Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
DIMAS DAN GELANG PENGUBAH NASIB

DIMAS DAN GELANG PENGUBAH NASIB

liani | Bersambung
Jumlah kata
63.3K
Popular
3.3K
Subscribe
769
Novel / DIMAS DAN GELANG PENGUBAH NASIB
DIMAS DAN GELANG PENGUBAH NASIB

DIMAS DAN GELANG PENGUBAH NASIB

liani| Bersambung
Jumlah Kata
63.3K
Popular
3.3K
Subscribe
769
Sinopsis
PerkotaanSupernaturalPria MiskinZero To HeroPewaris
Dimas adalah seorang pemuda yang gagah dan tampan. Dia juga orang yang pintar dan digadang - gadang akan menjadi wakil direksi di perusahaan tempatnya bekerja. Tapi sebuah kecelakaan membuatnya menjadi orang bodoh yang hanya bisa tersenyum. Otaknya tumpul. Semua kepintarannya musnah. Pimpinan yang merasa tertolong dalam kecelakaan di ruang rapat itu tetap memberinya pekerjaan sebagai OB. Dimas kini menjalani hidupnya dengan sangat terbatas sebagai OB. Dia tinggal bersama Ibunya yang sakit. Hingga pada suatu hari saat dia pulang kerja, Ibunya kambuh. Sebelum meninggal dia memasangkan gelang pada tangan anaknya. Gelang cinta dari Bapak dan Ibu. Sebuah gelang yang akan mengubah kehidupannya. Kehidupan macam apa yang akan Dimas jalani? Darimana Ibu dan Bapaknya mendapatkan gelang itu? Yuuuuk aku ajak kalian untuk melihat kebenarannya.
Bab 1. Office Boy

Dimas tersenyum sambil menatap wajah ibunya.

“Ibu … Dimas pergi ya … berangkat kerja dulu ya,” pamitnya

“Hati - hati, Nak. Kerja yang baik ya … fokus dan teliti,” pesannya.

“Iya, Bu. Dimas akan ingat pesan Ibu. Fokus, hati - hati, dan teliti,” kata Dimas menirukan perkataan Ibunya.

Dimas mencium punggung tangan Ibunya dan berangkat kerja.

Ibu menarik napas panjang dan menatap iba. Anak semata wayangnya yang pintar menjadi seperti keterbelakangan mental gara - gara kecelakaan kerja bulan kemarin.

Sesampai di kantor, suasana masih sepi. Jam kerja Dimas lebih awal karena dia harus membersihkan seluruh ruangan dan menyiapkan segala kebutuhan kantor.

Dua teman lainnya juga dalam tugas yang sama. Devi dan Prayitno.

Hari ini ada meeting mingguan, seperti biasa diadakan dari waktu ke waktu.

Prayitno, OB yang biasanya menyediakan minum diminta untuk keluar membeli keperluan kantor dan Devi juga masih mengerjakan pekerjaannya yang belum selesai.

Akhirnya Dimas diminta untuk menyediakan minum ke ruang rapat.

Teh panas dalam nampan dibawa dengan hati - hati dan pelan - pelan.

Dimas meletakkan gelas - gelas kertas itu pada tiap meja, dari meja pimpinan hingga meja karyawan lain.

Tiba - tiba kaki Kevin dikeluarkan dari bangku dengan menahan tawa.

Dimas yang berjalan fokus pada nampan menjaga supaya teh panas dalam gelas tidak tumpah tak melihat kaki Kevin.

Braak!

Tubuhnya oleng, dan jatuh tengkurap. Nampan terlempar, gelas - gelas berhamburan dan teh panas tumpah kemana - mana.

Kevin tak dapat menahan tawanya.

Wakakakak …

Pak Jaya yang sedang presentasi merasa terganggu, dia menatap tajam kejadian itu.

“Dimas! Apalagi sekarang? Kerja hati - hati!” tegur Pak Catur yang langsung berdiri dekat Pak Jaya.

Tawa Kevin hilang tapi masih terkikik. Begitu juga dengan teman yang lain.

“Uuuhh … maaf, Pak. Maaf, Pak,” wajah Dimas memelas. Dia tak mengerti mengapa bisa jatuh tiba - tiba.

