Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
CATUR

CATUR

Kopi_Item | Bersambung
Jumlah kata
35.6K
Popular
661
Subscribe
127
Novel / CATUR
CATUR

CATUR

Kopi_Item| Bersambung
Jumlah Kata
35.6K
Popular
661
Subscribe
127
Sinopsis
18+PerkotaanAksiBalas DendamUrbanHarem
Mei 1998. Dunia mengenal nama Catur bukan sebagai siapa-siapa, melainkan sebagai mangsa. Dalam satu malam yang berdarah, ia kehilangan segalanya, rumah yang dijarah, orang tua yang mati terbunuh, dan masa depan yang dirampas. Di depan matanya, ia melihat orang-orang terkasih dalam hidupnya tumbang, menyisakan dirinya—seorang anak kecil berusia 7 tahun yang gemetar—sebagai pion terakhir yang tak berarti. "Larilah ke timur," bisik seorang Letnan Jenderal Bintang Tiga, yang menariknya dari tumpukan mayat, "Di mata Kota Jayakarta, kau sudah mati. Dan itu adalah posisi terbaikmu sekarang. Karena musuh tidak akan pernah waspada terhadap hantu." Dua puluh dua tahun di jantung rimba Papua mengubah Catur. Ia tidak lagi gentar terhadap apapun. Di bawah didikan sang Letnan Jenderal, ia belajar bahwa hidup adalah papan strategi yang luas, dan hutan Papua adalah sekolah terbaik untuk mengasah naluri bertahan hidup yang paling buas. Kini, di tahun 2020, sang musuh utama—dalang di balik tragedi '98—berada di ambang kekuasaan tertinggi negara. Mampukah Catur mengembalikan keadaan, membalaskan dendam atas kematian keluarganya, belum lagi seseorang yang menarik perhatiannya, mengisi hatinya, ternyata memiliki hubungan darah dengan dalang kematian keluarga besarnya. Apakah Catur bisa menyelesaikan seluruh dendamnya, dan tidak goyah hanya karena perasaan?
Bab 1. CATUR

Marong, Papua, 13 Oktober 2020

Langit di atas Pelabuhan Rakyat Marong berwarna oranye pekat, angin membawa aroma garam dan solar yang menyengat. Bagi pria bernama Catur, ini adalah aroma keamanan yang melindunginya selama dua dekade. Di tanah ini, ia bukan siapa-siapa. Hanya bayangan yang lahir dari sisa amuk api di Jayakarta tahun sembilan delapan.

Catur duduk tenang di kursi plastik sebuah kedai kopi pinggiran. Meski kulitnya menggelap ditempa matahari laut, garis wajahnya yang tegas dan mata sipitnya yang tajam tetap menunjukkan darah Tionghoa yang mengalir di tubuhnya.

Ia tampan dengan cara yang berbahaya, perpaduan antara kehalusan paras kota dan kekasaran hidup di pesisir. Di sampingnya, Chandra—kakaknya yang berusia tiga puluh tujuh tahun—sedang sibuk menyusun cangkang kerang di atas meja kayu. Jari-jari Chandra bergerak lincah, membentuk pola melingkar yang hanya dimengerti oleh dirinya sendiri.

Catur bangkit perlahan, menyentuh pundak kakaknya dengan lembut.

"Koko, ayo. Su sore, torang pulang sudah. Terlalu lama bermain disini.”

Mereka berjalan menjauh dari keramaian pelabuhan, menuju sebuah gubuk kayu di pinggiran hutan bakau yang jauh dari kata layak.

Rumah itu berdiri di atas tiang-tiang pancang yang rapuh, tersembunyi di balik rimbunnya pepohonan.

Di sana, kemewahan adalah barang asing. hanya ada dipan kayu, tumpukan buku tua milik Catur, dan beberapa perangkat komunikasi rakitan yang tersembunyi di balik dinding papan.

Baru saja Catur hendak menyalakan lampu minyak, ia berhenti. Langkah kakinya tertahan di ambang pintu. Bau rokok kretek mahal yang tajam menyambutnya—bau yang tidak seharusnya ada di gubuk pengasingan ini.

"Catur," sebuah suara berat muncul dari kegelapan di sudut ruangan.

Seorang pria berdiri, mencabut sebilah pisau tajam yang berkilau tertimpa cahaya bulan yang masuk dari celah atap.

"Universitas kecil di ujung peta ternyata bisa menghasilkan orang yang cukup peka. Sayang sekali, namamu sudah ada di meja orang-orang besar di Jayakarta. Kau harus ikut saya sekarang, atau kakakmu yang bodok ini harus saya habisi di sini."

Mendengar kakaknya dihina, rahang Catur mengeras. Sisa-sisa kedamaian Papua di matanya menguap, digantikan oleh naluri bertahan hidup yang telah ia asah bertahun-tahun.

Gerakannya seperti kilat yang melesat dari kegelapan.

