

Pagi yang hangat. Saat ini sinar matahari pagi tengah menyorot tubuhku yang sedang berbaring di atas sebuah bangku taman di bawah pohon beringin di belakang sekolah. Tempat yang sepi, membuat perasaan menjadi begitu tenang dengan kedua mataku yang terpejam.
"Ah! Ini baru hidup ...." Kata itulah yang selalu kukatakan ketika sedang berada dalam kenyamanan luar biasa seperti saat ini.
Satu menit, dua menit telah berlalu dalam ketenangan itu, sehingga perlahan rasa kantuk pun menyerang. "Kutebak dalam lima detik berikutnya, aku akan langsung tertidur. Hehehe."
"1 ... 2 ... 3 ... 4 ...." Aku mulai berhitung untuk membuktikan tebakanku. "5!"
"AD!" Baru saja selesai menghitung sampai lima, mendadak terdengar suara seseorang menyebut namaku sambil membentak.
Mendengar seseorang memanggilku, awalnya aku ingin mengabaikannya, tapi aku tidak bisa melakukan itu, karena ketika kubuka mata, diriku langsung dihadapkan pada seorang pemuda bertampang garang yang tengah menatapku dengan mata merah.
Dengan santainya, aku tersenyum, lalu menyahut tanpa mau beranjak dari posisiku yang sedang berbaring, "Adler Kaiser Nacht di sini. Halo, ketua kelas, apakah kau ada perlu padaku?"
"Oi, kau tahu sekarang sudah jam berapa, hah?!" bentak pemuda pemarah itu.
Aku tersenyum menanggapi amarahnya. "Hei, Hery, bisa kau beritahu langsung saja? Aku terlalu miskin, sampai-sampai jam tangan pun tak punya."
"JAM SEMBILAN! SEKARANG SUDAH JAM SEMBILAN! SEHARUSNYA JAM SEGINI SEMUA SISWA SUDAH MASUK KELAS DAN BELAJAR DENGAN RAJIN DI SANA, BUKANNYA TIDUR DI TEMPAT SEPERTI INI!" Dia berteriak dengan segenap emosinya.
Aku terdiam sejenak sembari memandangi Hery. "Hm, sebentar, sebentar, aku sih sudah yakin kalau aku ini siswa tidak rajin, tapi ... kenapa kau ada di sini? apakah kau ingin bergabung denganku menjadi siswa yang tidak rajin? Mau berguru padaku?" ucapku dengan polos.
Pemuda yang marah itu menatapku dalam-dalam, lalu menghela napas pelan. "Sialan! Kau ini menyebalkan sekali, sih ...."
Aku tertawa mendengar keluhannya. "Hahaha! Apa yang bisa kau harapkan dari si tukang mimpi, hm?"
BRUGH!
Hery menatap kesal ke arahku. Dia tiba-tiba memegangi tanganku dengan paksa, lalu menariknya dengan sangat kuat, bahkan membuatku sampai terjatuh dari bangku taman.
"AW! PINGGANGKU!" teriakku sembari meringis kesakitan.
Pemuda kejam itu memandangku dengan tidak peduli tanpa melepaskan tangannya dari tanganku. "Oi, Adler, kau ingin kuseret sampai ke kelas atau kau mau bangun dan berjalan sendiri ke sana? Kau tidak punya pilihan lain selain itu." Dia berkata dengan nada suara yang terdengar dingin.
"Satu lagi. Asal kau tahu, sebenarnya aku ogah sekali mencarimu, sampai harus keluar di saat semua orang sedang belajar seperti ini. Tapi sialnya jam pertama ini adalah kelas Pak Jonathan, dan ketika tahu kau tidak hadir, dia ingin aku memburumu sampai dapat, meski harus mengejarmu sampai ke ujung dunia!" Dia menjelaskan dengan rinci dan terlihat sangat kesal ketika menjelaskannya.
"Keh! Dia juga menyuruhku untuk jangan kembali ke kelas sebelum aku membawamu masuk kelas," lanjutnya.
