Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Wibu Culun Penguasa Harem

Wibu Culun Penguasa Harem

Ikhwanul Halim | Bersambung
Jumlah kata
39.9K
Popular
405
Subscribe
75
Novel / Wibu Culun Penguasa Harem
Wibu Culun Penguasa Harem

Wibu Culun Penguasa Harem

Ikhwanul Halim| Bersambung
Jumlah Kata
39.9K
Popular
405
Subscribe
75
Sinopsis
18+PerkotaanSekolahHaremCinta SekolahSiluman
Aditya Timor adalah seorang remaja biasa. Dia bersekolah, bergaul dengan teman-temannya, dan sedikit—lebih tepatnya sangat—pemalu terhadap makhluk yang namanya cewek. Hidupnya sehari-hari? Biasa banget. Sampai suatu hari dia menyelamatkan nyawa seekor rubah berekor dua. Kok bisa di Surabaya ada rubah yang juga disebut rase? Inilah hebatnya pengarang, bro! Aditya segera menemukan bahwa yang dia selamatkan sebenarnya adalah yokai kitsune, seekor siluman rase betina remaja yang cantik menawan dan seksi bombastis bernama Inara Zenko. Inara sudah memutuskan bahwa Aditya akan menjadi pasangannya—dan dia Inara tidak menerima penolakan. Kehidupan Aditya akhirnya mulai tenang. Tentu saja, dia berurusan dengan tingkah laku Inara yang aneh, tapi tidak masalah, karena dia sebenarnya mulai menikmati kehadiran kitsune yang cantik itu. Namun Aditya masih bertahan. Sayangnya hidup suka memberikan kejutan tak terduga, dan hidupnya akan segera menjadi ecchi—maksud pengarang, buruk. Hadirnya seorang tsundere yang berpakaian gothic lolita. Musuh baru yang membuat Aditya kelihatan seperti cowok lemah cungkring kurus kering kurang protein. Ada lagi seorang cewek tomboy yang disukai Aditya. Belum lagi Inara Zenko sendiri. Ya, Aditya punya masalah, dan hidupnya akan semakin berat dan semakin tegang. Doain ya pembaca, jangan sampai dia berubah menjadi Protagonis Harem. Bahaya.
BAB SATU

Pernahkah kau mengalami salah satu momen yang mengubah takdirmu? Sebuah peristiwa yang begitu penting sehingga, bertahun-tahun kemudian, kau masih takjub bagaimana hal itu mengubah jalan hidupmu?

Aditya Timor pernah mengalaminya. Itu terjadi beberapa waktu lalu. Hingga hari ini, dengan semua perubahan yang terjadi, pengalaman yang dia alami, dia masih tidak percaya bagaimana momen itu mengubah hidupnya selamanya.

Aditya duduk di lantai, tangan di belakang punggungnya sebagai penyangga agar tidak jatuh telentang. Dia menatap orang di hadapannya, linglung, terkejut, dan nyaris panik.

Cewek itu menatapnya dari balik tirai rambut berkilauan yang mengingatkan pada api—merah menyala yang berkilauan di bawah sinar matahari sore.

Cantik.

Itulah satu-satunya kata yang bisa dia pikirkan. Namun bahkan kata itu pun tampaknya tidak mampu menggambarkan keindahan rambutnya. Atau mendeskripsikannya sama sekali.

Penampilannya akan membuat bidadari iri. Bukan hanya rambutnya yang panjang hingga melewati pahanya. Mata zamrudnya yang berbinar menatap Aditya dengan kegembiraan yang membuat Aditya bengek sesak napas. Bibir merahnya yang menggoda, jenis bibir yang pasti ingin dicium oleh cowok mana pun yang punya semangat, melengkung karena nikmat, membuat lengannya gemetar. Tubuhnya yang seolah diciptakan oleh iblis sendiri untuk mewakili nafsu, mengancam untuk mencuri kewarasan Aditya.

Apa pun yang terjadi setelahnya, pertemuan pertama mereka tak mungkin terlupakan.

