
Jagoan Dari Pelosok
Andy Togar|Bersambung
- Jumlah kata
- 127.0K
- Popular
- 409
- Subscribe
- 116
- Jumlah kata
- 127.0K
- Popular
- 409
- Subscribe
- 116
Sinopsis
Aqil, pemuda dari Desa Sukma yang terpencil, selama dua puluh tahun dianggap lemah, bodoh, dan tak berguna. Pendiam dan selalu menunduk, ia menjadi sasaran hinaan warga desa, bahkan oleh mereka yang jauh lebih lemah darinya. Tak ada yang tahu — di balik sikap tenang itu, ia menyembunyikan kecerdasan luar biasa, kemampuan bela diri yang tak tertandingi, serta insting tajam yang bisa merasakan bahaya jauh sebelum ia tiba. Kekuatan itu dilarang ditunjukkan, sesuai pesan kakeknya: sembunyikan sampai waktu yang tepat tiba. Ketika pasukan kekuatan gelap menyerang desa dan seluruh warga berlutut tak berdaya, Aqil akhirnya melangkah maju. Dengan satu tepikan tangan, ia menepis serangan musuh yang mampu menghancurkan rumah batu. Saat ia melepaskan aura yang selama ini dikunci, seluruh musuh gemetar ketakutan — karena kekuatan yang dimilikinya bukanlah sesuatu yang bisa dimiliki manusia biasa. Dengan tekad bulat, Aqil meninggalkan kampung halamannya dan melangkah ke kota besar. Di sana, para bangsawan dan kultivator kuat kembali meremehkannya hanya karena ia berasal dari pelosok. Namun perlahan, satu per satu mereka yang merendahkannya berlutut memohon ampun. Dan saat jati dirinya yang sebenarnya terungkap, seluruh kota gemetar — karena ia bukan sekadar anak kampung. Ia adalah legenda yang telah lama hilang dari dunia ini.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Anak Yang Di Anggap Lemah
Hujan turun rintik-rintik di kaki Gunung Langit, tempat Desa Sukma berdiri — sebuah pemukiman terpencil yang nyaris tak tersentuh oleh dunia luar. Di sudut paling ujung desa, di sebuah gubuk kayu yang mulai lapuk, duduk seorang pemuda berusia dua puluh tahun. Namanya Aqil.
Pakaiannya sederhana, kainnya kasar dan penuh tambalan. Wajahnya tampan namun pucat, matanya tenang bagaikan danau tanpa riak. Selama dua puluh tahun hidup di desa itu, seluruh warga mengenalnya sebagai anak yang pendiam, lemah, dan bahkan sering dianggap kurang cerdas. Ia jarang berbicara, jarang keluar rumah, dan jika ada pekerjaan berat, ia selalu tampak tertinggal dibanding pemuda lain.
"Lihatlah, itu si anak lemah!" Suara lantang memecah kesunyian hujan. Tiga pemuda berbadan tegap berjalan mendekat, wajah mereka penuh cemooh. Yang paling depan adalah Bayu, putra kepala desa, seorang pemuda yang baru saja memasuki tingkat dasar kultivasi dan merasa dirinya orang paling hebat di desa itu.
Aqil tak bergerak. Ia tetap duduk di depan gubuknya, tangan perlahan mengelus sebilah kayu tua yang sedang ia bentuk menjadi gagang senjata. Gerakannya sangat presisi, setiap goresan terukur sempurna — sesuatu yang tak akan disadari oleh siapa pun yang melihatnya sekilas. Di balik wajah tenang itu, pikirannya berputar jauh lebih cepat dari siapa pun. Ia sedang menghitung jarak, kecepatan angin, bahkan kekuatan serangan yang mungkin dilancarkan tiga pemuda itu jika mereka berniat jahat. Semua itu ia hitung dalam sekejap, tanpa sedikit pun menampakkannya.
"Bayu, biarkan dia," kata salah satu temannya sambil tertawa. "Dia kan anak yang lemah. Mana dia sanggup membantah kita."