Dengan segera dia jongkok dan mengambil semua gelas - gelas yang berhamburan. Meletakkannya di atas nampan, dan dibawa keluar.

Tak lama kemudian dia masuk dengan membawa gagang pel yang tadi.

“Sssstt! Ssssst! Heh Dimas!” panggil Roni dengan sedikit berbisik.

Dimas menoleh ke Roni yang ada di sebelahnya.

“Lo harus menyayangi gagang pel itu terlebih dahulu sebelum lo pakai,” Lalu Roni memonyongkan bibirnya memberi kode supaya Dimas mencium gagang pel.

Dimas bingung, dia diam sejenak. Otaknya tak mampu menganalisa perintah dengan benar.

“Sayang? Menyayangi gagang pel? tanyanya bingung.

Roni mengangguk sambil tetap memonyongkan bibirnya.

“Dimas! Ayo cepat selesaikan, rapat jadi tertunda karena kamu!” kata Pak Catur dengan suara keras.

Dimas terkejut mendengar teguran Pak Catur. Dia merasa serba salah dan langsung mencium gagang sapu dengan sepenuh hati.

WAKAKAKAKAK!

Ruangan rapat langsung pecah dengan tawa yang tak terkendali.

“Maaaas … Maaas … apa masih terkenang Marni ya? Kenapa? Kau diputus sama Marni ya? Wakakakak!”

“Wakakakak … segitu cinta lo sama gagang pel!”

Pak Jaya yang masih berdiri di depan terkejut, dia tak menduga Dimas akan melakukan hal itu. Pak Jaya hanya diam dan menggelengkan kepala.

Dia menatap iba pada sosok Dimas Adisthya.

Masih terbayang dalam pikirannya, ketika siang itu dia memimpin pertemuan, mengungkapkan ide - ide jenius. Dan saat itu juga lemari arsip tiba - tiba roboh. Hampir saja menimpanya bila Dimas tak mendorong dan membiarkan dirinya yang tertimpa.

Tek! Tek! Tek!

Pak Jaya memukulkan bolpoin pada meja meredam tawa anak buahnya.

Devi yang lewat merasa curiga, hatinya bimbang antara masuk atau membiarkan saja.

“Ini pasti mereka mengerjai Dimas. Kok tak punya hati semua orang - orang ini,” katanya geram.

Tiba - tiba Bu Laura, pimpinan kantor berdiri. Dia berjalan pelan menghampiri Dimas. Dengan tanpa banyak bicara, Bu Laura mengambil gagang pel yang dipegang oleh Dimas.

Bu Laura melihat tangan Dimas gemetar, keringat berbutir ada di di dahinya, wajahnya pucat.

Beliau menepuk pelan bahu itu dan siap untuk mengerjakan pekerjaan Dimas.

Seketika ruangan menjadi sunyi. Mereka yang tertawa langsung diam melihat hal ini.

CEKLEK!

Pintu terbuka dan Devi melangkah pelan memasuki ruang rapat tanpa diminta.

Dia mengambil gagang pel dari tangan Bu Laura dan membersihkan lantai yang basah.

Tak lama, lantai sudah kering kembali. Devi dengan sabar menuntun Dimas mengajaknya keluar.

Dimas yang mematung dengan gemetar mengikuti dari belakang.

Pintu ditutup kembali dan Devi mengajaknya ke pantry. Dia membuatkan teh hangat dan memberikan pada Dimas.

Tangan Dimas gemetar menerima gelas itu. Dia meminumnya pelan.

Devi menatapnya dengan iba. Wajah tampan dengan hidung mancung dan rambut ikal itu dulu jadi idola para perempuan yang ada di kantor. Kini dia jadi bahan lawakan karena kekurangannya itu.

Dulu Murni, pacar Dimas selalu bergelayut manja dan mengekor kemana pun Dimas pergi, kini dia malah ikut menertawakannya.

Devi memalingkan wajah dan mengusap matanya yang basah.

“Sampai kapan lo akan seperti ini, Mas. Cepat pulih kembali. Tempat lo bukan di sini. Lo pinter, karena ide - ide lo perusahaan semakin berkembang, dan tadi … seharusnya lo yang memimpin rapat itu.” katanya dalam hati.

