
Batu Kali Pemikat Hati
tha4g|Bersambung
- Jumlah kata
- 114.5K
- Popular
- 2.8K
- Subscribe
- 470
- Jumlah kata
- 114.5K
- Popular
- 2.8K
- Subscribe
- 470
Sinopsis
Yuda seorang laki-laki desa yang kehidupan nya di hina dan di maki karen kemiskinan nya, berubah setelah menemukan cincin perak permata hitam, dirinya menjadi kuat dan lebih berwibawa, bahkan saat mencoba peruntungan di perantauan dia di kelilingi banyak wanita , yang merasakan nyaman dan tenang berada di dekatnya, bahkan dia mencoba mengobati beberapa penyakit wanita kelas atas juga para pengusaha, hingga berbagai pihak merasa iri dan berusaha menjegalnya. salah satu korbannya adalah adiknya sari yang menjadi bahan pelampiasan dendam para saingannya.hingga Yuda pun membalas dengan cara nya satu persatu kepada mereka semuanya.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Sisa Nasi Kemarin
Langit di atas Desa Karang Soga sore itu tampak seperti memar yang membusuk—ungu kehitaman dengan semburat merah yang menyakitkan mata. Bagi Yuda, keindahan langit adalah kemewahan yang tidak bisa dimakan. Perutnya baru saja mengeluarkan bunyi keroncongan yang lebih mirip rintihan, sebuah pengingat brutal bahwa sejak pagi tadi, hanya air sumur yang singgah di lambungnya.
Yuda berdiri mematung di depan pintu dapur rumah besar milik Haji Mansur. Rumah itu berdiri angkuh dengan dinding tembok yang dicat putih bersih, sangat kontras dengan gubuk kayu reot tempat Yuda tinggal bersama Pakdenya yang lumpuh dan Sari, adiknya.
Bau tumisan kangkung belacan dan aroma gurih ayam goreng menyeruak dari ventilasi, menusuk hidung Yuda dan membuat liurnya hampir menetes.
"Mau apa lagi kamu ke sini, Yuda?" sebuah suara melengking menghentikan lamunannya.
Mbak Lela, asisten rumah tangga Haji Mansur yang badannya gempal, berdiri di ambang pintu sambil berkacak pinggang. Matanya menatap Yuda dengan tatapan jijik, seolah-olah pemuda berusia dua puluh tahun itu adalah tumpukan kotoran yang terbawa angin ke teras mereka.
Yuda menunduk dalam-dalam. "Anu, Mbak... Saya mau tanya, apakah ada... apakah ada sisa nasi yang sudah tidak dimakan lagi? Untuk Pakde di rumah."
Mbak Lela tertawa mengejek, suaranya sengaja dikeraskan agar terdengar sampai ke ruang tengah. "Sisa nasi? Kamu ini ya, tiap hari datang ke sini cuma buat minta-minta. Kamu itu punya tangan, punya kaki, tapi mentalnya mental pengemis!"
"Saya sudah kerja serabutan, Mbak. Tadi pagi saya sudah bantu ngangkut gabah di sawah Pak Kades, tapi cuma dikasih upah lima ribu rupiah. Uangnya habis buat beli obat gosok Pakde," suara Yuda bergetar. Ia mengepalkan tangannya di balik baju kaosnya yang sudah tipis dan penuh lubang.
"Halah, alasan!" Mbak Lela meludah ke samping. "Sana pergi! Nanti kalau juragan lihat, saya yang kena semprot karena biarkan gembel kayak kamu berkeliaran di sini."
Tepat saat Yuda hendak membalikkan badan dengan hati yang hancur, pintu belakang rumah itu terbuka lebar. Munculah putra bungsu Haji Mansur, Deni, yang mengenakan pakaian olahraga bermerek dan sepatu yang harganya mungkin setara dengan jatah makan Yuda selama setahun.
Di tangannya, Deni memegang piring plastik berisi tumpukan nasi yang sudah sedikit mengeras dan sisa-sisa tulang ayam yang masih ada sedikit dagingnya.
"Eh, ada si Yuda Yatim," ejek Deni sambil menyunggingkan senyum miring. "Cari makan buat Pakdemu yang penyakitan itu?"
