
Sengkolo Waris: Kutukan Sang Pewaris
R.D Wiratama|Tamat
- Jumlah kata
- 29.4K
- Popular
- 122
- Subscribe
- 32
- Jumlah kata
- 29.4K
- Popular
- 122
- Subscribe
- 32
Sinopsis
Di tanah Jawa purba, jauh sebelum lahir kerajaan dan agama, dunia manusia hidup berdampingan dengan dunia gaib. Keseimbangan dijaga oleh tujuh keluarga agung—para trah supranatural yang diwarisi ilmu sakral serta dilindungi junjungan leluhur mereka. Namun di balik keseimbangan itu, tersimpan sebuah perjanjian darah yang kelam: “Yen ana trah nyirnakaké liyané, bakal tiba Sengkolo Waris.” (Jika ada satu trah yang memusnahkan yang lain, maka lahirlah Kutukan Sengkolo Waris.) Ketika Trah Pranadipa, keluarga yang dikenal penuh welas asih, dianggap terlalu kuat, enam trah lainnya bersatu untuk menyingkirkan mereka. Malam pembantaian pun terjadi—darah mengalir, leluhur dikorbankan, dan Bathara Jagatpala, junjungan Pranadipa, disegel dalam pusaka gaib. Namun, satu anak berhasil lolos: Sekar Arum, pewaris terakhir Trah Pranadipa. Dalam tubuh kecilnya mengalir kekuatan kutukan Sengkolo Waris, takdir yang akan mengguncang keseimbangan dunia. Sekar harus menempuh perjalanan penuh teror di dunia gaib, menyatu dengan kutukan yang membebaninya. Tapi ketika ia kembali ke dunia nyata, pilihan terbesarnya pun tiba: Apakah ia akan menjadi pembawa kehancuran, atau menemukan jalan untuk memutus lingkaran kutukan yang telah mengikat tujuh trah selama berabad-abad? Sengkolo Waris: Kutukan Sang Pewaris adalah kisah horor-fantasi Jawa kuno, dipenuhi mitos, perjanjian darah, pengkhianatan, dan perjalanan takdir seorang pewaris terakhir.
Ulasan
1 ulasan
Rita Haruna
7/5/26 06:03
izin promosi ya thor yang suka horor survival, pembunuhan dan penghianatan bisa mampi ke ceritaku ya judul : beyond the loser trimakasih
Bab 1 – Bayang-Bayang Jawa Purba
Di tanah Jawa purba, sebelum manusia mengenal kerajaan, agama, ataupun hukum tertulis, hidup mereka sepenuhnya diatur oleh bayangan gaib yang tidak kasatmata. Malam dan siang bukan sekadar pergantian waktu, melainkan peralihan antara dua dunia yang saling mengintai. Dunia manusia hanyalah lapisan tipis, rapuh seperti kulit ari, sementara di baliknya mengintai dunia gaib dengan segala wujudnya: roh, lelembut, makhluk pemangsa, hingga junjungan leluhur yang diwarisi trah-trah agung.
Rakyat hidup dengan rasa takut yang diwariskan turun-temurun. Takut pada hutan yang berbisik di malam hari, takut pada sungai yang arusnya bisa menelan nyawa, takut pada sawah yang tiba-tiba sunyi tanpa suara jangkrik. Namun lebih dari semua itu, mereka tunduk pada tujuh keluarga agung—tujuh trah supranatural—yang dianggap penyangga keseimbangan dunia.
Mereka dikenal hanya dengan sebutan: Tujuh Trah. Tidak ada rakyat yang benar-benar tahu dari mana asal kekuatan keluarga-keluarga ini. Ada yang percaya mereka keturunan langsung para dewa, ada yang mengatakan mereka meminum darah bintang jatuh, ada pula yang menyebut mereka hasil perjanjian kuno dengan makhluk gaib. Yang jelas, nama tujuh trah itu dibisikkan dengan nada hormat sekaligus takut.
Setiap desa, setiap ladang, setiap rumah bambu yang berdiri di tanah Jawa kala itu memiliki kisah tentang tujuh trah. Cerita yang diceritakan nenek-nenek kepada cucunya di depan tungku api. Cerita yang dilagukan para pengembara di bawah rembulan pucat. Cerita yang tidak pernah benar-benar selesai, karena rakyat hanya tahu sepenggal, lalu menutup sisanya dengan doa dan sesajen.
Pada malam-malam tertentu, ketika kabut turun dari gunung dan menutupi pematang sawah, rakyat sering berbisik:
“Tanah iki ora mung kanggo kita. Ana sing luwih tuwa sing ngasta kuwasa…”
(Tanah ini bukan hanya milik kita. Ada yang lebih tua yang memegang kuasa…)
Di sebuah pedukuhan kecil di kaki bukit, asap dari dapur-dapur bambu menjulang tipis ke langit senja. Anak-anak berlarian, menabuh bambu kering sebagai permainan, namun begitu mendengar bunyi kentongan panjang dari arah balai desa, mereka seketika berhenti. Wajah-wajah kecil itu berubah pucat. Para ibu segera menarik anak mereka masuk ke dalam rumah, sementara para lelaki desa berdiri kaku, saling pandang, sebelum akhirnya berlutut menunduk ke tanah.
Kentongan panjang itu adalah tanda: salah satu dari tujuh trah sedang melintas.
Tak lama, dari arah jalan tanah yang membelah desa, nampak barisan orang dengan pakaian serba hitam dan kain panjang beraksara kuno. Mereka tidak menoleh ke kanan atau kiri, langkahnya teratur, mata mereka kosong bagai tidak memandang manusia. Di belakang mereka, sebuah tandu bambu dipikul empat orang. Tirai putih menutupi bagian dalamnya. Rakyat tidak berani menatap, hanya menunduk dengan dahi menyentuh tanah.
