
Kesaktian Andrew Si Darah Emas
S. Bani|Bersambung
- Jumlah kata
- 79.1K
- Popular
- 8.3K
- Subscribe
- 1.3K
- Jumlah kata
- 79.1K
- Popular
- 8.3K
- Subscribe
- 1.3K
Sinopsis
Andrew Yavino, jenius yang terhenti di Pembentukan Tubuh Ilahi Level 5 selama sepuluh tahun dan dicap sebagai “sampah”, tiba-tiba membangkitkan sumber hukum sucinya, mengubah darahnya menjadi emas-merah dan memperoleh kekuatan energi perang suci yang bisa menembus batas level. Dalam sekejap, dia mengalahkan musuhnya dan merebut kembali Giok Darah Naga warisan Paman Fendor. Dengan rahasia Giok Darah Naga, jalan Andrew menuju kekuatan puncak dan kebenaran asal-usulnya baru saja dimulai.
Ulasan
1 ulasan
duhwiwi
15/12/25 06:52
ceritanya bagus ka, semangat menulisnya.. keren banget ka bab ke bab menjadi penasaran ,mampir ke novel ku juga ya ka " GANGSTA MA" ,subscribe 🤗👍👍
Bab 1
Sorak menggema di udara arena pertarungan milik keluarga Rewino. Di atas panggung pertarungan berbentuk lingkaran, seorang pemuda berwajah tampan serta kulit putih di sisi utara, bersiap untuk pertarungannya. Dia adalah Andrew Yavino. Usianya sekitar empat belas atau lima belas tahun. Namun, di arena pertarungan itu, dia melawan seseorang bertubuh kekar dan berusia tiga tahun lebih tua darinya, Kevin.
Andrew mengepalkan tangan, melayangkan beberapa serangan. Hanya dengan satu tangannya, sang lawan sesekali menyeringai, meremehkan kemampuan Andrew yang dirasa jauh di bawahnya. Dia bermain-main dengan baik, mengulur waktu bahkan masih membiarkan Andrew bisa melukainya. Baginya, ini sangat menyenangkan.
“Kurasa … dengan kemampuanmu yang tidak seberapa ini, kau akan berakhir kalah lagi,” ujar Kevin sembari menahan serangan Andrew. Dia menyeringai, penuh kesombongan juga meremehkan Andrew. Setelahnya, dia memberikan 3 serangan berturut-turut dan membuat tubuh pria berkulit putih bersih itu terpental sejauh 10 meter.
Punggung Andrew membentur pembatas arena, membuat debu-debu juga berterbangan. Darah kemudian dia muntahkan.
“Poin untuk Kevin,” ujar wasit pertarungan itu yang kemudian membuat sorak kembali memenuhi udara arena itu, menyoraki kemenangan yang diraih Kevin. Meski hasilnya memang sudah diprediksi, mereka tetap ikut memuji kemampuan Kevin yang mengalahkan Andrew ‘lagi’.
Dengan darah yang menodai dagunya, Andrew bangkit. Kini matanya tertutup, berdiri tenang tanpa ekspresi. Suara sorak yang sejak tadi menggantung di udara, seolah lenyap, tenggelam dalam kesunyian seolah dia berada di dunia yang berbeda.
Di seberang sana, Kevin berdiri angkuh. Dia tersenyum penuh kesombongan, meremehkan Andrew yang berakhir menelan kekalahan.
“Padahal hanya tiga serangan, dan kau sudah terlempar begitu jauh,” ejeknya dengan tawa sinis. “Sudah sepuluh tahun berlalu dan kau tetap saja sampah.”
Suara tawa penuh ejekan segera terdengar dari sisi kiri, tempat para murid Rewino yang berusia sebelas-dua belas tahun berdiri. Sama seperti Kevin, mereka juga memandang rendah Andrew. Suara demi suara ejekan juga mulai terdengar, bagai hujan batu yang menghujani ketenangan pemuda itu.
Meski begitu, Andrew sama sekali tak bereaksi. Pemuda itu tetap berdiri dengan penuh ketenangan dan napas datar. Namun, tanpa siapapun tahu, dalam dirinya, sesuatu yang besar kini sedang bergejolak. Sesuatu yang sudah lama dipendam dalam hatinya.
“Sepuluh tahun kesunyian, hari ini akhirnya terbalaskan,” bisiknya dalam hati.
Dengan kemenangan yang baru didapatnya, Kevin berjalan dengan penuh kebanggaan menuju sisi kanan arena. Tentu, dia harus memerkan sesuatu yang baru saja dia lakukan kepada Gita Rewino yang duduk paling depan. Gadis itu tampak seperti bunga di musim semi. Wajahnya cantik dengan sorot mata yang tenang namun tajam. Siapa yang tak terpesona padanya?
“Bagaimana? Bukankah aku cukup hebat?” tanya Kevin dengan penuh kepercayaan diri. “Kau juga lihat ‘kan? Aku sudah mencapai Pembentukan Tubuh Ilahi level 8.”
