
Gilang dan Tuyul Sakti
kopi Hitam|Bersambung
- Jumlah kata
- 39.6K
- Popular
- 4.9K
- Subscribe
- 595
- Jumlah kata
- 39.6K
- Popular
- 4.9K
- Subscribe
- 595
Sinopsis
seorang murid SMA yang bekerja keras tak sengaja menemukan satu botol antik yang ternyata menyegel roh seorang kultivator, dalam bentuk Tuyul. Dari Tuyul itu ia belajar beladiri dan ilmu supranatural yang membuat nya menjadi sakti
Ulasan
3 ulasan
Mas Lehan
2 hari yang lalu
ceritanya bagus, ada lucu lucunya ada ketegangan, dan gairah gairahnya anak mudah, intinya bagus ceritany
Suparman
15/10/26 14:57
bagus banget ya gimana kalau bisa jangan sampai salah alurnya dikarenakan topi nya itu masih anak anak sekolahan
Gilang
"Yeuy...!"
Sorak gempita dan riuh tepuk tangan,bergema di lapangan basket saat Gilang berhasil memasukkan bola ke ring lawan. Tim Gilang bersorak melihat papan skor yang selisih jauh meninggalkan skor lawan.
Priiiiit!
Priiiiit!
Priiiiit!
Peluit sang wasit menandakan pertandingan usai dan dimenangkan oleh tim Gilang.
Gilang sangat menonjol dalam kegiatan olahraga. Wajahnya yang tampan sering membuat lawan jenisnya salah tingkah. Gilang termasuk beruntung bisa masuk SMA ternama di Jakarta dengan jalur beasiswa.
Setiap pulang sekolah Gilang bekerja di toko Babah Cong sebagai pelayan toko dan pengantar pesanan. Ia hidup sebatang kara semenjak kakeknya meninggal setahun yang lalu, meninggalkan Gilang sendiri dengan kondisi yang serba kekurangan. Tapi Gilang tak pernah mengeluh. Walau terkadang ada yang menghina, ia anggap angin lalu saja.
"Wei, bengong aja!" teriak Umar, teman sebangku Gilang. "Pasti ngelamun jorok nih."
Gilang menjitak kepala Umar. "Enak saja. Emang lu mikirin mau gantiin Mbah Sugiono?" celetuk Gilang.
"Gak apa-apa jadi Mbah Sugiono, banyak uang dan dikelilingi banyak cewek cantik walau jablay," Umar terkekeh sambil menghayal jadi Kakek Sugiono.
"Eh, ada si Firman tuh," ucap Umar.
Ide usil Gilang langsung muncul. Gilang mengambil kapur tulis dan menyuruh Umar memegangnya. Umar bingung, tapi ia tetap memegang kapur tulis yang diberikan oleh Gilang. Setelah Umar memegang patahan kapur, Gilang berjalan ke arah Firman dari arah belakang. Saat sudah dekat, ia menimpuk Firman dengan kapur yang dibawanya. Dengan gaya biasa seakan tidak melakukan apa-apa, Gilang keluar dari kelas.
Firman yang merasa ada yang menimpuk melihat sekelilingnya. Saat melihat ada potongan kapur di bawah dan sisa potongan kapurnya dipegang Umar, ia mengambil potongan kapur di bawah.
"Hei, bukan gue! Gilang yang nimpuk lu tadi!" seru Umar saat melihat Firman akan menimpuknya.
"Lu yang pegang kapur juga, masih nyalahin orang lain," ucap Firman gak percaya karena melihat Umar memegang patahan kapur.
"Beneran, swear!" Umar mengangkat tangannya.
"Awas kalau lu bohong," ancamnya.
Sedangkan Gilang tertawa melihat hal itu. Ia tak menyadari kalau di belakangnya sudah ada guru. Sang guru menjewer Gilang dan menariknya ke dalam kelas.
Dan...
"Ha ha ha!" Tawa siswa-siswi di dalam kelas langsung terdengar melihat Gilang yang masuk sambil dijewer pak guru.
"Diiiam!" ucap sang guru bahasa yang bernama Pak Sastro. Ia menyuruh Gilang duduk.
Ketua kelas langsung memberi aba-aba, "Berdiriii!"
"Beri salam pada guru!"
"Selamat pagi, Pak," serempak para murid mengikuti aba-aba ketua kelas dan memberi salam.
"Selamat pagi juga. Sekarang kita mulai pelajarannya, buka Bab 9 tentang peribahasa," balas Pak Sastro.
Kelas hening sesaat, hanya terdengar suara lembaran buku yang dibuka.
"Nah, sekarang kita bahas tentang peribahasa. Coba jelaskan arti dari peribahasa besar pasak daripada tiang, ada yang tahu?" tanya Pak Sastro.
Dian, bendahara kelas, mengangkat tangannya. "Saya, Pak."
"Ya, Dian. Sebutkan arti dari peribahasa tadi," ujar Pak Sastro.
"Artinya besar pengeluaran daripada pemasukan, Pak," jawab Dian.
