
Sang Legenda Mata Batin
Rizki DariNya|Bersambung
- Jumlah kata
- 62.5K
- Popular
- 1.2K
- Subscribe
- 118
- Jumlah kata
- 62.5K
- Popular
- 1.2K
- Subscribe
- 118
Sinopsis
Terlahir memiliki aura spesial, tidak membuatnya sombong dan merasa hebat. Namun, di sisi kebaikkannya ada saja orang yang merasa iri. peristiwa apa yang akan Bima hadapi, dan bagaimana ia bisa memiliki mata batin. yukkk stay dalam cerita ini... komentar kalian semangat Author📖🙏🙏
Ulasan
1 ulasan
Rizki DariNya
1/10/25 03:02
Terlahir dari Desa terpencil yang jauh dari perkembangan zaman, Membuatnya sukses di Kota Besar. Wiiihh.. Mantapp... 😍😍😍😍😍
Prolog
Di sebuah desa yang sangat terpencil, desa itu bernama desa ujung kulon, sesuai dengan namanya letak desa itu paling ujung dari desa-desa yang lain.
Jarak antara desa itu ke desa lain sekitar 1 kilometer, di desa itu ada 25 orang kepala keluarga terbilang cukup sedikit,
Bangunan rumah-rumah penduduk di desa itu banyak yang sangat memprihatinkan, karena jaraknya dari kantor desa memakan waktu 4 jam, jadi pegawai kantor desa jarang bahkan tidak pernah meninjau desa itu,
Hari sudah mulai menjelang tengah malam, hujan gerimis membasahi desa itu, di sebuah gubuk ada seorang lelaki paruh baya mondar mandir di depan pintu gubuknya.
Dia sangat khawatir karena istrinya di dalam mau melahirkan dan sedang di bantu dukun beranak, di desa itu tidak ada bidan atau pun dokter, dulu pernah ada namun semua bidan dan dokter tidak betah berlama-lama di desa itu,
Jggeeerrrr...
Jggeerrr...
Ooweee.. Ooowweee..
Ooowwweee... Ooowwweee...
Suara petir menggelegar dan bersamaan anaknya pun lahir, lelaki paruh baya yang bernama pak somat itu pun bersyukur anaknya sudah lahir, walaupun ia takut petir menyambar,
"Somat ayo.. Masuk..!" Seru mak dukun kepada pak somat.
"Eehh... Iya mak.. !" Jawab pak somat semangat, ingin menimang anaknya.
Mak dukun menyerahkan bayi itu ke pangkuan pak somat, sambil mak dukun membersihkan tangannya yang selesai mengganti pakaian bu somat tadi,
"Mak siti.. Apa anak dan istriku baik-baik saja?" tanya nya pada dukun yang ternyata bernama siti itu.
Seperti yang kamu lihat somat..
Anak dan istrimu baik-baik saja, bahkan mereka sehat, tidak ada keluhan apapun kali ini, tentu pak somat sangat takut kalo kejadian dulu terulang kembali.
Bu somat sudah 3 kali melahirkan dan semua meninggal saat melahirkan, jadi pak somat sangat takut terjadi hal yang sama seperti dulu.
"Somat..mak pulang dulu besok mak ke mari lari!" ucap mak siti sambil berlalu pergi,
"Mak tunggu sebentar, aku antar mak siti sampai ke rumah!" ucapnya sambil berlari kecil.
"Bu titip anak kita, aku mau mengantarkan mak siti pulang dulu sebentar!" setelah menitipkan anaknya pada istrinya.
Lalu sambil memanggul beras di pundaknya, mereka berjalan menuju gubuk mak siti.
"Mak..maafkan aku tidak bisa memberikan uang untuk persalinan istriku, aku hanya mampu memberikan setengah karung beras ini saja," gumam Pak Somat tidak enakkan.
"Tidak apa-apa somat, harusnya kamu tidak perlu membawakan apa-apa untuk mak, kita di desa ini semua seperti saudara harus saling membantu," balas Mak Siti tersenyum.
"Aku tau mak, tapi ini sebagai ucapan terima kasih karena tengah malam, mana hujan, di tambah petir mak mau membantu istriku," sahut Pak Somat lagi.
Mak Siti menganggukkan kepala menerima rejeki untuknya.
Tak terasa mereka sudah sampai di gubug mak siti, somat langsung meletakkan karung beras di balik pintu.
Mak siti tinggal bersama suami dan 2 cucu nya yang sudah besar.
"Mak.. Aku pamit pulang dulu," ucap pak somat buru-buru.
"Iya..terima kasih.. Dan kamu hati-hati somat!" serunya sembari agak keras karena pak somat sudah agak jauh.
Di desa itu gelap kalau pak somat tidak membawa obor untuk penerangan, mana bisa melihat dalam gelap malam-malam begini.
