Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Pilot Penakluk

Pilot Penakluk

asther | Bersambung
Jumlah kata
47.5K
Popular
697
Subscribe
165
Novel / Pilot Penakluk
Pilot Penakluk

Pilot Penakluk

asther| Bersambung
Jumlah Kata
47.5K
Popular
697
Subscribe
165
Sinopsis
PerkotaanSlice of lifePertualanganKonglomeratMiliarder
Rio Aditya, punya mimpi besar. Meski dalam kondisi miskin, Rio tak pernah mengubur mimpi-mimpinya. Ia mengingat, pesan dari sang ayah '"Kalau langit itu luas, jangan batasi mimpimu hanya karena kita miskin,' kata sang ayah suatu malam ketika listrik padam dan mereka hanya ditemani cahaya lampu minyak. Akhirnya, dengan kerja keras bukan hanya langit yang mampu ditaklukkan Rio, melainkan juga rekan sesama pilot, pramugari hingga 'Ani-Ani' kaya yang membutuhkan layanan privat jet baik di udara maupun di ranjang.
Mimpi Awal Pilot Penakluk

Suara pesawat yang membelah langit selalu berhasil menghentikan langkah Rio Aditya. Saat anak-anak lain berlarian mengejar layang-layang atau bermain sepak bola di lapangan desa, Rio justru berdiri mematung di tengah halaman rumahnya yang sederhana. Kedua matanya mengikuti setiap gerakan pesawat hingga hanya tersisa titik kecil di cakrawala. Entah sudah berapa kali ibunya memanggil agar ia segera masuk ke rumah, tetapi Rio selalu menjawab dengan kalimat yang sama.

"Aku ingin menjadi orang yang menerbangkan pesawat itu, Bu."

Ibunya hanya tersenyum sambil mengusap rambut putra semata wayangnya. Senyum itu menyimpan kebanggaan sekaligus kegelisahan. Keluarga mereka hidup dalam keterbatasan. Ayah Rio bekerja sebagai nelayan tradisional dengan perahu kayu kecil yang setiap hari bertaruh melawan ombak. Jika cuaca bersahabat, mereka bisa makan dengan lauk ikan segar. Namun ketika angin kencang datang berhari-hari, dapur mereka sering kali hanya mengepulkan aroma mi instan atau sayur bening tanpa lauk.

Rumah mereka berdiri di tepi desa pesisir. Dindingnya terbuat dari papan yang mulai lapuk dimakan usia. Atap sengnya bocor di beberapa bagian sehingga setiap musim hujan, ember dan baskom harus disusun di berbagai sudut ruangan untuk menampung tetesan air. Meski begitu, rumah itu selalu dipenuhi tawa dan kasih sayang. Ayah Rio percaya bahwa kemiskinan bukan alasan untuk kehilangan harga diri.

Sejak kecil, Rio sudah terbiasa melihat perjuangan kedua orang tuanya. Sang ayah berangkat melaut sebelum matahari terbit dan baru kembali menjelang sore dengan tubuh yang dipenuhi aroma laut. Sementara ibunya menggoreng pisang, tempe, dan bakwan untuk dijual di sekolah dasar yang berjarak dua kilometer dari rumah. Keuntungan yang diperoleh tidak seberapa, tetapi cukup membantu membeli kebutuhan sehari-hari.

Rio tumbuh dengan menyaksikan bagaimana setiap rupiah diperoleh melalui kerja keras. Karena itu, ia tidak pernah menjadi anak yang manja. Ia memahami bahwa meminta mainan baru atau pakaian mahal hanya akan menambah beban kedua orang tuanya.

Namun ada satu permintaan yang terus ia simpan dalam hati. Ia ingin menjadi pilot.

Keinginan itu muncul ketika usianya baru delapan tahun. Saat itu sekolahnya mengadakan kunjungan ke bandara. Untuk pertama kalinya Rio melihat pesawat dari jarak dekat. Ukurannya jauh lebih besar daripada yang ia bayangkan. Ketika seorang pilot turun dari kokpit dengan seragam putih yang rapi dan topi berlambang sayap emas, mata Rio seolah tidak bisa berkedip.

