
Pusara Giriwijaya Seri Satu : Mengusik Tidur Bumi
Freddy S|Bersambung
- Jumlah kata
- 100.2K
- Popular
- 346
- Subscribe
- 78
- Jumlah kata
- 100.2K
- Popular
- 346
- Subscribe
- 78

Freddy S|Bersambung
Rio Sanjaya, seorang arsitek idealis, menghadapi dilema etika saat membangun Puri Kencana Resort di perbatasan Hutan Lindung Giriwijaya. Proyek ini mengokupasi tanah adat Dusun Ciptarasa, memicu kemarahan penduduk lokal yang menudingnya merusak tanah suci dan kuburan leluhur. Protes mereka diabaikan.Pembangunan segera diikuti serangkaian insiden aneh dan mengerikan: crane roboh, mesin mati, dan kecelakaan fatal. Penduduk mengaitkan ini dengan "Penjaga Bumi" yang murka, entitas spiritual pelindung alam dan leluhur. Awalnya skeptis, Rio menyelidiki dan bertemu Nenek Ida, tetua adat. Nenek Ida mengungkapkan tanah itu adalah tanah ulayat mereka, digusur puluhan tahun lalu. Insiden spiritual yang meningkat membuat Rio sadar ini adalah pertarungan spiritual versus kerakusan korporasi.Bersama aktivis lingkungan Safira Wibowo dan Nenek Ida, Rio bertekad melawan. Dalam pencarian kuburan leluhur, Rio dikhianati rekan kerjanya, Bram Kusuma, dan terluka. Namun, serangan itu membawanya ke gua tersembunyi dengan lukisan kuno yang menjelaskan "Penjaga Bumi" adalah perwujudan roh kolektif alam dan leluhur yang menuntut keadilan.Menyadari perlawanan fisik sia-sia, Rio, Nenek Ida, dan Safira mencari "Benih Harapan"—ritual pertobatan untuk memulihkan harmoni. Melalui pengorbanan besar, seperti mengubah proyek resor menjadi simbol penghormatan, dan melakukan ritual tulus di kuburan yang dinodai, mereka berharap menenangkan "Penjaga Bumi." Tujuannya: menyatukan kemajuan modern dengan kearifan lokal, demi masa depan Dusun Ciptarasa, Hutan Lindung Giriwijaya, serta keseimbangan ekologis dan spiritual yang hilang.
"Mati lagi," desis Mandor Ujang, suaranya nyaris hilang ditelan angin pegunungan. Deru lima mesin molen serentak berhenti, meninggalkan keheningan yang aneh dan memekakkan telinga di tengah area konstruksi yang seharusnya riuh. Suara sirene mobil off-road putih yang baru saja tiba di tengah lumpur merah itu terdengar sumbang, memecah kesunyian yang mencekam. Dari balik kemudi, Rio Sanjaya, arsitek muda dengan kemeja lapangan yang rapi dan kacamata berbingkai tipis, menatap pemandangan itu dengan kening berkerut.
Ia baru saja melangkahkan kaki keluar dari mobil, sepatu botnya langsung terbenam dalam lekatnya tanah. Angin dingin dari puncak Giriwijaya menyapu wajahnya, membawa serta bau tanah basah dan kebekuan hutan yang tak tersentuh. Sepotong ingatan melintas cepat di benaknya: ruang rapat ber-AC di Jakarta, seminggu yang lalu. Aroma kopi mahal dan senyum puas Mr. Suryo Atmadi setelah presentasinya yang memukau. Proyek Puri Kencana Resort & Spa ini adalah mahakarya impiannya, batu loncatan terbesar dalam kariernya. Sebuah oasis ramah lingkungan di tengah keindahan Parahyangan. Namun, pemandangan di hadapannya kini jauh dari ideal.
"Ada apa ini, Mandor?" tanya Rio, melangkah cepat mendekati Mandor Ujang yang berdiri mematung di antara para pekerja lain yang tampak gelisah. Wajah-wajah mereka pucat, mata mereka menyiratkan ketakutan yang dalam. Ia memaksakan nada profesionalisme, menekan rasa jengkel yang mulai merayap. Ia tidak suka hambatan di hari pertamanya.
Mandor Ujang menoleh, wajahnya keriput dan berminyak, pandangannya mengelak. "Entahlah, Den Rio. Tiba-tiba saja, semua mati. Lima molen, satu ekskavator, bahkan genset cadangan di gudang. Tidak ada angin, tidak ada hujan. Listrik dari PLN aman. Fuel juga baru diisi pagi ini." Ia menghela napas, gesturnya pasrah.
