
pesona mertua yang terlalu muda
ngengeng|Bersambung
- Jumlah kata
- 46.2K
- Popular
- 1.1K
- Subscribe
- 321
- Jumlah kata
- 46.2K
- Popular
- 1.1K
- Subscribe
- 321
Sinopsis
Pernikahan Arga dan Nisa seharusnya menjadi awal kehidupan baru yang tenang dan bahagia. Namun ketika mereka pindah ke rumah ibu Nisa, semua ketenangan itu perlahan berubah arah. Raras, sang ibu mertua, masih muda, berkarisma, dan memiliki kehangatan yang sulit dijelaskan. Perhatiannya tulus, tapi setiap tatapan dan sapaan lembutnya membuat Arga merasa canggung — seolah ada sesuatu di antara mereka yang tak seharusnya tumbuh. Awalnya hanya obrolan ringan di dapur, sarapan yang terasa kaku, hingga momen kebersamaan yang perlahan menimbulkan degup aneh di dada. Nisa mulai curiga, Raras mulai gelisah, dan Arga terjebak di tengah dilema moral antara sopan santun dan perasaan yang ia sendiri tak mengerti. Ini bukan kisah tentang perselingkuhan, tapi tentang pertempuran batin — antara rasa hormat dan rasa nyaman, antara cinta dan kejujuran, antara yang seharusnya dan yang tak seharusnya. > Kadang, batas antara kasih dan godaan begitu tipis — hingga seseorang bisa tersesat di dalamnya tanpa sadar.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
pertemuan pertama yang membingungkan
Langit sore itu warnanya campuran antara jingga dan abu-abu. Udara lembap setelah hujan, dan wangi tanah basah terasa kuat dari taman depan rumah besar di ujung jalan. Di situ, Arga menatap rumah itu dengan jantung yang berdegup lebih cepat dari biasanya. Rumah calon mertuanya.
Ia baru menikah dua bulan lalu dengan Nisa, gadis ceria yang ditemuinya di kampus. Pernikahan mereka sederhana tapi hangat, dan kini mereka memutuskan untuk tinggal sementara di rumah orang tua Nisa sebelum menempati rumah kontrakan yang masih direnovasi.
Namun, yang membuat Arga gelisah bukan soal tinggal di rumah mertua. Lebih karena cerita-cerita kecil yang ia dengar dari teman Nisa — tentang ibunya yang “terlalu muda untuk disebut ibu”, dan karakternya yang katanya… sulit ditebak.
Begitu bel rumah ditekan, suara langkah mendekat terdengar dari balik pintu kayu besar itu. Dan ketika pintu terbuka, Arga seperti menelan napasnya sendiri.
Perempuan yang berdiri di hadapannya bukanlah sosok yang ia bayangkan sebagai “ibu mertua”. Rambut sebahunya hitam legam, wajahnya lembut tapi ada ketegasan di matanya. Usianya mungkin sekitar akhir 30-an, tapi auranya matang dan anggun, seperti seseorang yang tahu dirinya menarik — dan tidak berusaha menyembunyikannya.
“Arga, ya?” suaranya lembut tapi agak berat, seperti nada penyiar radio yang menenangkan sekaligus punya daya tarik aneh. “Akhirnya ketemu juga sama kamu.”
“Iya, Bu,” jawab Arga cepat, mencoba terdengar sopan. “Saya… Arga.”
Perempuan itu tersenyum. “Panggil aja Raras. Kamu jadi anak sendiri di sini, nggak usah kaku.”
Arga sempat ingin protes — tetap saja, dia ibunya Nisa — tapi nada suaranya membuat Arga hanya bisa mengangguk canggung.
Raras mempersilakan mereka masuk. Nisa sudah lebih dulu melangkah ke dalam, menggandeng tangan Arga, memperkenalkan tiap ruangan dengan semangat seperti anak kecil yang ingin pamer mainan baru. Tapi perhatian Arga masih sedikit tersisa di langkah lembut Raras, di caranya menunduk saat berbicara, dan wangi samar parfumnya yang seperti melayang di udara.
---
Malamnya, suasana rumah terasa tenang. Nisa sedang mandi, dan Arga duduk di ruang tamu menonton berita. Lampu-lampu rumah agak redup, membuat bayangan bergerak pelan di dinding.
