Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Rahasia Perguruan Hitam

Rahasia Perguruan Hitam

AjiRasa | Bersambung
Jumlah kata
120.3K
Popular
155
Subscribe
34
Novel / Rahasia Perguruan Hitam
Rahasia Perguruan Hitam

Rahasia Perguruan Hitam

AjiRasa| Bersambung
Jumlah Kata
120.3K
Popular
155
Subscribe
34
Sinopsis
FantasiFantasi TimurSilatBalas DendamPendekar
Di balik gerbang perguruan silat yang tersohor, tersembunyi luka lama dan dendam yang membara. Bumisaka, seorang pemuda yang kehilangan ayahnya secara misterius, memilih jalan berbahaya: berguru pada pembunuh ayahnya sendiri. Dengan tekad baja dan hati yang menyimpan bara, ia menyerap setiap jurus, setiap rahasia, demi satu tujuan, membalas dendam. Tapi semakin dalam ia masuk ke dunia silat, semakin kabur batas antara kebenaran dan kebencian. Dendam adalah ilmu yang paling mematikan.
1. Elang Hitam

Langit sore di kaki Gunung Merapi tampak muram, seolah ikut berduka atas kematian seorang pendekar tua yang jasadnya baru saja dikuburkan.

Di antara para pelayat, seorang pemuda berdiri kaku, wajahnya menunduk, tangan mengepal erat. Namanya Bumisaka. Usianya baru delapan belas tahun, tapi sorot matanya menyimpan dendam yang tak biasa bagi remaja seusianya.

“Ayah… siapa yang tega melakukan ini padamu?” bisiknya lirih.

Tak ada jawaban, tentu saja. Hanya desir angin yang membawa aroma tanah basah dan bunga kamboja dari pusara ayahnya. Namun Bumisaka tidak membutuhkan jawaban. Ia tahu siapa yang membunuh ayahnya.

Guru Prabudaya, pemimpin Perguruan Silat Elang Hitam.

Ayahnya, seorang murid senior di perguruan itu, ditemukan tewas dengan luka dalam yang hanya bisa ditimbulkan oleh satu teknik.

Jurus Padumuka, jurus pamungkas Perguruan Elang Hitam. Jurus yang tak pernah diajarkan pada murid biasa. Jurus yang hanya dikuasai satu orang.

Prabudaya.

Namun tak ada bukti. Tak ada saksi. Tak ada satu pun yang berani menuduhnya. Hanya Bumisaka, dengan keyakinan yang membakar dada.

***

Dua minggu setelah pemakaman, Bumisaka berdiri di depan gerbang Perguruan Elang Hitam. Gerbang kayu besar itu menjulang tinggi, dihiasi ukiran Elang bermata tajam yang siap menerkam. Suara pukulan, hentakan kaki, dan teriakan komando bergema dari dalam.

“Apa kau yakin ingin bergabung?” tanya seorang penjaga gerbang, tubuhnya kekar, matanya tajam mencurigai.

Bumisaka mengangguk. “Aku ingin belajar silat. Aku ingin menjadi murid Guru Prabudaya.”

Penjaga itu menatapnya lama, seolah mencoba membaca isi hatinya. Lalu ia membuka gerbang perlahan.

“Masuklah. Tapi ingat, di sini bukan tempat bermain. Perguruan ini menyimpan lebih banyak rahasia daripada jurus.”

Bumisaka melangkah masuk. Ia menarik napas panjang, menyadari satu hal... ia memasuki kandang harimau, demi membunuh harimaunya.

***

Hari-hari pertama di perguruan berubah menjadi neraka.

Ia harus bangun sebelum fajar menyingsing. Latihan fisik dimulai pukul tiga dini hari. Lari sejauh tiga putaran gunung kecil di belakang perguruan, mendaki dengan membawa karung pasir, berguling di tanah yang dipenuhi kerikil tajam.

Ketika murid lain mengeluh, Bumisaka tetap diam.

Kaki melepuh. Punggung memar. Tangan berdarah.

Tapi dendam jauh lebih menyakitkan daripada luka-luka itu.