"Tidak ada angin, tidak ada hujan? Itu tidak masuk akal, Mandor," balas Rio, mencoba mempertahankan logikanya. "Apa mesin-mesin ini sudah dicek? Mungkin ada masalah teknis? Kabel putus? Overheat?" Ia menunjuk ke arah ekskavator raksasa yang kini diam seperti patung besi berkarat. "Bagaimana dengan ekskavator? Apa bahan bakarnya juga sudah diverifikasi?"
Seorang pekerja paruh baya yang berdiri di dekat mereka, dengan topi lusuh menutupi sebagian wajahnya, berdeham pelan. "Bukan salah mesin, Den Rio. Atau bahan bakar." Suaranya rendah, nyaris seperti bisikan. Matanya melirik ke arah hutan lebat di kejauhan, diselimuti kabut tipis yang merayap turun dari puncak bukit. "Sudah yang ketiga kalinya dalam seminggu ini. Seolah ada yang tidak suka kita mengusik tanah ini."
Rio mendengus. "Mengusik? Kita membangun, Pak. Kita membawa kemajuan dan pekerjaan. Ini abad ke-21, bukan zaman batu di mana kita percaya pada mitos dan takhayul," ucap Rio, suaranya tegas, lebih keras dari yang ia maksudkan. Ia menatap berkeliling, mencari tatapan mata yang berani balas menatapnya, namun semua kepala tertunduk. Ia tahu ini adalah masalah moral pekerja. Semacam desas-desus mistis yang menyebar dan melumpuhkan semangat. Ini adalah tantangan pertamanya di lapangan. Ia tidak akan membiarkannya merusak citra proyek prestisius ini.
"Saya jamin, ini semua ada penjelasan logisnya," lanjut Rio, melirik Mandor Ujang. "Mandor, tolong panggil teknisi mekanik. Suruh mereka periksa semua kabel, aki, busi, filter, semuanya. Detail! Saya ingin laporan lengkap dalam dua jam. Dan siapkan juga laporan logistik bahan bakar. Saya mau tahu, siapa yang mengisi, kapan, dan dari pemasok mana." Ia mengeluarkan tabletnya, mulai mencatat instruksi dengan cepat. "Dan untuk Bapak-bapak semua," ia mengarahkan pandangannya ke para pekerja. "Jangan biarkan rumor-rumor ini mengganggu produktivitas. Kita punya target ketat dari Jakarta. Bonus akhir proyek akan sangat besar jika kita berhasil."
Tidak ada yang menanggapi. Hanya keheningan yang lebih pekat, diselingi gemerisik daun-daun pinus di batas hutan.
"Den Rio," Mandor Ujang akhirnya berani bersuara lagi, suaranya kini lebih pelan, nyaris memohon. "Mungkin... mungkin kita perlu memanggil 'orang pintar' dari dusun sebelah. Hanya untuk... menenangkan suasana. Para pekerja takut. Mereka bilang... ini bukan gangguan biasa."
Rio menghentikan ketikan jarinya di tablet. Ia menatap Mandor Ujang dengan tatapan tak percaya. "Mandor, saya ini arsitek, bukan paranormal. Tugas saya memastikan proyek ini berjalan lancar secara teknis dan struktural, bukan untuk menenangkan hantu-hantuan. Itu hanya buang-buang waktu dan uang perusahaan," katanya, mencoba menahan emosi. "Fokus pada masalah sebenarnya. Saya butuh jawaban konkret, bukan cerita dongeng." Ia berbalik, menuju gundukan tanah merah yang menjulang tinggi, seolah ingin melihat sendiri sumber masalahnya. Dari sana, ia bisa melihat hamparan hutan yang luas, gelap dan misterius, membentang sejauh mata memandang.
Para pekerja saling berbisik. Beberapa bahkan terlihat mengambil posisi berdoa, menundukkan kepala. Ketakutan itu nyata di wajah mereka, Rio bisa melihatnya. Tapi itu hanyalah ketakutan yang disebabkan oleh ketidaktahuan, pikirnya. Sebuah fenomena psikologis massa.
"Kalian terlalu banyak mendengar cerita di warung kopi," gumam Rio pada dirinya sendiri, meskipun ia tahu beberapa pekerja mungkin mendengarnya. "Ini hanyalah masalah teknis yang butuh penanganan profesional."
Ia menyentuh panel kontrol molen terdekat. Dingin dan mati. Ia mencoba menekan tombol start, namun tidak ada respons. Mati total. Benar-benar aneh. Semua mesin mati dalam waktu bersamaan? Itu mustahil jika hanya masalah mekanis biasa. Ia merasakan sedikit kejanggalan, namun buru-buru menepisnya. Mungkin ada lonjakan listrik, atau sistem kelistrikan utama yang bermasalah. Pasti itu.
