

"Kamu bodoh sekali, Rio. Kenapa kamu nggak nuntut hak waris yang lebih?" suara Vania tajam, penuh amarah. Ia berjalan cepat di samping Rio di tengah lorong kampus yang tidak terlalu ramai.
Rio mendengus pelan, tangannya menyelinap ke saku celana jeans lusuhnya. "Aku bisa apa, Van?"
Vania berhenti mendadak. Ia menoleh, mata cokelatnya menyipit. "Jadi kamu terima saja dapat rumah reyot di pinggir sawah? Itu aja? Bandingkan sama sepupumu yang dapat apartemen, saham perusahaan, mobil sport. Puluhan miliar, Rio. Puluhan!"
Rio menatap lantai dengan tatapan kosong. "Setidaknya aku nggak ngontrak lagi. Rumah itu… cukup buat mulai dari nol."
"Cukup?" Vania tertawa kecil. "Cukup buat masa depan kita? Aku nggak mau menikah dan menghabiskan sisa umurku sama lelaki miskin, Rio. Aku nggak mau hidup susah hanya karena kamu terlalu pengecut buat melawan mereka. Sebaiknya kita putus. Aku gak sudi lagi pacaran dengan orang bodoh sepertimu."
Kata-kata itu seperti tamparan. Rio membuka mulut, tapi tak ada suara yang keluar. Vania sudah berbalik, tas selempangnya bergoyang saat ia berjalan menjauh.
Ia mematung di sana, sendirian. Air mata yang ditahannya akhirnya jatuh satu tetes, membasahi ujung sepatu. "Bodoh," gumamnya pada diri sendiri. "Kau selalu bodoh."
***
Malam itu hujan turun deras saat Rio tiba di rumah warisan di tepi sawah. Lampu jalan desa yang redup berkedip-kedip, seolah enggan menerangi. Rumah itu berdiri sendirian di ujung pematang sawah. Bangunan semi permanen sederhana bercat pudar, atap gentingnya agak melengkung karena usia. Di belakangnya, hamparan sawah membentang sampai ke lereng bukit. Malam itu, Rio hanya ditemani suara katak dan gemericik air hujan yang jatuh ke genangan.
Ia menyalakan lampu bohlam kuning di ruang tengah. Cahayanya redup, membuat bayangan tampak di dinding berplester retak. Di sudut ruangan ada meja kayu kecil, di atasnya sebuah foto keluarga lama, ayahnya James Brata yang masih kecil tersenyum riang, di gendong oleh kakek dan neneknya. Foto itu sudah menguning di makan usia. Rumah ini adalah rumah kakek dan neneknya. Rumah pertama kakeknya sebelum mendadak berubah menjadi kaya raya dengan bisnis menggurita.
Rio menjatuhkan tas ranselnya ke lantai, lalu duduk di lantai yang dingin. Hujan semakin deras, membentur atap dengan suara ritmis.
Rio bangkit pelan, mendekati foto itu lagi. Jarinya menyentuh kaca yang sudah agak buram karena debu. "Hebat sekali kakek," gumamnya, suaranya hampir tak terdengar di tengah deru hujan. "Dulu dia petani miskin, namun sejak kematian nenek ia tidak menyerah. Malah bangkit dan menjadi pengusaha sukses."
Ia ingat cerita yang sering diceritakan ayahnya dulu, saat Rio masih kecil. Kakek Marco dulunya hanya punya sepetak sawah warisan, yang menjadi modal untuk hidup dari hari ke hari. Nenek wanita desa yang lembut dan penyayang, meninggal karena sakit yang tak mampu mereka obati. Alih-alih hancur, kakek justru bangkit. Ia pindah ke kota, mulai dari nol sebagai buruh pabrik, lalu belajar bisnis sendiri. Bertahun-tahun kemudian, nama Marco Brata jadi legenda. Dari petani jadi raja properti dan perdagangan.
Tapi justru karena ayah Rio menikah dengan ibu Rio yang tak direstui kakeknya, semua hak waris dicabut darinya. Aturan keluarga mereka jelas, pembangkang tak pantas mewarisi kekayaan.
Rio menatap foto itu lama sekali. Ada sesuatu di mata kakek yang membuatnya terenyuh. "Kalau kakek bisa bangkit dari nol… kenapa aku merasa ini akhir?" bisiknya lagi.
Hujan masih mengguyur deras di luar. Rio mundur selangkah, menatap ruangan kecil yang kini jadi miliknya.
Rio menarik napas panjang, lalu mengambil tas ranselnya dan berjalan menuju kamar satu-satunya di rumah ini.
Pintu kamar sudah agak miring, engselnya berderit pelan saat Rio mendorongnya. Cahaya bohlam kuning dari ruang tengah merembes masuk, cukup untuk menampakkan isi ruangan yang sederhana sekali. Kamar itu kecil, mungkin tak lebih dari empat kali empat meter. Dindingnya berplester putih yang sudah menguning dan retak-retak halus di sudut-sudut. Di tengah ada kasur kapuk tua dengan sarung bantal yang warnanya pudar. Selimut tipis terlipat rapi di ujungnya, mungkin sudah bertahun-tahun tak disentuh.
Di sudut kiri, ada meja kecil dari kayu jati yang sudah lusuh. Permukaannya penuh goresan dan noda hitam bekas tumpahan tinta atau kopi. Salah satu kakinya agak goyang, seolah pernah ditendang. Di atas meja itu hanya ada sebuah lampu meja kecil yang bohlamnya sudah pecah, dan sebuah laci tunggal yang tertutup rapat.
