Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Panggil Saja Zul

Panggil Saja Zul

Jaka Sagita | Bersambung
Jumlah kata
41.0K
Popular
100
Subscribe
10
Novel / Panggil Saja Zul
Panggil Saja Zul

Panggil Saja Zul

Jaka Sagita| Bersambung
Jumlah Kata
41.0K
Popular
100
Subscribe
10
Sinopsis
18+PerkotaanAksiGangsterBadboy
Zul, panggilan pemuda yang besar di Kota Lahat, Sumatra Selatan. Sejak kecil berkeinginan hidup sukses di Jakarta. Cita-cita yang sering dijadikan bahan olok-olok oleh teman sepermainan dan kawan sekolahnya. Tak sengaja, saat tertidur di sebuah batu besar di pinggir Kali, ia mendapatkan kekuatan yang semula tak dipahaminya. Tak disadari, terjadi perubahan besar dalam hidupnya. Selain itu, dengan bekal tekad, keberanian dan restu orangtua, ia berangkat ke Jakarta seorang diri. Perjuangan Zul pun dimulai sejak berangkat, hingga sampai di kota yang diimpikannya sejak kecil. Perjalanan hidup, hingga menemukan keberuntungan yang tidak pernah dipikirkan sebelumnya, menjadikan kehidupannya sedikit demi sedikit makin membaik. Hingga akhirnya semua teman masa kecilnya menganggap dirinya sebagai orang sukses dan disegani di kampung. Ia pun membangun puncak kekuasaannya...
Kebangkitan

Tak sadar, langkah Zul sudah melewati sungai kecil yang lokasinya tidak jauh dari rumah Isyana. Isyana, perempuan manis berambut hitam, ikal panjang menjuntai, dengan mata bulat yang selalu berbinar. Bibirnya selalu tersenyum manis, yang selalu menghiasi wajahnya saat bertemu. Ada satu lagi, lesung pipit di pipinya membuat senyumannya makin menggoda ingatan saat malam tiba.

Langkah Zul agak terhenti, ketika jalankan sedikit menanjak. Ada batu besar yang menghalangi jalan lintasan air ini. Ilalang setinggi kepala, menutupi pandangan sehingga tidak leluasa melihat sekeliling. Namun karena sudah terbiasa melewati jalan setapak ini, langkah Zul tidak berhenti.

Namun, tiba-tiba Zul ingat bangaimana tatapan tajam penuh selidik dan curiga ayah Isyana tadi. Ia memang seorang prajurit TNI dengan pangkat tiga balok di pundaknya. Pangkat yang cukup tinggi di kota kabupaten. Pandangannya terasa sekali menusuk dan memandang rendah dirinya. Meski sudah menyapa dengan penuh sopan santun, namun balasan yang didapat malah dingin. Bahkan bisa dikatakan sebagai pernyataan terang-teranga ketidaksenangan dan mengusir.

Isyana yang mencoba memperkenalkan Zula pada ayahnya, langsung terdiam ketika sorot mata sang ayah menatapnya tajam. Seperti daun Bunga Putri malu yang disentuh, kepalanya langsung menunduk dalam. Pandangan matanya langsung keujung jari kakinya yang tanpa alas kaki. Sempat kulirik, cat kuku bintang hitam di dasar warna pink menghiasi kuku jari kakinya. Dalam hati, Zul tersenyum senang. Namun senyum itu rupanya segera memancar di wajahnya, dan menjadi kesalahan besar di mata ayah Isyana yang sejak awal memang tidak merasa senang.

"Pergi dan jangan berani dekati anak saya lagi," ujarnya dengan nada meninggi penuh ancaman. Matanya melotot, tangannya terangkat dan telunjuk jarinya menunjuk ke pintu rumah.

Itulah kalimat pertama yang keluar dari mulut Gator, ayah Isyana untuk membalas sapaan ramahnya.

"Selamat sore om, saya Zul, teman sekolah Isyana...." ujar Zul sambil memberi senyum terbaiknya dan mengulurkan tangan.

Tapi tangan itu buru-buru ditariknya lagi, saat tatapan tajam berkilat cepat dari mata Ayah Isyana. Dan kejadian pengusiran pun terjadi pada menit berikutnya. Tatapan tajam tanpa ampun, menghujam dada Zul. Namun anehnya, Zul tak gentar. Masih dengan sorot mata ramah, ia memapaki tatapan tajam Gatot yang mukanya mengerah dan memerah.

Tak banyak yang bisa dilakukan Zul, selain menyelempangkan tas sekolah yang tadi diletakkan di dekat kakinya. Ia pun berdiri, matanya sempat memandang Isyana yang masih menunduk. Ia pun masih sempat melemparkan senyum, dan menganggukkan kepala, yang langsung dibalas senyum manis dan anggukkan pelan Isyana. Tapi, pandangan itu segera terhenti, ketika sorot dan ayunan tangan ayah Isyana bergerak sebagai tanda memintanya untuk pergi.

