Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Akhir kisah sang petualang

Akhir kisah sang petualang

Nur_Azizah_354 | Tamat
Jumlah kata
44.4K
Popular
100
Subscribe
12
Novel / Akhir kisah sang petualang
Akhir kisah sang petualang

Akhir kisah sang petualang

Nur_Azizah_354| Tamat
Jumlah Kata
44.4K
Popular
100
Subscribe
12
Sinopsis
PerkotaanAksiUrbanMiliarder21+
Satria Alexander Naratama, dikenal sebagai pria hidung belang di malam hari, kebiasaannya mendatangi club club ekslusif di ibukota dan menyewa jasa perempuan malam sudah menyebar di kalangan para kaum elit. namun meski begitu ia juga di kenal sebagai pengusaha pria muda yang angkuh dan dingin, hingga membuat para saingan bisnisnya ketar ketir dan tunduk. Bagi Satria, perempuan tidak ada harga dirinya, dan hanya menginginkan uangnya saja. Tapi penilaian nya berubah saat ia tak sengaja di pertemukan dengan Sabrina di sebuah desa terpencil. Satria yang saat itu sudah hampir mati karena penghianatan rekan bisnisnya, di selamatkan oleh Sabrina. bagaimana kah kisah cinta mereka? apa kah Sabrina akan takluk pada Satria atau justru Satria yang akan bertekuk lutut?
Penakluk malam

Lantai dansa The Abyss, klub malam paling eksklusif di Jakarta, bergetar di bawah dentuman bass yang seolah ingin merontokkan jantung. Di lantai tertinggi, di dalam area VVIP yang hanya bisa diakses dengan undangan khusus, Satria Angkasa Naratama duduk seperti raja di singgasana yang terbuat dari keangkuhan dan botol-botol Louis XIII.

Wajahnya tampan, namun rahangnya selalu mengeras, seolah ia sedang bersiap untuk berperang bahkan saat sedang bersenang-senang. Baginya, uang bukan lagi alat tukar, melainkan senjata untuk mendikte martabat orang lain.

"Ayok kalian berlombalah untuk membuatku senang, bitch!!" serunya, suaranya parau namun penuh otoritas.

Tiga wanita dengan gaun sutra yang sangat minim berebut perhatiannya. Ada yang memijat bahunya, ada yang membisikkan kata-kata manis di telinganya, dan ada yang menuangkan minuman ke gelas kristalnya. Satria hanya tertawa sinis. Ia tahu betul, jika besok ia jatuh miskin, wanita-wanita ini bahkan tidak akan sudi menoleh ke arahnya. Kesadaran itulah yang membuatnya semakin beringas dalam merendahkan mereka.

"Tuan, anda begitu tampan dan juga hebat, semua orang di negeri ini mengenal anda, sungguh sangat luar biasa," puji Luna salah satu perempuan bayaran milik Satria.

"Lakukan tugasamu tanpa banyak bicara!!" Hardik Satria dengan dingin.

"Tentu tuan, perintah anda adalah yang utama, maafkan saya jika lancang," jawab Luna dengan nada yang di buat mendayu-dayu.

"Tuan, kami disini untuk menyenangkan anda, dan untuk patuh pada anda," ujar salah seorang lagi tak mau kalah, sementara tangannya sudah bergelirya meraba paha Satria dengan nakal.

Satria melemparkan segepok uang seratus ribuan ke atas meja, membiarkan lembaran merah itu berhamburan seperti kelopak bunga yang layu. "Keluarkan kemampuan kalian, jangan membuatku kecewa!!" titahnya dingin.

​Ia menikmati pemandangan di depannya: wanita-wanita itu dengan cekatan memunguti uang tersebut sambil terus berusaha menggoda. Baginya, ini adalah validasi. Di dunia bisnis, ia harus tunduk pada regulasi dan persaingan pasar yang kejam. Namun di sini, di bawah lampu neon yang remang, dialah hukumnya.

​"Dasar jalang, kalian semua memang jalang!" makinya tanpa alasan yang jelas, kecuali untuk memuaskan ego yang terluka oleh sesuatu yang jauh di masa lalunya.

​Salah satu wanita, bernama Luna, hanya tersenyum tipis sambil mengusap dada Satria. Ia sudah sering menghadapi pria seperti ini—pria yang memiliki terlalu banyak uang namun terlalu sedikit rasa damai. Luna tahu, semakin keras seorang pria memaki, semakin besar lubang di hatinya yang coba ia tutupi.

​***

​Pukul dua dini hari. Satria menggiring mereka menuju penthouse pribadinya yang berada tepat di atas klub tersebut. Ruangan itu luas, dingin, dan minimalis. Tidak ada foto keluarga, tidak ada sentuhan kehangatan. Hanya ada kaca besar yang menampilkan kelap-kelip lampu Jakarta yang tampak seperti semut dari ketinggian lantai 50.

​Di atas ranjang king size, drama itu berlanjut.

Satria bertindak layaknya sutradara dalam pertunjukan yang kasar. Ia menuntut kesempurnaan, ia menuntut kepatuhan mutlak.

"Ayok, buat aku melayang malam ini, bitch!!" Titah Satria dengan kasar.

"Sesuai keinginan mu tuan," jawab Luna dengan senyum yang selalu terpatri di bibirnya yang seksi.