Selain latihan fisik, ada ujian mental. Bumisaka pernah diminta duduk bersila berjam-jam di tengah hutan kecil, dikelilingi suara serangga malam dan bayangan pepohonan yang bergoyang.

Tujuannya untuk menguji keberanian dan fokus. Banyak murid yang menjerit karena ilusi ketakutan yang diciptakan para senior.

Namun Bumisaka tak bergerak sedikit pun.

Ia telah melihat mayat ayahnya. Tidak ada ilusi yang lebih menakutkan.

Guru Prabudaya jarang bicara, namun setiap kemunculannya selalu disertai keheningan. Aura yang ia bawa membuat udara seolah menegang. Mata tajamnya seperti mampu menembus pikiran siapa pun.

Suatu pagi, saat Bumisaka berlatih pedang, tubuhnya hampir ambruk. Ia terpeleset, pedang kayunya jatuh.

Seorang murid senior mencibir. “Anak baru lemah.”

Bumisaka menatapnya tajam sebelum kalimat itu selesai.

Namun seseorang lebih dulu hadir.

Guru Prabudaya.

“Kekuatan sejati bukan pada otot,” katanya, suaranya dalam dan stabil, “tapi pada kendali.”

Semua murid menunduk. Termasuk Bumisaka.

“Maaf, Guru,” ucapnya pelan.

Prabudaya menatapnya lama. Terlalu lama, hingga beberapa murid mulai berkeringat. Seolah ia sedang membaca sesuatu yang tersembunyi.

“Kau punya semangat,” kata Prabudaya akhirnya. “Tapi semangat tanpa arah adalah kehancuran.”

Kata-kata itu masuk ke hati Bumisaka, seperti racun. Bukan karena nasihatnya salah, tetapi karena ucapannya datang dari orang yang membunuh ayahnya.

'Semangatku punya arah, Guru… membunuhmu.'

***

Hari demi hari berlalu. Bumisaka maju pesat, melebihi murid-murid lain. Gerakannya cepat, tekniknya rapi, dan ketekunannya tak tertandingi. Banyak yang menggumamkan bahwa ia akan menjadi salah satu murid terbaik di angkatannya.

Namun di balik kemajuan itu, ada sesuatu yang lain.

Setiap malam, Bumisaka menyelinap ke perpustakaan perguruan.

Ruang bambu tua dengan rak tinggi berisi gulungan silat. Ia mencari kitab apa pun yang bisa memberinya petunjuk tentang Jurus Padumuka.

Namun perguruan itu licik. Tak satu pun kitab yang menyebut jurus tersebut. Seolah jurus itu sengaja dihapus dari sejarah.

Sampai suatu malam, ia menemukan sesuatu.

Sebuah gulungan kecil, tersembunyi di balik rak yang paling gelap. Gulungan tua dengan tulisan yang hampir pudar.

~Catatan Murid Lembayung.~

Ia membuka dan membaca cepat. Lembayung adalah murid senior sekaligus sahabat dekat ayahnya, yang menghilang misterius bertahun-tahun lalu.

Di halaman terakhir, ada satu kalimat yang membuat jantung Bumisaka berhenti sesaat.

~Jurus Padumuka bukan hanya teknik. Ia adalah kutukan. Penggunanya akan kehilangan kemanusiaan sedikit demi sedikit, sampai ia menjadi bayangan tanpa jiwa.~

Bumisaka terdiam.

Apakah Prabudaya… kini hanyalah bayangan?

***

Suatu hari, setelah tiga bulan bergabung, Bumisaka dipanggil ke halaman tengah. Para murid berkumpul melingkar. Prabudaya berdiri di tengah, kedua tangannya di belakang.

“Bumisaka,” katanya, “maju.”

Jantungnya berdegup. Ia melangkah ke tengah lapangan.

“Kau berkembang cepat,” lanjut Prabudaya. “Terlalu cepat. Banyak murid yang butuh bertahun-tahun untuk mencapai tingkatmu.”

Beberapa murid menggerutu iri.

Prabudaya menatap langsung ke mata Bumisaka. “Apa motivasimu?”

