

Suasana di lapangan tempat digelarnya event musik besar itu mendadak berubah mencekam. Lampu panggung sudah menyala, layar LED raksasa menampilkan hitung mundur menuju pembukaan konser. Di balik panggung, tim teknis masih lalu-lalang, mengecek kabel dan perangkat terakhir.
Tepat satu jam sebelum konser dimulai, seorang teknisi berlari ke arah Bara Satya Elvano dengan wajah pucat.
“Mas Bara!” napasnya terengah. “Kita ada masalah besar.”
Jantung Bara langsung berdegup kencang. “Masalah apa?”
“Audio utama buat penyanyi … nggak ada.”
Bara membeku. “Maksudnya?”
“Rack wireless mic-nya kosong, Mas. In-ear monitor yang ada cuma cadangan. Yang sesuai rider artis … nggak ketemu.”
“Mustahil,” potong Bara cepat. “Semua alat itu sudah aku cek dua hari lalu. Sudah dicatat, sudah dikonfirmasi.”
Teknisi itu menggeleng panik. “Sekarang nggak ada di gudang, Mas. Truk yang datang juga nggak bawa itu.”
Dalam hitungan menit, kabar tersebut menyebar seperti api. Pihak penyelenggara datang dengan wajah tegang, diikuti beberapa orang manajemen artis.
“Bagaimana ini?” suara manajer artis meninggi. “Kami nggak bisa tampil tanpa alat sesuai rider. Ini standar profesional.”
Pihak penyelenggara langsung menoleh ke Bara.
“Mas Bara, ini urusan EO kalian, kan? Kamu leader-nya?”
Bara mengangguk kaku. “Iya, Pak. Tapi alat-alat itu memang sudah dijadwalkan tersedia. Saya sendiri yang—”
“Faktanya sekarang nggak ada!” bentak sang penyelenggara. “Penonton sudah penuh. Hitung mundur sudah jalan!”
Bara merogoh ponselnya, jari-jarinya gemetar saat membuka catatan logistik. Semua data ada. Semua tercatat lengkap. Bahkan ada bukti foto pengecekan.
Ia menoleh ke salah satu anggota timnya. “Kamu yang pegang gudang, kan? Alat rider itu terakhir di mana?”
Orang itu mengangkat bahu. “Saya taunya sesuai data Mas Bara. Tapi pas dicek sekarang, ya nggak ada.”
Nada suaranya datar. Terlalu datar.
Belum sempat Bara berpikir lebih jauh, panggilan dari manajemen EO masuk.
“Apa yang kamu lakukan, Bara?” suara atasannya dingin dan penuh tekanan.
“Kenapa alat utama artis tidak tersedia?”
“Pak, itu sudah saya urus. Ada di checklist. Bahkan sudah dikonfirmasi vendor—”
“Checklist tidak berarti apa-apa kalau barangnya tidak ada!” potongnya tajam. “Ini kelalaian fatal.”
Situasi makin tak terkendali. Manajemen artis menolak tampil. Penyelenggara murka. Penonton mulai gelisah karena panggung tak kunjung dibuka.
Akhirnya, dengan dada sesak, Bara naik ke atas panggung.
“Mohon perhatian,” ucapnya melalui mikrofon. Suaranya berusaha terdengar tenang meski tenggorokannya kering.
“Kami mohon maaf. Karena kendala teknis yang tidak dapat kami atasi dalam waktu singkat, konser malam ini terpaksa ditunda.”
Keributan pun pecah.
“Ditunda apa dibatalin?!”
“EO nggak becus!”
“Balikin duit kami!”
Makian, teriakan, dan kekecewaan menggema di seluruh venue. Pihak keamanan bergerak cepat, membentuk barisan untuk mencegah kericuhan. Refund pun dijanjikan.
Namun, badai sesungguhnya justru menanti Bara setelah venue dikosongkan.
Ia dipanggil ke kantor manajemen EO malam itu juga.
“Kami sudah berdiskusi,” ujar salah satu petinggi sambil menyilangkan tangan. “Kerugian ini akan kamu tanggung, Bara.”
“Apa?” Bara terperanjat. “Pak, ini bukan kelalaian saya. Ada alat yang sengaja tidak dikirim atau—”
“Kami tidak mau tahu,” potongnya dingin. “Kamu yang pegang logistik. Kamu yang bertanggung jawab.”