Sebelum pria itu menyelesaikan ancamannya, Catur sudah tidak lagi berdiri di ambang pintu. Tubuhnya melesat rendah, menghindari serangan tusukan pertama yang menyambar seperti ular. Bilah pisau berdesing melintasi ruang, hanya beberapa sentimeter dari tulang rusuknya.

Catur menjatuhkan bahunya ke lantai, lalu menggulung ke samping. Kayu lantai berderak di bawah berat badannya.

Pria asing itu mendesah, berbalik dengan cepat. Tapi Catur sudah bangkit. Dalam satu gerakan cair, ia meraih ember logam kosong di dekat dinding dan mengayunkannya.

Braak!

Pukulan itu mengenai lengan pria itu, mengirim pisau terbang ke sudut ruangan. Suara logam berdentum di tanah keras.

Tapi pria itu terlatih. Tanpa kehilangan keseimbangan, ia mendekat, tangannya yang masih utuh mencengkeram leher Catur. Napas mereka bercampur—bau kretek mahal dan aroma laut yang asin. Catur merasakan tekanan di tenggorokannya, darah berdesing di telinganya. Dari sudut matanya, ia melihat Chandra masih membeku, jari-jarinya menggenggam kerang-kerang itu erat-erat.

Catur membanting kepalanya ke depan.

BUGH!

Tulang keningnya bertemu dengan hidung pria itu. Terdengar suara retak yang memuaskan dan teriakan kesakitan yang teredam. Cengkeraman itu mengendur. Itu semua yang Catur butuhkan.

Dengan gerakan terlatih yang diajarkan oleh sang Letnan Jenderal di tengah rimba, ia meraih pergelangan tangan pria itu, memelintirnya ke belakang dengan paksa sambil menendang lutut dari samping.

Sendi bahu pria itu mengeluarkan suara gemeretak yang menjijikkan. Teriakan kali ini lebih keras, memecah kesunyian malam hutan bakau. Catur tidak berhenti. Ia mendorong tubuh yang sudah tak berdaya itu ke dinding kayu. Kepala pria itu menghantam papan dengan keras, matanya memutar ke belakang sebelum tubuhnya meluncur ke lantai, tak bergerak.

Ruangan kembali sunyi, hanya diisi desah napas berat Catur dan derit kayu rumah yang bergoyang. Bau besi darah sekarang bercampur dengan bau kretek dan solar.

Ia merogoh saku jaket pria tak sadarkan diri itu dan menemukan sebuah kartu identitas dengan stempel resmi dari pusat.

Sebuah senyum pahit muncul di wajah tampannya. Ia membakar kartu itu dengan pemantik gas sampai menjadi abu di atas lantai tanah, lalu menoleh ke arah Chandra yang masih berdiri diam di ambang pintu, menatap tumpukan kerang di tangannya seolah-olah apa yang terjadi hanyalah angin lewat.

Catur tahu, kedamaian di gubuk ini baru saja berakhir. Namun, ia tidak akan melangkah sebelum ada aba-aba dari sang pemberi perintah. Ia akan menunggu, tetap menjadi pion yang diam di petak gelapnya, sampai sang Jenderal memintanya bergerak.

"Masuk, Koko. Tra usah lihat," kata Catur sambil membersihkan sisa-sisa kejadian itu dengan tangan yang sedikit bergetar—satu-satunya tanda bahwa pertarungan itu bukan ilusi.

"Malam ini kita tidur lebih awal."

***

Pagi merayap pelan, membawa kabut tipis yang merambat di antara akar-akar bakau. Gubuk kayu itu seolah terisolasi, berdiri di ambang dunia yang berbeda.

Catur sudah bangun sejak sisa jelaga subuh masih menggantung di langit. Ia berjongkok di ambang pintu, menyiram lantai kayu dengan air laut untuk meluruhkan sisa noda darah yang mulai mengering. Tangannya bergerak tenang dan santai, seolah yang dikerjakan adalah rutinitas biasa, seperti yang ia bersihkan hanyalah tumpahan kopi, bukan darah dari nyawa manusia yang baru saja direnggutnya semalam. Sementara jasadnya dibiarkan tergeletak di pojok ruangan, entah akan dikemanakan, Catur belum memikirkan hal itu.

Di dalam, di atas dipan yang reyot, Chandra masih terlelap. Lengannya memeluk erat kain lusuh berisi kerang-kerang kesayangannya, seolah benda-benda kecil itu adalah satu-satunya jangkar yang menahannya agar tidak hanyut dalam ingatan masa lalu.

Tok! Tok!

Ketukan itu pendek, tapi cukup untuk membuat otot punggung Catur menegang. Ia berhenti menyiram.

"Pagi, Kakak," sebuah suara berat menyapa dari bawah rumah panggung. "Ada titipan surat. Katanya penting sekali."