Seorang lelaki tua berbisik pada cucunya yang gemetar:
“Aja ndeleng, Le. Sing mlaku kuwi wong saka trah. Yen awake mung manungsa biasa, aja wani nyawang.”
(Jangan menatap, Nak. Yang berjalan itu orang dari trah. Jika kita hanya manusia biasa, jangan berani melihat.)
Desa itu seolah kehilangan nyawanya. Tidak ada suara ayam, tidak ada suara jangkrik. Angin pun menahan napas. Barisan itu melintas tanpa bicara, tanpa menoleh, hanya meninggalkan bekas hawa dingin yang menusuk sampai ke tulang.
Setelah mereka berlalu, rakyat baru berani mengangkat kepala. Beberapa orang langsung menyalakan dupa dan menaruh sesaji di depan rumah. Anak-anak yang semula bermain kini hanya duduk diam, menunduk, tak berani bersuara. Malam itu, desa kembali dipenuhi bisik-bisik lirih:
“Wong-wong iku dudu kaya awake dhewe…”
(Orang-orang itu bukan seperti kita…)
Seiring berjalannya waktu, nama tujuh trah menjadi bagian dari kehidupan rakyat sehari-hari. Mereka tidak disebut sebagai raja atau penguasa, tapi kehadirannya lebih menakutkan daripada prajurit bersenjata. Tidak ada yang berani menentang, karena kabarnya, siapa pun yang menentang salah satu trah akan ditimpa sengkala: sawah mengering, anak sakit keras, rumah terbakar tanpa sebab.
Rakyat hanya tahu bahwa tujuh trah adalah penjaga keseimbangan. Mereka melakukan ritual-ritual yang rakyat sendiri tidak mengerti. Ada malam-malam ketika langit dipenuhi cahaya aneh, tapi rakyat hanya menunduk, menutup mata, pura-pura tidur, seolah tidak melihat apa-apa.
Di antara tujuh trah itu, satu nama selalu disebut dengan nada berbeda: Pranadipa.
Rakyat mengenal mereka bukan hanya karena kekuatan gaib, tetapi juga karena kebaikan hati. Konon, jika ada anak desa yang sakit parah, keluarga Pranadipa sering datang memberi pertolongan. Jika panen gagal, mereka mengadakan upacara pemurnian yang membuat sawah kembali subur. Namun, kebaikan itu justru membuat rakyat semakin takut, karena di balik kebaikan pasti tersimpan kekuatan besar yang tak bisa dimengerti.
Di sudut-sudut desa, rakyat sering berbisik:
“Pranadipa iku pelindung, nanging nek dheweke kepengin, kabeh jagad bisa diowahi mung nganggo napas.”
(Pranadipa itu pelindung, tapi kalau mereka mau, seluruh dunia bisa diubah hanya dengan napas.)
Malam itu, di bawah cahaya bulan purnama, seorang pengembara tua duduk di pinggir api unggun. Di hadapannya, sekelompok anak desa menatap penuh rasa ingin tahu. Sang pengembara menghela napas panjang, lalu berkata dengan suara serak:
“Anak-anakku… elinga, tujuh trah iku ora mung wong. Dheweke iku penjaga lawang antarane donya iki lan donya liyane. Yen ora ana wong-wong kuwi, jagad bakal kebanjiran lelembut, teluh, lan roh jahat.”
(Anak-anakku… ingatlah, tujuh trah itu bukan sekadar manusia. Mereka adalah penjaga gerbang antara dunia ini dan dunia lain. Jika mereka tidak ada, dunia akan dibanjiri lelembut, teluh, dan roh jahat.)
Anak-anak terdiam. Salah satu dari mereka memberanikan diri bertanya,
“Eyang, trah itu apa benar tidak bisa mati?”
Pengembara itu menatap api, matanya redup.
“Dheweke bisa mati, Le. Nanging getihe sing bakal nerusake. Getih iku ora gampang sirna. Lan yen ana trah sing musnah sak trah, bakal muncul kutukan sing ora ana tandhingane. Rakyat mung nyebut: Sengkolo Waris.”
(Mereka bisa mati, Nak. Tapi darahnya akan meneruskan. Darah itu tidak mudah lenyap. Dan jika ada satu trah yang musnah seluruhnya, akan muncul kutukan yang tiada tandingannya. Rakyat hanya menyebutnya: Sengkolo Waris.)
Anak-anak bergidik, saling merapat.
Pengembara itu tersenyum pahit.
“Wis, aja nganti kowe ngerti luwih akeh. Sing perlu kowe elinga: aja tau nantang sing luwih tua tinimbang bumi.”
(Sudah, jangan sampai kalian tahu terlalu banyak. Yang perlu kalian ingat: jangan pernah menantang sesuatu yang lebih tua daripada bumi itu sendiri.)
Di kejauhan, angin malam berhembus membawa aroma dupa dari rumah-rumah rakyat. Di langit, bulan purnama tampak pucat, diselimuti kabut tipis. Dari balik hutan, terdengar lolongan panjang yang membuat seluruh desa terdiam. Tak ada yang berani keluar rumah malam itu.
Dan di tengah kegelapan, bayangan tujuh trah seolah-olah menyelimuti tanah Jawa. Rakyat hanya bisa pasrah, hidup di bawah bayangan kekuatan yang tidak pernah mereka pahami.
Mereka hanya tahu satu hal:
Tujuh trah adalah pelindung sekaligus kutukan.
Dan selama mereka masih ada, tanah Jawa tidak pernah benar-benar bebas dari rasa takut
Daftar bab
25 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