Bibirnya yang seperti busur Cupid terbuka, dan dari mulut yang berbentuk indah itu keluar satu kata. Kata yang begitu manis sehingga Aditya bersumpah dia berada di dunia anime. Dalam salah satu komedi romantis di mana si cewek jatuh cinta pada tokoh utama pria pada pandangan pertama.

Terutama karena, di awal cerita ini, cewek itu hanyalah seekor rubah biasa dengan—yang anehnya—dua ekor merah lebat. Hidup pula.

“Kekasihku…”

Sepatah kata itu menghantam Aditya ketika dia sama sekali tidak mengharapkannya.

***

Kediaman keluarga Larasati Timor terletak di dalam kompleks apartemen Four East yang berlokasi di Surabaya

Secara keseluruhan, tempat itu cukup nyaman untuk ditinggali. Tidak terlalu mewah, tetapi rumputnya hijau, ada dua kolam renang yang terawat dengan baik—di antara fasilitas lainnya—dan semua gedung apartemen bersih, modern, dengan atap merah dan dinding plester putih. Ada tempat yang lebih buruk untuk ditinggali.

Apartemen milik keluarga Larasati Timor berukuran sedang, memiliki dua kamar tidur dan dua kamar mandi, dapur sedang yang terhubung ke ruang tamu, dan sebuah kamar kerja di dekat kamar tidur utama. Meskipun tidak terlalu besar, apartemen itu memiliki semua kenyamanan yang diharapkan ada di rumah yang terawat dengan baik.

Di sepanjang dinding terdapat foto-foto dalam bingkai dengan berbagai ukuran dan gaya. Foto-foto itu menampilkan seorang wanita muda cantik yang tampak tidak lebih dari dua puluh tahun, dan seorang anak laki-laki yang tumbuh di setiap foto. Dalam salah satu foto, Aditya adalah bayi kecil yang tampak seperti bola kecil yang menggelembung, seperti umumnya semua bayi.

Di foto lain, dia tampak sebagai anak laki-laki yang tidak lebih dari satu tahun, dengan rambut halus seperti rambut jagung. Di foto lainnya, dia tampak sebagai anak praremaja dengan rambut pendek dan awut-awutan serta senyum lebar, memegang bola sepak di tangannya sambil berdiri di samping seorang gadis dengan rambut dicat pirang pendek seperti anak laki-laki yang juga tersenyum lebar.

Semua foto menunjukkan anak laki-laki itu ketika dia tumbuh dewasa dan wanita yang tampak muda, yang jelas-jelas adalah ibu anak laki-laki itu.

Apartemen itu sebagian besar kosong dari penghuni, kecuali satu kamar tidur tempat anak laki-laki dalam foto-foto itu tidur dengan tenang—

Biiip!

Biiip!

Bi—Brak!

—atau setidaknya, tempat dia tidur, sampai jam alarm berbunyi, merusak mimpi indahnya.

Bukankah seharusnya jam itu berbunyi sepuluh detik lagi? Dia baru saja mau berbagi cipokan romantis dengan Evelyn!

Dengan mata masih mengantuk, Aditya Timor duduk di tempat tidur dan melepaskan tangannya dari jam alarm yang hancur berantakan. Dia mengedipkan matanya yang capek, berusaha menerima kenyataan bahwa dia kini sudah bangun.

Aditya menyisir rambut cokelat terangnya yang acak-acakan dan panjangnya sedang, menyingkirkan beberapa helai poni yang menutupi matanya. Ketika pikirannya menjadi lebih jernih, dia tanpa sadar menatap sekeliling kamarnya.

Kamarnya kamar biasa untuk seorang anak laki-laki berusia lima belas tahun. Di sepanjang dinding terpampang poster semua band dan tim olahraga favoritnya, bersama dengan sejumlah poster yang menampilkan karakter anime dan manga favoritnya seperti Rara Satarin Debiruku, Eruza Sukaretto, Supaiku Supigeru, dan Torein Hatonetto.

Di dinding terdapat rak buku besar, penuh dari atas hingga bawah dengan anime dan manga favoritnya.