Catur meletakkan gayung kayunya. Ia turun perlahan, meniti tangga kayu yang berderit. Di bawah sana, seorang pria suku asli Papua berdiri dengan topi lusuh dan kaus loreng yang warnanya sudah lama menyerah pada matahari. Sandal jepitnya tipis, nyaris habis dimakan aspal dan tanah. Pria itu tampak santai, tapi sorot matanya menyimpan kewaspadaan khas orang yang sudah kenyang makan asam garam di wilayah konflik.

Catur menghampirinya tanpa suara.

"Dari siapa?" tanya Catur, singkat, terlihat dia tidak suka berbasa-basi.

Pria itu merogoh tas selempang nokennya, mengeluarkan amplop cokelat polos tanpa prangko maupun alamat. Hanya ada satu baris tulisan tangan di sana, untuk Catur Winata.

"Sa juga tra tahu banyak, Kakak," ucapnya sambil menyodorkan amplop itu.

"Orang cuma bilang ini dari Letnan Jenderal Andi. Orang besar dari Jayakarta yang dulu sering kirim bantuan ke sini. Katanya beliau sekarang sudah jadi Menteri di sana."

Darah Catur terasa berdesir lebih cepat. Ia menerima amplop itu, merasakan tekstur kertasnya yang kaku dan sedikit kasar.

"Dia ada titip pesan apa lagi?"

Pria itu menggaruk tengkuknya yang kasar. "Dia bilang suruh sabar. Beliau ada urusan dinas di Jayapura, baru mau mampir ke sini. Beberapa hari lagi dia sampai."

Catur merobek ujung amplop. Tulisan tangan di dalamnya tetap sama—tegas dan memiliki otoritas seorang Jenderal Bintang Empat, meski kini ia lebih sering mengenakan batik mahal daripada seragam loreng.

Untuk Catur,

Bapak akan kembali ke Marong dalam waktu dekat.

Ada hal penting yang harus kita bicarakan, empat mata. Jayakarta sedang memanas, jika kamu mau ikut Bapak ke sana, mungkin kamu bisa membantu Bapak.

Jaga dirimu dan Chandra baik-baik. Lusa, Bapak tiba di Marong, kita bicarakan lagi masalah Jayakarta.

— Andi Winata

Wajah Catur yang biasanya sedingin es perlahan mengendur. Bukan ketegangan yang muncul, melainkan sebuah garis senyum tipis yang sarat akan makna.

"Terima kasih," ucap Catur pelan seraya menyelipkan beberapa lembar uang ke tangan pria itu.

Pria itu tertawa kecil, memperlihatkan barisan giginya.

"Ah, tra usah begitu, Kakak. Sa cuma bantu antar saja."

"Ambil saja. Untuk ko beli kopi di jalan," Catur bersikeras.

"Iya sudah, terima kasih, Kakak." Pria itu berbalik, namun langkahnya tertahan sejenak. Ia menoleh ke arah gubuk Catur dengan tatapan penuh arti.

"Tempat ini memang tenang, tapi orang luar Papua tra pernah datang jauh-jauh ke sini kalau cuma mau bicara hal biasa."

Catur terdiam, menatap punggung pria itu yang perlahan hilang di balik rimbun tanaman bakau. Ia kembali ke atas gubuk. Chandra sudah duduk tegak di dipan, matanya berkedip pelan mencoba mengusir sisa kantuk. Kerang-kerangnya sudah tertata rapi di pangkuan.

"Koko," panggil Catur lembut.

Chandra mendongak. Senyumnya yang polos merekah.

"Pagi, Catur."

Catur duduk di samping kakaknya, merasakan kehangatan dari tubuh pria yang jiwanya terperangkap di tahun '98 itu. Ia menunjukkan surat di tangannya, meski ia tahu Chandra tak akan mampu mencerna maknanya secara utuh.

"Ada kabar baik. Bapak Andi mau datang. Beberapa hari lagi dia sampai di sini."

Tangan Chandra yang sedang memegang kerang mendadak diam. Matanya yang kosong mulai berkaca-kaca karena satu nama itu.

"Bapak… pulang?"

"Iya," bisik Catur. "Dia mau lihat kita."

Chandra tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat garing di tengah gubuk yang suram itu. Ia kembali menyusun kerang-kerangnya dengan gerakan yang lebih hati-hati, lebih bersemangat, seolah sedang menyiapkan persembahan untuk tamu agung yang akan datang.

Catur memerhatikan kakaknya dalam diam. Ada rasa hangat yang jarang ia biarkan menetap di dadanya, namun kali ini ia membiarkannya sebentar saja. Ia menoleh ke arah pintu yang terbuka, menatap hutan bakau yang kini mulai diterangi cahaya pagi.

Ia tahu satu hal, kedatangan Letnan Jenderal Andi Winata adalah gong pembuka. Hidupnya tidak akan lagi berakhir di gubuk ini.

“Koh, janji sama aku, kita akan menua bersama. Tiba di Jayakarta, kita sama-sama jenguk makam Mami, Papi, Yeye, sama Nainai ya.”

Lanjut membaca
Lanjut membaca