Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
The Summoner

The Summoner

Tryssa | Bersambung
Jumlah kata
47.1K
Popular
100
Subscribe
1
Novel / The Summoner
The Summoner

The Summoner

Tryssa| Bersambung
Jumlah Kata
47.1K
Popular
100
Subscribe
1
Sinopsis
FantasiSci-FiPertualanganSihirIsekai
Dunia ini pernah memiliki pahlawan. Namun pahlawan terakhir telah gugur, meninggalkan kehancuran, ketakutan, dan sebuah janji yang tak pernah ditepati. Di tengah kekacauan itu, muncul seorang pria asing dengan kemampuan yang dianggap terlarang yaitu Pemanggil. Bukan pedang, bukan sihir cahaya, melainkan panggilan dari kegelapan, dari makhluk yang tak seharusnya berjalan di dunia manusia. Saat manusia menolak dan bangsa lain memburu, hanya ia yang mampu memutar takdir yang telah hancur. Namun, setiap pemanggilan menuntut harga, dan semakin besar kekuatan yang dipanggil, semakin dekat pula ia dengan kutukan yang akan menelan jiwanya. Di dunia yang tak lagi percaya pada pahlawan, bisakah seorang Pemanggil yang dikutuk menjadi jawaban terakhir bagi takdir umat manusia? Atau justru dialah yang akan menghancurkan dunia ini sekali untuk selamanya?
Bab 1: Pecahan di Meja Usang

Malam itu dingin, seperti biasanya di musim gugur Kota Glaethen, sebuah kota pelabuhan di tepi utara benua. Kabut tipis melayang rendah di jalan-jalan berbatu, menyelimuti bangunan tua yang retak. Di sudut kota yang terlupakan, berdiri sebuah kedai kecil dengan papan nama yang hampir jatuh, bertuliskan “Rumah Makan Griselda”.

Cahaya lilin yang remang-remang berjuang menerangi ruangan pengap yang penuh dengan aroma roti basi dan anggur murahan. Suasananya rihuk pikuk. Penuh dengan para pengangguran mabuk yang meracau tentang masa depan mereka sendiri, berkelahi tanpa sadar, bahkan hanya sekedar duduk santai menikmati suasana. Di sudut dinding, tikus berlarian kesana kemari tanpa rasa takut. Mencari remahan roti yang menghujani lantai.

Elric berdiri di dekat dapur, menunggu beberapa pesanan pelanggan yang masih disiapkan koki rumahan. Matanya tampak lesu mencoba menyisiri sudut-sudut ruangan. Mengamati meja-meja penuh pelanggan yang berbicara terlalu keras. Rambut cokelatnya kusut, sebagian menempel di dahi yang berkeringat. Tangannya yang gemetar menggenggam lap kain lusuh, dengan cairan pembersih menggantung di saku celana.

DING!

Tanda pesanan pelanggan sudah siap. Dengan buru-buru, ia berjalan membawa nampan penuh makanan dengan gelas penuh anggur. Menyajikannya dengan sigap kepada pelanggan, serta membersihkan noda anggur di meja kayu yang goyah. ketika Ia baru saja selesai, suara keras memecahkan konsentrasinya.

Apa ini?!” teriak pria tambun itu, suaranya menggelegar hingga membuat sendok-sendok di meja bergetar. Mantel wol usang yang melekat di tubuhnya bergoyang ketika ia menunjuk piring di depannya dengan tangan gemetar penuh amarah. Matanya merah berapi-api, napasnya tersengal, seperti seekor banteng yang siap menyeruduk. Dengan kasar, ia menyambar piring itu dan menghantamkannya ke lantai.

PRANG!

Suara pecahan bergaung, membuat seluruh ruangan seakan membeku. Pecahan porselen beterbangan, sebagian menancap di papan kayu, sebagian lagi berputar di kaki para pengunjung yang hanya bisa ternganga. Demikian pula anggur yang tumpah, seolah-muak terkurung pada gelas murahan itu.

“Kau pikir aku babi?!” suaranya meninggi, hampir seperti auman. “Berani sekali kau menyajikan makanan busuk seperti ini padaku!”