"Akh! Sial sekali aku bisa sekelas lagi denganmu!" Sang ketua kelas itu melanjutkan keluhannya.
Sedangkan aku sendiri, setelah mendengar nama guru killer yang selalu menghukumku setiap hari itu, seketika kepalaku terasa sangat pusing dan mual. Hal itu karena tiap kali mendengar nama Pak Jonathan sang guru seni kejam itu, ingatanku langsung merekam kembali rasa lelah, malu, dan sakit karena hukumannya.
"Sial! Kalau aku kembali sekarang, Pak Jonathan pasti akan menghukumku dengan sadis, karena bolos lagi." Aku menggeleng kencang. "Tidak! Aku tidak mau dihukum olehnya!" keluhku dalam hati.
"Oi, kenapa kau diam? Kau ini benar-benar ingin kuseret sampai kelas, hah?!" ucapan Hery membuatku tersadar dari lamunan.
Aku mengedipkan mata beberapa kali, sebelum akhirnya menjawab, "Aku takut bajuku kotor ... Em, jadi aku akan berjalan sendiri ke kelas."
"Hm, baik, kalau begitu, ayo cepat berdiri!" seru ketua kelas galak itu.
Aku pun bangkit berdiri, lalu setelah itu terdiam untuk beberapa saat.
"Ayo jalan! Kenapa kau diam saja?" seru Hery.
"Oi, Hery, bisakah kau lepaskan tanganmu dari tanganku? Well, jujur saja ini benar-benar membuatku tidak nyaman. Kalau ada orang yang melihat kita, mungkin mereka akan salah paham," ucapku sembari melirik tangan Hery yang tampak masih memegangi pergelangan tanganku sangat erat. "Ekhm ... aku ini laki-laki normal tahu!"
"Masa bodoh! Aku tidak peduli! Kalau aku melepaskanmu, aku yakin kau akan melarikan diri!" Dia berkata dengan tegas, jelas sekali orang ini benar-benar tidak peduli akan perkataanku.
"Tapi aku peduli! Bagaimana kalau gadis-gadis menganggapku belok? Bisa-bisa sampai aku lulus SMA, aku tidak akan pernah mendapatkan pacar! Aku tidak mau menjomblo sampai mati!" keluhku.
"Adler! Kita ini cuma mau ke kelas! Kau tidak perlu mendramatisir keadaaan! Ayo cepat jalan!" Dia menarik tanganku dengan kasar, sehingga mau tidak mau, aku pun mengikuti pergerakannya.
"ARRGGHH! AKU TIDAK MAU MASUK KELAS SENI NERAKA ITU! AKU TIDAK MAU BERTEMU DENGAN GURU KILLER KUMIS KOTAK ITU!" Aku merengek dengan tidak tahu malu sambil diseret oleh murid teladan itu.
Namun, mental Hery sangat kuat, dia benar-benar tidak terpengaruh akan rengekan tidak tahu maluku.
"Keh! Sial! Merengek juga tidak berguna!" keluhku dalam hati.
Beberapa saat kemudian, akhirnya kami pun tiba di depan kelas.
Sebelum masuk, Hery memeriksa jam tangannya, lalu berkata, "Hm, dua puluh menit sebelum kelas seni berakhir. Masih sempat."
Mendengar hal itu, seketika keringat dingin mulai bercucuran membasahi keningku. Hery benar-benar berhasil menyeretku kembali ke kelas, dan sekarang aku hanya pasrah menerima keadaan, menunggu hukuman apa yang akan si kumis kotak tak berperasaan itu berikan padaku.
KRIET ...
Hery menggeser pintu kelas 11 - 5, kelas kami, lalu menyeretku masuk ke dalamnya.
Aku hanya memejamkan mata, tidak berani untuk menatap guru killer itu yang sudah pasti ada di dalam sana, dan pastinya juga sedang menatapku dengan tatapan iblis. "Ah~ aku harap hukumannya hanya berdiri di koridor saja, tidak lebih," harapku.