Gadis itu hanya menatapnya dingin sebelum akhirnya sebuah seringaian meremehkan terbit di wajah cantiknya. “Kuakui kau jauh lebih hebat sekarang. Tapi jika dibandingkan dengan Kak Alvin, kurasa … lebih baik kau sadar diri.”
Kevin membeku. Kalimat sederhana itu menamparnya, membuat senyumnya perlahan memudar. Tatapannya kini mulai bergetar dipenuhi rasa takut juga cemburu. Di belakang gadis itu, para pemuda Rewino memancarkan rasa kagum juga hormat. Siapa yang tak mengenal Alvin Rewino? Nama yang juga merupakan simbol kejayaan di antara mereka.
Dari arah barat, tepatnya di kursi utama, kepala keluarga Rewino—Nito Rewino berdiri dengan penuh kewibawaan. “Pertarungan berikutnya,” suaranya menggema. “Gita Rewino dan Adityo Rewino.”
Sorak kembali memenuhi udara, menyadarkan Andrew. Dia membuka matanya perlahan. Sorot matanya teduh, nyaris tanpa emosi, tapi di dalamnya tersembunyi lautan tekad yang tak bisa diukur. Dia menyatukan kedua tangannya, memberi hormat pada Kevin juga Nito, lalu melangkah perlahan meninggalkan arena. Tidak ada amarah atau rasa putus asa. Ketenangan itu tetap terpancar dari Andrew.
Di arena pertarungan, Gita dan Adityo sudah berdiri berhadapan. Tatapan gadis itu dingin, berbanding terbalik dengan Adityo yang menatap lawannya justru dengan tatapan hangat penuh kekaguman. Bukan tatapan seorang lawan.
“Mohon bimbingannya,” ujar Adityo kemudian bersiap. Namun, tak ada respon dari gadis itu sama sekali. Gita begitu tenang menanggapi setiap serangan yang dia terima dari lawannya. Berkali-kali dirinya menghindar juga memberikan serangan yang tak jarang membuat Adityo terpukul mundur beberapa langkah. Namun, Adityo justru menganggapnya menarik.
Atensi Nito sejak tadi tak tertuju pada pertarungan yang sedang berlangsung. Dari kursi kehormatannya, dia justru menatap punggung Andrew dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Dalam dirinya ada keraguan, simpati, sekaligus rasa bersalah.
Sebelas tahun lalu, Andrew bukanlah bagian dari keluarga Rewino. Dia hanya seorang anak yang dititipkan kepada keluarga Rewino. Namun, Andrew bukanlah anak biasa. Dia adalah anak yang luar biasa berbakat. Pada usia empat tahun, ia sudah mempelajari jurus unggulan keluarga Rewino, kekuatan surgawi. Pada usia lima tahun, dia sudah menembus Pembentukan Tubuh Ilahi level 5. Bahkan, Andrew sempat mengalahkan jenius muda dari Kuil Langit Biru di wilayah Utara Sejahtera.
Dalam sistem latihan, tingkat Pembentukan Tubuh terbagi menjadi sepuluh level. Level ini melalui tahapan kulit, daging, otot, tulang, hingga sumsum. Seorang anak biasa yang menembus level 1 di usia sepuluh tahun sudah dianggap jenius. Lalu, orang yang mencapai level 3 di usia itu adalah legenda langka dalam seabad. Namun Andrew di usianya yang menginjak lima tahun sudah mencapai level 5 yang setara dengan tingkat otot. Bakatnya benar-benar melampaui pemahaman manusia biasa.
Namun, keajaiban itu tak bertahan lama. Semenjak mengalahkan jenius Kuil Langit Biru, kemampuan Andrew tak lagi berkembang. Selama sepuluh tahun lamanya, Andrew tetap berada di level 5.
Nito sudah mencoba beberapa cara untuk menyelidiki penyebabnya. Namun, hasil yang dia dapatkan selalu sama. Selain menemukan bahwa aliran darah dalam tubuh Andrew kering dan tidak cocok untuk berlatih lagi, Nito sama sekali tak menemukan apapun.
Meski demikian, Andrew tak pernah menyerah seolah kata tersebut memang tak ada dalam kamusnya. Dia tetap berlatih setiap harinya meski harus di bawah tatapan sinis dan cemooh semua orang. Mereka tak mau mengerti soal kondisi Andrew yang sebenarnya. Yang mereka tahu, Andrew hanya orang tak berguna dari keluarga Rewino.
Suara gong dari arah timur yang menandakan kemenangan salah satu pihak yang bertarung, membuat Nito yang awalnya menatap punggung Andrew, beralih menatap arena pertarungan. Pertarungan itu sudah dimenangkan oleh Gita. Dia beranjak dari kursi kehormatannya. “Pertandingan berikutnya ….”
Satu demi satu murid keluarga Rewino naik ke panggung pertarungan itu untuk melatih kemampuan satu sama lain. Di antara barisan para murid, Andrew berdiri, memerhatikan segalanya dalam diam.
Daftar bab
74 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