Bara mengepalkan tangan menahan amarah. Sebenarnya ia bisa dengan mudah mengatasinya. Tinggal menghubungi sang papa, maka semua beres. Tetapi Bara sudah bertekad untuk membangun kariernya sendiri. Lepas dari peran keluarganya.
"Astaga, apa yang harus kulakukan?" gumamnya frustasi, sambil mengusap kasar wajahnya.
Ditengah tekanan pikiran dan keadaan, ponsel Bara bergetar meminta atensi.
"Katyana," gumamnya, saat melihat nama rekan kerja sekaligus teman baiknya itu menghias layar ponselnya. Bara gegas menerima panggilannya.
"Halo, Katya."
"Bar. Jemput aku, ya." Suara Katyana terdengar serak dan mengambang, seperti ditelan oleh bunyi berisik di tempat Katyana berada saat itu. Bara mengerutkan kening.
"Katya, are you okey? Kamu di mana?" Perasaan Bara cemas seketika. Mengingat temannya itu sedikit ceroboh.
"Di klub biasa. Buruan ke sini, Bar. Pusing banget." Sambungan langsung terputus begitu saja sebelum Bara bertanya lebih banyak.
"Sial. Kenapa harus di saat seperti ini sih, Katya?" geramnya.
Bara sudah tidak bisa lagi berpikir. Fokusnya bercabang. Rasa khawatirnya terhadap Katyana jauh lebih besar ketimbang memikirkan nasibnya sendiri. Bara gegas beranjak meninggalkan kantor dan tumpukan masalah yang belum menemukan titik terang.
***
Suara musik EDM, bau alkohol, serta suasana ingar bingar khas tempat hiburan malam menyambut kedatangan Bara. Tubuh tegapnya, aroma parfum maskulin serta penampilannya yang manly—dengan kemeja lengan panjang yang digulung sampai siku. Dipadukan dengan celana bahan style orang kantoran. Cukup mencuri atensi beberapa pengunjung wanita.
"Nyusahin aja, sih! Udah tau nggak biasa minum. Pake sok-sok'an ke klub sendiri," geramnya. Saking kesalnya sampai tidak sengaja membunyikan klakson berulang. Memancing emosi pengemudi lain.
"Terbang sana, kalo nggak mau sabar!" umpat seorang pengemudi mobil sambil mengacungkan jari tengah.
"Shit!" balas Bara geram.
Perjalanan ke klub malam itu benar-benar menguras kesabaran Bara. Begitu sampai, pria itu membanting pintu mobil hingga menimbulkan bunyi kencang yang cukup dominan di tengah sunyinya malam. Lalu dengan langkah lebar bergegas masuk ke klub. Seorang bartender yang dikenalnya menunjuk Katyana yang sedang tipsy.
"Tambah lagi, dong." Suara familiar itu sampai ke telinga Bara. Rahangnya mengeras. Lalu buru-buru mendekat.
Tanpa aba-aba merampas seloki di tangan Katyana. "Kalo nggak bisa minum, jangan sok-sok'an!" tegurnya dingin.
Perempuan cantik berlesung pipi. Berambut lurus sebahu, dengan bagian bawahnya curly itu refleks menoleh. Kulit pipinya yang putih itu tampak kemerahan.
"Apa, sih? Rese!" umpatnya.
"Kamu yang rese. Nyusahin aja bisanya. Nggak tau orang capek apa gimana? Aku masih ada urusan di kantor. Buru-buru ke sini jemput kamu," sahut Bara ketus.
"Nggak ada yang nyuruh kamu dateng." Katyana masih bisa menyahut. Meski kepalanya mulai berdenyut. Lupa kalau ia sendiri yang tadi menelepon minta dijemput.
"Nggak usah bawel. Ayo pulang!" titah Bara. Ia membayar minuman yang sudah diteguk sahabatnya itu. Untung saja masih tersisa lembaran uang cash di dompetnya.
Aroma parfum maskulin pria itu menggoda indra penciuman Katyana yang mulai setengah sadar. Alih-alih marah, perempuan itu justru bersandar nyaman. Menghirup parfum Bara.
"Keenakan banget kamu," sindir Bara. Tetapi membiarkan saja perempuan itu dengan posisinya.
Justru mempermudah Bara membawanya pergi dari tempat itu. Tangannya merangkul bahu Katyana. Menuntunnya keluar.
"Mau ke mana?" rengek Katyana.
"Pulang," sahut Bara sambil terus menuntunnya.
"Nggak mauuu ...." Perempuan itu kembali merengek. "Bawa aku ke mana aja. Asal jangan pulang ke rumah. Aku nggak mau pulang," ujarnya kemudian.
