

[Dewi Cinta Valery memberimu Sistem Harem untuk menaklukkan dunia, bersediakah kamu menerimanya?]
Sebuah pesan aneh tiba-tiba masuk ke ponsel seorang pemuda bernama Jackson Lewis. Pemuda yang sedang duduk di kursi taman itu langsung terkejut setelah membaca pesan tersebut.
"Apa maksudnya?" gumam Jackson bertanya-tanya di dalam benaknya.
"Ah, pasti pesan penipuan atau pesan dari orang tidak punya kerjaan," lanjutnya menerka-nerka.
Dia lalu mengabaikan pesan itu dan kembali fokus mengerjakan tugas kuliahnya.
[Dewi Cinta Valery telah memilihmu untuk menjadi Raja Harem. Apakah kamu ingin menerimanya?] Pesan itu masuk lagi ke ponsel Jackson.
[Silahkan balas pesan ini jika kamu ingin menerima tawaran Dewi Valery. Kesempatan ini hanya datang satu kali, jangan sampai kamu melewatkannya.] Pesan tambahan menyusul kemudian.
Jackson menggeleng pelan usai membaca pesan-pesan tersebut. Dia tidak peduli sama sekali dan masih fokus mengerjakan tugas kuliahnya.
Lagi pula, dia sudah kehabisan waktu untuk mengerjakan tugas tersebut, karena mata kuliah berikutnya akan dimulai sepuluh menit lagi.
Sebagai mahasiswa biasa-biasa saja dengan kemampuan otak yang tidak terlalu pintar, Jackson jelas akan berusaha keras untuk mengikuti setiap mata kuliah.
Terlepas dari alasan apa pun, dia harus lulus dari universitas ini dengan nilai baik supaya mudah mendapatkan pekerjaan. Terlebih, tahun ini merupakan tahun terakhirnya, atau lebih tepatnya dia sudah memasuki semester kelima.
Oleh karena itu, Jackson fokus belajar hingga benar-benar lulus nanti. Minimal sampai dia bisa mengumpulkan banyak uang untuk diberikan kepada keluarganya.
"Jackson," panggil seseorang dari kejauhan.
Jackson spontan melirik ke arah suara, ternyata yang datang sahabat baiknya, Riko.
"Kau harus lihat ini," ujar Riko sambil mengeluarkan ponselnya, kemudian membuka galeri foto untuk menunjukkan sesuatu kepada Jackson.
"Ada apa sih?" ketus Jackson, tapi matanya segera melihat ponsel Riko.
"Syi-Syila ... Pacarmu sudah selingkuh," ungkap Riko dengan takut-takut.
"Selingkuh?" ulang Jackson, matanya membulat sempurna dalam sekejap.
Riko buru-buru duduk di sebelah Jackson, lalu menjelaskan kejadian yang sudah terekam oleh ponselnya.
"Kemarin malam aku tidak sengaja melihat Syila di depan sebuah hotel. Karena penasaran, aku sengaja mengintipnya dari kejauhan. Siapa sangka, Dimas menghampiri Syila tak lama setelahnya. Kemudian mereka masuk bersama ke dalam hotel itu."
"Rasa penasaranku semakin menjadi usai melihat mereka masuk ke dalam hotel. Aku ikuti saja mereka secara diam-diam hingga tiba di depan sebuah kamar. Setelah itu ...."
Penjelasan Riko terhenti, raut wajahnya tampak rumit sekali.
"Setelah itu?" tanya Jackson, perasaannya jadi tak karuan usai mendengar penjelasan Riko.
"Kau lihat saja sendiri, aku tidak berani menyimpulkannya." Riko menunjukkan video kali ini.
Isi video itu memang hanya rekaman tembok kamar hotel, tetapi suara yang keluar dari dalam video bisa membuat jantung Jackson hampir copot.
"Berengsek! Tidak mungkin! Ini pasti salah paham," umpat Jackson menggertakan giginya.
"Aku juga ingin berkata seperti itu. Tapi, bukti berkata lain," ujar Riko, menunjukkan rekaman video terakhir kepada Jackson.
Kali ini sosok Syila dan Dimas terlihat jelas di dalam video. Mereka berjalan begitu mesra ketika melewati Riko yang sedang bersembunyi di balik sebuah pilar.
"Kita akan bermain hingga puas malam ini. Punya kamu perkasa sekali soalnya," ucap Syila di dalam video tersebut.
"Pastinya. Punya kamu juga rasanya enak sekali, benar-benar berbeda dari wanita lain," balas Dimas.
"Kamu ini bisa saja. Punyaku tidak seenak itu tahu," tukas Syila merendah.
"Enak kok, enak banget malahan. Hmm, aku sangat puas sama punya kamu." Dimas berujar, suaranya terdengar sangat jujur.
"Jika enak, kamu harus menjadi pacarku mulai sekarang dan hanya aku saja yang boleh bercinta sama kamu. Gimana, apa kamu setuju?" Syila tiba-tiba memberikan tawaran.