Pilot adalah simbol keberanian, kecerdasan, dan kebebasan. Mereka mampu menjelajahi langit yang selama ini hanya bisa dipandangi dari bawah. Sejak hari itu, cita-cita Rio tidak pernah berubah.

Setiap malam ia membaca buku-buku tentang dunia penerbangan yang dipinjam dari perpustakaan sekolah. Ia menghafal jenis-jenis pesawat, mempelajari prinsip aerodinamika, hingga mengenal nama maskapai nasional maupun internasional.

"Pilot itu untuk orang kaya, Rio."

"Kamu kira sekolah pilot murah?"

"Lihat rumahmu dulu sebelum bermimpi."

Ucapan itu memang menyakitkan, tetapi Rio memilih diam. Ia percaya bahwa mimpi tidak pernah meminta izin kepada keadaan. Ayahnya menjadi orang yang paling sering menguatkannya.

Suatu malam setelah makan malam sederhana, sang ayah duduk di beranda rumah sambil memperbaiki jala yang robek.

"Yah, apa orang miskin boleh punya cita-cita besar?"

Ayahnya menghentikan pekerjaannya lalu menatap langit yang dipenuhi bintang.

"Langit itu milik semua orang, Nak. Orang kaya melihat langit yang sama dengan orang miskin. Jadi kenapa mimpimu harus lebih rendah?"

Jawaban sederhana itu terus terpatri dalam hati Rio.

Memasuki bangku SMP, Rio mulai menyadari bahwa impian tidak akan terwujud hanya dengan belajar. Ia membutuhkan uang yang sangat banyak. Biaya pendidikan sekolah penerbangan mencapai ratusan juta rupiah, angka yang bahkan membuatnya sulit bernapas ketika pertama kali membacanya.

Namun Rio tidak menyerah. Sepulang sekolah ia membantu mengangkat ikan hasil tangkapan nelayan di pelabuhan. Upahnya hanya belasan ribu rupiah setiap sore, tetapi ia tetap bersyukur. Saat akhir pekan, ia mencuci sepeda motor tetangga, menjadi kuli angkut di pasar, bahkan pernah membantu tukang bangunan membawa semen dan pasir.

Tubuhnya sering pegal, telapak tangannya dipenuhi kapalan, tetapi ia tidak pernah mengeluh. Semua uang yang diperolehnya disimpan dalam sebuah kaleng bekas biskuit. Di bagian tutupnya tertulis dengan spidol hitam: Dana Sekolah Pilot.

Ibunya pernah menangis ketika melihat isi kaleng itu. Bukan karena jumlah uangnya banyak. Justru karena isinya masih sangat sedikit dibandingkan biaya yang harus dikumpulkan.

"Kalau nanti tidak cukup bagaimana, Nak?" tanya ibunya lirih.

Rio tersenyum.

"Kalau belum cukup, berarti aku harus bekerja lebih keras."

Jawaban itu membuat ibunya memeluknya erat.

Di sekolah, Rio dikenal sebagai murid yang rajin. Nilai matematika, fisika, dan bahasa Inggris selalu berada di atas rata-rata. Guru-gurunya mulai menyadari bahwa anak ini memiliki tekad yang berbeda. Mereka sering memberinya buku tambahan, membantu latihan soal, bahkan membebaskan biaya kegiatan sekolah ketika mengetahui kondisi ekonomi keluarganya.

Kepala sekolah pernah memanggil Rio ke ruangannya.

"Rio, saya mendengar kamu ingin menjadi pilot."

"Iya, Pak."

"Jalannya tidak mudah."

"Saya tahu."

"Masih yakin?"

Rio mengangguk mantap.

"Saya lebih takut menyesal karena tidak mencoba daripada gagal setelah berusaha."

