
Tangisan Kinasih Di Rawa Tujuh Peti
Biiandlaa.C|Bersambung
- Jumlah kata
- 33.7K
- Popular
- 383
- Subscribe
- 67
- Jumlah kata
- 33.7K
- Popular
- 383
- Subscribe
- 67
Sinopsis
Menceritakan tentang seorang jurnalis muda bernama Dika Mahendra yang tengah mengulik cerita seram tentang hilangnya seorang gadis yang bernama kinasih pada tahun lalu. Kehilangan yang tak wajar di iringi dengan mitos tentang suara tangisan di tepian rawa pada malam hari. Penduduk hanya memilih bungkam dan bersembunyi di malam hari daripada mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di kampung itu. Begitu juga dengan tetua kampung yang melarang satu pun warga untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dia membeberkan jika Kinasih kabur karena malu akibat perbuatannya yang hamil duluan. Rahasia besar tersembunyi di sebalik rawa yang tenang dengan hawa yang dingin. Apakah benar Kinasih kabur? Atau dia meninggal secara tak wajar?
Ulasan
4 ulasan
vinsmoke adi
17/1/26 00:44
Astagfirullah...cerita sebagus ini kenapa masih sepi dan cuma dapet kurang dari 30 subscribe sedikit saran bagi author jangan lupa saling support mampir ke novel aku yang berjudul perjanjian ghaib nenek turbo
duhwiwi
8/1/26 15:30
ceritanya bagus ka,keren banget bab ke bab menjadi penasaran deh,mampir ke novel ku juga ya ka " GANGSTA MA" ,subscribe 🤗👍👍 semangat menulisnya kak...
Bab 1 Kasus Tak Terpecahkan
Seorang lelaki menatap layar komputernya dengan tatapan yang sudah lelah dengan rambut yang sudah acak-acakan.
“Arghh, sudah capek-capek begadang. Tapi gak ada satu pun judul gue yang trending,” umpat-nya.
Dika Mahendra , seorang anak kuliahan fakultas ilmu komunikasi. Untuk saat ini, Dika sedang menjalankan tugas dari dosennya untuk membuat proyek multimedia yang dimana Dika harus mengembangkan situs web milik pribadinya selama 6 bulan ke depan.
Dan nasibnya kelulusannya pun juga tergantung akan setiap karya yang dia upload.
Dika mendorong kursinya dan berjalan perlahan menjauh dari monitor menuju teras rumah petak yang dia kontrak bersama temannya.
Merogoh saku celananya, Dika mengeluarkan sebungkus kotak yang berisikan beberapa batang rokok.
Tatapan kosong memandangi langit yang gelap diiringi dengan bunyi jangkrik yang mulai berisik.
Perlahan tapi pasti, Dika menghisap rokoknya dengan sangat dalam.
“Bagaimana caranya gue bisa mengembangkan situs tersebut? Sedangkan setiap judul dengan berbagai tema tak ada satu pun yang menarik pembaca,” benak Dika.
“Apa mungkin gue akan bisa lulus dengan gampang jika tugas yang gue jalani saat ini terasa sangat sulit.”
Pikiran Dika terus berkecamuk memikirkan waktu mengembangkan situsnya hanya tinggal 2 bulan lagi.
“Dik… Dik… DIKAA…!!!” Panggil seorang lelaki yang berdiri di samping Dika.
“Hah… Apaan sih Jak. Bikin gue kaget aja,” omel Dika.
“Yaelah Dik, lo bengong-bengong magrib begini, gak takut kesambet apa?” ujar Jaka, teman kontrakan Dika.
“Gak percaya gue. Tahayul itu mah,” bantah Dika.
Dika memang tipekal orang yang skeptis. Selagi dia tak mengalaminya, dia tak akan mudah percaya akan hal itu.
Dika dan Jaka memiliki latar belakang yang sangat jauh berbeda. Dika merupakan anak yang besar di perkotaan sehingga ia sulit menerima hal yang dianggapnya mistis. Berbeda dengan Jaka, anak desa yang masih kental akan adat, kepercayaan leluhur.
Mereka berdua kenal saat masih menjalani masa ospek. Dan kini bisa dihitung mereka sudah berteman hampir 4 tahun.
“Hust… Omongan lo dijaga Dik. Kita itu hidup berdampingan dengan mereka. Jadi, lo gak boleh seperti itu,” ucap Jaka mengingatkan temannya itu.
“Tau lah Jak. Gue lagi pusing menghadapi tugas akhir gue. Mana waktunya udah mau mepet lagi. Tapi situs gue gak ada perkembangannya,” keluh Dika.
“Ya, lo juga gak bisa membuat situs dengan pikiran yang rasional itu juga Dik. Setidaknya lo juga memberikan bumbu-bumbu agar bisa menarik para pembaca,” saran Jaka.
“Sok pinter lo Jak. Jurusan sosial kayak lo mana paham sama hal beginian,” tukas Dika.
“Yee… Meremehkan gue banget lo Dik. Gini-gini gue juga paham sama yang begituan,” balas Jaka.