Tanpa menoleh lagi, Zul pun melangkah keluar dengan langkah berjalan seperti tidak terjadi apa-apa. Rupanya, sikap ini pun disalahartikan Gatot. Hatinya makin kesal karena merasa disepelekan oleh anak baru bawang. Sikap Zul itu, justru dianggap menantang sang ayah Isyana yang hatinya meradang.

Tiba-tiba terdengar lagi bentakan, entah apa ucapannya. Tak dihiraukan Zul. Ia terus melangkah tanpa menoleh sedikit pun. Berjalan dengan mantap, hingga terdengar lagi pintu pagar yang ditutup keras dengan dibanting. Braakkk suaranya mengagetkan seekor anak anjing yang sedang terlelap di dekat pagar.

Di luar, di jalankan itu, Zul merasakan kebebasannya. Angin segar segera menerpa wajahnya. Ia sadar apa yang baru saja terjadi. Tapi langkahnya semakin mantap. Langkah itu terhenti ketika kaki mendekati batu besar. Entah mengapa, ada keinginannya untuk duduk di batu besar itu. Ia pun segera memanjat, lewat sisi yang memang sudah dikenalnya sejak kecil.

Sisi berundak, agak kasar namun justru itu memudahkan kaki menjejak untuk memanjat. Beberapa jenak kemudian, ia pun sudah duduk di bagian tertinggi batu itu. Tatapannya jauh menembus jalan setapak yang baru saja dilaluinya. Terus menyelinap di antara ilalang yang sedang menyenandungkan lagu kebebasan ketika daun-daunnya saling bersentuhan saat digoyangkan oleh angin petang.

Di ufuk barat, lembayung mulai memayungi langit, menggeser warna orange yang sebelumnya menyala cerah. Pertanda sebentar lagi area ini akan gelap gulita, jika sang rembulan tidak memperlihatkan dirinya yang cantik.

Zul kini berdiri di batu besar, pandangan tertuju pada area perumahan dinas tentara yang baru ditinggalkannya tadi. Matanya mencari rumah Isyana, dalam hatinya berkata dengan seirama nafas. Ia mengucap janji, tidak dengan marah, tapi dengan gelora mimpi yang ingin diwujudkannya. Suatu hari nanti, mereka yang tinggal di rumah itu, akan tunduk pada dirinya.

Zul pun merasakan sensasi yang tidak biasanya. Ia belum pernah merasakan jantungnya berdegup kencang. Angin yang bertiup menjadi irana suara alam yang menggelorakan batin. Dan itu terjadi di saat pergantian lembayung menjadi gulita. Tetiba, suara alam mengalunkan melodi yang tidak biasa. Ada daya magis yang membuatnya sesaat terasa hanyut. Ada bisikan lembut, namun tak jelas dipahaminya. Meski suara itu terasa amat nyata. Ia merasakan ada gemuruh alam yang menyaksikan janji dan niat yang diucapkannya barusan.

"Waktunya akan tiba..... Waktunya akan tiba..."

Bisikan suara itu makin jelas terdengar di telinga Zul. Sontak, ia pun menoleh Kiri kanan mencari asal suara. Siapa yang berbisik itu, katanya dalam hati.

"Tak usah kamu cari, aku adalah dirimu sendiri... Tak usah kamu cari.."

Suara itu seolah menjawab pertanyaan dalam hatinya. Tanpa sadar, peluh membasahi wajahnya. Kaosnya pun segera basah oleh keringat yang membanjir keluar dari kulit punggungnya. Tubuhnya tiba-tiba gemetar, jantungnya pun berpacu kencang namun cukup teratur. Dadanya kembang kempis seirama tarikan nafas panjang yang teratur. Tidak lama kemudian, dari arah bawah pusar diatas kemaluan, di titik kundalini nya berputar kencang arus panas yang semakin lama semakin cepat, menenggelamkan seluruh jalur darahnya.

Pusaran kekuatan itupun semakin menggelora bak gelombang pasang yang mendera pantai sepanjang malam. Aliran arusnya semakin kuat, semakin deras dan besar, bahkan Zul merasakan dirinya limbing dan melayang.

Ya, Zul merasa dirinya melayang di atas batu hitam besar itu. Dari kepalanya mengepul uap putih panas yang langsung membubung tinggi. Tidak lama kemudian, Zul pun tak mampu menahan dirinya lagi. Ia pun berteriak keras, antara rasa takut dan kehilangan arah, ia melayangkan pandangan ke sekiling.

Tiba-tiba bisa melihat dengan jelas, isi rumah Isyana. Ia melihat Gatot sedang memarahi Isyana yang menangis di pangkuan ibunya. Rambut panjangnya terjuntai, pandangannya kosong.

Ia berteriak kencang, "hentikan .." Dari posisi di atas, ia melihat dengan jelas Gatot kaget dan menoleh ke atas langit-langit rumahnya dengan perasaan bingung. Kentara sekali wajahnya tiba-tiba memperlihatkan rasa jerih ketika mendengar suara teguran tanpa wujud itu. Ia pun langsung melangkah keluar ruang, dan duduk di ruang tamu, meninggalkan Isyana yang menangis di pangkuan ibunya.

Lanjut membaca
Lanjut membaca