Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Pandu si Mantan Berandal

Pandu si Mantan Berandal

BayangSenandika | Bersambung
Jumlah kata
64.5K
Popular
143
Subscribe
7
Novel / Pandu si Mantan Berandal
Pandu si Mantan Berandal

Pandu si Mantan Berandal

BayangSenandika| Bersambung
Jumlah Kata
64.5K
Popular
143
Subscribe
7
Sinopsis
18+PerkotaanSekolahTeka-tekiBadboyUrban
Namaku Pandu Prasetyo. Kata orang aku ini si berandal, hidupku dipenuhi dengan keputusan yang penuh emosional tanpa pemikiran yang matang. Tanganku lebih cepat bergerak daripada otakku. Aku memang suka bolos sekolah, bahkan suka berkelahi, jika ada yang mencari gara-gara. Aku mencoba berubah semenjak bertemu gadis itu. Apakah aku bisa membuatnya jatuh cinta? Atau malah aku yang terjatuh, dan kembali menjadi berandal? Kisahku tidak hanya tentang masa sekolah, tapi lebih luas dari itu. Perjalanan menjadi lebih dewasa, mengejar pendidikan atau mengejar karir. Ikuti saja kisahku, Pandu si Mantan Berandal. Temani perjalanan kisah ini, barangkali kalian mendapatkan pelajaran hidup, bahwa tidak selamanya yang gagal akan selalu gagal.
00 - Prolog

Orang-orang sering berkata bahwa hujan terdiri atas satu persen air dan sembilan puluh sembilan persen kenangan. Kalimat itu memang terdengar klise. Mungkin kalimat tersebut sering kamu baca pada postingan Instagram para remaja yang memotret jendela berembun sembari mendengarkan lagu-lagu dari Payung Teduh.

Sore itu, di sudut sebuah kedai kopi di Jakarta Selatan dengan udara penyejuk ruangan yang terasa terlalu dingin bagi tulang punggungku yang mulai ringkih ini, aku harus mengakui bahwa kalimat klise tersebut ada benarnya.

Hujan baru saja mengguyur aspal ibu kota yang sepanjang hari ini terasa begitu terik. Aroma itu segera menyeruak masuk begitu pintu kaca kedai terbuka. Petrikor, aroma tanah basah yang tertimpa air.

Aroma yang anehnya selalu memiliki kemampuan ajaib untuk menarik ingatanku mundur ke belakang; memutar ulang kaset pita yang jalurnya mulai kusut di dalam kepala.

Aku menyeruput Americano panas di tanganku. Rasanya pahit, tanpa gula. Dahulu, saat aku masih duduk di bangku SMA, aku akan menertawakan orang-orang yang memesan kopi sepahit ini.

"Hidup udah pait, Ngab, ngapain minum yang pait lagi?" kataku saat itu sembari menyeruput es teh manis dalam kemasan plastik.

Sekarang, di usiaku yang baru saja menginjak kepala tiga pada minggu lalu, aku justru mencari rasa pahit ini. Rasanya jujur dan tidak manipulatif seperti janji manis politikus atau janji manis mantan kekasih.

Namaku Pandu. Jika kamu ingin mencari namaku di LinkedIn, carilah Pandu Prasetyo.

Saat ini, aku duduk di kursi kayu menghadap jendela besar. Di luar sana, orang-orang berlarian mencari tempat berteduh. Ada pengemudi ojek daring yang terburu-buru mengenakan jas hujan ponco berwarna hijau, ada pula karyawati yang menutupi tasnya menggunakan map plastik, serta sepasang remaja SMA yang tengah tertawa sembari berlari di bawah hujan dengan tangan yang saling bertautan.

Mataku terpaku pada sepasang remaja SMA itu.

Si pemuda mengenakan seragam yang tidak dimasukkan ke dalam celana, rambutnya agak gondrong berantakan, dan tasnya hanya disampirkan di satu bahu. Si gadis menguncir rambutnya dengan model ekor kuda, rok abu-abunya tampak agak kepanjangan, dan ia tertawa sangat lepas saat sang pemuda berusaha melindungi kepalanya menggunakan jaket denim yang sudah usang.

Mereka berhenti tepat di depan jendela tempatku duduk, berteduh di bawah kanopi toko sebelah. Aku dapat melihat wajah si pemuda dengan jelas. Tampak tengil dan sok jagoan. Namun, matanya tidak dapat berbohong; ia sedang merasa menjadi pahlawan karena berhasil menyelamatkan sang tuan putri dari serbuan air hujan.

Aku tersenyum tipis. Sebuah senyuman haru, lebih tepatnya. Aku pernah berada di posisi itu. Aku pernah menjadi pemuda tengil tersebut. Aku pernah merasa dunia ini hanya milik kami berdua, dan hujan adalah lagu tema romantis yang Tuhan ciptakan khusus untukku.

Betapa naifnya sosok Pandu di masa lalu itu. Dia belum menyadari bahwa tiga atau empat tahun kemudian, hujan yang sama akan turun bukan untuk menciptakan suasana romantis, melainkan untuk menyamarkan air mata yang tumpah akibat tagihan cicilan, tenggat pekerjaan, dan hati yang dipatahkan berulang kali.

Aku meletakkan cangkir kopi yang mulai menghangat. Asap tipisnya menari-nari, membentuk pola abstrak sebelum akhirnya lenyap ditelan udara dingin.

Banyak orang bertanya kepadaku, "Ndu, lo kan udah mapan. Bisnis lo jalan, tampang lo juga ganteng, kenapa lo masih betah sendirian?"

Pertanyaan itu biasanya hanya kujawab dengan cengiran atau jawaban standar, "Belum nemu yang pas aja, Bro."

