

Suara palu tembaga yang memukul batu bata bergema keras di atas tanah yang baru saja diolah. Debu pasir dan kapur menyelimuti wajah Dewa Ragata, menyembunyikan bibir yang sedikit mengerut saat mengangkat ember semen berisi campuran pasir dan semen yang cukup berat untuk dua orang dewasa biasa. Tangannya yang kasar namun kuat menggenggam gagang ember dengan mantap, langkah kaki panjangnya menginjak tanah liat yang licin akibat genangan air hujan kemarin malam.
"Dewa! Cepat dong! Jangan asal melamun sana!" teriak Pak Kadir, tukang utama yang sedang memeriksa rata tidaknya lantai pondasi rumah baru yang sedang dibangun di tepi jalan raya menuju pelabuhan.
Dewa mengangkat dagu sebentar, wajahnya yang tampan meskipun tertutup debu sedikit mengerahkan senyum. "Segera, Pak!" jawabnya sambil berlari kecil menuju lokasi pengecoran.
Tahun ini Dewa sudah genap delapan belas tahun, tapi tubuhnya tumbuh lebih cepat dari anak seusianya. Dada yang lebar, bahu yang selebar pelampung, dan otot-otot yang sudah mulai tampak jelas di lengan serta punggungnya membuatnya terlihat setidaknya dua tahun lebih tua. Padahal minggu depan ia baru akan menghadapi ujian akhir kelulusan di SMA Negeri 2 Pelabuhan Ratu.
Setelah meletakkan ember dengan hati-hati di atas gerenda kayu, Dewa menyeka keringat yang mengalir deras di dahinya menggunakan bagian lengan kaos kerja yang sudah sobek di siku. Ia melihat ke arah kejauhan, di mana kapal-kapal nelayan mulai kembali berlabuh menyusuri bibir pantai yang terbentang luas. Mata kecilnya yang biasanya cerah kini sedikit menguap akibat kurang tidur. Tadi malam ia harus menyelesaikan makalah fisika tentang energi listrik hingga jam dua pagi, setelah pulang bekerja pukul sepuluh malam.
"Kamu lagi liat apa, nak?" Suara lembut menyapa dari belakang. Dewa menoleh dan melihat Ibu Larasati yang datang membawa bejana berisi es teh tawar, nasi putih, krupuk dan bebek goreng yang dibalut daun pisang.
"Ibu, kenapa datang sendiri? Padahal aku bilang akan pulang makan siang nanti. Ibu harusnya beristirahat," ujar Dewa dengan nada khawatir, segera mengantar ibunya ke tempat teduh di bawah pohon waru yang rindang.
Larasati menggeleng perlahan, tangannya yang sudah mulai kurus menyentuh dan mengelus pipi anaknya. "Ibu khawatir kamu tidak makan dengan benar. Lihat saja wajahmu kurus padahal kerjaannya berat sekali."
Dewa mengangkat bahu. "Ini badan Dewa kuat, Bu. Makannya sedikit aja sudah kuat seharian. Lagian uang hasil kerja ini bisa buat biaya sekolah dan beli obat buat Ibu kan?"
"Tetapi kamu harus fokus belajar juga, Nak. Ayahmu dulu pernah bercerita bahwa ia juga sangat pandai di sekolah. Ibu tidak ingin masa depanmu hanya terjebak jadi tukang seperti ini," ujar Larasati sambil membuka bungkusan bebek goreng. Matanya sedikit berkaca-kaca ketika mengingat sang suami harus kembali ke langit setelah ditangkap oleh prajurit langit sejak Dewa masih bayi.
"Sudah tidak apa-apa, Bu. Cukup aku bisa membantu Ibu dan sekolah saja aku bisa jalani sendiri. Pak Kadir sudah bilang kalau aku bisa kerja paruh waktu setelah jam sekolah, jadi tidak akan mengganggu pelajaran," kata Dewa sambil mengambil potongan bebek dan memasukkannya ke dalam mulut. Rasanya sangat lezat setelah bekerja sepanjang pagi.
