

“Eh! Cepat sedikit bisa nggak sih? Dari tadi lama banget!”
Suara itu memecah suasana warung yang sebenarnya sudah cukup ramai. Beberapa orang langsung menoleh, ada yang sekadar melirik, ada juga yang menatap lebih lama, menikmati keributan kecil di sore hari itu.
Arel yang sedang jongkok di lantai langsung berhenti menyapu. Tangannya sempat kaku sebelum akhirnya kembali bergerak, kali ini lebih cepat, seolah kecepatan itu bisa meredakan amarah yang mengarah padanya.
“Iya, Bu… sebentar.”
“Sebentar terus! Dari tadi juga sebentar!” Pemilik warung itu berjalan mendekat, langkahnya cepat, suaranya makin meninggi. “Kalau kerja itu yang benar! Ini pelanggan nunggu semua!”
Arel tidak mengangkat kepala. Sapu di tangannya terus bergerak menyisir lantai yang sebenarnya sudah bersih sejak tadi. Ia tahu, yang salah bukan lantainya.
Beberapa pelanggan mulai berbisik pelan.
“Kasihan juga…”
“Ah, paling memang lelet…”
Suara-suara itu masuk ke telinganya tanpa bisa ia hentikan. Ia mendengarnya, mengerti, tapi memilih diam. Sudah terlalu sering hal seperti ini terjadi sampai rasanya tidak ada gunanya lagi untuk bereaksi.
“Dan itu!” Wanita itu menunjuk ke arah belakang. “Piring masih numpuk! Kamu pikir ini rumah kamu?”
“Iya, Bu… saya bereskan sekarang.”
“Harus disuruh terus! Nggak ada inisiatif sama sekali!”
Arel berdiri cepat, hampir kehilangan keseimbangan karena lantai yang masih lembap. Ia langsung bergegas ke belakang, menuju tempat cuci piring. Tangannya bergerak lebih cepat dari biasanya, air mengalir tanpa henti, suara piring beradu memenuhi ruang sempit itu.
Perih mulai terasa di ujung jarinya, tapi ia tidak berhenti. Ia tidak berani berhenti. Di kepalanya hanya ada satu hal yang terus berputar.
Kalau aku dimarahin lagi, aku bisa diusir dan kalau itu terjadi, aku makan apa?
Pikirannya membuat tangannya kembali bergerak lebih cepat.
Sore perlahan turun. Warung mulai sepi, kursi-kursi kosong, suara obrolan pelanggan satu per satu menghilang. Arel akhirnya berhenti, duduk di bangku kecil dekat ember. Tangannya masih basah, bajunya lembap, sedikit bau sabun.
Ia menatap kosong ke depan.
Perutnya berbunyi pelan.
Sejak pagi ia belum makan. Bukan karena tidak sempat, tapi karena memang tidak ada yang memberinya. Ia sempat berpikir untuk meminta, tapi niat itu selalu hilang sebelum sempat keluar dari mulutnya.
Arel melirik ke arah dapur. Pemilik warung itu sedang makan dengan santai, nasi hangat dan lauk lengkap tersaji di depannya. Uap tipis masih terlihat dari piringnya.
Arel menelan ludah, lalu cepat-cepat mengalihkan pandangan. Ia tahu, tidak akan ada yang memanggilnya.
Perutnya kembali berbunyi. Ia menunduk, menekan perutnya pelan, mencoba menahan rasa kosong yang makin terasa.
“Sebentar lagi,” gumamnya lirih, lebih seperti menenangkan diri sendiri daripada benar-benar yakin.
“Udah belum kerjaan kamu?”
Suara itu kembali datang.
Arel langsung berdiri. “Sudah, Bu.”
“Sudah? Yakin?” Wanita itu mendekat, matanya menyapu sekeliling. “Kalau masih ada yang kotor, jangan harap kamu balik lagi besok.”
“Iya, Bu.”
Ia hanya bisa mengangguk. Tidak ada yang perlu ditambahkan. Tidak ada yang bisa ia bantah.
Wanita itu kembali ke dapur tanpa melihatnya lagi. Seolah Arel memang hanya bagian kecil yang tidak perlu diperhatikan.
Arel berdiri beberapa detik, diam, lalu berjalan ke sudut untuk mengambil jaket lusuhnya. Tidak ada yang menghentikan, tidak ada yang menyapa. Ia keluar begitu saja dari warung itu, seperti bayangan yang lewat tanpa jejak.
Langit sudah mulai gelap saat ia berjalan menyusuri jalan kecil di pinggir kota. Lampu jalan menyala satu per satu, memberi cahaya temaram di sepanjang trotoar yang sepi. Angin malam menyentuh kulitnya yang masih sedikit basah, membuat tubuhnya merinding halus.
Ia berjalan tanpa tujuan. Hanya mengikuti langkah yang terasa ringan tapi kosong. Orang-orang lewat di sekitarnya, sebagian tertawa, sebagian sibuk dengan urusan masing-masing. Ada yang pulang bersama keluarga, ada yang sekadar berbincang di pinggir jalan.
Arel hanya lewat di antara mereka.
Sendiri.
Ia berhenti di depan sebuah toko tua yang sudah lama tutup. Catnya mengelupas, pintunya tertutup rapat, penuh debu. Tangga kecil di depannya menjadi tempatnya duduk.
Ia menatap jalan.
Kosong.
Tangannya diletakkan di atas lutut, lalu perlahan mengepal sebelum kembali terbuka.
“Capek…”
Suaranya pelan, hampir tenggelam oleh angin malam. Ia menunduk, memperhatikan telapak tangannya. Kasar, penuh bekas luka kecil yang tidak pernah benar-benar sembuh. Bekas kerja, bekas jatuh, bekas hidup yang tidak pernah memberinya pilihan. Ia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya pelan.
Matanya kemudian menangkap sesuatu di dekat kakinya.
Sebuah benda kecil.
Arel sedikit mengernyit sebelum membungkuk dan mengambilnya. Sebuah liontin tua, berwarna gelap, dengan permukaan yang terasa dingin di telapak tangannya. Beratnya tidak biasa, seperti menyimpan sesuatu di dalamnya. Ia membaliknya perlahan. Ada ukiran di sana. Pola yang tidak ia kenali, tidak seperti tulisan, tapi juga tidak sekadar hiasan.
“Apa ini…”
Ia bergumam tanpa sadar.
Angin malam berhembus sedikit lebih kencang. Suara dedaunan bergesek pelan, menciptakan bunyi samar yang mengisi keheningan.
Lalu, di antara suara itu, sesuatu terdengar.
Pelan.
Hampir seperti bisikan.
“Terlambat… akhirnya kamu menemukannya…”
Arel langsung berdiri. Jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya. Ia menoleh ke kanan, lalu ke kiri, mencoba mencari sumber suara itu.
Tidak ada siapa-siapa.
Jalan tetap sepi. Lampu tetap menyala. Tidak ada yang berubah.
Namun ia tahu apa yang ia dengar.
Tangannya tanpa sadar menggenggam liontin itu lebih erat. Napasnya sedikit tidak teratur, ada rasa aneh yang menjalar dari ujung jari hingga ke dadanya.
“Siapa…”
Tidak ada jawaban.
Hanya angin yang kembali berhembus.
Arel menatap liontin itu lama. Perasaan asing muncul di dalam dirinya, sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan. Bukan sekadar penasaran, tapi lebih dalam dari itu.
Seolah ada sesuatu yang selama ini tersembunyi mulai bergerak dan tanpa ia sadari, malam itu menjadi awal dari perubahan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.