Elric berdiri terpaku di belakang meja, jemari tangannya mengepal rapat, menahan getaran amarah sekaligus rasa takut. Tatapannya bertemu dengan si pria tambun, namun bibirnya enggan berucap. Di antara mereka, hawa tegang menebal, seakan udara pun ikut tercekik.

Beberapa pengunjung lain menunduk, tak berani menoleh. Hanya terdengar desis pelan dan bisikan yang merayap di sudut-sudut ruangan:

“Dia lagi, selalu mencari gara-gara.”

“Kasihan anak itu, pasti akan dipukulinya”

Pria tambun itu melangkah maju, telunjuk gemuknya menusuk ke arah dada Elric.

“Jawab aku, bocah! Apa kau ingin mempermainkanku?!”

Erlic kembali menunduk. Ia berjongkok, jemarinya bergetar saat memungut serpihan porselen yang berserakan. Sebilah pecahan menoreh telapak tangannya, darah segar mengalir tipis, tapi ia tetap bergerak hati-hati, tanpa keluhan.

“Aku akan membereskannya, Tuan. Mohon maaf” suaranya lirih, nyaris lenyap, tertelan oleh riuh tawa kasar dari meja lain. Tawa itu bagai cambuk yang memukul harga dirinya, membuat wajahnya makin tenggelam ke lantai yang dingin.

Sambil membersihkan lantai, pandangannya menangkap bayangan dirinya sendiri di permukaan anggur yang tumpah. Bayangan seorang pria muda dengan mata yang lelah, bahu yang lunglai, dan darah dari tangannya yang tergores mulai bercampur dengan cairan merah gelap di lantai.

Dari belakang, langkah cepat terdengar. Margot, pelayan bertubuh ramping dengan rambut disanggul ketat, melintas sambil menenteng nampan berisi gelas. Ia sempat berhenti sejenak, menoleh dengan senyum miring yang tajam.

“Cepatlah, Elric,” ucapnya dengan nada getir manis yang menusuk. “Kau membuat tamu kita tidak nyaman, lho.”

Tanpa ragu, Margot menggerakkan kakinya, memberikan tendangan halus, tepat di betis Elric.

“Ah!” tubuh Elric kehilangan keseimbangan. Pecahan piring yang tadi telah ia kumpulkan terlepas kembali, berjatuhan dengan bunyi nyaring di lantai batu yang dingin itu.

Margot melenggang pergi, seolah tak pernah terjadi apa-apa. Senyumnya tipis, dingin, bagaikan seorang penonton yang puas melihat boneka jatuh di panggung sandiwara.

Di sekeliling, tidak ada yang menolong. Hanya bisikan pelan yang bergaung:

“Bodoh sekali, anak malang itu”

“Dia harus tahu tempatnya”

Tawa pecah dari meja-meja, tawa yang tajam, memotong keheningan malam, menancap ke dada Elric lebih dalam daripada serpihan kaca yang melukai tangannya. Suara penuh ejekan tersebut menghantam telinga Elric seperti palu besi yang menghancurkan harga dirinya. Gaungan tawa yang ramai itu tidak hanya menggetarkan piring yang pecah, tetapi pada dirinya, seorang pemuda yang bahkan tidak dianggap manusia.

Dan dalam kesunyian yang hanya ia rasakan, Elric tahu malam ini hanyalah satu dari ribuan malam yang akan terus meremukkan jiwanya. Malam demi malam, ia menjadi tontonan, bahkan menjadi bahan ejekan bagi pelanggan mabuk dan rekan kerja yang lebih memilih melukai daripada menolong.

Air matanya jatuh, satu tetes, bercampur dengan darah di lantai. Tidak ada yang melihat. Tidak ada yang peduli. Sesaat Ia ingin percaya, bahwa masih ada sesuatu yang menyenangkan di luar sana menunggu dirinya. Tapi kabut terlalu tebal. Dan di dalam kabut itu, harapan hanyalah ilusi yang menertawakan balik.

