
Dunia Berubah: Aku Menjadi Kaya Dengan Uang 1.000
Geam Bowl|Tamat
- Jumlah kata
- 224.5K
- Popular
- 13.2K
- Subscribe
- 511
- Jumlah kata
- 224.5K
- Popular
- 13.2K
- Subscribe
- 511
Sinopsis
Pacar yang matre memutuskan Darvin karena gaji rendahnya, lalu gadis itu menjual diri kepada keturunan keluarga kaya. Darvin terlampau sedih hingga membuatnya pingsan. Saat sadar, semua harga barang di dunia mengalami devaluasi sebanyak 1 miliar! Namun uang yang dimiliki Darvin tidak berkurang sama sekali. Dia membeli mobil balap dengan harga 100 perak, membeli villa besar dengan halaman dengan 200 perak? Apa! Harga kapal perang juga hanya 1000 perak saja?!
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1 - Putus Yang Kejam
"Oke. Aku malas bertele-tele. Langsung saja. Aku mau kita putus," ucap Carissa dengan nada yang tegas. Wajahnya dingin dan tatapannya tajam.
Seketika itu juga, udara di dada Darvin Tirta menghilang. Itu tidak seperti yang dia kira. Dia mengajak Carissa ke kafe adalah untuk berkasih mesra, tapi kata putus yang justru dia terima.
"Putus? Maksudmu … kita…."
"Hubungan kita selesai." Carissa menyambar kalimat Darvin yang patah-patah dengan tidak sabar.
"Jangan cari aku lagi. Jangan ganggu kehidupanku dan jangan ada drama. Kita resmi putus."
"Kamu bercanda, 'kan? Ini prank, ya, 'kan?" Darvin mencoba tertawa, tapi yang keluar justru tawa kikuk.
"Vin, dengar ya. Aku udah capek dengan hubungan kita. Tujuh tahun pacaran sama kamu itu kayak nyeret koper rusak di bandara. Berat, malu-maluin, dan penuh penyesalan."
Darvin mengatup bibirnya. Rasa pahit menyesak tenggorokannya.
"Aku selalu berusaha kasih yang terbaik buat kamu, Ren," gumam Darvin lirih. "Bahkan uang gajianku, delapan puluh persennya selalu buat kamu."
"Dan kamu pikir itu cukup?" Carissa tertawa kecil dengan sudut bibir miring, mengejek. "Vin, gaji kamu itu cuma recehan buat aku. Delapan puluh persenmu itu, sama seperti anak kecil yang ngasih permen ke wanita dewasa, lalu minta dihargai. Lucu kamu, Vin."
Darvin tercenung dengan perasaannya yang berantakan. Ada banyak hal yang berkecamuk di dalam kepalanya, tapi tak mampu dia ucapkan. Ini adalah sesuatu yang tidak pernah satu kali pun dia harapkan.
"Eric…," lanjut Carissa, dengan senyum penuh kebanggaan, "Dia baru beliin aku tas Hermes. Asli! Bukan KW, kayak yang kamu kasih pas ulang tahunku tahun lalu. Dia juga akan mengajakku ke Monako minggu depan. Monako, Vin. Bukan pasar malam."
"Eric Meleno?" tanya Darvin dengan kedua mata mendelik lebar, sedangkan Carissa memberikan anggukan dan senyuman senang.
"Kenapa harus dia, Ren? Gak mungkin kamu gak tau reputasinya. Dia itu preman jalanan, bajingan gak bermoral, dan dia pernah masuk berita karena…."
"Karena dia tajir!" sela Carissa dengan cepat. "Semua dosanya berubah jadi eksotis. Kamu nggak paham hukum dunia atas. Di dunia mereka, yang kaya itu Tuhan. Yang miskin…? Hanya menjadi figuran."
"Jadi itu aja alasanmu ninggalin aku?"
"Bukan 'aja', Vin. Itu alasan UTAMA. Aku butuh hidup yang layak. Masa depanku bukan sama cowok yang saat ada barang diskon 50% aja masih mikir dua kali buat beli. Kamu pikir dunia ini kayak novel romansa? Cinta aja gak cukup, Vin! Dunia ini kejam dan hidupmu serba murah."