"Loh? Mana Pak Jonathan?" Ketika diriku masih memejamkan mata, aku mendengar Hery mempertanyakan hal yang membuatku lega.
"Oh, tak lama setelah kau pergi, Pak Jonathan dipanggil kepala sekolah, jadi dia hanya memberi kita tugas saja," jawab seorang murid perempuan.
"Eh? Pak Jonathan benar-benar tidak ada?" pikirku dengan perasaan luar biasa lega.
Mendengar hal itu, aku perlahan membuka mata untuk memastikan. Benar saja, setelah kedua mataku terbuka lebar, aku hanya mendapati para penghuni kelas itu begitu bebas, tanpa ada seorang guru pun di sana.
Setelah memastikannya, seketika senyum lebar menghiasi wajah gantengku ini. "Wah, wah, sepertinya hari ini adalah hari keberuntunganku. Hahaha!" ujarku.
Seorang murid perempuan yang berdiri di depan Hery menatap ke arahku sembari menampakkan senyum penuh arti. "Ah! Ad ... tadi Pak Jonathan mencarimu loh. Sayang sekali kau tidak bertemu dengannya sekarang, ya."
Aku tertawa terbahak-bahak mendengar ucapannya. "Holy ... bukan 'sayang sekali' ... harusnya kau bilang 'syukurlah'! Karena aku benar-benar tidak mau bertemu dengan guru galak yang suka menghukum muridnya itu."
Murid perempuan yang bernama Holy itu menggeleng pelan, lalu tertawa lepas. "Tidak, tidak, yang benar itu, dia hanya suka menghukummu. Harusnya kau ngaca sana! Kau ini murid paling bermasalah, tukang bolos di sekolah ini, wajar jika guru-guru sangat hobi menghukummu, apalagi Pak Jonathan!"
"Aku tidak peduli~ yang penting sekarang aku tidak bertemu dengannya," ucapku dengan entengnya.
PUK!
Setelah itu, aku menepuk pundak Hery yang terdiam di tempat itu dengan riang, seraya berkata, "Nah, Hery. Pak Jonathan sekarang tidak ada di sini. Jadi usahamu menyeretku ke sini itu sangat sia-sia. Hahaha!" Tidak lupa, aku juga menertawakan pemuda itu.
"Nah, karena guru itu tidak ada, jadi mending aku pergi ke-"
PUK!
Belum selesai berkata, tiba-tiba seseorang menepuk pundakku dari belakang, lalu mencengkeramnya dengan sangat kuat, sampai membuatku merasa sangat kesakitan.
Setelah itu, aku pun mendengar suara berat yang terdengar malas dari arah belakangku. "Jadi mending pergi ke mana, hm?"
Merasa sangat familier dengan suara itu, seketika jantungku berdegup kencang. Dengan pergerakan kaku seperti robot, aku menoleh ke belakang, sehingga tampaklah tampang mengerikan dengan kumis kotaknya tengah menatap dingin ke arahku. "Ha ... halo, Pa ... Pak Jonathan. Apakah pagimu menyenangkan?" ucapku dengan kikuk.
"Adler, sepulang sekolah, aku tunggu kau di ruang guru!" titahnya dengan penuh penekanan dan tangannya juga semakin kuat mencengkeram pundakku.
"Ba ... baik, Pak," jawabku dengan perasaan takut setengah mati.
Pak Jonathan melirik ke arah Hery, dan berkata padanya, "Kerja bagus, Hery. Sekarang tugasmu adalah memastikan anak ini datang menemuiku sepulang sekolah. Jangan biarkan dia kabur!"
"Baik, Pak Jonathan!" tegas Hery.
"Keh! Sial! Kalau begini aku tidak bisa kabur!" keluhku.
Setelah itu, Pak Jonathan kembali mengalihkan pandangannya ke arahku. Dia menatapku dengan sengit, sebelum akhirnya dia berkata, "Pastikan kau benar-benar datang nanti, atau kalau tidak, kau akan mendapatkan hukuman yang tidak akan pernah kau bayangkan sebelumnya!"
