Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
BALAS DENDAM SANG PECUNDANG

BALAS DENDAM SANG PECUNDANG

Mika Elvina | Bersambung
Jumlah kata
116.2K
Popular
521
Subscribe
142
Novel / BALAS DENDAM SANG PECUNDANG
BALAS DENDAM SANG PECUNDANG

BALAS DENDAM SANG PECUNDANG

Mika Elvina| Bersambung
Jumlah Kata
116.2K
Popular
521
Subscribe
142
Sinopsis
PerkotaanSekolahBalas DendamPria MiskinDarah Muda
Blurb Gantara cuma pecundang sekolah. Miskin, sering dibully, dan nggak pernah dianggap. Sampai Rea—cewek cantik dan kaya—tiba-tiba nyatain cinta di depan semua orang. Untuk sesaat Gantara percaya keajaiban itu nyata … sampai tahu kalau semuanya cuma prank. Candaan kejam yang bikin harga dirinya hancur. Di saat Gantara hampir menyerah, hadir Dina—cewek sederhana yang nggak pernah ngetawain dia. Tapi hati Gantara tetap bimbang, karena di balik luka itu, perasaannya pada Rea belum sepenuhnya hilang. Cinta pertama, pengkhianatan, dan pilihan sulit—akankah Gantara menemukan siapa yang benar-benar tulus mencintainya?
Bab 1. Pecundang Kelas

Bel tanda masuk baru saja berbunyi. Suara gaduh murid-murid yang tadinya masih memenuhi lorong pelan-pelan berkurang, berganti dengan suara kursi berderit ketika mereka mulai duduk. Tapi di pojok kelas 11 IPA-2, seorang cowok kurus dengan seragam agak kusut masih sibuk mencari-cari buku di dalam tas lusuhnya.

Namanya Gantara Wibawa.

Semua orang di kelas tahu, dia nggak pernah jadi pusat perhatian dengan cara yang keren. Kalau bukan karena kecerobohannya, ya karena nilai-nilainya yang amburadul. Anak-anak punya panggilan buat dia, Gantar Tolol.

“Bro, liat tuh si Tolol nyariin bukunya lagi. Pasti nggak dibawa, klasik banget.”

Suara Bayu, si ketua geng kecil di kelas, bikin beberapa temannya cekikikan.

Gantara menunduk, pura-pura nggak denger. Padahal jelas banget suara itu ditujukan buat dia. Dia buru-buru mengeluarkan sebuah buku tipis, sampulnya udah lecek, ujungnya robek. Setidaknya biar kelihatan dia siap.

Guru Matematika masuk tak lama kemudian. Bu Ratna, sosok paruh baya yang terkenal tegas, langsung menaruh buku tebal di meja.

“Baik, anak-anak. Hari ini kita mulai dengan mengulas PR kemarin. Saya butuh satu orang untuk maju dan menuliskan jawabannya.”

Hening sejenak. Semua saling pandang, berharap bukan nama mereka yang dipanggil.

Lalu mata Bu Ratna mengarah ke pojok kelas. “Gantara. Kamu saja.”

Beberapa murid langsung bersorak kecil.

“Asik, bakal ada hiburan gratis.”

“Pasti salah jawab lagi, wkwk.”

Jantung Gantara langsung berdegup kencang. Dia berdiri pelan, membawa bukunya ke depan. Langkahnya berat, kayak tiap langkah makin memperjelas statusnya di mata teman-teman, pecundang kelas.

Dia sampai di papan tulis, mengambil kapur, dan menatap soal yang sudah tertulis besar-besar.

Soal: Tentukan hasil dari (3x² + 2x – 5) ketika x = -2.

Kelihatannya simpel. Tapi buat Gantara, angka-angka itu kayak monster. Dia mencoba menulis.

3(-2)² + 2(-2) – 5

Oke, sejauh ini masih bener. Lalu dia lanjut,

= 3(-4) + (-4) – 5

Kelas langsung heboh.

