

Air asin menampar wajahnya saat tubuhnya terombang-ambing di atas pecahan papan kapal yang sudah hampir hancur, angin menggila dari segala arah, langit gelap tak lagi memperlihatkan bintang, dan Alvaro tahu, jika ia masih hidup saat fajar datang, itu bukan karena keberuntungan, melainkan karena sesuatu—atau seseorang—memutuskan membiarkannya tetap bernapas.
"Aku tak akan mati di sini," gumamnya dengan suara parau, meski tak ada satu pun yang mendengar selain ombak yang terus menggeram, menuntut tubuhnya kembali ke dasar laut.
Sesuatu yang hangat menyentuh kakinya, bukan seperti ombak, lebih seperti... pasir?
Alvaro membuka mata lebar-lebar, matanya perih oleh air garam, tapi kini ia bisa melihat garis pantai yang samar, dan pohon-pohon menjulang seperti bayangan raksasa dalam kabut.
"Aku... berhasil?" katanya dengan napas tersengal, tubuhnya setengah tenggelam, setengah tertanam di pasir putih yang terlalu halus untuk jadi nyata.
Lalu terdengar tawa. Ringan, nyaring, dan anehnya menggoda.
Bukan tawa manusia.
Alvaro mendongak, menahan napas.
"Apa manusia sekarang memang suka tenggelam lalu nyasar ke sini, ya?" suara itu terdengar jelas meski angin masih meraung.
Di atas batu besar yang ditumbuhi lumut ungu, seorang perempuan berdiri. Atau melayang? Sayap transparan berkilau di punggungnya, mengembang perlahan seperti kelopak bunga.
"Aku sedang—" Alvaro belum sempat menyelesaikan kalimatnya ketika sosok lain muncul dari balik pepohonan, meluncur cepat seperti angin.
"Jangan ajak bicara, Elanira. Siapa tahu dia makhluk kegelapan menyamar!" katanya tajam, matanya menyorotkan ketidaksukaan.
"Makhluk kegelapan tidak kehabisan napas seperti itu, Seraphyne," jawab yang pertama sambil terkekeh, lalu menunduk ke arah Alvaro, mata hijaunya bersinar lembut. "Namamu siapa?"
"A-Alvaro," katanya, bingung apakah harus menjawab atau kabur, tapi tubuhnya terlalu lemah, dan suara perempuan itu terlalu tenang untuk diabaikan.
"Alvaro," gumam Elanira pelan, seolah sedang mencicipi namanya seperti anggur. "Selamat datang di Pulau Indah. Semoga kau tidak berharap bisa pergi."
Di kejauhan, angin berbisik—atau mungkin sesuatu sedang tertawa. Dan Alvaro baru sadar, meskipun ia selamat dari laut, bahaya di pulau ini baru saja dimulai.
Langit mulai memerah, tapi bukan karena mentari terbit; warna itu lebih seperti darah yang menetes ke kanvas awan. Udara di sekitar Alvaro berubah, tak lagi segar seperti pagi di pantai, melainkan mengandung aroma bunga asing yang manis sekaligus menusuk, seperti racun yang dibungkus dalam wewangian.
"Kau menggigil," ucap Elanira pelan, mendekat tanpa menggerakkan kakinya. Ia seperti melayang beberapa senti di atas pasir. "Tubuh manusia memang rapuh ya. Tapi jiwamu… ah, itu yang menarik."
"Jiwaku?" Alvaro mencoba duduk, tetapi pundaknya terlalu berat, seakan sesuatu dari dalam tanah mencoba menahannya. "Kalian… siapa sebenarnya?"
Seraphyne melangkah cepat ke arah mereka, rambutnya berkibar ditiup angin liar yang entah datang dari mana. Ia menarik Elanira menjauh dari Alvaro. "Jangan bicara terlalu banyak. Kita belum tahu siapa dia, dan—"
"Aku sudah bilang, dia manusia," sela suara ketiga, dingin dan datar, namun dengan nada otoritas yang tak bisa disangkal. Sosok itu muncul dari balik kabut, berbeda dari dua peri sebelumnya. Pakaiannya hitam pekat, sayapnya lebih tipis dan tajam seperti belati kaca.
"Kaelis," bisik Elanira. Nada suaranya berubah, antara takut dan terpesona.
Kaelis menatap Alvaro lama, matanya seperti lubang hitam yang tak memantulkan cahaya. "Kau dibawa angin yang bukan milikmu, manusia. Pulau ini memilih siapa yang datang… dan siapa yang dikuburkan."
"Aku tidak minta datang ke sini," balas Alvaro, suaranya mulai meninggi, tubuhnya kini tegak meski lututnya gemetar. "Kapalku karam. Aku hanya ingin kembali."
"Tak semudah itu," sahut Kaelis, mendekat. "Pulau ini menyukai jiwa yang hilang arah. Seperti milikmu."
Elanira menggeleng, kini berdiri di sisi Alvaro, seolah hendak melindunginya. "Kau terlalu cepat menyimpulkan, Kaelis. Bukankah lebih baik kita mengajaknya ke tengah hutan dulu? Biarkan dia melihat… siapa kita sebenarnya."
Seraphyne mendengus. "Kau hanya ingin dia melihat tamanmu yang penuh bunga pemakan daging."
"Setidaknya lebih jujur daripada lorong bayanganmu," balas Elanira, tersenyum manis.