Mendengar kalimat yang penuh dengan ancaman, sontak saja membuatku terperanjat, dan keringat dingin pun mendadak mengucur di sekujur tubuhku. "Pak Jonathan tidak pernah gagal membuatku merinding!"
Guru seni killer itu pun berbalik badan, lalu pergi keluar dari kelas, dan pergi entah ke mana.
Sepeninggalnya, kini giliran Hery yang menatapku dengan penuh intimidasi. "Kau dengar itu? Sebaiknya kau gunakan otakmu untuk berpikir bahwa situasi akan menjadi semakin buruk jika kau kabur dan melarikan diri dari Pak Jonathan."
Dia menyeringai, kemudian berkata lagi, "Well, karena kau sudah berada di kelas, jadi aku tidak perlu berpikir banyak mengenai kau. Kau tidak akan bisa kabur lagi dari sini."
Setelah berkata demikian, dia pergi dari hadapanku, dan duduk di mejanya.
Aku hanya bisa menghela napas berat, lalu berjalan dengan malas menuju ke mejaku yang tentunya berada di pojok, paling belakang, area yang sangat ideal untuk tidur. "Hah~ well, baiklah, kali ini aku menyerah. Sepertinya aku akan mengikuti alurnya.
Setelah duduk di mejaku, seperti biasa, aku bersidekap di atas meja, dan menenggelamkan kepalaku di sana, kemudian melanjutkan tidurku yang tidak sempat terjadi di bawah pohon beringin yang rindang sebelumnya.
Suasana kelas yang riuh ini tidak begitu mengganggu, malah terdengar cukup menenangkan dengan embusan angin sepoi-sepoi dari jendela yang terbuka di sampingku. Setelah itu, tak butuh waktu lama, aku pun terlelap dalam tidur.
***
TTTEEETTTT!
Suara bel sekolah yang memekakkan telinga itu membuatku terbangun dari tidur yang cukup lama ini.
Kubuka kedua mata, sehingga kudapati kelas cukup sepi. Namun, beberapa saat kemudian, teman-teman kelasku mulai berdatangan, melewati pintu dengan tergesa-gesa dengan wajah yang terlihat segar, dan tangan mereka tampak memegang makanan atau minuman, jelas sekali mereka baru saja selesai makan di kantin.
"Hm ... sepertinya tadi itu adalah bel masuk setelah istirahat ...," gumamku.
KRUUUKKKK!
Melihat makanan-makanan di tangan mereka, secara alamiah perutku bersuara sangat nyaring. Tanpa memberitahu pun sudah sangat jelas bahwa diriku ini sedang kelaparan.
"Tidur juga butuh energi, wajar saja jika perutku keroncongan sekarang." Aku tersenyum lebar sembari bangkit berdiri, berencana pergi ke kantin untuk membeli makanan murah yang bisa mengganjal perutku.
DUGH!
Akan tetapi baru saja hendak melangkah pergi, tiba-tiba seseorang meletakkan sebungkus roti dan sebotol air mineral di atas mejaku.
Aku menoleh pada si orang yang menyimpan makanan dan minuman itu, sehingga tampaklah sosok Luna yang sedang tersenyum manis padaku.
"Oh, Luna, kau mau makan di sini? Duduk saja di sini, aku mau pergi ini kok," tanyaku.
"Kau mau ke kantin, kan?" tanya salah satu teman sekelasku itu.
"Em, ya ... memangnya kenapa?" Aku penasaran apa yang Luna inginkan sekarang.
Dia tersenyum lebar, lalu berkata sembari menunjuk ke arah roti dan air yang diletakkannya di atas mejaku. "Tidak perlu ke kantin. Aku sudah membelikanmu roti melon kesukaanmu, jadi kau bisa makan itu. Tadi, selama istirahat, kau masih tidur, jadi aku berinisiatif untuk membelikannya untukmu."