“HAHAHA! Bodoh! Harusnya 3 kali positif empat, bukan minus empat!”

“Dasar nggak bisa ngitung, gila parah.”

Muka Gantara langsung panas. Dia baru sadar kalau dia salah ngitung kuadrat. Harusnya (-2)² = +4, bukan -4. Tangannya gemetar. Dia mau menghapus, tapi tawa anak-anak udah keburu pecah.

Bu Ratna menghela napas panjang. “Gantara, ini pelajaran dasar sekali. Kamu sudah SMA, kenapa masih salah di sini?”

“Biasa, Bu. Namanya juga Gantar Tolol!” celetuk seseorang dari bangku belakang.

Seketika kelas meledak lagi. Suara tawa memenuhi ruangan, menohok lebih keras daripada kata-kata guru.

Gantara nunduk dalam-dalam, mencoba melanjutkan hitungannya walau tangannya gemetar. Dia tahu, tiap goresan kapur di papan tulis hanya memperpanjang ejekan.

Akhirnya dia selesai dengan jawaban salah.

Bu Ratna langsung mengambil kapur, mengoreksi, dan menulis hasil sebenarnya -15.

Lalu menoleh ke Gantara. “Kamu harus belajar lebih keras lagi. Saya tidak ingin kamu jadi beban kelompok saat kerja kelompok nanti.”

Kalimat itu seperti palu yang mengetuk kepala Gantara. Beban kelompok.

Dia kembali ke bangkunya dengan wajah merah padam. Begitu duduk, dia bisa dengar suara-suara kecil di sekitarnya.

“Udah dibilang juga, dia mah sampah kelas.”

“Gimana coba hidup dia kalau nilai aja segini? Kasian, sih, tapi ya nyebelin juga.”

Dia meremas ujung bukunya, menatap meja, berharap bel cepat berbunyi.

***

Sepulang sekolah, Gantara berjalan kaki. Seragamnya makin kusut, sepatu putihnya udah lebih mirip cokelat karena tanah becek. Anak-anak lain lewat dengan motor, ada yang boncengan sambil ketawa keras-keras, ada yang pakai motor sport mengkilap. Gantara cuma bisa menunduk, jalan pelan.

Rumahnya nggak jauh dari sekolah, tapi jalannya sempit, melewati gang-gang kecil yang berdebu. Di ujung, ada sebuah rumah kecil bercat pudar. Atapnya bocor di beberapa bagian, temboknya retak.

Begitu masuk, dia disambut suara ibunya dari dapur.

“Tar, kamu udah pulang? Ada tempe goreng sama sayur asem di meja.”

“Iya, Bu.” suaranya pelan.

Di ruang tengah, ayahnya duduk di kursi kayu sambil menatap kosong ke televisi yang suaranya serak-serak. Tubuh ayahnya agak bongkok, bekas-bekas luka lama masih jelas. Orang-orang di kampung tahu, dulu ayahnya seorang tentara—sampai akhirnya dipenjara karena kasus narkoba. Nama baik keluarga hancur.

Ibunya keluar dari dapur, membawa segelas teh hangat. Wajahnya penuh peluh, tapi tetap berusaha tersenyum.

“Minum dulu, Tar. Kamu kelihatan capek banget.”

Gantara mengangguk, menerima gelas itu dengan kedua tangan. Bibirnya kering, tapi lebih kering lagi rasanya hati yang masih tergores ejekan teman-teman.

“Sekolah gimana?” tanya ibunya sambil duduk di sampingnya.

Pertanyaan sederhana, tapi rasanya berat. Gantara cuma mengedikkan bahu.

“Biasa aja, Bu.”

Ibunya menatap sekilas ke arah ayahnya, lalu kembali menoleh pada Gantara. Senyum itu dipaksakan lagi, senyum yang selalu mencoba menutup kenyataan pahit. “Yang penting jangan nyerah, ya. Kamu harus tetap rajin belajar. Ibu yakin suatu hari nanti kamu bisa buktiin kalau kamu hebat.”