“Belum tidur?” tanya suara lembut dari belakang. Raras datang sambil membawa dua cangkir teh.
Arga berdiri cepat, separuh panik. “Oh, saya—eh, belum, Bu. Maksud saya—Raras.”
Raras tertawa kecil. “Santai aja. Aku juga belum bisa tidur. Biasanya kalau ada orang baru di rumah, suasananya beda.”
Ia duduk di sofa seberang Arga, lalu meletakkan satu cangkir di meja depan lelaki itu. “Coba deh, teh melati. Biasanya bisa bikin tenang.”
Arga mengangguk, berterima kasih. Ia menyesap sedikit. Harumnya lembut, tapi entah kenapa terasa sedikit hangat di dada.
“Jadi kamu kerja di mana sekarang?” tanya Raras, matanya memandangi Arga bukan seperti menilai, tapi seolah ingin mengenal lebih dalam.
“Saya baru mulai di kantor arsitek, Bu—eh, maksud saya, di Surya Design Studio.”
“Bagus,” ucap Raras pelan. “Aku dulu juga sempat kerja di bidang desain interior waktu muda. Dunia yang sama, ya.”
“Oh iya?” Arga agak terkejut. “Pantas seleranya bagus banget. Rumah ini desainnya keren.”
Raras tersenyum. “Kamu bisa aja. Tapi makasih.”
Ada jeda sunyi setelah itu. TV masih menyala, tapi suara mereka yang lembut lebih terdengar. Angin dari jendela menggoyangkan gorden tipis, dan entah kenapa Arga merasa suasananya terlalu tenang untuk malam pertama di rumah mertua.
Ia ingin berbicara lagi, tapi Raras lebih dulu melakukannya.
“Nisa sering cerita tentang kamu,” katanya pelan. “Katanya kamu orangnya sabar banget.”
Arga tersenyum kecil. “Ah, Nisa aja yang lebay.”
“Enggak juga. Aku bisa lihat dari caramu bicara. Kamu tipe yang nggak suka ribut, ya?”
“Mungkin iya. Saya lebih suka menyelesaikan masalah pelan-pelan.”
Raras menatapnya lebih lama kali ini, dan Arga bisa merasakan sorot mata itu menelusuri wajahnya — bukan dengan niat buruk, tapi dengan rasa ingin tahu yang dalam. Lalu ia tersenyum samar.
“Kamu mirip ayahnya Nisa,” katanya, lirih. “Dulu dia juga begitu. Tenang, tapi dalam diamnya selalu bikin penasaran.”
Arga hanya tertawa kecil. “Kayaknya saya nggak sehebat itu, Bu.”
Raras tersenyum tanpa menjawab. Matanya sempat turun sejenak, lalu kembali menatap wajah Arga. “Kamu anak baik, aku bisa lihat itu.”
Tiba-tiba, langkah kaki terdengar dari tangga. Nisa muncul dengan rambut basah dan piyama longgar, lalu langsung menghampiri mereka.
“Loh, Mama masih bangun?” katanya.
“Iya, cuma ngobrol sebentar sama suamimu ini,” jawab Raras dengan nada santai.
Nisa duduk di sebelah Arga, menatap ibunya dengan cemberut manja. “Jangan bikin Arga grogi, Ma. Dia tuh gampang gugup.”
“Ah, masa?” Raras tertawa pelan, menatap Arga dengan mata berkilat. “Nggak kelihatan, kok.”
Arga hanya bisa ikut tertawa, mencoba menutupi rasa canggung yang tiba-tiba muncul. Entah kenapa, dari cara Raras menatapnya, ada sesuatu yang sulit dijelaskan — bukan tatapan ibu pada menantu, tapi lebih seperti seseorang yang ingin tahu batas sejauh mana ia bisa membaca orang lain.
---
Malam itu, setelah masuk kamar, Nisa langsung rebahan dan mengeluh tentang renovasi rumah mereka yang tak kunjung selesai. Arga menimpali seperlunya, tapi pikirannya sedikit terlempar kembali ke ruang tamu. Ia memutar ulang percakapan dengan Raras, caranya bicara, dan nada suaranya yang tenang tapi menyisakan bekas aneh di kepala.