Pertanyaan itu menghantam seperti pukulan keras.

Jawaban yang ingin ia ucapkan adalah: aku ingin membunuhmu, Guru.

Namun bibirnya berkata berbeda.

“Aku ingin menjadi pendekar hebat.”

Prabudaya tersenyum tipis. Senyum yang membuat bulu kuduk merinding.

“Baik. Aku akan mengajarimu jurus lanjutan.”

Kerumunan gempar.

Bumisaka menelan ludah. Ia tidak menyangka kesempatan akan datang secepat itu. Semakin tinggi ia naik, semakin dekat ia pada jurus pamungkas itu. Semakin dekat pula ia pada kesempatan membalas dendam.

Namun ada satu hal yang tidak ia duga.

Guru Prabudaya mulai memperhatikannya secara khusus.

Latihan khusus dimulai malam itu. Hanya mereka berdua, di tepi kolam perguruan yang diterangi cahaya bulan. Angin malam membawa suara serangga dan gemericik air.

Prabudaya berdiri tegap, tangannya terlipat.

“Bumisaka,” katanya pelan, “kau mengingatkanku pada seseorang.”

Bumisaka menahan napas.

“Sanggalaki.”

Dadanya menyempit. Ia menunduk dalam-dalam, menahan emosi.

“Beliau murid yang keras kepala,” Prabudaya melanjutkan. “Terlalu percaya diri. Terlalu menantang batas.”

'Atau terlalu berani menentangmu?' batin Bumisaka.

“Sayang, ia mati dengan… cara tragis.”lanjut Prabudaya.

Bumisaka mengepalkan tangan.

Ada nada aneh dalam suara Prabudaya. Antara penasaran dan menguji.

“Kenapa dia mati?” tanya Bumisaka berpura-pura tidak tahu.

Prabudaya menatapnya tajam. Sangat tajam.

Lalu senyum tipis itu muncul lagi. “Karena Perampok.”

Hanya satu kata. Tapi satu kata itu membuat kulit Bumisaka merinding.

Senyumnya… terlalu puas.

Seolah ia sedang memancing.

Atau menyembunyikan sesuatu.

Bumisaka berlatih lebih keras dari sebelumnya. Prabudaya mengajarinya teknik-teknik yang hanya sedikit murid dapatkan.

Jurus Ombak Senyap, Langkah Bayangan, dan Pukulan Arwah.

Namun ada momen tertentu ketika Prabudaya terlihat berbeda.

Tatapannya kosong. Nafasnya mengubah ritme. Gerakannya kehilangan kelembutan. Dan pada momen-momen itu, aura gelap di sekelilingnya menjadi semakin nyata.

Seolah jurus pamungkas itu benar-benar merenggut kemanusiaannya, seperti yang ditulis Lembayung.

Bumisaka mulai melihatnya.

Setiap kali Prabudaya mempraktikkan jurus lanjutan, bayangan di tanahnya tampak lebih gelap daripada biasanya. Kadang bergerak sedikit terlambat dari tubuh aslinya. Kadang bahkan… bergerak lebih dulu.

Melihat itu, Bumisaka hanya semakin yakin satu hal.

Prabudaya harus dihentikan.

Malam itu, setelah latihan selesai. Ketika perguruan telah tertidur, Bumisaka kembali menyusup ke perpustakaan. Ia menyalakan lilin dan membuka kembali catatan Lembayung.

Di halaman belakang, ia menemukan sesuatu yang sebelumnya luput darinya. Lembaran tipis yang terlipat.

Isinya...

~Jika kau ingin menghentikan jurus pamungkas…

Jangan bunuh tubuhnya. Bunuh bayangannya.~

Bumisaka mematung. 'Membunuh… bayangannya?'

Suara langkah tiba-tiba terdengar di luar perpustakaan.

Ia menahan napas.

Pintu terbuka perlahan.

“Apa yang kau lakukan di sini, Bumisaka?”

Guru Prabudaya berdiri di ambang pintu. Matanya… tidak lagi seperti mata manusia.

Lanjut membaca
Lanjut membaca