Anehnya, tidak ada gambar fotomodel bikini, aktris seksi, atau cewek setengah buligir di kamarnya. Mereka tidak ada di kamar tidur Aditya hanya karena rasa malu bawaannya terhadap wanita.

Intinya, dia sama sekali tidak bisa berbicara dengan cewek. Setiap kali seorang cewek mendekatinya, dia membeku. Mulutnya tak bisa terbuka, otaknya berhenti berpikir. Itu adalah penyakit yang memengaruhinya dalam banyak hal, dan itu adalah alasan utama mengapa dia masih belum bisa mengajak Evelyn Rimbani berkencan, meskipun mereka sudah saling kenal selama bertahun-tahun.

Setelah memikirkannya, Aditya percaya alasan dia tidak bisa berbicara dengan cewek adalah karena dia terlalu banyak menonton shonen.

Tepatnya komedi romantis shonen.

Setelah mandi dan berpakaian, Aditya membuat sarapan berupa telur, roti panggang, dan segelas susu. Setelah selesai, dia meletakkan piring-piring di wastafel dan menggosok giginya. Setelah menyelesaikan ritualnya, dia bangun dan siap beraktivitas.

Keluar dari apartemen yang dia tinggali bersama mamanya, yang saat ini berada di Prancis untuk pekerjaannya, Aditya mengunci pintu dan berjalan ke sepedanya.

Itu adalah salah satu sepeda cruiser yang bagus, yang harganya cukup mahal, tetapi dia menganggapnya sebagai investasi. Ketika di jalan, kenyamanan adalah hal yang terpenting. Hal terakhir yang diinginkannya adalah pantatnya kesemutan saat bekerja.Dia membuka gembok, mengambil sepeda, menggiringnya menuruni tangga, dan pergi, mengayuh sepedanya keluar dari kompleks apartemen Four East dan menuju jalan utama.

Sambil bersepeda di jalur sepeda di sisi kiri jalan, Aditya merenung bahwa bahkan di pagi buta sekalipun, cuaca di Surabaya masih sangat panas. Surabaya pasti merupakan kota terpanas di Indonesia, terutama selama musim kemarau panjang.

Yah, secara teknis musim kemarau hampir berakhir. Kurang dari dua minggu lagi akan September, tetapi Aditya bukanlah tipe orang yang peduli dengan kosakata seperti itu. Itu tentu tidak akan menghentikannya untuk mengeluh.

Sambil mengeluh dalam hati tentang panasnya, dia terus mengayuh sepedanya di jalur sepeda sampai ke tempat kerjanya.

Pekerjaan Aditya adalah mengantarkan koran pagi ke rumah-rumah di sepanjang rutenya. Dia tidak suka bergantung pada mamanya untuk uang, terutama karena mamanya jarang ada di rumah.

Dia mulai mengantarkan koran dua musim kemarau yang lalu, ketika dia kelas delapan, dan memutuskan untuk terus melakukannya setelah dia masuk SMA.

Karena musim kemarau hampir berakhir, dia hanya mengantar koran Minggu pagi. Dia tidak punya waktu di hari kerja sekarang karena dia harus sekolah, mengerjakan PR, dan kegiatan ekstrakurikuler. Itu berarti dia akan menghasilkan lebih sedikit uang, tetapi setidaknya dia masih akan menghasilkan sesuatu.

Gedung kantor surat kabar itu tidak terlalu menarik—hanya bangunan persegi panjang satu lantai berukuran sedang yang terbuat dari batu bata abu-abu kusam dan atap datar. Bangunan itu tampak membosankan, dan manajernya pun tidak jauh lebih baik.

Bahkan, Aditya lebih suka melihat gedungnya daripada manajernya. Untungnya, bos besar itu tidak akan ada di sana sepagi ini. Aditya mengira ada hikmah di balik itu, tetapi dia tidak bisa menemukan hikmahnya apa.

‘Dasar brengsek, manajer sialan bisa tidur nyenyak sementara aku terjebak bersepeda di tengah cuaca panas begini.’

Lanjut membaca
Lanjut membaca