"Tidak masalah. Aku mau jadi pacar kamu selama kamu putus sama Jackson," sahut Dimas.
"Baiklah. Aku akan ...."
Suara dari video itu berhenti, ternyata durasinya sudah habis.
"Aku akan apa? Mana kelanjutannya?" tanya Jackson menatap rumit kepada Riko.
"Aku tidak bisa merekam lebih jauh soalnya keburu ada satpam hotel yang menegurku," jelas Riko.
"Sial," umpat Jackson.
Kepalanya tidak bisa berhenti memikirkan ucapan yang akan lolos dari mulut Syila. Sebenarnya dia takut sang kekasih akan langsung membuangnya setelah mendapatkan pria baru.
Pasalnya, Jackson tidak bisa disandingkan dengan Dimas dalam hal apa pun. Tampang dan bentuk fisik jelas kalah telak, belum lagi Dimas berasal dari keluarga kaya raya, sementara dirinya hanya berasal dari keluarga biasa.
"Aku akan mencari Syila, dia harusnya sudah keluar kelas sekarang."
Jackson berlalu begitu saja sambil membawa ponsel Riko, dia ingin membuktikan sendiri kebenaran dari setiap rekaman video itu.
Dengan langkah cepat, Jackson berjalan memasuki gedung kampus dan terus berjalan hingga tiba di depan kelas Syila.
Namun, Jackson langsung mematung di tempat begitu melihat Syila bersama pria lain. Keduanya terlihat sangat dekat dan mesra layaknya pasangan sesungguhnya.
"Syila!" teriak Jackson memanggil sang kekasih.
Syila reflek menoleh ke arah suara. Dia buru-buru menjauh dari pria di sebelahnya begitu tahu Jackson sedang menatapnya.
"Ka-kamu kenapa datang kesini? Kelasmu harusnya di gedung sebelah, kan?" tanya Syila gugup sendiri.
"Apa salah jika aku ingin melihat wajah kekasihku sendiri?" Jackson bertanya balik, dan perlahan berjalan menghampiri Syila.
"Tidak salah sih, tapi ...." Syila mandek, berusaha memalingkan wajahnya dari Jackson.
Kini semuanya sudah jelas, Syila pasti sudah menyembunyikan sesuatu ketika memasang sikap seperti itu. Setidaknya Jackson masih paham akan sikap kekasihnya sendiri.
"Cepat jelaskan ini, aku ingin mendengarnya langsung dari mulutmu," pinta Jackson setibanya di depan Syila, kemudian memutar kembali rekaman video pada ponsel Riko.
Syila dan pria itu langsung terkejut usai melihat rekaman video tersebut. Akan tetapi, keduanya masih berusaha bersikap tenang seolah tidak pernah terjadi sesuatu.
"Apa yang harus dijelaskan dari rekaman video tidak jelas itu? Aku dan Dimas hanya teman sekelas. Jangan salah paham dulu, ok?" Syila buru-buru mengedipkan mata kepada pria di sebelahnya, yang tak lain adalah Dimas.
"Ya, kami hanya teman sekelas. Suara ambigu pada video itu pasti milik orang lain," sambung Dimas, mau tak mau mengikuti permainan Syila.
Kemarahan Jackson semakin menderu di dalam hatinya. Padahal semua bukti sudah jelas, tetapi kedua orang itu masih berusaha mengelak. Parahnya, mereka berani memainkan sandiwara sebagai teman sekelas.
"Kalian benar-benar menjijikan. Mengakui perbuatan yang sudah dilakukan saja kalian tidak berani, malah berusaha berbohong untuk menutupinya," cibir Jackson sadar akan sia-sia saja jika meminta secara baik-baik kepada Syila.
Syila juga sadar jika perbuatannya sudah tidak bisa di tutupi lagi. Sebab, dia memang sudah bosan dengan Jackson, dan lebih memilih Dimas sebagai gantinya.
Karena itu, Syila segera merubah ekspresinya menjadi sangat galak. Tangannya tiba-tiba terulur ke depan untuk merebut ponsel di tangan Jackson, lalu membuangnya begitu saja.
"Aku tidak perlu menjelaskan apa pun, karena semuanya memang benar adanya. Terserah kamu akan membenciku nanti, pastinya aku tidak ingin bersamamu lagi."
"Jadi, lebih baik kita sudahi semuanya di sini. Anggap saja hubungan kita selama ini hanya sebuah mimpi."
"Lagian, kamu harusnya sadar diri dengan keadaanmu saat ini. Jujur saja, aku sudah muak pacaran sama pria miskin seperti kamu."
Syila langsung mengeluarkan semua isi hatinya tanpa ragu sama sekali. Dia tidak peduli dengan perasaan Jackson dan hanya ingin pergi dari tempat itu secepat mungkin.
Kepala Jackson terlalu lambat untuk merespon kejadian barusan. Tanpa sadar dia meraih tangan Syila untuk memastikan lebih jelas lagi.
Bam!
