
- Jumlah kata
- 110.4K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 5
Sinopsis
Hidup penuh dengan tekanan, hantu menjadi hal yang paling mengganggu dalam hidup Sean. Kelebihan yang tak pernah ia inginkan ini membawa berbagai macam masalah tak berujung. Namun, di balik itu semua, ia sampai pada titik di mana kelebihannya berakhir pada hal yang tak ia duga.
Ulasan
1 ulasan
Aulia Hazuki
20/7/25 01:37
Hai kak semangat terus nulisnya ya 🙏 kalau berkenan boleh mampir ke novelku "Rumah Laba-laba" dan subscribe balik terima kasih banyak kak 🙏
1. Gunting Bengkok
"Gilaaa!"
Anak laki-laki berbaju putih terus berlari menyusuri lorong, menembus keheningan.
Dinding penuh dengan bercak hitam kecokelatan, lapisan itu terkelupas di sana-sini, menambah kengerian tempatnya berlari.
Lantai yang kotor dengan tanah dan pecahan keramik membuat kakinya tersayat di sana-sini.
Beberapa lampu dinding pecah dan gorden lusuh menunjukkan betapa tak terawatnya tempat itu.
Plafon yang bolong dengan kayu lapuk mencuat, terlihat siap roboh di banyak bagian. Beberapa genting terlihat bolong, menunjukkan gelapnya langit malam.
Lorong itu sangat panjang dengan minim pencahayaan, memaksanya untuk menyipitkan mata. Tak kunjung menemukan jalan keluar, ia tetap paksakan dirinya berlari.
Tersandung hingga terseok-seok tak karuan dengan celana pendek hitam. Lututnya penuh dengan lebam dan lecet.
Napasnya menderu, keringat dingin deras mengucur. Bibirnya pucat dengan mata melotot ketakutan, membuatnya terlihat sangat menyedihkan.
Rambutnya hitam legam acak-acakan menambah aura kesengsaraan.
Terus berlari di bawah tekanan, ia sampai di ujung lorong dengan pintu cokelat terkunci.
Menjulang tinggi, pintu itu berdiri kokoh bak dinding besi.
"Bukaaa!"
Ia kalut, terus mencoba mendobrak dan mendorong pintu itu.
"Buka tolong bukaaa!"
Meski tak mungkin ada orang yang akan membuka dari sisi lain, ia tetap berteriak ketakutan.
"Bukaaa!"
Tangannya memukul berkali-kali. Sambil sesekali menoleh ke belakang, memastikan bahwa 'dia' belum datang.
Nihil, jangankan rusak, pintu itu tak bergerak sedikitpun. Terus menendang dan membenturkan bahunya ke pintu tak kunjung membuahkan hasil membuatnya berlinang air mata.
Memar bahu dan bercak darah dari kuku kakinya tak ia hiraukan. Terus berteriak hingga serak, ia terus mukul-mukul pintu itu sembari mencakar dengan jantung berdegup kencang.
Adrenalinnya terpacu, bola matanya bergerak ke sana kemari membuat wajahnya terlihat sangat ketakutan.
"Tolooong!"
Putus asa menghampiri, tak menghiraukan kuku tangan yang kini berdarah hingga salah satunya terlepas. Pandangan sepenuhnya memburam karena air mata.
Hawa mendadak dingin mencekam, lilin gantung di sepanjang lorong mendadak mati, tertiup dengan sendirinya.
Suasana semakin runyam, lorong itu kini gelap gulita tak bersisa.
Terus memukul dan mencakar dinding, di ujung lorong sana, datang sesosok makhluk hitam tinggi mendekat. 'Dia' telah datang.
Pemuda itu membalikkan badan. Tubuhnya terus bergetar. Dinginnya lorong seolah menusuk dirinya.
Terduduk lemas dengan darah dan luka lebam di beberapa bagian tubuh, ia menatap ujung lorong yang telah dilewati dengan sangat ketakutan.
"S-sial,"
umpatan coba ia lontarkan untuk membangkitkan keberaniannya, namun itu semua berujung sia-sia.
Makhluk itu, dengan lentera kecil di tangan kanannya, berjalan mendekat. Jeritan pendek tiba-tiba terdengar. Pemuda itu terkesiap membuatnya terkencing di celana. Meski merasakan hal memalukan, ketakutan lebih menguasainya.
Makhluk itu telah tiba. Bertubuh jakung dengan warna hitam sepenuhnya. Dirinya seolah menyatu dengan kegelapan.
Tangan kiri berkuku tajam itu membawa sesuatu.
Gunting bengkok tergenggam erat, makhluk itu membawa senjata tajam sembari terus mendekat ke arahnya.
Setiap langkah dari makhluk itu meninggalkan bercak tapak kaki berwarna merah, membuat pemuda itu terus bergetar ketakutan. Seolah tak ada harapan, pemuda berbaju putih itu bertekuk lutut.
Tubuhnya lemas tanpa tenaga.
Dirinya kini kesulitan untuk bernapas.
Cemas dan rasa sakit di beberapa bagian tubuh bercampur menjadi satu, membuat pemuda itu hanya bisa menangis dengan mata terus melotot.
Makhluk itu.
Kini ia bisa melihatnya dengan jelas.