Sejak saat itu, para guru mulai membantu mencarikan berbagai informasi mengenai beasiswa pendidikan penerbangan. Setiap ada lomba akademik, Rio selalu didorong untuk ikut. Ia berhasil menjuarai olimpiade matematika tingkat kabupaten dan menjadi finalis olimpiade fisika tingkat provinsi.

Waktu berlalu begitu cepat. Rio lulus SMA sebagai salah satu siswa terbaik. Nilai akademiknya nyaris sempurna. Namun kenyataan kembali mengujinya.

Ia mengikuti seleksi beasiswa sekolah penerbangan pertama. Gagal. Beasiswa kedua. Gagal lagi. Beasiswa ketiga. Kembali gagal.

Malam itu Rio duduk sendirian di dermaga. Untuk pertama kalinya ia merasa lelah. Angin laut bertiup pelan membawa aroma asin yang begitu akrab baginya.

"Apa mungkin mereka benar?" gumamnya.

"Mungkin memang mimpiku terlalu tinggi."

Tak lama kemudian ayahnya datang membawa dua gelas kopi.

"Ayah tahu kamu ada di sini."

Rio menundukkan kepala.

"Aku capek, Yah."

Ayahnya menyerahkan secangkir kopi hangat.

"Lihat laut itu."

Rio mengangkat wajahnya.

"Ombak selalu datang silih berganti. Kalau nelayan menyerah karena ombak pertama, dia tidak akan pernah membawa pulang ikan."

Rio terdiam.

"Kegagalan bukan tanda berhenti. Itu tanda kamu masih berjalan."

Beberapa bulan kemudian sebuah maskapai penerbangan nasional bekerja sama dengan yayasan pendidikan membuka program beasiswa penuh bagi calon pilot dari keluarga kurang mampu. Persyaratannya sangat ketat.

Rio mengisi formulir dengan tangan yang sedikit gemetar. Tes demi tes ia jalani. Tes akademik. Tes psikologi. Tes kesehatan. Tes bahasa Inggris. Tes wawancara.

Setiap tahap terasa seperti medan perang. Di ruang wawancara, salah seorang penguji bertanya dengan nada serius.

"Mengapa kami harus memilihmu?"

Rio menarik napas panjang.

"Karena saya tahu bagaimana rasanya memperjuangkan sesuatu yang hampir mustahil. Orang yang terbiasa berjuang tidak akan mudah menyerah ketika menghadapi keadaan darurat."

Ruangan mendadak hening. Beberapa minggu kemudian hasil seleksi diumumkan. Rio membuka laman pengumuman melalui ponsel pinjaman milik gurunya. Jemarinya bergetar saat menggulir daftar nama peserta yang lolos. Nomor satu. Bukan dirinya. Ia terus menggulir. Nomor dua. Rio Aditya. Matanya membelalak.

Ia membaca nama itu berulang kali untuk memastikan dirinya tidak salah lihat. Air mata langsung mengalir tanpa bisa dibendung. Ibunya yang sedang menggoreng pisang berlari menghampiri. "Lulus, Bu..."

Hanya dua kata itu yang mampu keluar dari mulutnya sebelum tangis bahagia pecah. Tak lama kemudian ayahnya pulang dari laut. Begitu mengetahui kabar tersebut, pria yang selama ini dikenal tegar itu akhirnya menangis untuk pertama kalinya di depan keluarganya.

"Kamu berhasil, Nak."

Rio menggenggam tangan ayahnya.

"Kita yang berhasil."

Beberapa minggu kemudian Rio meninggalkan desa untuk memulai pendidikan penerbangan. Saat bus yang ditumpanginya bergerak meninggalkan kampung halaman, ia menoleh ke arah kedua orang tuanya yang masih melambaikan tangan.

Dalam hati ia berjanji akan kembali dengan seragam pilot yang selama ini hanya menjadi mimpi.

Lanjut membaca
Lanjut membaca