
Pendekar Kujang Sakti Pemikat Wanita
Langit Berawan|Bersambung
- Jumlah kata
- 68.7K
- Popular
- 463
- Subscribe
- 83
- Jumlah kata
- 68.7K
- Popular
- 463
- Subscribe
- 83
Sinopsis
Rakeyan Wirasasana adalah seorang murid utama yang dikhianati dan dicap cacat. Setiap hari dia selalu menjadi sasaran cemoohan dan penghinaan dari sepupunya yang bernama Rangga Gading. Meski kondisinya cukup terpuruk karena aliran energinya kering, tapi Wira adalah pendekar yang sebenarnya jenius dari Padepokan Mandala Jati. Wira akhirnya bangkit menggunakan pusaka kuno Kujang Sakti Bermata Hijau yang dihuni raga spiritual Nyi Ambet Kasih. Dia tidak tahu kalau keputusannya menggunakan jurus mistis pemikat jiwa itu akan mengubah takdirnya seumur hidup.
Ulasan
1 ulasan
Adam-AM
14/10/26 23:13
Novel ini bagus, saya sudah buka banyak bab untuk saya baca.... Lanjutkan brrooo kembangkan terus ide dan konfliknya agar kami senang membacanya bung
PILIHAN
Bab 1: Beban Sang Murid Utama
"Lihatlah sang murid utama kita," cibir Rangga Gading, sengaja mengeraskan suara agar didengar murid-murid lainnya.
"Gelar kehormatan tertinggi generasi muda padepokan ini seharusnya dipegang oleh seorang jenius yang perkasa, bukan mangkuk kosong seperti dirimu!"
Di bawah temaram langit senja Padepokan Mandala Jati, Rakeyan Wirasasana hanya mampu menghela napas mendengar ejekan sepupunya itu.
"Kenapa kau diam saja, Wira? Apakah kau sedang mengemis belas kasihan dari kami dengan memasang wajah kuyu seperti itu?"
Wira perlahan membuka matanya. Ia menatap Rangga dengan pandangan tenang, meski di dalam hatinya berkecamuk badai.
"Aku tidak sedang mengemis apa pun kepadamu, Rangga."
Rangga memberi isyarat dengan tangan kirinya, “Majulah pemalas! Saatnya giliran kamu berlatih denganku,” panggilnya mengejek.
Mendengar ejekan sepupunya itu adrenalinnya merasa tertantang meski tubuhnya terasa lemah.
Dari atas panggung batu yang terletak di tengah alun-alun, “Huft…!” Wira melompat ke tengah arena berlatih.
Ia melangkah tertatih, lalu menyandarkan tubuhnya pada tiang pancang. Napasnya berat. Dadanya terasa sangat kosong.
Setiap kali ia mencoba menarik energi spiritual dari alam bebas, aliran energi di sekujur tubuhnya menolak keras. Rasa sakit yang membakar menjalar hingga ke ulu hati.
Wira meremas dadanya sendiri, mencoba menahan erangan yang hampir lolos dari bibirnya.
Rangga melangkah maju, menaiki anak tangga panggung batu dengan dagu terangkat. Jubah hitamnya berkibar angkuh.
“Hiaaaatt….!” serangan Rangga memukul ke arah tubuh Wira.
“Hup!” Wira memiringkan tubuh sedikit, tongkat itu memukul angin.
Rangga tak ingin kehilangan momen berharga itu, di depan murid-murid padepokan ia tak benar-benar ingin berlatih ilmu kanuragan, tapi ingin membuat Wira jadi pecundang.
Pertarungan pun terjadi, terlihat Wira sesekali meremas dadanya sendiri, “Ukh!” terdengar erangan yang lolos dari bibirnya.
Seringai di bibir Rangga melihat lawannya mulai hilang fokus, padahal belum lima menit berlatih.
“Terimalah ini…!” Wira mengeluarkan jurusan andalan tingkat kedua yang dikuasainya.