“Kayaknya Mamaku seneng sama kamu,” kata Nisa tiba-tiba.
Arga menoleh. “Maksudnya?”
“Ya, aku lihat tadi. Biasanya Mama agak dingin sama orang baru. Tapi sama kamu, entah kenapa beda.”
Arga hanya tersenyum, berusaha tak menanggapinya terlalu jauh. “Mungkin karena aku sopan.”
“Mungkin,” jawab Nisa sambil menutup mata. “Tapi kamu hati-hati, ya. Mama tuh kadang suka nyindir halus. Kalau dia udah mulai nanya-nanya pribadi, lebih baik alihin topik.”
Arga tertawa kecil. “Tenang aja. Aku bisa jaga diri.”
Namun, malam itu ia baru sadar — mungkin ada hal-hal yang tak semudah itu dijaga.
---
Keesokan paginya, suasana rumah sudah ramai. Raras sudah bangun sejak subuh, menyiapkan sarapan, sementara Nisa masih tidur. Arga yang terbiasa bangun pagi ikut turun membantu, tapi saat sampai di dapur, pemandangan yang ia lihat membuat langkahnya sedikit berhenti.
Raras sedang memotong buah di meja dapur, mengenakan gaun rumah sederhana berwarna krem, rambutnya diikat asal tapi entah kenapa tetap terlihat rapi. Cahaya matahari pagi menembus tirai tipis, memantul di kulitnya yang halus. Arga merasa wajahnya panas seketika, lalu cepat-cepat berdeham.
“Pagi, Bu. Eh—Raras.”
Raras menoleh, tersenyum. “Pagi, Arga. Kamu bangun pagi juga, ya?”
“Iya, udah kebiasaan.”
“Bagus. Bantuin aku bentar, bisa?”
Arga mendekat, mengambil piring dari rak. Raras menunjuk beberapa buah potong di talenan. “Tolong atur di piring saji, ya. Biar cantik sedikit.”
Mereka bekerja dalam diam. Kadang tangan mereka hampir bersentuhan, tapi Arga cepat-cepat menariknya. Namun, sekali waktu Raras menoleh dan tersenyum — senyum yang terlalu lembut untuk diartikan biasa.
Dan di momen itu, Arga tahu satu hal:
Hari-harinya di rumah ini tidak akan berjalan biasa.
Suara ayam tetangga masih terdengar samar ketika matahari mulai naik sempurna. Dari dapur, aroma roti panggang dan kopi memenuhi udara. Raras tampak sibuk menata meja makan, sementara Arga mengatur piring buah yang baru saja ia susun.
“Bagus,” kata Raras sambil melirik hasil kerja Arga. “Ternyata kamu rapi juga, ya.”
Arga tertawa kecil. “Kalau nggak rapi, nanti dikira menantu nggak bisa bantu.”
Raras tersenyum, matanya melirik sebentar ke arah Arga. “Kamu bukan tipe yang suka pamer, tapi kelihatan bisa diandalkan.”
Arga hanya tersenyum. Ucapan itu sederhana, tapi nadanya punya sesuatu — entah pujian, atau sekadar cara Raras menguji seberapa jauh ia bisa membuat suasana jadi cair.
Nisa turun lima belas menit kemudian, wajahnya masih agak mengantuk. Ia langsung memeluk ibunya dari belakang.
“Wangi banget, Ma. Masak apa?”
“Cuma sarapan ringan,” jawab Raras. “Arga bantu juga, lho.”
Nisa menatap suaminya dengan senyum setengah lelap. “Wah, rajin banget kamu. Baru sehari di rumah Mama udah nyatu sama dapur.”
“Dipaksa,” Arga pura-pura mengeluh.
Raras tertawa kecil. “Nggak usah pura-pura. Tadi dia yang nawarin bantu.”
Mereka bertiga duduk di meja makan. Suasana pagi itu sebenarnya tenang, tapi Arga beberapa kali menangkap tatapan singkat Raras di sela obrolan ringan. Bukan tatapan menilai, tapi lebih seperti seseorang yang sedang menimbang sesuatu — seolah sedang mencoba membaca pikirannya.