Tubuh jakungnya terlihat lebih besar dari sebelumnya. Hawa dingin semakin menusuk tulang belulang. Dengan lubang mata yang kosong, mengucur darah dari dalamnya.
Hidungnya yang telah koyak menyisakan rongga. Bibir dan kulitnya sobek di sisi kanan, menunjukkan gusi penuh darah dengan taring mencuat.
Takut.
Pemuda itu takut namun hanya bisa mematung. Air matanya terus mengalir, namun pandangannya terpaut pada wajah rusak itu.
Tiba-tiba, rasa mual tak tertahankan muncul. Cairan hitam tiba-tiba keluar dari mulutnya. Pemuda itu terus terbatuk dengan lengan memeluk perut sembari mengerang kesakitan.
*Hoeeek!
Beberapa warna merah terlihat bercampur menjadi satu keluar dari mulutnya, membuat pemuda itu semakin mual dan terus memuntahkan isi perut.
Berlangsung cukup lama, ia kini tak berani menatap wajah itu lagi.
Mahluk itu berhenti mendekat. Tiba-tiba ia tertawa lirih, membuat pemuda itu membeku.
"Halo ..., Sean,"
hening sejenak,
makhluk itu kini tertawa.
Tawanya melengking sangat keras dan berganti menjadi jeritan.
"Berhenti!!!"
Telinga Sean berdengung kencang, darah mengucur dari lubang telinganya.
"AAAKH!"
Sean berteriak kesakitan sembari meringkuk menutup kedua telinga.
"BERHENTI SIALAN!"
Sean berteriak lantang, namun suaranya tenggelam dalam jeritan makhluk menyeramkan itu.
Terus tertawa.
Makhluk itu tertawa dan menjerit tanpa henti seolah menikmati kesakitan yang Sean rasakan. Jeritan itu kian melengking. Darah mengucur semakin deras dari telinga Sean.
Terus menahan sakit dengan jeritan, urat dahi Sean terlihat jelas, wajahnya merah tak karuan.
Lampu pecah, kini ruangan itu gelap sepenuhnya.
Berhenti.
Makhluk mengerikan itu berhenti tertawa dan menjerit.
Sean terbatuk-batuk dan kembali mengeluarkan darah dari tenggorokan. Memukul dada berkali-kali, air matanya masih berderai dengan kucuran darah di telinga.
Sean terisak, ia meremas kedua sisi wajahnya dengan tubuh bergetar.
"Kumohon, berhenti ..., ampun,"
suaranya terlalu lirih untuk bisa didengar.
Dalam keheningan, tiba-tiba pintu yang susah payah Sean dorong itu terbuka.
Sean terkejut dan segera berbalik badan.
Tak ada apa-apa di sana, hanya kegelapan tanpa satupun penerangan.
Sean berdiri dengan tergesa-gesa dan segera masuk ke dalamnya.
Belum sempat itu terjadi, Tangan besar berlendir makhluk itu menangkap kakinya.
Tersenyum seram, tangannya menyeret Sean mundur menjauh dari pintu.
"Tidak! Jangan!"
Sean meronta mencoba berkali-kali menendang tangan yang menyeretnya. Makhluk itu tetap bergeming.
"AAA!"
Sean kembali berteriak serak. Mencoba menggapai lantai untuk pegangan.
Namun dengan cepat, hantu itu seolah meluncur semakin menjauh dari pintu.
Kakinya yang diremas membuat Sean meringis kesakitan. Menggigit lidah dengan harapan dapat menghilangkan kesadarannya dan membunuhnya secara perlahan harus gagal karena makhluk itu menyadari tindakannya.
Dengan seringai yang menyeramkan, kini makhluk itu berhenti menyeretnya dan membanting kuat Sean ke dinding sebelah kanan.
"AAKH! HEI!"
Kepala Sean terbentur keras. Tergeletak tak berdaya, darah mengucur pelan dari pelipis kanannya.
Terbatuk-batuk kencang, makhluk itu kembali menyeretnya dengan tawa melengking. Cengkeramannya menguat.
Tindakan itu tampaknya memberi bekas pada pergelangan kaki Sean. Kini, Sean hanya bisa berteriak dan memaki-maki makhluk itu.
Tampaknya berhasil,
makhluk itu berhenti sejenak, kini wajahnya terlihat murka.
Keberaniannya seketika ciut, jantungnya berdegup semakin kencang.
Masih dengan berlinang air mata, keberanian untuk memaki yang baru saja muncul tiba-tiba hangus tak bersisa.
Mata mereka saling beradu. Makhluk itu mendekatkan wajahnya, membuat Sean semakin ketakutan. Wajah seramnya berhasil membuat Sean bergidik ngeri.
Puas melihat wajah Sean yang ketakutan, hantu itu kembali tertawa tak jelas dan menyeret kasar dirinya.
Tindakannya barusan seolah hanya untuk mempermainkan emosi Sean.
Semakin lama, pandangan Sean memburam dan berakhir hitam sepenuhnya.
Namun, sebelum itu terjadi, ujung gunting bengkok yang makhluk itu bawa tiba-tiba tepat berada di samping mata kirinya, siap menghunus.
Daftar bab
92 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