“Sudahlah Jak. Gue mau tidur dulu, ngantuk,” ucap Dika yang langsung beranjak dari kursi rotan memasuki rumah.
“Gak makan dulu lo nya Dik? Gue laper nih,” teriak Jaka memandangi langkah Dika yang tak menggubris sedikit pun teriakannya.
Jaka hanya bisa memanyunkan bibirnya sembari memegangi perutnya yang keroncongan. “Kalau tau gini, mending gue mampir ke warung Mang Aji sebelum pulang,” gumam Jaka.
Tak bisa berbuat banyak, Jaka memutuskan untuk kembali keluar gang kontrakannya untuk membeli makanan di tempat langganannya.
“Mang, nasgornya seporsi ya Mang. Jangan pake timun,” teriak Jaka yang langsung duduk di emperen milik Mang Aji.
“Siap Kang,” sahut Mang Aji.
Sembari menunggu makanannya, Jaka memilih untuk memainkan ponselnya sembari melihat berita-berita terbaru yang lagi viral.
“Kutipan dari Dika Mahendra,” ucap pelan Jaka.
“Aelah Dik, gimana mau viral, artikel lo berisikan tentang pemerintahan,” sambung Jaka meremehkan tulisan Dika yang memang isinya sedikit kaku dan gak menarik.
Jaka segera menyimpan ponselnya kembali karena nasgor yang dia nantikan sudah terhidang di hadapannya.
“Aduhh, wangi banget nasgornya Mang,” puji Jaka yang sudah kelaparan.
“Seperti biasanya Kang. Bawangnya agak ditambahin dikit,” ujar Mang Aji.
“Mantap bener dah pelayanan Mang Aji nih, tau selera pelanggannya,” ucap Jaka yang langsung memakan sesuap nasgor.
Kebetulan, malam itu Mang Aji tidak terlalu banyak pembeli sehingga dia bisa bersantai dan berbincang-bincang dengan Jaka.
“Temen Kang Jaka yang satu lagi mana?” tanya Mang Aji yang sudah beberapa hari terakhir tidak melihat keberadaan Dika yang sibuk dengan tugas akhirnya.
“Si Dika lagi sibuk sama tugasnya Mang. Bikin berita yang harus viral agar bisa lulus,” ucap Jaka.
“Viral teh apa Kang?” tanya Mang Aji yang kebetulan memang kurang paham bahasa kekinian. Apalagi dengan umurnya yang sudah 65 tahun, yang tak paham lagi dengan teknologi.
“Viral itu sama kayak terkenal Mang. Jadi, kita harus bikin berita yang bisa menarik banyak pembaca agar bisa terkenal,” ujar Jaka.
“Ohh gitu tah,” sahut Mang Aji manggut-manggut.
Di saat tengah asik membahas tentang Dika, Mang Aji kedatangan seorang pelanggan lelaki dengan pakaian selayaknya anggota dari kepolisian.
“Mang, nasi gorengnya satu ya,” ucap si lelaki.
“Baik Kang, di tunggu ya,” sahut Mang Aji.
Lelaki itu duduk di seberang Jaka. Raut wajahnya tampak sangat lelah dan helaan nafas yang begitu panjang.
“Lelah ya bang? Sampai-sampai abangnya harus narik nafas panjang,” ucap Jaka mengajak lelaki itu berbicara.
Polisi itu tersenyum tipis pada Jaka, “Lumayan lelah bang. Apalagi lagi menghadapi kasus yang tak terpecahkan,” jelas si lelaki itu.
“Saya Jaka, gak usah panggil bang. Saya masih mahasiswa,” ujar Jaka sembari mengulurkan tangannya.
“Saya Hari,” ucapnya sembari menjabat tangan Jaka.
“Kasus apa bang? Kok saya gak pernah dengar,” tanya Jaka yang mulai penasaran.
“Kasusnya memang ditutupi Jak. Tapi banyak kejanggalan saat penyelidikan tahun yang lalu. Ada beberapa pihak yang menolak dilanjutkan kasusnya karena dia menganggap kasus hilangnya gadis itu di anggap akan mendatangkan petaka. Namun, pagi tadi saya mendapatkan kabar jika ada satu peti mengapung di sebuah rawa yang dimana saat dibuka ada potongan tulang. Akan tetapi, atasan saya tidak bisa mengerahkan banyak orang karena kasus ini sudah lama. Apalagi, masalah demo lebih diutamakan dari kasus ini.”
Penjelasan Hari membuat Jaka teringat akan Dika, yang dimana dia seorang jurnalis yang bisa memberikan penjelasan jika kasus ini terpecahkan.
“Bang, bisa saya minta nomornya? Teman saya seorang jurnalis, mungkin bisa membantu dan mengangkat kasus ini agar teka-teki kehilangan gadis itu terpecahkan,” ujar Jaka.
Hari segera mencatat nomornya di ponsel Jaka. Bantuan dari Jaka membuat Hari cukup bersemangat menangani kasus ini karena hanya dia seorang diutus ke desa itu untuk saat ini hingga masalah demo di pusat kota reda.
Daftar bab
33 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








