Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Perguruan Silat Jagat Raya

Perguruan Silat Jagat Raya

Ninna | Bersambung
Jumlah kata
153.7K
Popular
331
Subscribe
76
Novel / Perguruan Silat Jagat Raya
Perguruan Silat Jagat Raya

Perguruan Silat Jagat Raya

Ninna| Bersambung
Jumlah Kata
153.7K
Popular
331
Subscribe
76
Sinopsis
FantasiFantasi TimurSilatPerangPendekar
Dulu, Jagat Raya berdiri di atas dasar kehormatan dan kedamaian. Kini, bayangan dari masa lalu kembali menuntut darah. Seorang murid bertopeng datang membawa dendam, dan di bawah langit merah, cahaya dan kegelapan bersiap untuk beradu. Inilah kisah tentang pengkhianatan, penebusan, dan cinta yang bertahan di antara dua dunia.
1. Awal di Perguruan Silat Jagat Raya

Langit sore tampak memerah ketika dua sosok muda berjalan menapaki jalan tanah yang membelah hutan pinus. Suara dedaunan berbisik lembut dihembus angin, seolah menyambut kedatangan mereka. Di ujung jalan itu berdiri megah sebuah gapura kayu besar bertuliskan “Perguruan Silat Jagat Raya”, diukir dengan huruf-huruf tua yang mulai pudar dimakan waktu.

Alaska berhenti sejenak, menatap tulisan itu dengan napas tersengal setelah perjalanan panjang. “Ini dia, Len. Perguruan yang diceritakan orang-orang,” katanya dengan suara bergetar, antara kagum dan tegang.

Alendra, kakaknya yang dua tahun lebih tua, menatap ke arah halaman luas di balik gapura itu. Matanya tajam, berwarna cokelat gelap seperti ibunya. “Kau siap, Ka? Setelah ini tak ada jalan mundur. Begitu kita melangkah ke dalam, kita harus sanggup menanggung apa pun yang datang.”

Alaska tersenyum kecil. “Aku sudah siap sejak hari Ayah jatuh di tangan orang-orang Serigala Hitam.”

Ucapan itu membuat keheningan singkat di antara mereka. Angin berhenti sejenak, dan kenangan getir melintas di benak keduanya—malam ketika perguruan kecil milik ayah mereka dibakar habis oleh kelompok silat jahat yang mengincar jurus warisan keluarga mereka, Gerak Naga Satu Nafas. Sejak saat itu, Alaska dan Alendra bersumpah menuntut ilmu ke perguruan tertua dan terkuat di negeri itu: Jagat Raya.

Mereka melangkah melewati gapura. Di dalam, pemandangan menakjubkan menyambut mereka. Sebuah lapangan luas dengan tanah yang tampak mengilat oleh keringat para murid. Ratusan orang berlatih dalam formasi rapi, pukulan dan tendangan mereka serentak, menghasilkan suara yang bergemuruh seperti petir. Di sisi barat, tampak bangunan kayu berundak, tempat para pelatih mengawasi dengan tatapan tajam.

“Lihat itu…” Alaska berbisik kagum.

Seorang murid perempuan yang sedang berlari membawa ember air berhenti menatap mereka. “Kalian pendatang baru?” tanyanya cepat.

Alendra menunduk sopan. “Benar. Kami datang untuk menuntut ilmu.”

Perempuan itu tersenyum tipis. “Kalau begitu, pergilah ke pendopo utama. Tapi hati-hati. Guru Besar tidak menerima sembarang orang.” Ia lalu melanjutkan langkahnya, meninggalkan keduanya dalam kebingungan kecil.

Mereka berjalan ke arah pendopo. Di sana, aroma dupa dan kayu cendana memenuhi udara. Di tengah pendopo duduk seorang pria tua berambut perak, matanya tertutup namun wajahnya memancarkan ketenangan yang sulit dijelaskan. Di sampingnya berdiri seorang pria muda berwajah keras, jelas murid senior.

Alendra menunduk dalam. “Salam hormat, Guru. Kami datang untuk belajar di perguruan ini.”

Mata sang guru terbuka perlahan. Sorotnya tajam seperti menembus batin. “Nama kalian?”

“Alendra dan Alaska,” jawab Alendra mantap.

Guru tua itu mengangguk pelan. “Alendra… Alaska…” ia menggumam, seolah mengingat sesuatu. “Darah dari perguruan Angin Timur, bukan?”

Keduanya terperanjat. “Anda mengenal ayah kami?”

Guru itu tersenyum tipis. “Aku pernah berlatih bersamanya, sebelum perguruan kalian dihancurkan oleh Serigala Hitam. Jadi, kalian datang bukan hanya untuk menuntut ilmu… tapi untuk membalas dendam.”

Suasana di pendopo seketika berubah tegang. Alaska menunduk, menggenggam erat tangannya. “Kami… ingin menjadi kuat. Kalau dendam harus ditebus dengan kekuatan, maka biarlah kami menempuh jalan itu.”