Yuda tidak menjawab. Ia menelan harga dirinya bulat-bulat, membiarkan hinaan itu lewat begitu saja demi sesuap nasi. "Iya, Den. Kalau tidak keberatan..."
Deni berjalan mendekat ke arah tempat sampah besar di pojok dapur. Ia menatap piring di tangannya, lalu menatap Yuda bergantian. "Ini nasi sisa kemarin. Sudah agak bau, sih. Tapi buat orang kayak kamu, ini pasti rasanya kayak makanan hotel bintang lima, kan?"
"Tolong, Den..." lirih Yuda.
Deni tertawa kecil. "Oke, ambil ini. Tapi ada syaratnya."
Deni tidak memberikan piring itu langsung ke tangan Yuda. Dengan gerakan yang sengaja diperlambat, ia menumpahkan seluruh isi piring itu ke dalam sebuah ember plastik bekas cat yang kotor di dekat tempat sampah.
Di dalam ember itu sudah ada sedikit air sisa cucian piring yang berminyak.
"Ambil di situ. Kalau kamu mau, silakan bawa pulang," ucap Deni puas.
Mbak Lela tertawa terpingkal-pingkal melihat adegan itu. Yuda merasa seolah-olah petir menyambar dadanya. Panas, perih, dan sesak. Air matanya hampir jatuh, namun ia menahannya sekuat tenaga. Ia melihat nasi yang sekarang terapung-apung di air cucian piring yang keruh itu.
Bayangan wajah Pakde yang pucat dan suara Sari yang mengeluh lapar semalam terlintas di pikirannya.
Tanpa berkata sepatah kata pun, Yuda berlutut. Tangannya yang kasar dan pecah-pecah merogoh ke dalam ember kotor itu, mengumpulkan butiran-butiran nasi sisa kemarin yang sudah basah dan berminyak. Ia memasukkannya ke dalam bungkusan plastik bening yang ia bawa dari rumah.
"Lihat itu, Mbak! Benar-benar mirip anjing kelaparan, ya?" Deni terbahak, lalu masuk kembali ke dalam rumah sambil membanting pintu.
Yuda berdiri dengan kaki yang lemas. Plastik di tangannya terasa berat, bukan karena berat nasinya, tapi karena beban penghinaan yang ada di dalamnya. Ia berjalan menjauh dari rumah besar itu, melewati jalanan desa yang mulai gelap. Setiap langkah yang ia ambil terasa seperti duri yang menusuk tumitnya.
Penduduk desa yang berpapasan dengannya memberikan tatapan yang sama: kasihan yang bercampur dengan rasa rendah hati yang semu, atau penghinaan terang-terangan.
Sesampainya di gubuknya yang miring, Yuda disambut oleh aroma apak dan suara batuk kering Pakde dari balik kamar. Sari sedang duduk di depan tungku yang padam, mencoba memantik api dari sisa-sisa kayu basah.
"Dapat apa, Mas?" tanya Sari dengan mata yang berbinar penuh harap. Gadis remaja itu tampak sangat kurus, tulang pipinya menonjol, dan rambutnya kusam.
Yuda memaksakan sebuah senyum yang lebih mirip ringisan kesakitan. Ia meletakkan plastik itu di atas meja kayu yang sudah goyang.
"Dapat nasi, Sari. Tapi... ini nasi sisa. Agak basah. Tolong kamu cuci lagi dengan air bersih, lalu kukus sebentar biar hangat."
Sari melihat isi plastik itu. Ia terdiam sejenak, melihat minyak yang mengapung dan bau masam yang mulai tercium. Ia bukan anak kecil yang tidak tahu apa-apa. Ia tahu darimana nasi ini berasal. Namun, rasa lapar lebih jujur daripada rasa harga diri.
"Iya, Mas. Sari siapkan," bisik Sari pelan, suaranya parau.
