

Di sebuah desa transmigrasi yang tenang dan damai. Berjejer rumah-rumah warga yang sederhana. Jalanannya berbatu, pagar pagar alami dari tanaman rambat yang menghiasi halaman setiap rumah khas kampung begitu rapi dan asri terlihat.
Auman sapi dan lengkingan suara hewan tonggerek di siang hari yang bersahutan mendayu indah membawa suasana hening dan nyaman. Di kejauhan terdengar khas suara mesin pemotong kayu menggesek batang pohon.
Desa itu bernama Sumber Rejo, desa yang mayoritas penduduknya adalah orang-orang transmigrasi sejak tahun 80'an dulu, beranak pinak hingga saat ini. Penghasilan utama penduduk desa itu adalah bertani dan berkebun sebagian ada yang berternak juga.
Desa itu awalnya tenang dan damai, hingga suatu kejadian membuat desa itu menjadi terkesan horor dan mistis. Desa itu tiba-tiba terkenal karna adanya kejadian demi kejadian yang menjadi berita hangat dan trending topik se-kabupaten.
Dari mulai isu kehilangan yang di sangkut-pautkan dengan babi ngepet dan tuyul, tragedi pembunuhan, isu teror pocong. Penggrebekan polisi yang berusaha menangkap pelaku kejahatan dan masih banyak lagi.
Hingga membuat desa itu semakin terkenal akan kejadian aneh dan tak logisnya. Semua itu berawal dari satu kejadian hingga merembet ke kejadian lainnya.
Ya! Kematian seorang gadis bernama Lastri yang menjadi awal tragedi beruntun yang entah itu saling berkaitan atau tidak. Di ketahui Lastri gadis berusia 16 tahun itu meninggal kecelakaan saat berkendara menyebrang jalan raya hendak ke Indomaret membeli token listrik.
Lastri mengalami gegar otak di bagian kepalanya hingga ia menghembuskan nafas terakhir. Setelah jenazah Lastri di makamkan kejadian aneh mulai terjadi. Banyak warga yang di hantui sosok arwah Lastri yang gentayangan.
Dari situlah awal semua itu terjadi, tatkala pihak keluarga Lastri yang curiga jika terjadi sesuatu pada jasad Lastri. Pihak keluarga meminta pembongkaran makam di lakukan. Dan saat makam di bongkar mereka semua terkejut.
Apa yang sebenarnya terjadi pada jasad Lastri?
*******
AWAL CERITA
Tampak sebuah rumah sederhana yang terbuat dari lembaran papan, rumah itu terlihat sedikit memprihatinkan di bandingkan dengan rumah lainnya.
Sudut atap rumah itu sudah tampak rapuh dengan tulangan kayu reng sebagai penyangga atap genting yang banyak patah, mengakibatkan beberapa genting di sudut nya hilang. Halamannya cukup luas tanpa hiasan, hanya ada tumpukan batako yang sudah berlumut, lama tak kunjung digunakan.
Duduk seorang laki-laki dengan lamunan menatap kosong jalanan siang itu. Ia duduk bersandar kusen pintu rumahnya, sembari memangku dagunya dengan satu telapak tangannya. Namanya adalah Suyitno, ia sering di panggil Yitno.
Ia berusia 36 tahun dan belum menikah. Keadaan ekonomi keluarganya mungkin yang membuatnya minder mendekati wanita, atau memang tak ada wanita yang mau dekat dengannya. Selain miskin ia pun tak tampan, rambutnya sedikit gondrong, ia tak pernah berpenampilan rapi sekedar untuk menarik perhatian lawan jenisnya.
Yitno hanya tinggal berdua bersama ibunya yang seorang janda. Ayahnya sudah lama meninggal. Ia mempunyai adik perempuan yang sudah menikah dan saat ini tinggal jauh di kota ikut dengan suaminya. Tinggallah di rumah itu Yitno dan ibunya hanya berdua. Ibunya seorang buruh serabutan sama halnya dengannya.
Walaupun itu desa trans, tetapi mereka tak mempunyai sepetak sawah pun yang bisa mereka garap, Karena sawah jatah trans sudah lama di jual oleh almarhum sang ayah semenjak dulu. Ibunya bekerja apa saja, dari mulai mencuci pakaian tetangga, buruh tandur padi, hingga jasa memijit ia lakoni.
Begitu pun Yitno, ia tak pernah memilih milih pekerjaan. Semua pekerjaan ia terima dan lakukan sepenuh hati, dari mulai menggali sumur, gali kubur, tanam padi hingga kuli bangunan ia jalani. Apa saja ia lakukan demi sesuap nasi agar kehidupan ia dan ibunya terus tercukupi.
Tetapi semua yang ia lakukan itu tak menjamin kelayakan hidupnya dan ibunya. Walau segala pekerjaan ia mau dan mampu mengerjakannya. Pekerjaan dengan upah kecil, tidak tetap dan tidak berkelanjutan seperti itu membuatnya tak bisa menabung, bahkan ia tak mempunyai sepeda motor.
Penghasilannya tidak menentu, hanya menunggu dan berharap ada tetangga atau orang yang membutuhkan tenaganya saja ia baru mendapat penghasilan. Mungkin itulah yang membuatnya terjebak dalam kesulitan hidup.
Semua teman-temannya saat ini sudah berkeluarga, ia kerap menjadi bahan olok olok karena belum menikah hingga saat ini. Pendiam, minderan begitulah sifatnya. Lika-liku laki-laki tak laku-laku mungkin kata yang cocok mendeskripsikan keadaanya saat ini.