Rio menjatuhkan tasnya di samping kasur, lalu duduk di pinggirnya. Kasur itu berderit pelan. Ia menghela napas lagi, lebih panjang kali ini.
"Rumah pertama kakek," gumamnya sendiri. "Dan sekarang jadi rumahku. Makasih kek, ini lebih dari cukup."
Ia membaringkan tubuh di kasur kapuk itu. Bantalnya keras, berbau debu, tapi entah kenapa terasa nyaman. Rio menatap langit-langit kayu yang penuh sarang laba-laba tipis. Hujan masih mengguyur atap, ritmenya mulai melambat. Ia mencoba memejamkan mata, berharap tidur bisa menenggelamkan semua yang terjadi hari ini.
Tapi matanya tak mau terpejam lama.
Ada sesuatu.
Perasaan aneh yang merayap pelan dari dada ke ujung jari. Seperti ada yang memanggil dari kejauhan. Rio membuka mata lagi, menatap kegelapan kamar. Napasnya terasa lebih berat.
Pandangannya tertuju ke meja kecil di sudut.
Laci itu.
Laci tunggal yang tertutup rapat tadi tiba-tiba terasa aneh. Seolah-olah selama ini Rio tahu ada sesuatu di sana, tapi baru sekarang ia sadar. Perasaan itu semakin kuat, seperti sebuah dorongan dalam yang sulit diabaikan. Seperti ada tangan tak terlihat yang menarik lengannya pelan-pelan ke arah meja.
Rio duduk lagi, menggosok wajahnya kasar. "Apa-apaan ini," gumamnya kesal pada diri sendiri. "Capek aja kali, Rio. Besok aja mikirnya."
Tapi tubuhnya tak nurut. Kakinya turun dari kasur, melangkah pelan ke sudut kamar. Lantai terasa semakin dingin. Ia berdiri di depan meja lusuh itu, menatap laci yang tertutup. Gagangnya dari besi tua, sudah berkarat sedikit.
"Gila. Aku lagi ngapain sih," katanya pelan, hampir tertawa kecil pada dirinya sendiri.
Tapi tangannya sudah bergerak sendiri. Jari-jarinya menyentuh gagang laci, dingin dan kasar. Ia ragu sejenak, lalu menariknya pelan.
Laci itu terbuka dengan bunyi gesekan kayu yang pelan.
Di dalamnya, hampir kosong.
Hanya ada satu benda, sebuah buku catatan kecil bersampul kulit cokelat tua yang sudah retak-retak. Di sampulnya ada inisial yang diukir tangan M.B. Marco Brata.
Rio mengambil buku itu dengan tangan yang sedikit gemetar. Ia membukanya halaman pertama.
Yang ia lihat bukan tulisan tangan kakek seperti yang ia harapkan.
Halaman itu penuh dengan simbol-simbol aneh. Garis-garis melengkung, titik-titik yang tersusun membentuk pola seperti bintang atau spiral, huruf-huruf yang mirip tapi tidak sama dengan huruf Latin, Arab, atau aksara apa pun yang pernah Rio lihat di buku pelajaran atau internet. Bukan bahasa Indonesia kuno, bukan Jawa Kuno, bukan Sanskerta, bukan juga rune atau hieroglif yang pernah ia lihat di film dokumenter. Ini sesuatu yang lain. Sesuatu yang terasa asing sepenuhnya, seolah tidak berasal dari dunia ini.
Rio mengerutkan kening, mencoba membaca atau setidaknya memahami baris pertama. Bibirnya bergerak pelan, mengucapkan suara-suara yang tak bermakna, mencoba mengikuti bentuk simbol itu.
Tak ada yang masuk akal.
Tapi saat mulutnya membentuk suku kata ketiga, sesuatu berubah.
Udara di kamar tiba-tiba terasa lebih berat, lebih dingin. Bohlam kuning di ruang tengah berkedip sekali, dua kali, lalu padam sepenuhnya. Kegelapan menyelimuti ruangan, hanya diterangi samar-samar oleh cahaya bulan yang menyusup lewat celah jendela.
Lalu, dari tengah kamar muncul pusaran cahaya kecil.
Awalnya hanya sebesar bola lampu, berwarna biru keperakan yang dingin. Pusaran itu berputar lambat, tapi semakin cepat, semakin lebar. Udara di sekitarnya bergetar, membuat rambut Rio berdiri. Suara dengung pelan terdengar, seperti ribuan serangga kecil yang berbisik di telinga.
Rio mematung.
Napasnya terhenti. Jantungnya berdegup kencang sampai terasa sakit di dada. Buku catatan itu hampir jatuh dari tangannya, tapi ia menggenggamnya erat.
Pusaran cahaya itu terus membesar, menyedot debu-debu kecil dari lantai dan mengangkatnya ke dalam pusaran. Cahaya itu semakin terang, hampir menyilaukan, tapi Rio tak bisa mengalihkan pandang. Kakinya seperti tertancap di tempat, tubuhnya membeku dalam ketakutan.
Ia ingin berteriak. Ingin lari. Tapi tak ada suara yang keluar dari tenggorokannya.
Hanya ada pusaran itu, yang kini hampir menyentuh langit-langit kamar kecil, dan rasa takut yang membanjiri seluruh tubuhnya.
***** Bersambung *****