

"Arya."
Mendengar namanya dipanggil dengan nada yang lembut namun penuh haru, pemuda itu berbalik badan dengan hati yang tiba-tiba berdebar kencang. Sebuah senyum lebar melebar di wajahnya, mata yang dulunya seringkali suram karena kesedihan kini bersinar dengan cahaya yang tak pernah ada sebelumnya saat melihat sosok gadis yang baru saja memasuki restoran. Di matanya, dia terlihat begitu cantik dan menawan—setiap helai rambut yang tertiup angin, setiap lekukan senyum di bibirnya, semuanya membuat hatinya terasa hangat dan penuh seperti akan meledak.
"Maaf ya, aku terlambat. Ada masalah kecil di kantor dan aku harus menyelesaikannya dulu..." Ucapnya dengan suara yang sedikit terengah-engah, wajahnya sedikit memerah karena kesal dengan diri sendiri yang tidak bisa datang tepat waktu. Tangannya tergenggam erat di gagang tas, mata tidak berani langsung menatap Arya karena merasa bersalah.
Arya segera menggelengkan kepalanya, tatapan matanya penuh dengan pengertian dan cinta yang mendalam. "Kau tidak terlambat sayang, aku juga baru tiba saja." Ucap pria itu dengan nada yang menenangkan, kemudian dengan cepat bangkit dari tempat duduknya. Jantungnya berdebar semakin keras saat dia meraih buket bunga merah muda yang telah ia sediakan di atas meja—bunga favoritnya, yang dia pilih sendiri dengan cermat pagi itu sambil membayangkan senyumnya yang indah. Saat menghampiri sang kekasih, tangannya sedikit gemetar karena kegembiraan yang tak tertahankan.
"Untukmu..." Kata Arya sambil memberikan buket bunga itu dengan hati yang penuh kerinduan. Ada rasa harap-harap cemas di dalam dirinya—apakah dia akan menyukainya? Apakah warna dan jenisnya tepat?
"Terimakasih, kasih Arya atas bunganya." Ucap gadis itu dengan mata yang tiba-tiba mengkilap karena kebahagiaan yang mendalam. Dia menerima buket dengan kedua tangan, menghirup aroma harumnya dengan hati yang lega dan bahagia. Wajahnya menerawang dengan senyum tulus yang membuat Arya merasa seolah semua kesusahan yang pernah dia alami lenyap begitu saja. "Ini sangat indah sekali... benar-benar tidak ada kata-kata untuk menggambarkannya."
"Aku senang kau suka." Ucap Arya dengan senyum yang penuh kehangatan, ada rasa lega yang mengalir dalam dirinya, campuran dengan rasa cinta yang semakin membanjiri hatinya. Matanya tidak bisa lepas dari wajahnya yang cantik itu, ingin menyimpan setiap detilnya dalam ingatan selamanya.
"Tentu saja! Ini adalah bunga paling cantik yang pernah kubeli..." Jawab gadis itu sambil tersenyum lebar padanya, lalu dia mengangkat wajahnya dan menatap mata Arya dengan rasa sayang yang sama mendalamnya. Kedua orang itu hanya saling memandang sebentar, seolah dunia luar tidak ada lagi untuk mereka.
Sedangkan mereka asik saling menatap dengan hati yang penuh cinta dan kehangatan, pelayan datang dengan sopan membawakan buku menu. Mereka sedikit terkejut dan langsung kembali ke kenyataan, wajah mereka sama-sama memerah karena rasa malu yang lucu. Saat memilih menu, suasana tetap hangat dan menyenangkan—mereka saling bertanya pendapat, tertawa kecil saat salah satu memilih makanan yang cukup unik, dan berbagi cerita tentang keseharian mereka dengan penuh semangat. Arya mendengarkan setiap kata yang keluar dari bibirnya dengan seksama, kadang tersenyum lembut atau memberikan tanggapan yang penuh perhatian. Di dalam hati, ada rasa berat yang menyelimuti dirinya—dia sudah bersiap untuk memberitahukan niatnya malam itu, namun setiap kali mau membuka mulut, rasa takut kehilangan dia membuatnya ragu dan memilih untuk menyimpannya terlebih dahulu. Saat hidangan mulai disajikan dan mereka menikmatinya bersama, Arya hanya bisa berdoa dalam hati agar kelak dia bisa menerima apa yang akan dia katakan.