Di luar, lonceng gereja berdentang tiga kali, tanda sudah lewat tengah malam. Suara itu mengalun jauh, menembus kabut merayap menutupi kaca jendela kecil, membuatnya tampak seperti tirai tebal yang memisahkan Elric dari segala kemungkinan kebebasan. Seakan dunia di luar sana bukan lagi dunia, melainkan mimpi buruk yang membeku. Elric hanya menatap jendela itu, mata suramnya terpantul pada kaca kusam, mencoba mendistraksi pikirannya dari omelan pria tambun yang meracau tak jelas itu. Dalam ruang duduknya, ia hanya melihat bayangan seorang pemuda yang patah, hampir tak menyerupai manusia.

Matanya terhenti pada sudut jendela itu. Ada sesuatu yang sakit di dalam dirinya, sesuatu yang lebih menyiksa daripada luka di tangannya.

Ia ingin berlari.

Ia ingin berteriak.

Tapi yang keluar hanyalah bisikan getir.

“Kenapa aku masih di sini?” suaranya nyaris tak terdengar, ditelan hiruk pikuk tawa orang-orang. “Aku bahkan tak tahu untuk apa aku hidup. Dunia ini, untuk apa, jika hanya menertawakanmu?”

Setelah mengumpulkan semua pecahan piring, Ia berdiri perlahan, tubuhnya ringkih, pundaknya terhuyung. Darah menetes dari jemari, jatuh satu per satu, seperti denting jam pasir yang menghitung habis sisa keberanian dalam dirinya. Tapi tak seorang pun peduli. Tawa mereka terus bergemuruh, menelan luka itu, menelan dirinya.

Ia berjalan pelan, membawa pecahan beling dan harga diri yang jatuh disetiap malam. Langkah kakinya seperti menyeret rantai tak kasat mata yang membebani tubuhnya. Ia menunduk, bukan karena hormat, melainkan karena takut. Takut pada dunia yang selalu menginjaknya.

Tong sampah yang menganga di sudut dapur, menjadi akhir perjalanan. Serpihan itu berseluncur bebas, berjatuhan ke sana, berdentingan dan berserakan bersama sisa makanan busuk. Bau amis menusuk hidung, bercampur dengan aroma gosong dari tungku yang tak pernah padam.

Elric menunduk, memandang pecahan itu seakan dirinya sendiri ikut terkubur di dalamnya. Ia mendapati Bram di sebelah pundaknya, sang juru masak kedai, berdiri dengan tangan bersilang di depan dada. Tatapannya dingin, senyumannya miring penuh ejekan.

“Elric, kau tahu apa yang mereka katakan di meja tadi? Mereka bilang kau seperti tikus yang tidak punya tulang. Memalukan.” ucap Bram.

Elric mengangkat wajahnya perlahan. Matanya berkaca-kaca, tapi bibirnya memaksakan senyum kaku yang getir.

“Tikus pun masih hidup, Bram. Dan selama ia hidup, ia akan mencari remah-remah yang tersisa.” jawab Elric.

Bram tergelak, tawanya berat, seperti pukulan palu yang menghantam dada.

“Hidup? Kau menyebut ini hidup?” (ia melangkah mendekat, wajahnya hanya sejengkal dari Elric) “Lihatlah dirimu. Kau hanya bayang-bayang di tempat yang bahkan bayangan pun tidak mau tinggal, lho”

Kata-kata itu menggema, menusuk lebih tajam daripada belati. Elric menunduk, bahunya bergetar. Tangannya meremas kain lusuh yang ia buat untuk menghentikan pendarahan di tangannya. Bukannya berhenti, remasan kuat itu membuat darah merembes dari genggamannya.

“Mungkin benar, aku hanya bayang-bayang. Tapi bayang-bayang selalu mengikuti cahaya, Bram. Kau tidak bisa menghapusnya.” Lirih Elric hampir berbisik.

Bram terdiam sejenak, lalu kembali tersenyum sinis. Ia menepuk bahu Elric keras-keras, seolah menegaskan kata-katanya.

“Cahaya? Jangan bermimpi, Nak. Di tempat ini, cahaya hanya untuk mereka yang punya nama. Dan kau, bahkan namamu pun tak berarti.” Ucap Bram berbisik dengan dingin di kupingnya.

Elric menutup matanya. Suara tawa di ruang makan kembali terdengar, menembus dinding dapur yang tipis. Lalu terdengar denting sendok, gelas yang beradu, dan ejekan yang samar-samar kembali memanggil namanya.