Bayu berhenti tepat di depan Aqil, menatapnya dengan tatapan merendahkan. "Hei, Aqil! Besok upacara pemilihan pengawal desa. Kau mau ikut juga? Hahaha! Kau bahkan tak bisa mengangkat kapak kayu dengan benar. Lebih baik kau tetap di sini, merawat gubuk tua yang sebentar lagi roboh itu."
Aqil mendongak perlahan. Matanya menatap Bayu — bukan dengan amarah, melainkan dengan ketenangan yang aneh. "Aku tidak tertarik," jawabnya pelan namun jelas.
"Tidak tertarik? Atau tahu diri kau tak mampu?" Bayu menendang tumpukan kayu di samping Aqil hingga berantakan. "Kau ini benalu di desa ini. Orang tuamu pergi tanpa kabar, dan kau hanya makan hasil bumi tanpa memberi apa-apa. Seandainya bukan karena belas kasihan kakek desa, kau sudah diusir lama sekali."
Kata-kata itu menusuk tajam. Namun Aqil hanya menunduk kembali, melanjutkan pekerjaannya. Ia tahu betul mengapa ia dianggap lemah. Saat ia masih kecil, ia pernah mencoba menunjukkan kemampuannya — memecahkan batu besar dengan satu tepukan. Namun saat itulah kakeknya, orang yang merawatnya sebelum meninggal, melarang keras. Kakeknya berkata dengan tegas, "Sembunyikan kekuatanmu, Aqil. Sampai waktunya tiba, biarkan mereka menganggapmu lemah. Itu cara terbaik untuk tetap hidup. Kekuatan sejati bukanlah tentang siapa yang paling kuat memukul, melainkan siapa yang paling sabar menunggu waktu yang tepat."
Kakeknya telah meninggal tiga tahun lalu, dan sejak saat itu Aqil benar-benar sendirian. Ia terus menyembunyikan segala sesuatu yang ia miliki — kecerdasannya yang luar biasa, kemampuan bela diri yang melebihi para ahli tertinggi, serta insting yang bisa merasakan bahaya jauh sebelum ia tiba.
"Kau diam saja ya?" Bayu semakin berani. Ia mengulurkan tangan, hendak mendorong bahu Aqil. "Jawab aku, anak tak berguna!"
Namun sebelum tangannya menyentuh kulit Aqil, sesuatu terjadi. Tanpa mengangkat kepala, tanpa melihat ke arah Bayu, Aqil sedikit bergeser — gerakan yang begitu halus, seolah hanya terbawa angin. Bayu yang terburu tak sempat mengerem langkah, tubuhnya terhuyung dan jatuh terjerembap ke tanah lumpur.
Dua temannya tertawa terbahak-bahak. "Hahaha! Bayu, kau terlalu bersemangat sampai jatuh sendiri!"
Bayu bangkit dengan wajah merah padam menahan malu dan marah. "Bukan jatuh sendiri! Dia... dia yang menggeser kakinya!"
"Kami tidak melihat apa-apa," kata salah satu pemuda itu sambil menggeleng. "Dia diam saja sejak tadi, Bayu. Kau pasti salah langkah."
Bayu menatap Aqil dengan curiga, namun melihat pemuda itu masih tenang mengukir kayu, ia menepis keraguannya. Mustahil. Anak itu tak punya kekuatan sama sekali. Pasti aku yang terburu-buru. "Kau tunggu besok!" ancamnya sambil menunjuk Aqil. "Aku akan pastikan kau tahu siapa yang paling pantas dihormati di desa ini!" Ia berlalu pergi dengan amarah yang membara. Kedua temannya melemparkan tatapan kasihan sekaligus merendahkan ke arah Aqil, lalu ikut pergi.
Aqil mengangkat kepala, menatap punggung mereka yang menjauh. Matanya yang tadinya tenang kini berkilat tajam sejenak, lalu kembali tenang. Waktunya semakin dekat, batinnya. Aku merasakannya. Sesuatu yang besar akan datang.