---
Siangnya, Nisa keluar untuk menemui teman lama di kota. Raras menawarkan diri mengantar, tapi Nisa menolak karena ingin sekalian nostalgia naik transportasi umum. Begitu pintu tertutup, rumah langsung terasa sepi.
Arga awalnya ingin kembali ke kamarnya, tapi Raras muncul dari ruang tamu dengan setumpuk buku di tangan. “Arga, kamu sibuk nggak?” tanyanya.
“Nggak juga, kenapa?”
“Bantuin Mama—eh, Raras—benerin rak buku. Berat banget.”
Mereka lalu ke ruang baca di lantai dua. Ruangan itu luas, dindingnya penuh rak kayu dan jendela besar yang menghadap taman belakang. Cahaya matahari siang masuk lewat tirai putih yang setengah terbuka.
Raras duduk di lantai, menata buku-buku yang berserakan. Arga ikut berjongkok di sebelahnya, menyusun berdasarkan kategori yang diarahkan Raras.
“Yang tebal-tebal di rak bawah ya, biar seimbang,” kata Raras.
Arga mengangguk. Saat ia memindahkan beberapa buku, bahunya tak sengaja menyentuh bahu Raras. Hanya sebentar, tapi cukup membuat keduanya berhenti sejenak. Raras menoleh, dan di antara mereka ada jeda hening yang terlalu panjang untuk disebut kebetulan.
“Maaf,” kata Arga cepat-cepat.
“Gak apa-apa,” jawab Raras, tersenyum tipis. “Namanya juga kerja bareng di ruang sempit.”
Ia kembali menunduk, melanjutkan pekerjaannya. Tapi setelah itu, suasana jadi agak berbeda. Sunyi, tapi bukan sunyi canggung — lebih ke sunyi yang menyimpan sesuatu.
Setiap kali Arga mengulurkan tangan untuk mengambil buku, ia berusaha menghindari tatapan Raras. Namun, di sudut matanya, ia tahu Raras kadang menatapnya lama-lama. Ada semacam rasa ingin tahu yang tidak diucapkan, tapi terasa menggantung di udara.
“Rasanya kayak beresin masa lalu,” ujar Raras tiba-tiba, sambil menepuk-nepuk buku tua di pangkuannya.
“Maksudnya?”
“Buku-buku ini. Dulu dibeli bareng almarhum suamiku. Sekarang tiap lihat, rasanya kayak nyentuh kenangan yang udah lewat.”
Arga menatapnya pelan. “Maaf, saya nggak tahu.”
Raras tersenyum lemah. “Nggak apa-apa. Orang meninggalkan kenangan, kan? Tapi hidup harus jalan terus.”
Ia menatap keluar jendela, cahaya matahari mengenai wajahnya dari sisi. Ada kesedihan yang samar di sana, tapi juga ketegaran. Arga tak tahu kenapa, tapi melihat perempuan itu dalam diam seperti itu membuat dadanya terasa sesak — bukan karena iba, tapi karena sesuatu yang sulit dijelaskan.
“Mau saya bantu pindahin ke rak paling atas?” tanya Arga, mencoba memecah suasana.
“Boleh. Tapi hati-hati, ya. Rak itu agak goyah.”
Arga berdiri, menarik bangku kecil, lalu naik. Saat ia meraih rak paling atas, buku-buku di tangan Raras terjatuh, dan reflek Arga menunduk menangkap beberapa di antaranya. Dalam satu gerakan cepat, wajah mereka nyaris saling berhadapan, jarak yang terlalu dekat untuk diabaikan.
Udara di antara mereka berhenti sesaat. Arga bisa mencium samar aroma melati dari rambut Raras, sementara Raras tampak menahan napas sebelum perlahan mundur dan tertawa kecil.
“Kayaknya kita harus lebih hati-hati,” katanya pelan.
“Iya,” jawab Arga pendek, mencoba menenangkan debar jantungnya yang entah kenapa jadi tidak wajar.
---
Menjelang sore, Nisa pulang membawa banyak belanjaan. Rumah kembali riuh, tawa terdengar, dan Raras kembali ke perannya sebagai ibu yang hangat. Tapi Arga menyadari satu hal kecil — setiap kali Raras bicara padanya, ada nada tertentu dalam suaranya, seperti lembut tapi terukur.