Elric tidak menjawab perkataan Bram. Ia kembali ke ruang utama, menyeka meja lagi, dengan tangan yang mulai terasa mati rasa.

***

Ketika semua pelanggan akhirnya pergi, Elric duduk di salah satu kursi kayu tua yang berderit halus di bawah berat tubuhnya. Tangannya gemetar, masih terasa sakit bekas serpihan kaca. Ia menatap kosong ke meja di depannya; noda anggur merah yang tertinggal di permukaan kayu tampak seperti bercak darah yang tak pernah kering.

Lampu lilin di atas meja berkelip-kelip, menolak mati, sebelum akhirnya padam sepenuhnya. Gelap. Hanya suara detak jantungnya sendiri yang mengisi ruang hampa itu.

“Elric…”

Bisikan itu menyelinap, halus namun menusuk, seperti datang dari balik dinding. Tubuhnya kaku. Ia mendongak cepat, matanya menyisir ruangan yang gelap, tapi tak ada siapa pun.

“Elric…” suara itu kembali, kali ini lebih dekat, seperti bernafas di telinganya.

Ia berdiri perlahan, kursinya bergeser dengan suara serak yang panjang, seakan menggores malam. Nafasnya terengah, matanya menyapu setiap sudut kedai yang penuh bayangan. Namun, keheningan menelan semuanya.

Lalu, angin menerobos masuk dari celah jendela. Daun-daun kering beterbangan ke dalam, melayang seperti arwah tak tenang. Api di perapian yang hampir padam tiba-tiba berdesis, seolah ketakutan.

“Mungkin, aku hanya lelah,” bisiknya, tapi suaranya sendiri terdengar asing, seperti milik orang lain.

Elric berdiri di tengah ruangan gelap itu, beberapa saat kemudian tubuhnya kaku. Suara tadi kembali muncul, seolah masih bergema di kepalanya, lembut tapi lebih dalam menusuk, membuat bulu kuduknya meremang.

“Elric…”

Ia menelan ludah, lalu tertawa hambar, pahit, seperti orang yang berusaha menutupi ketakutan sendiri.

“Ah, mungkin hanya, berhalusinasi?,” gumamnya, meski suaranya sendiri terdengar getir. “Aku terlalu letih, terlalu lapar, terlalu sendiri.”

Ia melangkah pelan menuju pintu, tapi berhenti lagi. Menoleh ke sudut ruangan yang gelap, seolah ada mata yang bersembunyi di sana.

“Kau ingin apa dariku?!” bisiknya lirih, nyaris seperti mengiba. “Aku bahkan tak punya apa-apa, lho. Hanya nama yang busuk dan hidup tak berarti. Jadi, mengapa aku?”

Keheningan. Hanya angin yang mendera kaca jendela, menciptakan bunyi rintihan seperti keluhan makhluk tak kasat mata.

Elric menghela napas panjang. Ia menunduk, bahunya bergetar samar.

“Cukup. Aku… aku harus pulang. Di rumah setidaknya ada Ken yang menungguku. Kucing jantan menggemaskan itu, ya… hanya itu satu-satunya yang tersisa untukku, kan?”

Tangannya meraih gagang pintu, dingin seperti besi kuburan. Ia memutar perlahan, dan sebelum keluar, ia menatap sekali lagi ke dalam kedai kosongnya.

“Entah siapa pun kau yang memanggil, jangan ganggu aku malam ini,” ujarnya parau, nyaris memohon.

Lalu ia melangkah ke luar, menutup pintu dengan bunyi gedebuk berat yang bergaung seperti lonceng kematian.

Di luar, malam menyambutnya dengan angin dingin yang menusuk tulang. Bulan setengah tertutup awan, seperti mata kelabu yang mengintai dari langit. Elric menarik mantelnya lebih rapat, berjalan pulang dengan langkah gontai, tak menyadari bahwa bayangan panjangnya di belakang tak selalu mengikuti gerakannya dengan sempurna.

Begitulah ia mengakhiri malam itu, dan tanpa ia tahu, juga mengakhiri hidupnya yang lama. Bab baru sudah menantinya, mengawasinya dingin dan sabar.

Lanjut membaca
Lanjut membaca