Tongkat di tangan Rangga berputar seperti kincir angin, lalu dilepaskannya ke arah Wira yang pertahanannya merosot tajam.
“Bugh!” ujung tongkat melesat bagai kilat menyambar ke arah Wira, tak pelak lagi ujung tongkat itu memukul tubuhnya.
“Akh!” rintih Wira tubuhnya terpental jatuh ke tanah.
“Uhuk! Ukhuk!” ia terbatuk-batuk memegangi dadanya yang sesak.
Rangga maju mendekat dengan tersenyum sinis, menatap rendah pada sosok di bawahnya.
"Bagaimana mungkin posisi murid utama diberikan kepada seorang pendekar yang cacat! Hanya menangkis serangan seperti itu saja tidak becus!”
“Pecundang itu namanya!”
Itu Bagus Setra, putra Tetua Besar Sayap Barat sekaligus sekutu dekat Rangga. Ia melangkah mendekat dengan memutar-mutar belati kecil di jemarinya.
“Pendekar yang bahkan tidak bisa menyalakan satu simpul energi pun? Itu penghinaan besar bagi para leluhur Kadipaten!"
"Betul, Bagus Setra! Gelar tertinggi generasi muda padepokan ini seharusnya dipegang oleh seorang jenius yang perkasa, bukan tubuh kosong!” Rangga menimpali.
Wira masih tertunduk, wajahnya tampak berkerut menahan rasa sakit di ulu hatinya.
Titel kehormatan murid utama—lambang kekuasaan tertinggi bagi generasi muda di wilayah Kadipaten—seharusnya resmi disematkan ke pundaknya hari ini.
Tapi, takhta itu kini terasa seperti bara api yang siap menghanguskan dirinya hidup-hidup.
"Kenapa kau diam saja, Wira?” sebuah suara lembut mengalun tidak jauh dari ketiga pemuda itu. “Tunjukanlah kalau kamu memang layak menyandang gelar murid utama!”
Ia adalah Nimas Dahayu, gadis cantik yang menjadi primadona di padepokan.
Wira perlahan membuka matanya. Ia menatap Nimas dengan pandangan tenang, meski di dalam hatinya berkecamuk badai.
"Aku… saat ini kondisi sedang tidak baik, dan ini hanya bersifat sementara,” jelas Wira dengan suara bergetar dengan memegangi dadanya.
“Sakit? Alasanmu terlalu dibuat-buat, Wira!” balas Nimas dengan menyilangkan kedua lengannya di dada, rambutnya yang panjang tertiup angin.
“Mengaku saja kalau kamu itu si lemah yang tak lagi bisa diandalkan!”
“Lihat dirimu, Wira! Dulu berlagak pahlawan, sekarang ciut bagai ayam sayur!
Rangga dan bagus bergantian menyerang Wira dengan kata-kata pedas.
"Jaga mulutmu, Bagus Setra! Jaga juga bicaramu, Rangga Gading!" sebuah bentakan lantang memotong tawa mengejek itu.
Ki Galih Warsa, seorang tetua berambut perak yang dihormati, tiba-tiba muncul bersama beberapa tetua lainnya.
Ia melangkah maju membelah kerumunan. Tongkat kayu hitamnya mengetuk lantai batu dengan keras: Tok! Tok!
Ki Galih menatap tajam ke arah Rangga dan Bagus.
"Kalian benar-benar tidak tahu diuntung!” maki Ki Galih membulatkan kedua matanya.
“Apakah kalian sudah lupa siapa yang menahan serbuan Bandit Lembah Penyamun dua tahun lalu? Tanpa kekuatan Wirasasana saat itu, tanah tempat kalian berpijak ini sudah menjadi abu!”
Rangga mendengus remeh, ia melipat kedua tangannya di dada tanpa rasa hormat sedikit pun pada sang veteran perang.
"Itu dulu, Ki Galih! Jangan mengungkit cerita lama. Sekarang dia hanya tubuh kosong!”
"Benar!" timpal Bagus, wajahnya mendekat ke arah Wira dengan senyum licik.
