

“Siapa kalian?! Apa yang kalian inginkan dariku?!”
Dengan nafas yang terangah-engah dan darah yang mulai mengalir dari mulut juga hidungnya.
***
Malam itu, cahaya bulan menyinari desa kecil di punggung bukit. Namun seketika suasana berubah mencekam oleh kehadiran kabut tebal disusul derap kaki kuda dari kejauhan.
Para penunggang berjubah hitam hadir menampakkan diri dari balik tebalnya kabut.
Tanpa aba-aba, mereka menghunuskan pedang dan mulai menebas siapa saja yang menghalangi mereka. Lengan Vladimir terluka parah oleh serangan itu, hingga dia berteriak kesakitan.
Seolah tidak cukup, mereka pun mulai menghajar dengan membabi buta. Vladimir sebisa mungkin mencoba melawan, namun sialnya mereka tak tertandingi.
Mereka diam, tidak menjawab pertanyaan Vladimir sama sekali.
“Aaaaaa!!!!”
Suara teriakan membuat Vladimir melotot horor. Apa yang dia takutkan terjadi. Itu adalah suara teriakan Elara, istrinya, yang tadi dia wanti-wanti untuk bersembunyi di rumah.
Sekarang, perempuan tak berdaya itu hadir kembali di hadapan mereka, diseret dengan paksa oleh salah satu bajingan itu.
Di depan mata Vladimir, pria itu mencekik leher Elara tanpa rasa kasihan hingga perempuan itu meronta kesakitan meminta ampun.
Vladimir berontak, mencoba berdiri dan melerai penyiksaan itu. Para bajingan itu pun mulai menyerang Vladimir kembali, menendang dan meninjunya. Darah dari mulut dan hidung Vladimir mengalir deras, serta di beberapa bagian tubuhnya yang lecet.
“Lepaskan dia!” teriak Vladimir, seolah serangan pada dirinya sama sekali tak ada artinya.
Namun para bajingan itu tidak mengindahkan permintaan Vladimir.
Ketakutan tampak jelas di tatapan matanya ketika melihat istrinya tercinta meronta hingga akhirnya, tanpa bisa dia cegah, Elara pun meregang nyawa.
Perempuan itu langsung lunglai, tidak melawan sama sekali.
Vladimir bisa melihat bagaimana nyawa istrinya direnggut. Bersamaan dengan itu, dia juga bisa merasakan kehidupannya hancur.
Pstttt!!!
Sebuah belati tiba-tiba tertancap di dadanya.
Vladimir bahkan tidak tahu siapa yang menancapkan belati itu dan kapan itu dilakukan. Kematian istrinya sudah merenggut hidupnya bahkan sebelum dia mati, itu membuatnya kehilangan harapan, bahkan untuk melawan dari siksaan.
Darah dari dadanya mengalir deras hingga sampai ke perut hingga menetes ke tanah.
Vladimir menunduk dan melihat belati yang tertancap di tubuhnya. Untuk sesaat, dia bisa merasakan sedikit kelegaan. Dia akan segera mati, menyusul istrinya tercinta.
Saat matanya semakin kabur, dia bisa mendengar para bajingan berjubah hitam itu kembali menaiki kuda-kuda mereka dan pergi menjauh. Dan perlahan-lahan, dia bisa merasakan kesadarannya mulai menghilang.
Sebelum dia benar-benar mati, dia menoleh ke arah istrinya dan melihat wajah Elara yang memucat itu. Dan dia berbisik, “Elara, kita akan bertemu lagi.”
Akhirnya, kesadarannya pun hilang.
Gelap. Dan hening.
Seseorang kemudian datang, menembus kabut tebal dengan obornya. Pakaiannya yang mewah dan berkelas memperlihatkan bahwa dia bukan dari desa tersebut. Dia bukan pria biasa, tapi seorang bangsawan.
Dia menemukan tubuh Vladimir tergeletak tak berdaya. Dia berjongkok dan memeriksa tubuh yang tampak tak tertolong itu. Dia juga menyentuh pergelangan tangan Vladimir.
Eskpresinya tampak ikut berkabut. Dia menggeleng prihatin.
“Tidak ada cara lain,” ujarnya dengan lirih.
Sontak, wajahnya yang lembut berubah keras. Tatapannya yang teduh dengan biji mata segelap malam berubah menyeramkan ketika warna biji matanya berubah menjadi merah.
Dia membuka mulut, dan tampaklah taring yang begitu panjang dan tajam di antara giginya.
Dalam satu gerakan yang sangat cepat, pria itu langsung menyambar leher Vladimir dan menempelkan taringnya tepat di nadinya.