Setelah Dimas tenang kembali, Devi melanjutkan pekerjaannya begitu pula dengan Dimas.

Kesibukan mereka mengantar pada jam pulang.

Orang - orang telah tak ada lagi di kantor, Prayitno, Devi, dan Dimas segera berbenah dan pulang.

Ceklek …

“Dimas pulang, mana Ibu?” sapa Dimas.

Uhuuuk … uhuuk ….

“Sayangku sudah pulang, di sini Ibu,” jawab Ibunya.

Dimas segera mendekat, memeluk dan mencium kening Ibunya.

“Dimas bawa oleh - oleh, taraaaa!’ kata Dimas sambil tersenyum.

Dia mengulurkan dua bungkus bubur ayam kesukaan Ibunya.

Mata Ibu basah, dia menerima pemberian itu dengan senyum menahan haru.

Uhuuk!

Uhuuk!

Hooek!

Batuk Ibu keras dan darah keluar begitu saja dari mulutnya. Napasnya tersengal tak beraturan.

Dimas tetap tersenyum sambil memegang tangan Ibunya. Dia tak tahu harus berbuat apa. Seakan pikirannya tak berfungsi sama sekali.

Tangan Ibu mencoba mengambil gelas, baru Dimas tahu dan mengambilkan untuknya.

Ibu meletakkan gelas. Dia merebahkan diri. Napasnya berat, wajahnya pucat.

Tangannya bergerak mengambil sesuatu dari balik bantal dan memberikan pada Dimas.

“Mana tangan anak Ibu yang ganteng?” kata Ibu dengan napas yang naik turun.

Dimas mengulurkan tangannya.

Perlahan Ibu mengenakan gelang itu pada tangan Dimas.

“Ini gelang cinta dari Ibu dan Bapak Dimas. Jangan pernah dilepas ya anak ganteng,” suara Ibu semakin serak dan lemah.

Gelang memberikan rasa hangat pada tangan Dimas. Bersinar samar dan redup kembali.

Dimas menatapnya lama dengan mata berbinar.

“Bagus sekali, Bu. Dimas tak akan melepasnya. Terima kasih Ibu,” kata Dimas.

Ibu mengangguk dan terpejam, tangannya yang ada di atas tangan Dimas terkulai jatuh di atas tempat tidur.

“Ibu … Bu … bangun, Bu. Ayo kita makan, Bu. Kok tidur terus sih,” kata Dimas sambil mengguncangkan tubuh Ibu.

Melihat ibu tak bergerak dan tak mau bangun, Dimas berjalan menuju ke rumah Tante Lili.

Tok tok tok …

“Tanteee … Tante Lili …!” panggil Dimas.

Seseorang membuka pintu dan menemuinya.

“Eeeh … ada Dimas. Ada apa Dimas?” tanya Tante Lili.

“Iii … iitu Tante … saya lapar, saya mau makan sama Ibu. Tapi … ttapi Ibu tidur. Udah Dimas banguni tapi Ibu tak bangun - bangun. Kan buburnya keburu dingin,” kata Dimas.

Wajah Tante Lili berubah seketika.

Beliau menutup pintu, menggandeng Dimas dan mengajaknya pulang.

Tante Lili memeriksa Ibu Dimas dengan tangan gemetar.

Tak ada denyut nadi … tak ada napas.

Dada Tante Lili jadi sesak, beliau memandang Dimas dengan iba.

“Ibu kamu sudah meninggal, Dimas,” katanya pelan.

“Kenapa Tante? Kenapa Ibu Dimas?” tanya Dimas.

“Ibu Dimas sudah meninggal, sudah tak bisa bangun lagi. Sudah tak bisa menemani Dimas lagi,” suara Tante Lili bergetar.

Dimas diam, otaknya bekerja keras mencoba untuk mengerti arti kata ‘meninggal dan tak bisa menemani Dimas lagi’

“Ibuuu … uuuhuuu … huuu … kata Tante Lili Ibu tak bisa menemani Dimas lagi, Ibu mau kemana?” ratapnya dalam tangis.

Lanjut membaca
Lanjut membaca