Tiba-tiba suara langkah kaki berat menyambut mereka. "Wah, Laras, kamu lagi membawakan makanan untuk anakmu? Betapa beruntungnya aku punya pekerja seperti Dewa nih. Cepat tanggap, badannya kuat, dan tidak pernah mengeluh," ucap Pak Kadir dengan senyum lebar, mengusap pundak Dewa.
"Terima kasih banyak ya Pak Kadir sudah mau menerima Dewa kerja di sini," ujar Larasati dengan nada syukur.
"Sama-sama, Bu Laras. Malahan aku untung punya orang yang bisa dipercaya. Kan, Dewa? Nanti sore kita akan memasang tiang pagar di sisi belakang rumah ini ya? Butuh orang kuat kayak kamu," tambah Pak Kadir sebelum kembali ke lokasi kerja.
Setelah makan siang, Dewa kembali bekerja. Saat sedang menggali parit untuk saluran air, ia merasakan ada sesuatu yang menyentuh bahunya dengan lembut. Ia menoleh ke sekeliling tapi tidak melihat siapapun.
"Kamu capek ya, Dewa?" suara lembut terdengar di dalam benaknya, suara yang sudah sangat ia kenal.
"Nastiti? Kamu ada di sini?" pikir Dewa sambil tetap bekerja agar tidak mencurigakan rekan kerjanya.
"Aku selalu ada di dekatmu. Kamu jangan terlalu memaksakan diri ya. Esok kamu ada ujian kan?"
Dewa mengangguk perlahan, sambil mengangkat ember tanah yang penuh. "Aku harus bekerja agar bisa bayar uang sekolah dan beli obat buat Ibu. Kalau aku tidak kerja, siapa yang akan membantu Ibu?"
"Aku bisa membantu kamu lho. Cukup bilang saja apa yang kamu butuhkan."
"Terima kasih, Nastiti. Tapi ini urusanku sendiri. Kamu sudah banyak membantu aku dengan cara kamu. Misalnya waktu aku kesulitan belajar matematika, kamu selalu kasih petunjuk kan?"
Suara tawa lembut menyala di dalam kepalanya. "Itu karena kamu sendiri yang pintar, Dewa. Aku hanya sedikit membimbing saja."
Saat matahari mulai miring ke barat, pekerjaan hari itu akhirnya selesai. Pak Kadir menghampiri Dewa dengan membawa amplop berisi upah mingguan. "Ini ya, Dewa. Tiga ratus ribu rupiah. Kerja kamu bagus sekali hari ini."
Dewa menerima amplop dengan hati-hati, tangan kanannya sedikit gemetar karena bahagia. "Terima kasih banyak, Pak Kadir. Saya akan datang lagi besok ya."
Saat berjalan pulang menyusuri jalan pantai yang sepi, pasir putih menginjak-injak alas kakinya yang sudah aus. Matahari sore memercikkan warna jingga dan merah di atas permukaan laut, membuat pemandangan sangat indah. Dewa merasakan tangan tipis menyentuh tangannya, meskipun tidak melihat siapapun.
"Lihat pemandangannya cantik sekali ya, Dewa?" ujar Nastiti.
"Ya, sangat cantik. Kadang aku berpikir, kalau saja ayahku masih ada, mungkin kami bisa menikmati pemandangan seperti ini bersama-sama," kata Dewa pelan, sambil meraih batu kecil dan melemparkannya ke arah laut.
"Ayahmu pasti sangat mencintaimu dan ibumu, Dewa. Aku yakin dia ada di tempat yang baik dan selalu mengawasimu dari jauh."
Dewa mengangguk, lalu mempercepat langkahnya. Ia harus segera pulang, mandi, dan belajar untuk ujian esok pagi. Di rumah, Ibu sudah pasti menunggu dengan hidangan malam yang hangat. Meski hidupnya penuh dengan perjuangan, Dewa merasa cukup bersyukur. Ia punya ibunya yang mencintainya, pekerjaan yang bisa mencukupi kebutuhan, teman khusus yang selalu menemani, dan tekad yang kuat untuk meraih masa depan yang lebih baik.
Namun, ia tidak menyadari bahwa di balik semua itu, ada rahasia besar yang tersembunyi dalam dirinya, rahasia yang akan mengubah seluruh hidupnya dan membawa dia pada perjalanan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
***