Layaknya seekor singa kelaparan pria itu tidak melepaskan taringnya dari leher Vladimir. Tak ubahnya seperti rusa yang diterkam oleh predator maka Vladimir pun menggeliat dan mengerang kesakitan.
Meski begitu pria bangswan itu bahkan sama sekali tidak peduli. Ia terus saja menghisap darah Vladimir tanpa ampun. Dan benar saja, dalam hitungan detik Vladimir pun kembali lemas dan ia tidak lagi bergerak.
Tapi anehnya, pria itu justru tersenyum penuh rasa kepuasan. Pria itu lalu mengangkat tubuh Vladimir dengan kedua tangannya sendiri. Tak seperti penampilannya yang sudah paruh baya itu, ia nampak sangat kuat ketika membawa tubuh Vladimir ke dalam kereta kudanya.
Vladimir masih tidak bergerak seperti mayat. Namun pria tua itu seolah tak merasa khawatir. Ia lalu menutup pintu kereta kuda dan mengemudikan kembali keretanya.
Bersama pria tua tak dikenal itu akhirnya Vladimir pun pergi dan menghilang dalam pekatnya malam.
Kereta kuda terus melaju dengan cepat melewati hutan dan menerobos kabut tebal.
Seolah sudah sangat mengerti ke mana harus pergi, kuda itu terus melangkahkan kakinya meski sang tuan hanya duduk diam di kursi kemudi.
Namun bukannya menuju sebuah desa atau perkampungan, kereta itu justru menuju sebuah tempat di pegunungan batu. Sebuah tempat terlarang yang tidak ada seorang manusia pun ingin pergi ke sana.
Jangankan mendekat, semua orang bahkan tidak ingin menyebut nama tempat itu. Sebuah tempat terkutuk yang dihuni oleh makhluk gelap. Makhluk haus darah yang tak akan segan untuk menghisap darah manusia.
Malam semakin dingin dan tubuh Vladimir bahkan makin membeku. Kulitnya yang tadinya berwarna kecokelatan kini berubah pucat bagaikan salju musim dingin.
Kereta kuda yang ditunggangi pria tua itu terus berjalan mengitari gunung batu dan terus menuju ke arah puncak. Sesekali ia menatap ke arah timur lalu membuat kudanya berlari semakin kencang.
Entah apa yang coba ia hindari tapi yang pasti ia berusaha untuk segera sampai ke tempat tujuannya.
Tak lama ia dan kereta kudanya sampai di sebuah kastil yang terletak di balik gunung batu nan mencekam.
Sebuah bangunan kastil yang terletak di tempat tak wajar merupakan hal yang sangat aneh.
Setelah turun dari kereta kudanya, pria itu lalu dengan cekatan membawa tubuh Vladimir ke dalam kastil itu. Seperti penampakkannya dari luar, bagian dalam kastil itu bahkan jauh lebih suram. Begitu heningnya kastil itu hingga suara kaki pria tua itu bahkan menggema dengan nyaringnya.
Vladimir dibawa menuju sebuah ruangan berpintu kayu yang sangat elegan. Dan ternyata, ruangan itu adalah sebuah kamar yang cukup mewah.
Pria itu lantas membaringkan tubuh Vladimir di atas sebuah ranjang empuk berukuran besar di sana.
Tapi anehnya ia justru menutup semua tirai jendela yang ada di kamar itu. Pria itu menyalakan beberapa lilin aroma terapy dan tak lama ia pun pergi dan meninggalkan Vladimir di kamar itu.
Di dalam kamar itu Vladimir masih tak bergerak. Ia terus seperti itu bahkan hampir selama seharian. Lalu ketika senja, tak disangkah Vladimir mulai menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Berawal dari jari-jarinya yang mulai bergerak lalu diikuti kelopak matanya yang mulai terbuka.
Awalnya pandangan Vladimir masih terasa buram hingga kemudian ia merasakan penglihatannya terasa begitu jernih dan tajam. Ia heran melihat tangannya sendiri yang terasa jauh lebih kuat dari sebelumnya.
Bahkan pendengarannya pun terasa sangat peka kali ini.
Akhirnya Vladimir memutuskan untuk bangun. Ia masih terduduk di atas ranjang dan ia semakin bingung ketika menyadari dirinya kini berada di sebuah tempat asing yang tidak ia kenali. Ia mencoba mengingat apa yang terjadi padanya dan ingatannya pun kembali pada malam naas di mana ia telah kehilangan Elara.
“Bukankah saat itu aku dibunuh oleh kelompok orang berjubah hitam? Seharusnya aku sudah mati bukan? Lalu kenapa aku di sini? Tempat apa ini?” guman Vladimir.