Namun, sebuah tinju kuat tiba-tiba mendarat di perut Jackson tepat ketika tangannya hendak meraih tangan Syila.
Dimas sepertinya sudah cukup jengah dengan drama percintaan melow ini, makannya dia langsung mengeluarkan sifat aslinya.
"Kau sudah dengar, kan? Syila sudah tidak ingin bersamamu, yang artinya kau bukan pacarnya lagi mulai sekarang," ujar Dimas sambil mencengkram keras Jackson kuat-kuat.
"Ingat, aku bisa menghabisimu kapan saja selama kau berani mengusik Syila. Pecundang sepertimu tidak layak memiliki wanita cantik," lanjutnya membisikkan ancaman di samping telinga Jackson.
Bam!
Dia lalu meninju wajah Jackson sekuat tenaga hingga darah bercucuran dari hidungnya, bahkan hampir membuatnya pingsan di tempat.
Syila hanya diam saat melihat Jackson di hajar oleh Dimas. Tidak ada perasaan apa pun di dalam hatinya, malah dia menyalahkan Jackson karena tidak bisa berbuat apa-apa.
"Sungguh menyedihkan sekali. Ternyata kamu hanya seorang pecundang," cibir Syila sambil melingkarkan lengannya pada lengan Dimas.
Jackson tidak bisa membalas apa pun, kesadarannya masih belum pulih setelah mendapatkan bogem mentah itu.
"Ayo, kita pergi. Emosiku bisa meledak jika terlalu lama tinggal disini," ajak Dimas, mengabaikan Jackson dan langsung membawa Syila pergi.
Tidak ada suara yang keluar lagi dari mulut mereka, sosok mereka juga menghilang dengan cepat dari garis pandangan Jackson.
"ARGHHH!"
Lolongan penuh kesedihan keluar sangat keras dari mulut Jackson. Tidak peduli gelagatnya akan menarik perhatian orang lain, dia hanya ingin meluapkan isi hatinya saja.
Jackson pun beranjak pergi dari depan kelas itu dengan perasaan tak berdaya, pikirannya benar-benar kosong dan tidak menentu.
Tanpa sadar, dia berjalan menuju toilet yang teramat sepi. Kemudian menangis sejadi-jadinya bagai anak kecil yang baru saja kehilangan permen.
"Sialan! Aku benar-benar seorang pecundang! Mempertahankan hubungan dengan Syila saja aku tak mampu," gumam Jackson merutuki dirinya sendiri, rasa sakit seperti ini baru pertama kali dirasakannya.
Bagaimanapun, Syila adalah pacar pertamanya. Wanita yang sangat disayanginya setelah ibu dan adiknya. Hubungannya sudah terjalin cukup lama.
Namun, hubungannya dengan Syila harus berakhir begitu saja dan menyedihkan sekali karena dia tidak bisa berbuat apa-apa.
Ding!
Tepat saat itu, suara pesan tiba-tiba terdengar dari ponsel Jackson, membuat tangannya merogoh ke dalam saku celana s cara tidak sadar.
[Kesempatan terakhir. Kamu harus putuskan secepatnya untuk menerima Sistem Harem dari Dewi Cinta Valery. Jangan sampai kamu menyesal karena sudah membuang kesempatan emas ini.] Pesan aneh itu masuk lagi ke ponsel Jackson.
[Aku tidak punya waktu untuk meladeni seorang penipu.] Jackson membalasnya kali ini.
[Aku bukan seorang penipu, aku adalah utusan yang sudah dipercaya Dewi Valery untuk menyampaikan pesan kepada pria terpilih. Sekarang kamu harus putuskan, akan menerima Sistem Harem ini atau tidak?] Pesan balasan masuk lagi.
Jackson berpikir sejenak, jelas dia tidak percaya dengan hal diluar nalar seperti itu. Tapi, entah kenapa firasatnya malah berkata lain. Dia merasa akan ada hal baik jika menerima tawaran dari Sang Dewi.
[Ya sudah, aku akan menerimanya. Awas saja kalau kau berani menipuku!"] balas Jackson sedikit mengancam.
Sayangnya, tidak ada pesan balasan dari orang yang mengaku sebagai utusan itu. Namun, ponsel Jackson tiba-tiba bersinar sangat terang dan tampilan ponselnya langsung berubah total.
"A-Apa yang terjadi? Kenapa ponselku berubah menjadi seperti ini?" Jackson bingung sendiri.
Sontak dia melihat setiap aplikasi pada layar ponselnya, dan langsung menemukan satu aplikasi baru dengan gambar berbentuk angka 69.
Tanpa banyak berpikir, tangannya segera menekan aplikasi tersebut. Kemudian keluarlah suara seorang wanita yang terdengar begitu lembut di telinganya.
[Selamat datang di Sistem Harem versi 1.0. Saya adalah Maura, peri yang akan memandu Anda untuk menjalankan setiap misi pada sistem ini. Jadi, persiapkan diri Master sebaik mungkin, karena kehidupan Master akan berubah mulai sekarang.]