"Mandor, apakah ada laporan tentang lonjakan listrik atau pemadaman di area sekitar?" tanya Rio lagi, melangkah kembali, matanya mencari tiang listrik atau panel kontrol utama.
Mandor Ujang menggeleng. "Tidak ada, Den. Listrik dusun sebelah aman. Genset di gudang juga... mati. Padahal jarang sekali dipakai."
Rio berhenti di tengah-tengah kerumunan pekerja yang masih terlihat linglung. Udara terasa semakin dingin. Kabut mulai turun lebih rendah, menutupi pandangan ke arah hutan. Rio menatap kembali ke arah molen yang mati. Lalu ke ekskavator. Lalu ke area gudang. Semua terdiam, kaku, seolah membeku.
"Tidak mungkin..." gumam Rio, bukan lagi pertanyaan, melainkan sebuah pernyataan yang tak ia percaya sendiri. Ia mengeluarkan ponselnya untuk mengecek sinyal. Nol bar. Koneksi internet terputus.
"Apa lagi ini?" desis Rio, frustrasi. Ia mencoba menyalakan kembali mobilnya, berharap itu tidak terpengaruh. Kunci berputar. Mesin tidak menyala. Hanya suara klik-klik yang putus asa.
Mandor Ujang mendekat, suaranya bergetar. "Den Rio, mungkin... mungkin benar kata mereka. Ada sesuatu yang tidak ingin kita ada di sini."
Rio menatap Mandor Ujang, ekspresi di wajahnya mulai berubah dari jengkel menjadi sedikit khawatir. Ia melihat ke sekeliling, ke wajah-wajah ketakutan para pekerja, ke mesin-mesin yang lumpuh, ke kabut yang semakin pekat, seolah menelan lokasi proyek. Hutan di belakang mereka tampak semakin gelap, semakin menekan.
Tiba-tiba, dari dalam rimbunnya hutan yang diselimuti kabut, terdengar suara. Brak! Seperti dahan pohon raksasa yang patah. Disusul oleh gemuruh samar, seperti sesuatu yang besar bergerak di antara pepohonan.
Para pekerja langsung panik. Beberapa berteriak, yang lain mulai berlari menjauh, terpeleset di tanah berlumpur.
"Ada apa itu?!" seru Rio, mencoba menenangkan dirinya sendiri dan para pekerja, namun suaranya terdengar goyah.
"Itu... itu mereka, Den!" teriak seorang pekerja, menunjuk ke arah hutan. "Penjaga Bumi! Dia sudah datang...!"
Rio mencoba mencari sumber suara, matanya menembus kabut. Ia melihat bayangan bergerak di antara pohon-pohon. Sebuah siluet yang terlalu besar untuk sekadar binatang hutan. Tinggi. Tegap. Dan seolah-olah... menatap langsung kepadanya. Jantung Rio berdegup kencang. Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa itu hanya ilusi optik akibat kabut, atau mungkin pohon tumbang, namun gemuruh itu semakin dekat.
"Itu hanya... hanya..." Rio mencoba mengucapkan sesuatu yang rasional, tapi tenggorokannya tercekat. Ia melangkah mundur, kakinya terasa berat. Ia merasakan hawa dingin yang menusuk, bukan karena angin gunung, tapi karena... sesuatu yang lain.
Gemuruh itu berhenti tiba-tiba. Keheningan kembali melingkupi, kali ini lebih berat, lebih menindas, seperti ada sesuatu yang bernapas di dekat mereka, tersembunyi. Dari sela-sela pepohonan, kabut mulai membelah, seperti tirai yang tersingkap perlahan. Sebuah suara serak, rendah, dan dalam, seolah berasal dari dalam bumi itu sendiri, berdesir di antara dedaunan.
"Kalian..."
Rio membeku. Ia tidak bisa bergerak. Matanya terpaku pada celah kabut yang semakin melebar di antara pohon-pohon, menyingkap sesosok yang terlalu besar, terlalu hitam, untuk menjadi manusia. Sosok itu, yang tampaknya terbuat dari bayangan dan kemarahan purba, mengangkat lengannya yang panjang dan kasar, menunjuk tepat ke arah Rio, dan kemudian, dengan suara yang membuat tanah bergetar, menyelesaikan kalimatnya.
"...akan membayar semua kebiadaban kalian dengan..."
73 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
Lanjutkan membaca di aplikasi
Buka aplikasi untuk membaca bab terkunci.