Malamnya, setelah makan malam, Nisa langsung masuk kamar karena kelelahan. Arga turun lagi ke ruang tamu mengambil air minum. Di sana, Raras sedang menonton film sendirian, lampu ruangan sengaja diredupkan.
“Kamu belum tidur juga?” tanya Arga.
Raras menoleh, tersenyum. “Kamu juga belum, kan?”
Arga duduk di ujung sofa. Di layar TV, film drama lama sedang diputar, menampilkan pasangan yang berbicara dalam suasana hening di bawah hujan.
“Film lama banget ini,” kata Arga.
“Iya,” jawab Raras. “Tapi aku suka. Kadang film lama lebih jujur dari film baru.”
Mereka menonton dalam diam beberapa menit. Suara hujan di film seolah berpadu dengan bunyi serangga di luar rumah. Raras memegang cangkir teh, menatap layar dengan tenang, tapi sorot matanya seperti menyimpan banyak hal yang tak terucap.
“Tahu nggak, Arga?” katanya tiba-tiba, tanpa menoleh. “Aku dulu kira pernikahan itu jawabannya semua hal. Tapi ternyata, kadang pernikahan justru bikin kita makin sadar akan kekosongan yang nggak bisa dijelaskan.”
Arga menoleh pelan. “Maksud Raras… merasa sepi, ya?”
“Bukan sepi. Lebih kayak... ada bagian diri yang nggak tersentuh siapa pun. Dan waktu berlalu, bagian itu tetap di sana.”
Kata-kata itu menggantung. Arga tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya menatap layar TV yang sekarang menampilkan adegan hujan lebih deras.
“Aku senang kamu datang ke rumah ini,” lanjut Raras lirih. “Rumah ini terlalu tenang belakangan.”
Arga menelan ludah. “Saya senang juga bisa di sini. Nisa banyak cerita tentang rumah ini, tentang Mama…”
Raras menatapnya, kali ini langsung. “Tentang aku?”
“Katanya Mama orang yang kuat. Tegas tapi hangat.”
Raras tersenyum samar. “Itu kata anak perempuan yang belum pernah benar-benar tahu ibunya.”
“Kenapa bilang begitu?”
“Karena Nisa cuma lihat sisi yang mau aku tunjukin.”
Ada kejujuran dalam nada itu, dan entah kenapa Arga merasa sedang diajak masuk ke ruang yang seharusnya tidak untuknya. Tapi justru di situlah pesonanya — Raras bukan sekadar ibu mertua yang cantik, tapi perempuan yang rumit dan sulit ditebak.
“Mungkin suatu hari Nisa akan tahu semuanya,” ucap Raras. “Tapi nggak hari ini.”
Ia lalu berdiri, mematikan TV. “Udah malam. Tidurlah, Arga. Besok aku masak menu yang kamu suka, ya?”
Arga mengangguk. “Terima kasih, Raras.”
Perempuan itu berhenti di depan tangga, lalu menoleh sebentar. “Kamu sopan banget kalau ngomong. Tapi hati-hati, kesopanan juga bisa jadi pertahanan yang gampang retak kalau sering diuji.”
Arga tidak langsung paham maksudnya, tapi kata-kata itu menempel di pikirannya lama setelah Raras menghilang di balik tangga.
---
Di kamar, Nisa sudah tertidur lelap. Arga berbaring di sampingnya, menatap langit-langit gelap sambil mendengarkan detak jam dinding yang terdengar pelan. Di kepalanya, bayangan wajah Raras muncul tanpa diundang — tatapannya, senyumnya, cara ia berbicara dengan nada yang separuh rahasia.
Arga menarik napas panjang. Ia sadar, rumah ini punya suasana yang aneh. Bukan menyeramkan, tapi memikat dalam cara yang membuat orang sulit tenang.
Ia menutup mata, mencoba tidur. Tapi di dalam pikirannya, suara lembut Raras terus terngiang — “Kesopanan juga bisa jadi pertahanan yang gampang retak.”
Entah kenapa, malam itu Arga merasa pertahanan dirinya baru saja mulai diuji.
Daftar bab
26 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