Kaelis mengangkat tangan, dan seketika itu juga pasir di sekitar Alvaro bergetar, berubah warna menjadi gelap, dan akar-akar kecil mencuat, mengikat pergelangan tangannya.
"Apa ini—" Alvaro meronta, tapi cengkeraman akar itu dingin dan kuat.
"Ujian kecil," ucap Kaelis tenang. "Jika kau lolos, mungkin pulau ini akan mengizinkanmu… melihat matahari lagi."
Tapi sebelum sesuatu yang lebih buruk terjadi, cahaya putih menyilaukan menyambar dari atas pohon tertinggi. Cahaya itu jatuh seperti meteor, menghantam pasir dan memecah ikatan akar dalam sekali hentak. Angin berhenti. Suara hilang. Debu mengepul.
Dari cahaya itu, muncul seorang peri lain—lebih terang, lebih megah, dan berbeda dari ketiganya.
"Aku pikir kita sudah sepakat tidak menyiksa tamu tanpa persetujuan bersama," ucapnya, suaranya bergema dalam dada Alvaro, seperti nyanyian dan petir sekaligus.
Kaelis mendecak kesal, mundur satu langkah. "Selalu muncul saat permainan mulai seru, Aerith."
Aerith menoleh pada Alvaro, tatapannya tajam tapi tak mengancam. "Kau tak seharusnya ada di sini. Tapi sekarang kau sudah di sini, pilihanmu hanya dua—mengikuti aturan kami, atau menjadi bagian dari pulau ini… selamanya."
Dan saat Alvaro mencoba menjawab, ia sadar, lidahnya terasa kelu. Pulau ini, para penghuninya… bukan sekadar makhluk. Mereka adalah ujian, perangkap, dan godaan yang dibungkus dalam wujud paling indah yang pernah dilihat manusia.
Angin kembali bergerak, tapi tak membawa kesejukan. Rasanya seperti helaan napas dari sesuatu yang tak terlihat, mengawasi dari balik pohon, menilai setiap gerak-gerik mereka.
Alvaro berdiri dengan susah payah, tubuhnya terasa lebih ringan sejak akar-akar itu menghilang, namun pikirannya tetap berat. Empat peri mengelilinginya, masing-masing memancarkan aura berbeda—Elanira yang lembut tapi mencurigakan, Seraphyne yang tampak haus darah, Kaelis yang menusuk dengan diamnya, dan kini Aerith yang tak tertebak, seperti dewa tanpa mahkota.
"Apa maksudmu dengan 'mengikuti aturan'?" suara Alvaro nyaris tenggelam oleh detak jantungnya sendiri.
Aerith menatapnya lama. "Pulau ini memiliki irama sendiri. Waktu tak berjalan lurus di sini. Langkah yang salah bisa membuatmu terjebak dalam satu momen selama seabad. Atau sebaliknya—satu hari di sini bisa menghapus seluruh hidupmu di dunia luar."
"Tapi aku tak pernah memilih datang ke sini!" seru Alvaro. "Aku—"
"Kami tahu," sela Elanira, mendekat, suaranya seperti bisikan dedaunan. "Tapi pulau ini memanggil yang tersesat, dan kau menjawab panggilannya, meski tanpa sadar."
Seraphyne mengangkat alis. "Kau ingin kembali ke duniamu? Ke hidup yang penuh kebisingan, kebohongan, dan kematian lambat?"
"Atau kau bisa tinggal di sini," bisik Elanira lembut, jarinya menyentuh dada Alvaro pelan. "Temukan versi lain dari dirimu. Yang bebas."
Alvaro menepis sentuhannya, tak keras, tapi cukup untuk menunjukkan batas. "Apa kalian selalu seperti ini pada manusia yang terdampar?"
Kaelis tersenyum tipis, pertama kalinya. "Yang seperti kami tak menyukai pengulangan. Setiap manusia yang datang… mendapat cerita yang berbeda."
"Apa yang terjadi pada mereka?" tanya Alvaro, nadanya pelan, tapi tajam.
Tak ada yang menjawab. Bahkan burung-burung di pohon pun mendadak diam.
Aerith melangkah mendekat, matanya bersinar seperti matahari yang tertutup kabut. "Ikut aku. Jika kau ingin tahu kebenaran, jangan berdiri di tepiannya. Masuklah ke tengah."
"Aku tidak—"
"Kau ingin pulang, bukan?" potong Aerith.
Alvaro menatap mata mereka satu per satu, berharap menemukan sesuatu yang bisa ia percayai. Tapi semua yang ia lihat hanyalah wajah-wajah terlalu indah untuk dipercaya.
Namun kakinya melangkah juga, mengikuti Aerith, sementara ketiga peri lainnya bergerak di belakang mereka—seperti bayangan, seperti pengawal, atau seperti algojo yang sedang menunggu giliran.
Mereka masuk ke dalam hutan. Cahaya berubah. Udara menggigil meski matahari menyinari.
Di balik pepohonan, suara-suara mulai terdengar—nyanyian, tangis, tawa... dan bisikan namanya dari arah yang tak bisa ia lihat.
"Alvaro..."
Ia menoleh cepat. Tak ada siapa-siapa.
"Jangan jawab," kata Aerith datar. "Mereka hanya ingin kau menoleh dua kali."
"Siapa 'mereka'?"
Aerith menatapnya sekilas. "Mereka yang gagal melawan godaan."
Dan Alvaro baru sadar—pulau ini tak pernah benar-benar menerima tamu. Ia hanya mengumpulkan… korban.