- Jumlah kata
- 86.6K
- Popular
- 1.7K
- Subscribe
- 297
Sinopsis
FAJAR dan ketiga sahabatnya—trio pemuda yang selalu apes dalam urusan cuan—sudah putus asa dengan nasib. Namun, takdir mereka berubah tragis setelah sebuah kecelakaan misterius membuat pacar Fajar patah kaki.Saat terbaring cemas, Fajar mulai dihantui sosok bayangan yang menyeretnya ke alam mimpi. Di sana, Fajar didorong untuk mengungkap penyebab kecelakaan yang menimpanya.Alih-alih jawaban, Fajar justru menemukan sebuah kamar di rumah megah dalam mimpinya. Di sana, teronggok tumpukan uang dan lima batang emas yang berkilauan. Fajar nekat membawa dua gepok uang dan emas itu ke dunia nyata. Ajaibnya, ia terbangun dengan kejutan: uang tunai 20 juta dan lima batang emas benar-benar ada di sampingnya!Mata sahabatnya pun langsung terbelalak. Ketika mereka mulai menggunakan uang itu untuk mengatasi masalah finansial, keanehan tak terduga terjadi: uang itu bukannya habis, tapi terus bertambah!Rezeki nomplok ini datang dengan harga yang mahal. Bersamaan dengan kemewahan, teror mistis mulai mengintai mereka. Setiap lembar uang yang dibelanjakan seolah menjadi tumbal, menarik mereka lebih dalam ke lingkaran petaka yang gelap.Siapa yang menabrak Fajar? Apa rahasia di balik uang yang tak habis-habis ini? Dan sanggupkah mereka membayar harga dari kekayaan yang datang dari alam mimpi?Temukan jawabannya dalam Uang Petaka.
Ulasan
1 ulasan
duhwiwi
6/12/25 08:53
ceritanya bagus ka, semangat menulisnya.. keren banget ka bab ke bab menjadi penasaran ,mampir ke novel ku juga ya ka " GANGSTA MA" ,subscribe 🤗👍👍
chapter 1
PLAKK!
Satu tamparan mendarat keras di pipi Fajar. Suara itu menggema di antara deru motor yang lewat di pinggir jalan.
“Lo gila, brengsek! Udah miskin, nggak tahu diri, pake selingkuh segala!” bentak Gea, matanya merah menahan amarah. Nafasnya tersengal, tangannya masih gemetar karena emosi yang meledak.
“Ge... maaf. Gue tuh—”
“Apa, Jar? Apa lo salah apa gue?” potong Gea dengan suara bergetar. “Tiap malam minggu kita jalan, lo nggak pernah ngeluarin duit. Gue yang bayarin semuanya, tapi gue nggak pernah perhitungan! Kok lo tega sih, anjir?!”
“Iya, gue salah,” ucap Fajar dengan nada putus asa. “Gue emang jalan sama Salsa, tapi waktu itu dia cuma minta dianter ke supermarket. Katanya nggak bisa bawa motor, belanjaannya banyak. Gue dikasih duit sama dia... itu aja kok, nggak lebih!”
“Halah, alasan! Brengsek mah brengsek aja! Nggak perlu klarifikasi, tai lo!”
Gea melengos marah, air mata menetes di pipinya. Ia segera menyalakan motor Scoopy merahnya dan tancap gas, meninggalkan Fajar yang masih berdiri di tempat, mematung.
“Ge... Gea, tunggu!” teriak Fajar sambil berlari kecil, tapi Gea sudah jauh.
Ia menghela napas panjang, wajahnya menunduk. “Sialan... siapa sih yang lapor,” gumamnya kesal sambil menendang batu kecil di jalan.
Malam itu ia pulang dengan langkah berat. Setelah makan seadanya dan mandi, ia duduk di ruang tamu, masih menahan jengkel yang belum reda.
“Jar...” panggil suara lembut dari dapur.
“Ya, Bu,” jawabnya lelah.
“Adit belum bayar SPP, Jar. Uang dari kamu kemarin ibu pake buat beli beras,” ucap Bu Wida pelan, matanya menatap lantai dengan wajah sedih.
Fajar terdiam sejenak. “Nanti Fajar cari, ya, Bu. Jangan khawatir,” ucapnya menenangkan sambil beranjak keluar.
Ia berjalan menyusuri gang kecil sambil menghisap rokok yang hampir habis. Kepalanya dipenuhi masalah — pacar marah, adik belum bayar sekolah, dan dompet kosong.
Sampai di gardu tempat biasa nongkrong, ia melihat Abdul sedang duduk bersandar, dikelilingi asap rokok.