Yuda masuk ke kamar Pakde. Di atas tempat tidur bambu yang hanya beralaskan tikar pandan tipis, seorang lelaki tua terbaring lemah. Pakde Haris adalah adik dari ibunya, satu-satunya orang dewasa yang sudi menampung Yuda setelah orang tuanya meninggal dalam kecelakaan kerja di kota bertahun-tahun lalu. Namun nasib buruk seolah enggan pergi; dua tahun lalu, Pakde jatuh dari pohon kelapa dan lumpuh total.
"Yuda... kamu sudah pulang?" suara Pakde sangat pelan, hampir hilang ditelan suara serangga malam.
"Sudah, Pakde. Sebentar lagi kita makan. Sari sedang masak nasi," jawab Yuda sambil memijat tangan Pakde yang sudah mengecil, hanya tinggal tulang dibalut kulit.
"Maafkan Pakde, Nak. Pakde hanya jadi beban... Seharusnya Pakde yang cari makan buat kalian, bukan kamu yang setiap hari dihina orang hanya demi nasi basi," setetes air mata jatuh dari mata Pakde yang keruh.
Yuda menggeleng kuat. "Jangan bicara begitu, Pakde. Pakde sudah menyelamatkan saya dulu. Sekarang giliran saya."
Di luar, Sari mulai menyajikan nasi sisa itu di atas piring seng. Meskipun sudah dikukus ulang, bau masam itu tidak sepenuhnya hilang. Mereka bertiga makan dalam diam, ditemani suara angin yang menyelinap masuk melalui celah-celah dinding bambu. Yuda mengunyah nasi itu perlahan. Rasanya hambar, bertekstur lembek, dan sesekali ada aroma sabun cuci piring yang tertinggal.
Setiap suapan terasa seperti menelan kerikil tajam yang melukai kerongkongannya.
Sisa nasi kemarin, batin Yuda pahit. Hari ini aku makan sisa nasi kemarin. Besok, apa yang akan aku makan? Sisa napas mereka yang masih peduli?
Setelah makan, Sari mencuci piring dengan gerakan lambat. Ia menatap kakaknya dengan iba. "Mas, besok tidak usah ke rumah Haji Mansur lagi ya. Sari bisa cari rebung di pinggir hutan atau cari ikan di sungai. Sari tidak tega lihat Mas Yuda diperlakukan begitu terus."
Yuda tidak menjawab. Ia hanya menatap langit-langit gubuknya. Ia merasa berada di titik terendah dalam hidupnya. Ia merasa seperti debu yang bahkan tidak berharga untuk disapu. Rasa benci pada kemiskinan, rasa benci pada Deni, dan rasa benci pada dirinya sendiri yang tidak berdaya berkecamuk menjadi satu.
Malam itu, Yuda tidak bisa tidur. Perutnya sedikit melilit karena nasi sisa yang mungkin sudah mulai membusuk itu, namun rasa sakit di perutnya tidak sebanding dengan rasa sakit di hatinya. Ia keluar dari rumah tanpa alas kaki, berjalan menuju sungai di ujung desa.
Sungai itu adalah satu-satunya tempat di mana ia bisa menangis tanpa ada yang mendengar, di mana suara gemericik air bisa meredam isak tangisnya.
Ia duduk di sebuah batu besar di pinggir sungai, membiarkan kakinya terendam air yang dingin. Di bawah sinar bulan yang redup, ia melihat bayangannya sendiri di air.
Bayangan seorang pemuda yang hancur, yang hidupnya hanya bergantung pada sisa-sisa kemurahan hati orang yang membencinya.
"Tuhan," bisik Yuda ke arah langit. "Jika memang aku tidak diizinkan memiliki hidup yang layak, setidaknya beri aku cara untuk mengakhiri rasa lapar ini. Aku lelah makan sisa-sisa."
Namun untuk malam itu, Yuda hanya bisa meringkuk di atas batu, memeluk lututnya sendiri, sementara perutnya terus bergejolak dan hatinya terus menangis dalam kesunyian malam Desa Karang Soga yang dingin. Sisa nasi kemarin itu masih meninggalkan rasa getir di lidahnya, sebuah rasa yang akan ia ingat selamanya sebagai bahan bakar api dendam dan ambisi yang mulai menyala di dasar jiwanya.
Daftar bab
86 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