Ia bukan orang biasa. Di dalam dirinya mengalir darah keturunan yang bahkan para tetua desa tak pernah mendengar namanya. Sejak kecil, ia bisa memahami isi kitab bela diri hanya dengan sekali baca. Ia bisa meramalkan perubahan cuaca tiga hari sebelumnya hanya dengan mencium bau angin. Bahkan tanpa berlatih secara resmi, tubuhnya telah beradaptasi menahan beban yang bisa menghancurkan orang biasa sepuluh kali lipat. Namun ia diam. Ia ingat pesan kakeknya, dan ia memegang teguhnya.
Malam itu, langit di atas Desa Sukma berubah gelap gulita. Awan hitam menumpuk rendah, petir menyambar-nyambar di kejauhan. Aqil terbangun dari tidurnya — bukan karena suara petir, melainkan karena instingnya yang tiba-tiba berteriak keras.
Bahaya. Besar. Sangat dekat.
Ia bangkit, mengenakan jubah tipisnya, dan melangkah keluar gubuk. Di kejauhan, di arah gerbang desa, terlihat cahaya merah yang menyala-nyala. Suara teriakan penduduk mulai terdengar, bercampur dengan dentuman keras yang membuat tanah bergetar pelan. Aqil mengatupkan mata sejenak, menghirup udara malam. Di dalam hirupan itu, ia menangkap bau darah, bau api, dan bau kekuatan gelap yang busuk.
Mereka datang, batinnya. Penjajah dari Kota Besar, yang mencari sesuatu di tempat ini.
Ia berjalan menuju pusat keributan. Semakin dekat, semakin jelas ia melihat apa yang terjadi. Puluhan orang berpakaian hitam dengan lambang bulan sabit merah sedang mengacak-acak desa. Mereka menunggangi binatang buas yang menyerupai serigala namun bersisik. Para pemuda desa yang mencoba melawan terlempar seperti batu yang dipukul palu. Rumah-rumah mulai terbakar.
Di tengah lapangan desa, berdiri seorang pria bertubuh tinggi besar dengan jubah ungu tua. Ia memegang tongkat berujung permata merah, dan di sekelilingnya, para tetua desa yang dulu berwibawa kini berlutut dengan wajah pucat ketakutan.
"Di mana benda itu?" tanya pria itu dengan suara berat yang terdengar di telinga setiap orang. "Serahkan, atau aku musnahkan desa ini sampai ke akar-akarnya!"
Kepala desa gemetar hebat. "Kami... kami tidak tahu apa yang Tuan maksud. Desa ini miskin, tak ada benda berharga di sini..."
"Berbohong!" Pria itu melambaikan tangan. Gelombang kekuatan meledak dan menghantam kepala desa hingga tubuhnya terlempar sepuluh meter, darah menyembur dari mulutnya. Warga desa berteriak ketakutan. Tak ada yang berani melawan. Kekuatan pria itu jauh di atas siapa pun di desa ini.
Pria itu menatap warga yang berkumpul dengan tatapan dingin. "Aku akan bertanya sekali lagi. Di mana Pecahan Langit yang tersembunyi di tanah ini? Jika tak ada yang mengaku, aku akan membunuh kalian satu per satu, mulai dari anak-anak!"
Keheningan mencekam menyelimuti desa itu. Tak ada yang tahu. Tak ada yang berani menjawab. Hanya suara tangis anak-anak dan deru api yang terdengar.
Saat pria itu hendak melangkah menuju kerumunan untuk menepati ancamannya, satu suara pelan namun jelas terdengar, membelah keheningan malam.
"Berhenti."
Semua mata berbalik ke arah sumber suara. Di ujung lapangan, berdiri sosok pemuda berpakaian kasar penuh tambalan — Aqil. Ia berjalan perlahan, langkahnya tenang, tak ada sedikit pun ketakutan di wajahnya.