Arya lantas menarik kursi untuk gadis itu dengan gerakan yang biasanya penuh perhatian, namun kali ini ada getaran halus yang tak bisa dia sembunyikan di ujung jarinya. Baru kemudian dia kembali duduk di kursinya sendiri, tubuhnya terasa lebih berat dari biasanya seolah membawa beban yang tak terlihat. Posisi mereka kini saling berhadapan setelah dia duduk, dan jarak meja yang sebenarnya tidak jauh rasanya seperti jurang yang lebar tak terjangkau.
"Aku jadi penasaran apa yang ada dibalik semua sikap manismu ini," ujarnya dengan senyum ringan, namun matanya yang mengintip Arya seolah mencari sesuatu yang tersembunyi.
"Sebentar lagi kau juga akan tahu," jawab Arya dengan nada yang dia coba buat tetap misterius, padahal hatinya sudah berdebar kencang seperti akan melompat keluar dari dada. Jantungnya berdegup tidak teratur, setiap denyutnya mengguncang seluruh tubuhnya dari dalam.
Tak lama pelayan datang dan mereka mulai sibuk memilih menu. Makan malam itu awalnya berjalan ringan dan menyenangkan, atau setidaknya itu yang Arya coba ciptakan dengan cerita-cerita lucu tentang kejadian kantornya. Dia tertawa lepas, tapi tawa itu rasanya hampa di dalam dadanya, seperti suara yang hanya keluar dari bibir tanpa menyentuh hatinya. Arya dan kekasihnya banyak membicarakan hal-hal yang menyangkut keseharian mereka – dari acara TV yang baru saja mereka tonton hingga rencana belanja bulanan. Arya tidak sedikit pun menyinggung soal niatnya malam itu, dia berpikir untuk menyimpannya dahulu setidaknya sampai seluruh sajian di atas meja habis, karena dia ingin momen bahagia itu bertahan sebentar lagi sebelum dia membawa mereka ke babak berikutnya yang dia duga akan lebih indah.
"Arya, sebenarnya ada yang ingin aku katakan," kata sang kekasih, ekspresinya tiba-tiba berubah menjadi begitu serius, hingga kedalaman matanya yang biasanya hangat kini terasa seperti lautan beku yang menusuk.
"Silahkan, aku akan mendengarmu." Satu tangan Arya masuk ke dalam saku jaket dengan gerakan yang sedikit tergesa-gesa. Jari-jarinya langsung menemukan kotak beludru yang sudah dia peluk-peluk berkali-kali dalam beberapa hari terakhir, teksturnya yang lembut kini terasa seperti duri yang menusuk kulitnya dari dalam. Dia menggenggamnya erat, seperti menggenggam harapan terakhirnya.
"Aku mau kita putus."
Kata-kata itu keluar dengan begitu jelas dan lugas, seolah sebuah guntur yang menghantam tepat di tengah kepala Arya. Semua skenario yang ada di kepala Arya – dari cara dia akan membuka kotak itu hingga ekspresi bahagia yang mungkin akan muncul di wajah kekasihnya – tampaknya hanya tertinggal sebatas niat, dan tidak pernah terealisasikan menjadi sebuah kenyataan. Sebelum kata-kata yang telah dia susun dengan hati-hati meluncur dari bibirnya, dia langsung harus menerima kenyataan yang bak mimpi buruk yang tak bisa dia tinggalkan. Terus terang saja hubungannya dengan sang kekasih baik-baik saja – setidaknya menurut dirinya. Lantas kenapa? Benar-benar kenapa? Rasa bingung menyelimuti dirinya hingga membuatnya sulit bernapas.
Kening Arya berkerut dengan sangat dalam, garis antara alisnya membentuk lekukan yang jelas sebagai pertanda dia benar-benar tidak mengerti atas kata-kata yang gadis itu ucapkan. Matanya yang biasanya ceria kini penuh dengan kebingungan dan rasa sakit yang mulai merayap perlahan.
"Aku mau kita pisah saja. Kita akhiri hubungan kita."