Guru tua itu memejamkan mata kembali. “Dendam itu api. Jika kau tak pandai menjaganya, ia akan membakar dirimu sebelum membakar musuhmu. Di Jagat Raya, yang kami ajarkan bukan hanya menumbangkan musuh, tapi juga menaklukkan diri sendiri. Apakah kalian sanggup menerima ajaran seperti itu?”

Keduanya menatap satu sama lain, lalu mengangguk bersamaan. “Kami sanggup.”

Guru itu mengisyaratkan murid muda di sampingnya. “Bawa mereka ke halaman timur. Uji kelayakan mereka malam ini juga.”

---

Matahari mulai tenggelam ketika Alaska dan Alendra berdiri di tengah lingkaran tanah yang diterangi obor. Belasan murid senior mengelilingi mereka, semua berpakaian hitam dan membawa tongkat kayu. Di tengah mereka berdiri lelaki bernama Damar, pelatih tingkat tiga yang terkenal keras.

“Peraturan di Jagat Raya sederhana,” katanya dingin. “Siapa pun yang ingin bergabung, harus mampu bertahan lima belas menit melawan kami. Tidak perlu menang, cukup bertahan.”

Alaska menarik napas panjang. Ia tahu ini bukan sekadar uji fisik—ini ujian tekad.

Begitu Damar berteriak, serangan datang bertubi-tubi. Tongkat kayu menghantam udara, menebas ke arah mereka tanpa ampun. Alendra segera bergerak, menangkis satu, memutar tubuh, lalu menendang balik. Gerakannya cepat dan presisi, hasil latihan keras selama bertahun-tahun bersama ayah mereka.

Alaska di sisi lain tampak kewalahan. Ia lebih muda, belum sekuat kakaknya. Tapi setiap kali terjatuh, ia bangkit lagi dengan mata menyala. Luka kecil di pelipisnya tak membuatnya berhenti.

“Bangun, Ka!” teriak Alendra. “Ingat apa kata Ayah—‘Tubuh boleh kalah, tapi semangat jangan!’”

Kata-kata itu seperti bara yang menyala di dada Alaska. Ia menangkis serangan berikutnya dengan gerakan mengejutkan—putaran tangan kiri yang halus lalu dorongan siku ke dada lawan. Seorang murid senior mundur dua langkah, terkejut.

Sorak-sorai kecil terdengar dari murid-murid yang menonton. Damar memperhatikan dengan pandangan yang kini tak lagi meremehkan.

Menit demi menit berlalu. Napas Alaska tersengal, tapi ia bertahan. Alendra berdarah di bibirnya, tapi matanya tetap tajam. Saat Damar akhirnya mengangkat tangan, tanda waktu habis, keduanya hampir roboh karena lelah.

Guru tua itu muncul di tepi lingkaran, ditemani murid perempuan yang tadi mereka temui. Ia menatap keduanya dengan bangga. “Cukup. Kalian lulus.”

Alaska menatap tak percaya. “Kami… diterima?”

Guru itu mengangguk. “Kalian bukan hanya kuat tubuhnya, tapi juga hatinya. Mulai besok, kalian resmi menjadi murid Jagat Raya. Tapi ingat—tujuan kalian harus lebih tinggi dari sekadar balas dendam. Kekuatan sejati hanya muncul dari hati yang bersih.”

Air mata menitik di pipi Alaska. Alendra menunduk dalam, rasa haru menelusup di dadanya.

---

Malam itu, di asrama murid baru, Alaska memandangi langit penuh bintang. Angin gunung berembus dingin, membawa aroma dupa dari pendopo utama.

“Len,” katanya pelan, “kau pikir… kita bisa benar-benar jadi sekuat Ayah suatu hari nanti?”

Alendra tersenyum dari ranjang seberang. “Lebih kuat, Ka. Karena kita bukan hanya membawa nama Ayah… tapi juga harapan untuk menghapus kejahatan Serigala Hitam dari dunia ini.”

Alaska mengangguk. Matanya yang lelah kini memancarkan cahaya baru—campuran tekad, rasa syukur, dan semangat untuk menapaki jalan panjang yang baru saja dimulai.

Di kejauhan, suara gong perguruan berdentang tiga kali, menandakan berakhirnya latihan malam. Namun bagi Alaska dan Alendra, itu bukan akhir—melainkan awal dari perjalanan menuju kekuatan, kehormatan, dan kedamaian yang sesungguhnya.

Dua saudara berjanji dalam hati nya harus bisa membalaskan sakit hati Ayah nya.Srigala Hitam harus bisa dikalah kan .

Ditempat ini diPerguruan Silat Jagat Raya Mereka akan bersungguh sungguh menambah Ilmu bela diri nya.

Lanjut membaca
Lanjut membaca