Tidak ada kata-kata yang mampu diucapkan Darvin Tirta. Hatinya hancur, tangan kanannya masuk ke dalam jaket, merabai kotak kecil berisi cincin yang emasnya saja sepuhan. Rasanya, tidak mungkin ditunjukkan ke Carissa, karena pasti penghinaan yang keluar.
"Aku kira kamu wanita yang berbeda, Ren," ucap Darvin dengan suara rendah yang tajam.
"Kamu yang terlalu percaya mimpi, Vin," ucap Carissa sambil berdiri dan menyambar tasnya. "Selamat tinggal, Darvin Tirta. Semoga kamu dan uang 3 jutaanmu bisa bahagia bersama."
Itu adalah kalimat ejekan terakhir dari Carissa. Wanita itu melangkah pergi tanpa menoleh sedikit pun. Darvin duduk terpaku, ditinggal dengan rasa malu. Wajahnya kaku, tangannya gemetar, dan matanya memerah menahan luapan marah yang seolah mendidih dari perutnya. Dunia seakan menertawakan ketulusan dan kerja keras yang tak pernah dihargai.
Tapi langit sore itu tak diam. Sesuatu yang tidak kasat mata menyala di udara dan suara asing yang berasal dari luar, bergema dalam pikiran Darvin. Sesuatu yang tidak bisa dijelaskan.
"Emosi ekstrem terdeteksi. Kualifikasi aktivasi tercapai. Selamat Darvin Tirta, Anda terpilih sebagai host Sistem Nilai Absolut. Hadiah pemula: 1x Blind Box Harga Dunia."
Darvin tersentak. Matanya menatap kosong ke depan, tapi di dalam pandangannya, layar transparan virtual muncul dengan kilatan cahaya yang hanya bisa dilihat olehnya seorang.
"Buka Blind Box?" tanya suara misterius itu.
Darvin melihat ada dua tombol muncul. Tombol 'Ya' dan tombol 'Tidak'. Tanpa ragu, Darvin memilih tombol 'Ya'. Darvin tidak peduli dengan pilihannya. Jika ini adalah hal yang gila, biarlah. Toh hidupnya sudah lebih buruk dari kegilaan mana pun.
Layar kemudian berputar seperti lotre virtual, hingga akhirnya berhenti. Suara itu kembali bergema.
"Blind Box terbuka. Efek: Harga seluruh barang dunia terdepresiasi 10.000.000.000x lipat. Catatan: Nilai uang pribadi host, Rupiah tetap absolut. Mata uang dunia berubah menjadi Rupieh."
Darvin mengerutkan dahi. "Apa artinya…?"
Sistem menjawab, datar dan dingin, "Uangmu adalah satu-satunya yang tak tersentuh depresiasi. Dunia kini berada dalam sistem ekonomi baru."
Tak mengerti sepenuhnya, Darvin mulai berdiri, meninggalkan kafe kopi. Dia melangkah limbung dengan pikiran kalut dan hati yang kosong. Tidak ada tujuan akan ke mana, tapi saat melihat supermarket, Darvin masuk.
Dia butuh sesuatu untuk menenangkan diri, tanpa dia sendiri tahu apa yang sebenarnya dia butuhkan.
Begitu masuk supermarket, Darvin merasakan sesuatu yang aneh. Label harga barang berubah. Pasta gigi dilabeli harga 0.000000006 Rupieh. Mi instan dilabeli harga 0.0000000012 Rupieh. Bahkan satu botol mie instan kini berharga 0.0000000008 Rupieh.
Darvin memang bingung, tapi kemudian dia berpikir kalau kemungkinannya adalah typo, atau sedang ada diskon gila-gilaan, atau mungkin promo aneh. Dengan malas, dia mengambil roti dan sebotol mie instan, lalu berjalan ke kasir.
Di balik meja kasir, berdiri seorang wanita yang terlalu cantik untuk seorang penjaga kasir. Kulitnya putih pucat, eyeliner rapi, rambut panjang diikat ke belakang. Wajahnya dingin, malas menanggapi siapa pun yang lewat. Darvin hanya menatap sepintas, lalu meletakkan barang belanjaannya.
Si kasir melirik Darvin dari ujung mata, menghela napas kecil. "Itu semua totalnya delapan koma enam … eh … tunggu …."