Luna pun mulai bergerak membuka setiap helai kain yang menempel di tubuh Satria, sedangkan yang lainnya juga tak tinggal diam, mereka mulai melakukan sentuhan sentuhan di area sensitif milik Satria.

Mereka tanpa malu, melepaskan pakaiannya sendiri, yang memang tidak bisa menutupi tubuh mereka dengan sempurna sejak awal.

Kini di kamar itu, Satria tengah di layani tiga perempuan yang tak malu tampil polos di depan perempuan lainnya. Mereka justru seakan menikmati peran mereka dalam menyenangkan Satria.

"Ouh bitch!!!! Isap terus.... Ahhh.... Ini sangat enak...!!" Erang Satria saat Luna mulai memasukan batang miliknya kedalam mulut.

Sementara dia orang lainnya juga memanjakan bagian tubuh Satria yang lainnya.

Puas dengan pemanasan yang mereka berikan, kini Satria mulai mengambil alih.

Satria mulai memacu tubuhnya di atas wanita wanita itu dengan bergiliran. Sesekali perempuan perempuan itu, saling memuaskan dirinya masing masing saat Satria sedang berada di dalam milik perempuan lainnya.

Namun, di tengah hiruk-pikuk fisik itu, pikirannya justru melayang jauh.

​Ia teringat pada mendiang ayahnya yang selalu berkata bahwa "Naratama tidak pernah kalah." Ia teringat pada mantan tunangannya yang meninggalkannya karena menganggap Satria "tidak memiliki jiwa."

​Setiap sentuhan yang ia terima malam itu terasa hambar. Seperti memakan hidangan mewah tanpa indra perasa. Semakin ia mencoba merasakan kesenangan, semakin ia merasa kosong.

"Ah...shit...." Umpat Satria dengan penuh amarah.

Ia pun meninggalkan kamar itu dan menuju kamar nandi. Setelah badai itu mereda, Satria berdiri di balkon hanya dengan sehelai jubah mandi.

Ia menyalakan cerutu, membiarkan asapnya menyatu dengan udara malam yang dingin. Di dalam kamar, wanita-wanita itu sudah terlelap atau sibuk menghitung sisa "bonus" yang diberikan Satria.

Ia melihat pantulan dirinya di kaca. Sosok Satria Angkasa Naratama—pengusaha muda yang dipuja di sampul majalah bisnis. Namun di mata itu, hanya ada keletihan yang luar biasa.

Tangan Satria mengepal begitu erat hingga buku buku jarinya memutih.

Ia marah, kecewa, namun ia tak bisa meluapkan kemarahannya, ia hanya bisa menutupi semua Gejolak di hatinya dengan topeng yang di bungkus dengan sikap dingin dan kasarnya.

"Kalian sudah selesai? Pergi," ucapnya datar tanpa menoleh saat mendengar suara gemerisik pakaian dari dalam kamar.

"Tapi Tuan, ini masih jam empat pagi..."

"Keluar. Atau aku potong pembayaran kalian," potong Satria tajam.

"Jangan tuan, kami akan segera pergi,"

Tanpa membantah, mereka pergi. Meninggalkan Satria sendirian dengan keheningan yang jauh lebih memekakkan telinga daripada musik DJ di bawah tadi.

Pagi harinya, Matahari mulai mengintip di ufuk timur Jakarta. Satria masuk ke kamar mandi, mengguyur kepalanya dengan air dingin hingga rasa pening akibat alkohol sedikit berkurang. Ia menelan dua butir aspirin dan mulai mengenakan setelan jas custom-made seharga ratusan juta rupiah.

Asisten pribadinya mengetuk pintu. "Tuan Satria, rapat dengan investor dari Singapura akan dimulai pukul sembilan. Mobil sudah siap."

"Ya," jawab Satria singkat.

Satria merapikan dasinya di depan cermin. Matanya yang tadinya sayu dan penuh kebencian diri, kini berubah menjadi tajam dan waspada. Emosinya dikunci rapat-rapat dalam brankas di sudut pikirannya.

"Siapkan dokumen akuisisi PT. Surya Kencana. Kita akan menghancurkan mereka hari ini," jawab Satria dengan suara yang kembali berwibawa.

"Baik tuan, akan saya siapkan," jawab asistennya dengan patuh dan penuh hormat.

Ia melangkah keluar dari penthouse, melewati sisa-sisa kemaksiatan semalam tanpa rasa sesal. Bagi Satria, hidup adalah siklus antara menjadi monster di malam hari dan menjadi predator di siang hari. Dan ia belum berniat untuk berhenti.

"Mark," panggil Satria.

"Ya, tuan!"

"Panggil pelayan untuk membereskan kamar ku seperti biasanya." Titah nya kada Mark.

"Tentu tuan," jawab Mark sopan.

Satria langsung menuju mobil, sedangkan Mark masih harus menemui kepala pelayan untuk menyampaikan perintah Satria.

"Marlena, bereskan kamar tuan seperti biasa," pinta Mark pada kepala pelayan.

"Saya mengerti, akan segera saya kerjakan." Jawab Marlena.

Mark pun pergi menuju teras depan di mana Satria berdiri lalu secepat kilat ia membukakan pintu untuk tuan mudanya itu.

Lanjut membaca
Lanjut membaca