berdiri kira-kira dua meter di belakangku, bisa mendengarnya dengan baik. Sehebat itukah ternyata ayahku?
Masuk ke dalam rumah, lagi-lagi aku harus dibuat bingung oleh apa yang kudapati.
Saklar lampu ruang tamu tidak kutemukan! Padahal, saklar lampunya seharusnya berada tepat di dinding ruang tamu ini, setengah meteran dari pintu lorong tengah!
Aku sudah merabanya ke sana-sini, tapi tetap tidak ketemu. Apakah aku tidak tahu di mana letaknya? Itu tidak mungkin! Ini rumahku, hampir setiap jengkalnya tersimpan dalam kepalaku.
Puas mencari, dan tetap tidak menemukannya, terpaksa aku keluar untuk memberi tahu Ayah.
"Ayah, ketekan lampunya ... lho, di mana Ayah?"
Daftar bab
23 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