Si kasir menatap layar monitornya yang menampilkan angka-angka tak masuk akal, total belanja: 0.0000000086 Rupieh.
Darvin membuka dompet dan tanpa pikir panjang, mengeluarkan selembar uang Rp100.000, lalu menyerahkannya begitu saja.
Kedua mata si kasir langsung membelalak melihat uang yang disodorkan Darvin. Tangannya gemetaran saat menerima uang itu. Mulutnya terbuka sedikit, lalu menutup lagi, lalu terbuka kembali.
"Ini …," bisiknya.
Seluruh suasana di supermarket langsung berubah senyap. Kasir itu menatap Darvin seperti dia adalah si pemilik supermarket.
"Total belanjanya hanya 0.0000000086 Rupieh, Pak," ucap si kasir dengan nada sangat sopan, "Uang Bapak ini … terlalu besar … Kami tidak punya kembalian dalam denominasi setara .…"
Darvin mengernyit. "Tapi ini uang seratus ribu biasa."
Si kasir makin panik. "Bapak … ini bukan 'biasa'. Ini … ini uang zaman sebelum reset mata uang. Sekarang sudah Rupieh. Ini nilainya … luar biasa. Bahkan manajer kami aja belum pernah lihat uang ini secara langsung."
Suara bisik-bisik mulai terdengar dari antrean belakang.
"Eh, lihat cowok itu. Dia bayar pakai uang kuno."
"Pasti kolektor atau orang dalam!"
"Dia beli belanjaan receh pakai uang sebesar itu? Apa dia mau beli seluruh rak roti sekalian?"
Beberapa mulai merekam diam-diam dengan ponsel mereka. Wajah Darvin mulai muncul di berbagai aplikasi sosial media.
Si kasir berbisik lewat interkom. "Panggil pengamanan. Segera!"
Darvin makin bingung. "Saya cuma mau bayar. Kenapa pakai panggil pengamanan? Saya kan gak lagi kabur."
"Iya, Pak . Mmm…, tapi…, tunggu sebentar ya, Pak."
Darvin sebenarnya ingin terus mengomel dan marah. Dia juga mulai risih dengan orang-orang yang bergunjing dan mengambil gambar dirinya. Tapi, demi melihat kegelisahan si wanita kasir, Darvin terpaksa menahan diri.
Tak lama kemudian, empat satpam berdasi berdatangan. Tapi bukan untuk menangkap—melainkan membentuk formasi pengawalan. Mereka membungkuk hormat, lalu membuka jalan.
"Ya, Tuhan. Apa lagi ini?" keluh Darvin yang tidak suka dengan penghormatan tidak jelas itu.
"Kami akan melindungi, Bapak, sampai masuk ke dalam mobil," ucap salah seorang satpam yang terlihat lebih senior dari lainnya.
"Hah? Mobil?"
Pertanyaan Darvin dijawab dengan kemunculan sebuah Rolls-Royce Phantom hitam mengkilap yang berhenti di depan pintu otomatis supermarket. Disusul empat mobil pengawal berwarna sama.
Darvin menatap mobil itu, lalu kembali menatap si kasir, dengan wajah memelas. "Apa kamu bisa jelaskan sesuatu?"
Si kasir tersenyum, senyuman yang benar-benar berubah dari awal. Senyum lembut, manis, bahkan memuja.
"Jangan terlalu mencolok, Pak," bisiknya sambil menyerahkan kembalian dalam satu kotak perak. "Uang seratus ribu Bapak itu, bisa bikin orang miskin jadi iri."
"Mari, Pak," ucap satpam senior itu.
Meski bingung, tapi Darvin kemudian memutuskan untuk mengikuti saja alurnya. Dia melangkah pelan menuju ke mobil yang pintunya otomatis terbuka. Di dalamnya, aroma kulit asli dan wewangian mewah menyeruak.
Ponsel Darvin bergetar dan masuk pemberitahuan sistem.
[Saldo Anda: 15.300.000 Rupiah. Nilai dalam Rupieh: 153.000.000.000.000 (seratus lima puluh tiga triliun).]
Darvin tertegun membacanya. Mata yang tadi suram, kini menyala.
"Jadi begini rasanya ... dilihat oleh dunia." Darvin bergumam lirih.
Dan itu baru permulaan.
Daftar bab
167 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
167 bab