“Kenapa lo kusut banget, Jar?” tanya Abdul sambil melirik.
“Mumet gue, Dul. Si Adit belum bayar SPP, gajian masih dua minggu lagi,” keluh Fajar, duduk di sebelahnya.
“Hmm, lo mah mending,” sahut Abdul. “Ibu gue harus kontrol besok, biayanya lumayan. Duit dari mana ya...” Ia menatap langit malam, seolah berharap bintang bisa kasih solusi.
“Sial!” teriak Reno tiba-tiba sambil menepuk kepala.
“Kenapa lagi lo?” tanya Fajar.
“Si Tania! Kesel gue. Minta hadiah nggak kira-kira. Duit dari mana gue, coba?” keluh Reno frustasi.
“Minta apa emang?” tanya Abdul penasaran.
“iPhone terbaru! Ya ampun... boro-boro beli iPhone, gaji gue aja cuma tiga juta sebulan, anjir!”
“Lah, lo dari dulu ngomel mulu soal si Tania, tapi kagak diputusin juga. Kagak cape?” sindir Fajar.
Reno nyengir. “Dia hot, Jar. Servis-nya bagus, sayang kalo putus,” bisiknya sambil tertawa kecil.
“Anjir lah,” Fajar ikut ngakak. “Udah pada ngerasain gituan, gue kapan ya?”
“Lo mah di-putusin mulu!” celetuk Reno sambil menertawakan Fajar.
“Gue pengen cari yang tajir, lah! Lumayan, biar nggak keluar duit, masih bisa beli rokok,” balas Fajar santai.
“Nyari tante-tante aja, Jar! Uang dapat, goyangan oke,” goda Abdul.
“Najis lo!” Fajar tertawa terbahak-bahak.
Mereka terus ngobrol, bercanda, dan sesekali mengeluh soal hidup yang nggak pernah berpihak. Sampai akhirnya, Sidik datang dengan wajah kusut.
“Kenapa lagi nih bocah?” tanya Reno heran.
“Si Raisa... hamil,” ucap Sidik pelan.
“Hah?!” seru mereka bertiga bersamaan.
“Lo mah nggak rapi main,” kata Reno sambil menepuk jidat.
“Iya waktu itu gue... keenakan. Kagak sadar,” ucap Sidik garuk-garuk kepala.
“Ya udah nikahin aja, beres,” saran Fajar.
“Masalahnya... gue belum kerja, Jar,” balas Sidik dengan wajah lesu.
“Ya lagian lo, kerja kagak, doyan banget tidur sama anak orang,” omel Abdul.
“Kagak sengaja, Dul! Gue kira nggak bakal tekdung,” bela Sidik.
“Halah, alasan lo. Bisa kali keluarin di luar,” celetuk Reno.
Sidik mendengus kesal. “Udah ah, kalian bukannya kasih solusi malah nyalahin gue!”
Fajar dan Abdul saling pandang, suasana mendadak nggak nyaman. Reno menunduk, berpikir keras. Lalu tiba-tiba ia berdiri.
“Gue ada ide,” katanya dengan nada misterius.
“Apa?” tanya Fajar sambil mengambil rokok dari tangan Abdul.
Reno mendekat. Mereka bertiga ikut merapat.
“Kita... maling aja,” bisiknya sambil nyengir.
“Gila lo, ogah!” seru Sidik spontan.
“Serius?” tanya Fajar, setengah tak percaya.
“Ogah, gila lo!” sahut Abdul cepat.
“Sini-sini, denger dulu...” ucap Reno mencoba meyakinkan mereka.
Namun sebelum ia sempat bicara lebih jauh—
DAAAAAAR!
Suara teriakan keras membuyarkan mereka.
“Lagi ngapain?! Ngode togel, ya?!” suara Pak RT menggema, berdiri di pinggir gardu dengan kedua tangan di pinggang.
“Nggak, lah, Pak RT! Akh, Pak RT suka ngaco aja,” jawab Reno sambil terkekeh canggung.
“Ngapain di sini? Nggak ada apa-apa! Ayo, ngopi di rumah Pak Kapten. Lagi ada Pak RW sama Kades. Lumayan, kan?” ajak Pak RT santai.
“Gasskeun!” jawab mereka serempak sambil bangkit, menutupi rasa panik barusan.
Malam itu, mereka pun pergi mengikuti Pak RT — tanpa tahu, ide gila Reno belum benar-benar hilang dari kepalanya.
Daftar bab
77 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