Bara menghela napas berat. "Benar-benar nyusahin," sahutnya.
Pria itu membuka pintu penumpang depan. Lalu dengan hati-hati membantu Katyana duduk. Tangannya dengan sigap melindungi puncak kepala perempuan tersebut agar tidak terbentur kap mobil.
"Dasar ceroboh. Gimana kalo aku nggak datang? Bisa-bisa dibawa kabur pria hidung belang kalo nggak sadar begini," monolognya.
Untuk beberapa detik Bara masih menatap Katyana. Tangannya terulur mengusap pipi perempuan itu yang masih tampak kemerahan.
"Jangan bikin cemas begini, Katya," ucapnya lirih.
Sambil jalan, Bara menimbang-nimbang. Hendak membawa Katyana ke mana? Mengingat perempuan itu tadi menolak diantar pulang ke rumah. Bara sedikit tau mengenai kondisi keluarga sahabatnya tersebut. Orang tua Katyana sedang tidak baik-baik saja. Mungkin itu juga yang membuat sahabatnya itu melampiaskan dengan pergi ke klub, lalu berakhir mabuk.
Bara melirik Katyana. Tidak punya pilihan lagi, selain membawa pulang ke kontrakan sempitnya. Ia terpaksa mengambil keputusan itu. Otaknya terlalu lelah untuk diajak berpikir keras. Tubuhnya sudah sangat penat, ingin segera bertemu dengan kasur busa tipisnya.
***
"Katya, bangun dulu. Kita sudah sampai." Bara menepuk-nepuk pelan pipi perempuan itu. Tetapi tidak ada respon. "Astaga. Bener-bener perempuan satu ini. Untung sahabat,"
Dengan gerakan sigap Bara melepas kaitan sabuk pengaman Katyana. Lalu gegas keluar, menuju pintu penumpang. Terpaksa membopong sahabatnya itu.
"Dikira tubuhnya ringan apa gimana?" Bara menggumam menahan kesal.
Badannya sudah sangat lelah, masih harus menahan berat tubuh Katyana sampai masuk ke kontrakan.
"Kamu hutang banyak, Katya. Sudah sangat merepotkan malam ini." Bara bermonolog sambil menatap paras perempuan tersebut.
Katyana menggeliat kecil, lalu menyusupkan wajah ke dada Bara. Napas hangatnya menyapu dada Bara.
Bara pria normal. Gerakan tanpa sadar yang dilakukan oleh sahabatnya itu tentu dengan mudah memancingnya. Ia menggeram tertahan. Merasakan sensasi panas yang mulai merambat ke sekujur tubuh.
"Sial," umpatnya pelan.
Ia terpaksa menurunkan Katyana, menahan tubuh perempuan itu dengan satu tangan. Sementara tangan satunya ia gunakan untuk membuka kunci pintu. Dengan gerakan cepat Bara kembali membopong Katyana. Menggerakkan satu kakinya untuk menutup pintu. Lalu melangkah menuju satu-satunya kamar di kontrakan tersebut.
"Huh, harusnya aku bisa tidur nyaman malam ini. Tapi gara-gara kamu, terpaksa berbagi tempat tidur," rutuknya sambil membaringkan Katyana di kasur sederhananya.
Bara enggan tidur di sofa luar yang keras dan tak layak. Tubuhnya terlalu lelah, dan ia juga tak tega membiarkan Katyana beristirahat di sana. Setelah memastikan perempuan itu tertidur nyaman dan menarik selimut hingga sebatas dada, Bara masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dari peluh seharian.
Beberapa menit kemudian, ia kembali ke kamar sempit itu hanya berbalut handuk, lalu menyalakan kipas angin. Bara menghampiri kasur untuk memastikan Katyana baik-baik saja. Aroma sabun yang masih melekat rupanya mengusik kesadarannya.
Tanpa sadar, Katyana meraih lengan Bara. Tarikan mendadak itu membuat Bara kehilangan keseimbangan dan terjatuh, menimpa tubuhnya.
Bara menggeram berat. Tubuhnya yang baru saja diguyur dinginnya air, tiba-tiba terasa panas akibat ulah Katyana.
"Hentikan, Katya," geramnya.
Sayangnya sahabatnya itu tidak mendengar. Nalurinya bekerja di alam bawah sadar.
"Jangan salahkan aku kalau besok pagi kamu menyesali malam ini," ucap Bara dengan nada berat.