Aku merasa canggung akan sikapnya padaku. "Em, terima kasih. Kebetulan aku sangat lapar."
"Sama-sama!" Luna terlihat senang.
Aku tertegun sejenak, sembari menatap gadis tercantik di kelas itu. Dia terlalu ramah, sehingga membuatku merasa begitu canggung padanya.
Setelah terdiam cukup lama, Luna menyebut namaku, "Adler ...."
Aku sedikit gugup mendengar suaranya yang lembut. "Apa?"
Luna terdiam sejenak, lalu tiba-tiba dia menggeleng pelan sembari menampakkan senyum menawannya. "Em, tidak ada."
"O ... Oh, baiklah." Hanya itu respons-ku.
Aku langsung mengambil roti dan air minum itu, kemudian beralih lagi memandang ke arah Luna sambil mengangkat sedikit pemberiannya. "Sekali lagi, terima kasih. Kalau begitu sampai jumpa."
Tanpa menunggu responsnya, aku langsung berjalan cepat, keluar dari kelas.
Hanya dalam sekejap, aku tiba di sebuah gudang perlengkapan di halaman belakang sekolah. Tempat yang sunyi dan tenang itu adalah tempat ternyaman lainku di sekolah ketika pergi melarikan diri dari kelas yang membosankan. Tempat itu menjadi tempat andalanku karena sangat jarang sekali didatangi orang yang berpotensi mengganggu ketenanganku.
Kubuka bungkus roti pemberian Luna, dan mulai membuka mulutku. "AAARRGGHH! ENAK SEKALI! ENAK SEKALI!" Aku berteriak kegirangan ketika kurasakan gigitan pertama dari roti mahal itu. Saking enaknya makanan itu, air mataku sampai keluar di ujung mataku.
"TERIMA KASIH, LUNA!" Aku benar-benar bersyukur memiliki teman baik yang begitu perhatian sepertinya.
Kunikmati makanan itu dengan khidmat, karena bisa dikatakan makanan yang diberikan gadis itu adalah makanan mahal yang mungkin tidak akan pernah bisa kubeli dengan uangku sendiri secara sadar. Kesempatan bisa makan enak itu seperti satu kali tiap seratus tahun, karena saking jarangnya.
KRIEEETTT!
Tepat setelah kuhabiskan sisa roti itu, tiba-tiba aku mendengar suara pintu gudang terbuka dengan pelan, bahkan terkesan hati-hati.
Mendengarnya, sontak saja aku merasa terkejut, lalu secara refleks langsung menyembunyikan diri, dan juga meningkatkan kewaspadaan.
Kuarahkan pandanganku ke arah pintu yang tampak sedikit terbuka itu, untuk memastikan siapa yang masuk. "Siapa yang datang? Apakah itu kaki tangan Pak Jonathan yang dikirim untuk mencariku karena aku kabur di jam pelajaran lagi?" pikirku.
Namun, seketika kutajamkan pandanganku ketika aku malah mendapati yang masuk itu adalah sosok yang mencurigakan. Dia adalah sosok seorang pria yang mengenakan mantel hitam dan juga mengenakan topi fedora, yang biasa kulihat dalam film-film tentang mafia. Wajahnya tidak terlihat, karena pencahayaan di dalam gudang sangat buruk. Melihat penampilannya yang terlalu mencolok, tentu saja membangkitkan rasa curigaku. 'Siapa orang itu? Mau apa dia di tempat ini?' itulah beberapa hal yang kupertanyakan dalam kepalaku mengenai orang itu.
Dalam diam, aku terus mengamati gerak-geriknya. Aku tidak langsung bergerak, karena khawatir orang itu memang orang berbahaya yang tidak akan sungkan untuk mengeluarkan senjatanya pada siswa polos dan baik hati sepertiku.
Kuperhatikan orang yang tampak celingukan seperti sedang memastikan sesuatu itu, sebelum akhirnya dia mendekat pada sebuah lemari tua yang berada di pojok ruangan, dan mengeluarkan sebuah kotak hitam kecil dari balik mantelnya.