Padahal, jawabannya tidak sesederhana itu. Hati laki-laki ibarat rumah kosong yang sudah lama ditinggalkan penghuninya. Terkadang, pintunya sudah terkunci rapat dengan gembok yang berkarat, tetapi di dalamnya masih tersimpan barang-barang peninggalan penghuni lama yang belum sempat dibereskan.

Ada kursi yang patah, ada foto di dinding yang mulai buram, ada pula aroma parfum yang masih melekat di gorden. Seseorang tidak bisa sembarangan mempersilakan orang baru masuk jika keadaan di dalamnya masih berantakan seperti itu, bukan?

Di depan laptop yang menyala, kursor berkedip-kedip pada halaman kosong Microsoft Word. Aku sudah lama ingin menuliskan ini. Bukan untuk menjadi novel terlaris yang akan difilmkan oleh aktor ternama, bukan pula untuk mencari ketenaran. Aku hanya ingin menulis untuk mengeluarkan isi kepala; untuk merapikan rumah kosong tadi.

Sebab sejujurnya, hidupku di usia tiga puluh ini adalah akumulasi dari keputusan-keputusan bodoh, nekat, dan emosional yang kuambil di masa lalu. Dan dalam setiap keputusan tersebut, selalu ada nama perempuan yang menyertainya.

Aku bukan seorang petualang cinta. Sungguh. Wajahku tidak setampan Nicholas Saputra untuk menjadi seorang playboy. Aku hanyalah laki-laki biasa yang kebetulan memiliki perjalanan cinta yang... rumit. Serumit kabel penyuara kuping (earphone) yang diletakkan di dalam saku celana; saat ditarik keluar, keadaannya sudah kusut tidak karuan.

Ada masa di mana cinta berwarna putih abu-abu. Sederhana, polos, dan penuh ego. Masa di mana masalah terbesarku hanyalah perihal cara membeli bensin untuk kencan di malam Minggu dan bagaimana menyembunyikan rokok dari guru bimbingan konseling.

Pada masa itu, ada satu nama yang membuatku belajar bahwa cinta pertama memang tidak pernah mati. Ia hanya tertidur dan terbangun kembali pada saat yang paling tidak tepat atau mungkin, pada waktu yang paling tepat?

Kemudian, ada masa di mana hidupku berubah menjadi mode bertahan hidup. Kota asing, kamar indekos berukuran tiga kali tiga meter, mi instan, dan kesepian yang mencekik. Pada masa itu, aku belajar bahwa rumah bukan sekadar bangunan fisik. Rumah bisa berupa seseorang. Seseorang yang aneh dan misterius, namun bisa membuatmu merasa aman hanya dengan duduk diam di sampingnya.

Hujan di luar semakin deras. Langit Jakarta berubah menjadi abu-abu gelap, seolah mendukung suasana hatiku untuk mulai bercerita. Aku menarik napas panjang, mengisi paru-paru dengan aroma kopi dan dinginnya udara dari penyejuk ruangan.

Aku menatap kembali ke arah luar jendela. Pasangan remaja SMA tadi sudah tidak ada. Mungkin mereka sudah nekat menerjang hujan, atau sudah dijemput oleh ayah si gadis dengan mobil. Syukurlah. Semoga perjalanan cinta mereka tidak serumit perjalananku dahulu.

Aku mengetikkan satu kalimat di layar laptop. Huruf demi huruf muncul, membentuk sebuah pengakuan.

Ini bukan cerita tentang pahlawan super. Ini bukan cerita tentang CEO kaya raya yang dingin namun sangat mencintai pasangannya. Ini adalah cerita tentang Pandu. Tentang kebodohan masa muda, tentang penyesalan yang datang terlambat, dan tentang pencarian panjang menuju jalan pulang.

Jika kamu berharap cerita ini hanya berisi hal-hal manis, sebaiknya kamu menutup laman ini sekarang, agar kamu tidak kecewa.

Namun, jika kamu adalah laki-laki yang pernah merasakan sesaknya melihat punggung perempuan yang kamu cintai menjauh di peron stasiun, atau kamu adalah perempuan yang ingin mengetahui isi kepala laki-laki yang terlihat acuh tak acuh padahal batinnya rapuh... mungkin kamu harus tetap di sini.

Semuanya dimulai bertahun-tahun yang lalu. Di masa ketika kaset pita masih diputar menggunakan pensil jika pitanya mengendur, dan menyatakan cinta membutuhkan keberanian untuk berbicara langsung, bukan melalui pesan WhatsApp.

Aku memejamkan mata sejenak, membiarkan memori itu datang menghampiri. Suara bel sekolah. Aroma keringat di lapangan basket. Suara sepeda motor tuaku yang knalpotnya bocor. Dan tentu saja, senyuman dia. Senyum gadis yang namanya akan selalu menjadi kata sandi hati dalam bab-bab kehidupanku.

"Oke, Ndu. Kita mulai," gumamku pada diri sendiri.

Jari-jariku mulai menari di atas papan ketik. Kursor berkedip semakin cepat. Hujan di luar seakan menjadi saksi bisu dimulainya sebuah pemutaran ulang. Sebuah kilas balik dari kaset kehidupanku yang penuh dengan derau, lagu-lagu melankolis, dan terkadang, musik rock yang memekakkan telinga.

Selamat datang di dalam kepalaku. Jangan lupa siapkan kopi, karena perjalanannya akan panjang. Dan mungkin, hanya mungkin, kamu akan menemukan potongan diri kamu sendiri di salah satu paragraf yang akan kutuliskan nanti.

Bab satu, dimulai.

Lanjut membaca
Lanjut membaca