"Yit! Siang siang ngelamon aja! itu bersihin rumput halaman dari pada nganggur bengong kayak gitu. Huh!" Hardik ibunya
"Panas Mak, besok lah"
"Besak besok teros! Hmm, udah selesai to kerjaan gali sumur di rumah Pak Tarman?"
"Udah Mak, musim tandur masih lama lagi, aduh kerja apa lagi ya? Kok gak ada yang ngajak kerja gini. Biasanya ada aja yang nyuruh nguli ngaduk semen, kok ini sepi."
"Nikah makanya Yit! Kalo nikah itu rezeki dua orang jadi satu, pasti yang di Atas cukupkan. Lagi pula Kamu itu udah cukup umur! Udah, janda janda gak papa, Mamak itu juga ya kasian sama kamu.. Makanya kalau jadi bujang itu jangan boros boros! Beli baju yang bagus, rambut di cukur rapih. Nggak cuma rokok aja yang dibeli, pusing mamak liat kamu gitu terus! Gadis mana yang mau kalau kamu aja kayak gitu? huh!" Celetuk ibunya menceramahi
"Hiiss mamak ini, apa apa disangkut pautin sama nikah. Perasaan tadi lagi bahas masalah kerjaan."
"Ya mamak pengennya kamu cepet nikah! Udah tua kamu itu!"
"Lha aku harus gimana lho mak? Aku udah berusaha, Ya emang belum ketemu jodoh. Emangnya ngajak perempuan nikah segampang itu, apa? Aneh aja mamak ini" Keluh Yitno yang mulai kesal dengan ceramah ibunya.
Yitno pergi berjalan meninggalkan ibunya, ia terus berjalan sesekali menggerutu kesal. Ia menuju ke belakang rumah, mengambil cangkul dan pergi ke kebun tetangga belakang rumah, lalu mulai menggali tanah mencari beberapa cacing. Ya, ia mau menghabiskan waktu siang itu dengan memancing di rawa.
Setelah mendapatkan beberapa cacing ia lalu meraih joran pancingnya yang ia simpan di atas genting rumahnya. Sebuah joran pancing sederhana yang terbuat dari sebilah bambu yang diraut.
Yitno terus berjalan menyusuri jalanan kampung menuju sebuah rawa seorang diri. Berbekal sebilah parang, ia berjalan melewati rerimbunan rumput liar sembari menebaskan parangnya menyisihkan rumput ilalang serta semak belukar yang menutupi jalannya.
Akhirnya ia sampai di sebuah rawa yang cukup besar dengan suasananya yang mencekam. Rawa itu Rungkut dan tak terjamah.
"Pasti banyak ikannya disini, gak ada yang berani mancing disini " gumamnya
Rawa itu Memang terkenal angker, beberapa desas desus tentang keangkerannya sering Yitno dengar dari beberapa warga. Dari mulai rawa tersebut ada hantu Belanda, ada kuburannya, dan masih banyak lagi cerita lainnya yang beredar mengenai rumor rawa tersebut. Tapi Yitno tak percaya dengan semua berita itu.
Nguk...nguk...ngukkk...
Terdengar suara hewan, Yitno tak tau suara hewan apa itu, mungkin suara nyamang sejenis hewan primata seperti monyet dengan bulu hitam, atau suara burung. Ia duduk dengan tenang tetap fokus memancing dan berusaha tak menghiraukan suara aneh itu.
Tak terasa sore mulai tiba, ember plastik bekas wadah cat Nippon Paint ukuran 5kg yang ia bawa dan ia jadikan wadah ikan, setengahnya sudah terisi hasil tangkapannya. Ia lalu mengecek jam dengan ponselnya.
"Waduh udah jam lima, tapi masih gacor lagi ikannya makan. Bentar lagi ah, setengah enam baru pulang" pikirnya, yang tak mau melewatkan ikan ikan itu.
Srek...srek...srek...
Terdengar langkah kaki yang menginjak rumput dan dedaunan kering tepat di belakangnya. Yitno menoleh, ia terkejut mendapati seorang kakek tua sedikit bungkuk memegang tongkat sedang diam menatapnya dengan sorot mata menyalang tajam, seperti tak suka dengannya.
"Mbah, Anu Mbah aku mancing ikan" ucap Yitno berusaha berbasa-basi mencoba menyapa sang kakek tetapi laki laki tua itu sama sekali tak menjawab, ia hanya diam dan terus menatapnya tajam dengan raut wajah yang sinis.
Yitno jadi sedikit takut, Ia berusaha memberesi alat pancingnya, dan berniat pulang ketimbang jadi sebuah masalah.
"Aku pulang Mbah" ucap Yitno sekali lagi berusaha menegur si kakek
"Tinggalkan ikan itu...!!!" Ucap sang kakek.
Sontak Yitno terkejut, ia sedikit emosi di campur takut.
"Apa to Mbah, ini rawa bukan punya siapa siapa kan Mbah? Kok aku gak boleh bawa ikan hasil pancingan aku sendiri?" Ucap Yitno protes
"Kamu pengen hidup kamu berubah Ndak? Mau kaya? Mau cepet dapet jodoh?Tinggalkan ikan itu, sekarang kamu pulang... Habis magrib kesini mampir ke gubuk Mbah di balik sebrang rawa ini. bawa lintingan (tembakau) sama gula kopi." ucap lelaki renta iru seraya merebut ember yang Yitno pegang.
Yitno hanya bisa bengong melongo tanpa perlawanan saat hasil usahanya memancing di ambil begitu saja oleh sang kakek.