Kata-kata itu seharusnya bikin hangat, tapi buat Gantara justru seperti ironi. Di sekolah dia jadi bahan ketawaan, di rumah dia dengar janji-janji harapan yang terasa jauh.

Suara ayahnya tiba-tiba memotong keheningan.

“Jangan dimanja, Bu. Dunia nggak peduli sama anak lemah. Kalau terus-terusan salah kayak tadi, dia cuma akan jadi bahan hinaan. Laki-laki harus keras!”

Nada suara ayahnya berat, kasar, seolah setiap kata adalah perintah. Gantara menelan ludah, menunduk makin dalam.

“Tar … kamu harus kuat. Hidup nggak bakal ngasih ampun,” lanjut ayahnya tanpa menoleh.

Ibunya mencoba menenangkan, “Pak, jangan begitu. Anak ini udah cukup capek. Dia butuh semangat, bukan bentakan.”

Tapi ayahnya hanya menghela napas, matanya tetap terpaku ke televisi.

Di dalam hati, Gantara merasa dirinya terjepit. Di sekolah dia dianggap tolol. Di rumah, ayahnya menuntut jadi kuat padahal ia bahkan nggak tahu harus mulai dari mana.

Dia menatap teh hangat di tangannya. Bayangan wajahnya sendiri memantul samar di permukaan cairan cokelat itu. Wajah pucat, mata sayu, bibir kering. Seperti benar-benar pecundang.

Namun jauh di dalam hatinya, ada keinginan kecil yang membara.

“Gue nggak mau selamanya kayak gini,” batinnya.

“Gue pengen bisa bikin orang berhenti ketawain gue. Pengen bisa bikin Ibu bangga. Pengen bisa buktiin ke semua orang kalau gue bukan pecundang.”

Dia mengingat lagi ejekan di kelas, sorak-sorai yang menghina. Gantar Tolol. Kalimat itu menusuk, tapi sekaligus jadi cambuk.

Bayangan kecil muncul di kepalanya: dirinya suatu hari berdiri di depan semua orang, bukan sebagai bahan lelucon, tapi sebagai seseorang yang diakui. Entah gimana caranya, entah lewat apa, tapi dia ingin membuktikan.

Tangannya mengepal di bawah meja. Untuk pertama kalinya, Gantara berani menjawab suara kecil yang sejak tadi menggema di dalam kepalanya:

“Lo pecundang.”

Tidak, batinnya menolak.

“Mungkin sekarang iya … tapi suatu hari nanti gue bakal nunjukin kalau pecundang juga bisa bangkit.”

Senyum samar muncul di bibirnya. Pahit, tapi penuh tekad.

Ibunya menoleh, sedikit heran melihat perubahan ekspresi itu.

“Ada apa, Tar?”

“Enggak, Bu. Tehnya enak,” jawab Gantara singkat.

Tapi di balik kata-kata singkat itu, hatinya sedang menanam sebuah janji kecil pada dirinya sendiri. Janji yang mungkin butuh waktu lama untuk ditepati, tapi tetap ia genggam erat.

Itu sebabnya Gantara selalu merasa dunia nggak pernah adil buat dia. Mau di sekolah, dia jadi bahan bully. Mau di rumah, dia hidup dalam bayangan masa lalu ayahnya.

Dia menaruh tas di pojok ruangan, lalu duduk tapi kepalanya masih penuh dengan suara-suara ejekan tadi. Gantar Tolol. Beban kelompok.

Dia menatap tangannya yang masih ada sisa kapur putih. Tangannya gemetar lagi.

Dalam hati, ada suara kecil yang berbisik, “Kalau terus begini, lo bakal jadi pecundang seumur hidup.”

Lanjut membaca
Lanjut membaca