Bayu dan teman-temannya yang sedang bersembunyi di balik pohon terbelalak. "Aqil? Apa yang dia lakukan? Dia mau mati sendiri?"
Pria berjubah ungu itu menatap Aqil dengan tatapan merendahkan. "Kau? Anak kecil yang tak bernilai. Kau menyuruhku berhenti?"
Aqil berhenti sekitar sepuluh meter di hadapan pria itu. Matanya menatap lurus, tak bergeming. "Desa ini tidak memiliki apa yang kau cari. Dan tidak ada satu pun dari mereka yang pantas kau sakiti. Pergilah."
Pria itu tertawa keras, suaranya menggema ke seluruh penjuru desa. "Pergilah? Hahaha! Kau menyuruhku pergi? Tahukah kau siapa aku ini? Aku adalah Pengawal Ketiga Istana Bulan Merah! Di tingkatku, aku bisa menghancurkan gunung dengan satu telapak tangan! Dan kau — anak kampung yang bahkan tak punya dasar kultivasi — berani menantangku?"
Ia mengangkat tangan, dan bola api sebesar kepala manusia terbentuk di telapak tangannya. "Karena kau yang paling berani — atau paling bodoh — kau akan menjadi yang pertama kubakar menjadi abu!"
Para warga memejamkan mata. Mereka tak ingin melihat Aqil mati di depan mata mereka. Bagaimanapun juga, ia adalah salah satu dari mereka.
Pria itu melontarkan bola api itu dengan kekuatan penuh. Cahaya merah menyilaukan mata, panasnya terasa hingga ke tempat warga bersembunyi. Namun saat bola api itu tinggal satu meter dari tubuh Aqil...
Aqil hanya mengangkat tangan kanannya, perlahan, seolah sedang menahan angin. "Guntur..." gumamnya pelan.
Dengan satu gerakan tangan yang halus namun pasti, ia menepis ke samping. Bola api yang mampu membakar rumah kayu itu berbelok arah seketika, melesat melewati bahu Aqil, dan menghantam sebatang pohon besar di belakangnya — pohon itu hancur berkeping-keping, terbakar hebat.
Aqil tetap berdiri tegak. Pakaiannya tak hangus sedikit pun. Wajahnya masih tenang seperti sebelumnya.
Seluruh desa terdiam. Bahkan angin seakan berhenti berhembus.
Pria berjubah ungu itu melongo, matanya membelalak tak percaya. "Mustahil... itu... itu adalah serangan tingkat Tiga Bintang! Kau... bagaimana bisa kau menepisnya begitu mudah?"
Aqil melangkah maju satu langkah. Matanya yang tadinya lembut kini berubah tajam bagaikan pedang yang baru diasah. Aura yang selama ini ia sembunyikan tumpah keluar — tekanan yang begitu berat, begitu dahsyat, hingga para penyerang yang kuat itu berlutut tanpa sanggup menahannya.
"Aku tidak bermaksud membunuhmu," ujar Aqil, suaranya tenang namun bergetar di telinga setiap orang yang mendengarnya. "Tapi katakan pada tuanmu... Desa Sukma berada di bawah perlindunganku. Siapa pun yang berniat jahat di sini, akan kubalas sepuluh kali lipat."
Pria berjubah ungu itu gemetar. Ia merasakannya — kekuatan di hadapannya ini bukan tingkat Tiga Bintang. Bahkan bukan tingkat Bintang sama sekali. Itu adalah tingkat yang hanya ada dalam legenda. "Kau... siapa kau sebenarnya?" tanyanya dengan suara gemetar.
Aqil diam sejenak, lalu menjawab dengan tegas:
"Aku Aqil. Dan hari ini... adalah hari di mana semua orang yang meremehkan anak kampung akan menelan kata-kata mereka sendiri."
Ia menatap lurus ke arah pria itu, dan seketika itu juga, pria itu tahu — ia baru saja bertemu dengan seseorang yang jauh melampaui imajinasinya.
Daftar bab
83 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