"Hukum alam di tanah Kadipaten hanya mengenal satu hal: yang kuat dialah yang berkuasa!”
Wira memejamkan mata erat-erat. Jantungnya berdenyut nyeri luar biasa.
Ia tahu, apa yang dikatakan Rangga dan Bagus adalah kenyataan pahit yang harus ia telan.
Di dunia ini, tanpa kekuatan, seseorang tidak lebih dari sebutir debu.
Ia menundukkan kepala, menatap kalung liontin taring harimau yang melingkar erat di lehernya—sebuah pengingat akan lambang murid utama yang kini terasa membebani pundaknya seperti sebongkah batu raksasa.
Rangga berjalan memutari tubuh Wira, sengaja menyenggol bahu pemuda itu hingga Wira sedikit terhuyung.
"Turunlah dari panggung ini, Wira. Lepaskan kalungmu itu sebelum aku sendiri yang menariknya di depan semua orang."
"Rangga Gading! Kau sudah keterlaluan!" teriak Ki Galih, wajahnya merah padam.
Iya bersiap mengangkat tongkatnya untuk memberi pelajaran.
Tapi, sebelum situasi semakin memanas, Wira mengangkat tangan kanannya.
Isyarat itu membuat Ki Galih menahan langkahnya dengan wajah penuh kekecewaan dan rasa iba.
Wira membuang napas panjang. Beban berat yang menghimpit dadanya selama beberapa bulan terakhir terasa mencapai puncaknya sore ini.
Ia tidak boleh egois untuk mempertahankan sebuah posisi yang belum bisa ia jaga secara fisik.
Tapi, di sisi lain ia harus memenuhi takdirnya untuk menjaga padepokan tetap berdiri tegak.
Wira melangkah maju, ia berdiri tegak, menatap langsung ke arah jajaran kursi para tetua yang membisu, sebagian tertunduk, di area depan padepokan.
"Para tetua yang saya hormati, serta seluruh saudara di Padepokan," ucap Wira.
Suaranya tidak keras, tapi bergema dengan sangat jelas karena ketegasan yang ada di dalamnya.
Wira mengulurkan kedua tangannya ke depan. Jemarinya perlahan menyentuh kalung liontin taring harimau lambang kehormatan yang melingkar di lehernya.
Dengan perlahan pelan, kalung itu ia lepas dari tubuhnya.
"Aku... Rakeyan Wirasasana, hari ini secara resmi mengundurkan diri dari posisi murid utama," lanjut Wira, suaranya lemah penuh keterpaksaan.
Ki Galih bergeming, tak percaya.
"Keputusan yang sangat bijak, Sepupuku yang malang," bisik Rangga penuh kemenangan.
Ia berbisik saat Wira melintas di sampingnya.
"Setidaknya kau tahu diri sebelum dipermalukan lebih jauh."
Wira tidak menoleh. Ia meletakkan kalung lambang murid utama itu di atas meja batu persembahan di depan para tetua dewan adat Padepokan.
Setelah memberikan penghormatan terakhir dengan membungkukkan badan, Wira membalikkan tubuhnya.
Ia melangkah turun dari panggung batu dengan dagu tetap terangkat tinggi.
Ia melewati kerumunan murid padepokan yang menatapnya dengan berbagai macam pandangan—ada yang mencemooh, ada yang merasa kasihan, dan ada pula yang memalingkan muka karena kecewa.
Wira mengabaikan mereka semua. Ia terus berjalan dengan langkah pasti, meninggalkan hiruk-pikuk takhta yang telah membesarkan nama sekaligus menghancurkan hidupnya dalam sekejap.
Ki Galih Warsa hanya bisa menggelengkan kepala menatap punggung tegap pemuda itu yang perlahan menjauh.
"Padepokan ini baru saja kehilangan mutiara terbaiknya demi sekumpulan orang yang serakah yang tidak tahu balas budi," gumam sang veteran lirih dengan nada sesal yang dalam.
Daftar bab
64 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