Orang itu tidak membuka kotaknya, hanya memasukkannya ke dalam lemari begitu saja. Kemudian, setelah memastikan pintu lemari tertutup rapat, dia pun pergi dari gudang dengan sangat hati-hati.
DUGH!
Pada detik berikutnya, suara pintu gudang tertutup pun terdengar, jelaslah orang itu sudah keluar dari tempat ini.
Sepeninggalnya, aku keluar dari tempat persembunyianku, dan perlahan mendekat pada lemari tua itu untuk memeriksa apa yang disimpan di sana.
"Apakah tak apa jika aku melihat benda apa ditinggalkan orang itu?" gumamku sembari memandangi pintu lemari di depanku.
KRIEETT!
Setelah ragu sejenak, akhirnya keberanianku terkumpul, dan aku pun langsung membuka pintu lemarinya, seraya berkata dengan yakin, "Halah! Terkutuklah aku! Salah siapa membuatku penasaran!"
Tepat setelah kubuka pintu lemarinya, aku malah menemukan lemari itu kosong, tak ada satu pun benda yang tersimpan di sana. "Eh? Ini serius? Mana kotak tadi? Aku yakin orang itu tadi memasukkannya ke sini, tapi sekarang ke mana kotaknya?" ucapku sembari mengedarkan pandangan ke setiap sudut dalam lemari. Namun, mengingat pencahayaan di sini sangat kurang, aku tetap tidak menemukan apa-apa.
"Keh! Aku butuh senter untuk melihat lebih jelas ... tapi tetap saja ini aneh, aku lihat orang tadi menyimpan kotak kecil itu begitu saja di dalam sini, tidak seperti memastikan kotak itu tersembunyi atau apa, seharusnya sekarang aku bisa langsung melihatnya ketika membuka pintu lemarinya. Ada apa ini sebenarnya? Apakah yang kulihat tadi itu hanya halusinasi saja?" Aku menggeleng dengan keras, menepis pemikiranku itu. "Tidak, tidak. Aku yakin tadi itu sungguhan!"
Rasa penasaran yang memuncak ini membuatku ingin memeriksa lebih jauh isi dari lemari tua itu. Kuulurkan tangan kananku ke dalam lemari, berniat untuk meraba-raba isinya.
BUSH!
Akan tetapi, baru saja tanganku masuk ke dalam lemari, seketika pergelangan tanganku memancarkan cahaya biru muda yang sangat terang, bahkan saking terangnya, seketika mataku seperti buta untuk beberapa saat.
"Akh! Apa ini?!" Aku merasa kaget bukan main sembari mengucek mataku menggunakan tangan kiri, karena entah mengapa tangan kananku yang memancarkan cahaya itu malah tidak bisa bergeming dari dalam lemari.
Setelah cahaya biru itu meredup, beberapa saat kemudian, mataku bisa kembali melihat seperti semula, meski kepalaku masih terasa agak pusing.
Dengan perasan takut dan kaget yang luar biasa, aku memutar bola mataku ke arah pergelangan tanganku, sehingga diriku menangkap sebuah benda yang seharusnya tidak ada di sana. "Ge ... gelang?!"
Saat ini, aku melihat sebuah gelang melingkar di pergelangan tanganku. Gelang itu berwana hitam mengkilap dengan sebuah batu kristal berwarna biru muda menghiasi bagian atasnya. Penampakan gelang yang sederhana, tetapi memiliki kesan elegan, terlihat memiliki nilai jual yang sangat tinggi.
"Bagaimana gelang ini bisa ada di tanganku? Cahaya tadi? Itu apa? Apakah ini sihir? Tunggu dulu?! Memangnya di dunia modern ini ada sihir?-" Seketika aku mengatupkan bibirku, ketika diriku terpikirkan sesuatu.
"Woah! Atau jangan-jangan, dengan adanya gelang ini, aku terpilih sebagai pemeran utama dalam sebuah cerita fantasi yang menyenangkan?" ujarku dengan begitu antusias.