Tanpa terasa pak somat sudah berada di rumahnya, ia langsung masuk ke kamar, di kamar istrinya sedang mencoba memberikan anaknya asi.
"Pak.. Apa bapak sudah makan?" tanya istrinya.
"Belum bu..apa ibu mau makan.. Biar bapak ambilkan dan kita makan bersama!" jawabnya merayu.
"Iya pak aku juga sudah lapar, kita makan satu piring berdua saja pak, takut sisa mubazir!" timpal istrinya manja.
Setelah mengambil sepiring nasi dan lauk pauknya di dapur, pak somat masuk ke kamar dan menyuapi istrinya makan, sambil giliran ia ikut makan.
"Bu bapak ke dapur sebentar,"
"Iyaa.. Pak,"
Pak somat mencuci piring sebentar, setelah selesai ia kembali ke kamar ingin istirahat tidur,
'Pak..apa bapak sudah menyiapkan nama untuk anak kita,!' Tanya istrinya tegas,
Sudah bu,.. BIMANSYAH.. Nama anak kita BIMANSYAH..karena dia anak yang kita ingin-inginkan dari dulu! Ujarnya pun tegas,
Istrinya yang mendengar ucapan suaminya itu pun sedih karena ke 3 anaknya meninggal saat di lahirkan,
Melihat istrinya bersedih pak somat berkata..
Sudah lah bu jangan bersedih, BIMANSYAH mewakili semua anak-anak kita yang sudah tiada, semoga dengan lahirnya dengan selamat ini membuat kakak-kakaknya bahagia di alam sana,
Ia pak..ayo kita tidur anak kita sudah tidur! Yang belum bisa memanggil anaknya dengan nama karena terlalu panjang, jadi kaku kalau di sebut.
"Panggil saja anak kita BIMA bu.. Biar tidak terlalu panjang menyebutnya..!" Seolah-olah ia tau isi hati istrinya itu..
'I.. Iya pak..!' Jawabnya bingung.
Kkuukkkuruuuyuuukk...
Terdengar suara ayam berkokok, hari mau menjelang pagi,
'Bu.. Bapak pergi dulu.. ?' Teriaknya di teras
'Iya pak.. Hati-hati..!' Timpal istri di dalam.
Pak somat pergi ke ladang untuk bekerja buruh di ladang itu, bayarannya bukan berupa uang tapi hasil panen, walaupun hanya mendapatkan upah hasil panen, ia sangat bersyukur,
Di desa ini, semua penduduknya tidak ada yang memiliki uang, kalaupun ada tidak berguna di desa itu, pasar jauh, angkutan umum tidak ada yang mau masuk, kendaran pribadi tidak punya,
Jadi uang tidak berharga di desa ini, itu lah yang membuat desa ini aman jauh dari rampok,
Penduduk desa ini masih melakukan barter, yang tukar menukar barang atau jasa,
Jadi pak somat sangat senang dengan hasil yang ia akan dapatkan,
Matahari sudah berada di atas kepala, menandakan hari sudah siang,
Tanpa terasa pekerjaan pak somat di ladang sudah selesai dan membawa pulang hasilny,
Malam pun mulai datang, pak somat yang menimang anaknya itu pun semangat,
Nangning... Ningnang...Eeee..
Nangning... Ningnang... Eeeee..
Sambil bersenandung berharap anaknya tersenyum, dan benar saja pikirannya anaknya itu tersenyum manis,
Bu.. Bu.. Lihatlah anak kita tersenyum mendengar senandung bapak..
Maklum lah, baru kali ini ia melihat anak kecil tersenyum saat-saat tertentu,
Setelah tengah malam ia pun meletakkan anaknya dekat istrinya, lalu mereka tertidur.
Seperti biasa setiap hari pak somat bekerja ke ladang, terkadang menggarap sawah orang,
Tanpa terasa 6 tahun sudah usia Bima sekarang, ia tumbuh menjadi anak yang tampan dan baik,
Bima menyambut bapaknya pulang dari ladang.
"Pak apa aku boleh bantu bapak?" tanyanya karena melihat bapaknya sangat kelelahan.
"Boleh.. Boleh.. Tapi jangan yang berat-berat ya.. Nanti kamu jatuh," jawab bapaknya dengan halus lembut.
"Pak.. Ini isinya apa,"
"Itu sayur-sayuran,"
"Ohh.."
"Kamu sudah mandi Bima?" tanya bapaknya lagi.
"Belum pak..!" jawabnya pelan.
"Iya pak.. Aku pergi mandi dulu ya pak!" ucapnya lagi.
"Iya.. Jangan lama-lama mandinya,, bapak juga mau mandi gerah?" Bapaknya bicara lagi.
"Baik pak..!" jawabnya lagi.
Daftar bab
57 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