"Bagus. Sekarang apa arti peribahasa sambil menyelam minum air?"
Gilang dengan yakin mengangkat tangannya.
"Ya, Gilang, coba sebutkan?"
"Kelelep, Pak. Coba aja kalau Bapak gak percaya," ucapnya santai.
Ha ha ha.. tawa para murid pun kembali terdengar.
Pak Sastro memerah mukanya menahan emosi. "Kamu maju ke depan, pegang kedua kuping kamu dan angkat sebelah kaki kamu!" ucap Pak Sastro emosi.
Gilang hanya nyengir kuda mendapat hukuman.
Jam 1 siang bel sekolah tanda pulang nyaring terdengar. Begitu gerbang dibuka, para murid berhamburan keluar bagai anak ayam kehilangan induknya.
Gilang masih berada di kelas. Ia memang biasa pulang terakhir keluar karena malas berdesakan di gerbang. Setelah ruangan sepi, ia baru beranjak pulang.
"Siang, Pak," sapa Gilang sopan pada Pak Parto, satpam penjaga sekolah. Ia memang akrab dengan satpam sekolah, terkadang Gilang menemaninya saat istirahat.
"Siang juga, Lang. Acara ke mana hari ini?" jawab satpam itu.
"Biasa Pak, nguli," cengir Gilang.
"Kamu gak capek apa, pulang sekolah langsung kerja sampai malam?" tanya Pak Parto. Ia sebenarnya prihatin melihat Gilang, tapi keadaan ekonominya juga pas-pasan, gak bisa membantu.
"Yah, mau gimana lagi, Pak. Gak sekolah saya gak bisa menggapai kehidupan yang lebih baik, gak kerja saya gak makan," sahut Gilang santai.
"Semoga kamu kuat ya dan tercapai impianmu. Ini ngerokok dulu," doa Pak Parto sembari menyodorkan rokok Surya yang di pegangnya.
"Terima kasih, Pak. Saya pamit dulu, nanti Babah Cong keburu ngamuk, kalau telat apalagi ini hari senin sering banyak pelanggan datang bareng" pamit Gilang dan mengambil sebatang rokok yang disodorkan.
Tiiiin, tiiin!
Saat sedang berjalan menuju toko Babah Cong, Gilang dikejutkan dengan suara klakson di belakangnya. Gilang yang kaget melompat ke samping.
"Asem! Jalan masih gede, masih aja ngambil sisi," gerutu Gilang. Ia membalikkan badan ingin melihat siapa yang membawa motor. Kalau sepantaran mau diajak berantem, kalau lebih gede kabur.
"Eh, Aini! Kok ngagetin sih?" Gilang cuma bisa tersenyum masam dan berbasa-basi saat melihat yang tadi mengklaksonnya ternyata teman satu sekolahnya hanya beda kelas.
"Biarin, weee," Aini menjulurkan lidahnya. "Sekali-kali dikerjain, masa ngerjain orang mulu," sambungnya lagi.
"Eh, mau dong ngerjain kamu," goda Gilang sambil memperhatikan dada Aini yang sudah cukup mengembang.
"Ah, Gilang... cabul!" teriak Aini saat menyadari arah tatapan mata Gilang. Gilang tertawa melihat tingkah Aini.
"Katanya mau dikerjain," godanya lagi.
"Au ah, gelap!" Aini cemberut.
"Iya, iya, maaf. Canda doang juga. Kenapa belum pulang?" tanya Gilang.
"Tadi habis kumpulan OSIS jadi baru pulang. Kamu mau pulang? Ayo bareng," ajak Aini. Memang arah rumah Aini dan Gilang searah, tapi Gilang mau ke toko Babah Cong yang berlawanan arah sesudah persimpangan di depan.
"Kamu duluan aja, aku mau ke toko Babah Cong dulu," tolak Gilang.
"Kamu mau beli apa emang? Ayo aku antar sekalian ada yang mau aku beli."
Gilang mengangguk. Tapi saat ia mau naik motor, Aini malah turun dan menyerahkan kunci motornya.
"Kamu yang bawa. Masa cewek bonceng cowok, dapat banyak kamu nantinya," celetuk Aini. Gilang hanya nyengir.
Gilang langsung menyarter motor dan melaju menuju toko Babah Cong. Gilang sempat kaget saat Aini memeluk dari belakang dan aset kembarnya terasa mengganjal di punggungnya.
Ciiiit!
Tiba-tiba Gilang mengerem mendadak membuat Aini makin merapat.
Plaak! Aini menepuk bahu Gilang.
"Lu sengaja ya?!" seru Aini sewot.
"Sengaja gimana? Tuh lihat ada kucing mau kawin nyebrang," sahut Gilang sambil menunjuk arah kucing di seberang jalan.
"Alesan aja!" seru Aini. Ia mencubit Gilang. "Ayo jalan!"
" Iya iya lepas napa sakit tau
Gilang meringis menahan sakit dan melaju ke toko Babah Cong.
Daftar bab
36 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








