Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Harta Tahta Wanita

Harta Tahta Wanita

rindiyoon | Bersambung
Jumlah kata
61.5K
Popular
2.1K
Subscribe
788
Novel / Harta Tahta Wanita
Harta Tahta Wanita

Harta Tahta Wanita

rindiyoon| Bersambung
Jumlah Kata
61.5K
Popular
2.1K
Subscribe
788
Sinopsis
18+PerkotaanSlice of lifeKonglomeratMengubah NasibHaremSupernatural
Agus hampir saja kehilangan nyawanya, tapi seorang Kakek menolongnya, Kakek yang memberikan keberuntungan bagi Agus si pria miskin yang hidup sebatang kara. Kehidupan Agus berubah drastis semenjak Kakek itu menolongnya. Agus tidak perlu bekerja keras lagi, ia hanya perlu belajar, menurut, dan patuh pada perintahnya. Namun, kehidupan itu menggelapkan matanya. Agus terlalu menikmati hidupnya, jabatannya, dan wanita-wanitanya.
1. Nasib

Terik matahari menyinari kota tersebut. Kota yang saat ini sedang melakukan pembangunan untuk sebuah Apartment mewah milik SA Company.

"Lelah," gumam Agus setelah bekerja selama dua jam tanpa henti.

Sejenak Agus beristirahat. Agus meneguk air pada botol minumnya, wajah dan tubuh Agus sudah basah karena berkeringat.

"Sepertinya matahari ada diatas kepalaku banget," ujar Agus merasa kepanasan.

Disaat Agus sedang beristirahat, tiba-tiba saja seseorang menghampirinya.

"Enak ya kerjanya cuma ongkang-ongkang kaki," sindir seorang pria.

Agus menatap kesal pada pria itu pria yang selalu membuat emosinya meledak-ledak. Namun, Agus selalu bersabar.

"Kalau anak buah kesayangan mandor emang gitu," celetuk pria lainnya yang ikut menyindir.

Agus menatap dua pria itu, Edi dan Udin, mereka berdua memang tidak menyukai kehadiran Agus.

"Saya sudah bekerja selama dua jam tanpa henti, tapi kalian selalu saja seperti itu!" Agus mulai tidak terima, apa lagi saat ini cuaca sangat panas.

Edi berdecih kesal, ia benar-benar tidak menyukai Agus karena Joko selaku mandor di sana selalu memperlakukan Agus dengan berbeda.

Agus seperti anak emas bagi Joko, tapi itu sebenarnya hanya perasaan Edi saja yang selalu iri dengki, karena Agus yang rajin bekerja dan suka mendapat pujian dari mandor.

"Gus, bisa ke ruangan sebentar?" Joko menghampiri ketiga anak buahnya, tapi ia memilih satu diantara mereka.

Sontak Agus terkejut. "Ba ... Baik." Agus mulai melangkah pergi.

Edi semakin panas melihat Joko selalu memanggil Agus, dan semenjak ada Agus, posisi Edi seperti terabaikan, padahal selama ini Joko selalu mengandalkan Edi.

"Sini!" Edi memberikan kode pada temannya untuk mendekat.

"Ya." Udin mendekati.

Edi mulai berbisik pada Udin untuk merencanakan sesuatu, rencana yang ditujukan pada Agus.

"Oke." Udin mengangguk, ia setuju dengan rencana temannya.

Edi dan Udin tidak hanya berteman di tempat kerja tersebut, tapi mereka sudah bersahabat sejak kecil.

"Ada apa, Bos?" Agus sedikit membungkuk sopan.

Joko adalah mandor di sana, Agus adalah pegawainya yang sangat sopan dan patuh.

Joko suka dengan kinerja Agus yang tidak mudah mengeluh dan selalu menurut apa yang diperintahkan, dan tentu berbeda dengan Edi yang selalu banyak protes.

Agus hidup sebatang kara, ia tidak pernah tahu siapa orang tuanya, selama ini ia hidup sendirian dan bekerja serabutan.

Namun, saat Agus bertemu dengan Joko, hidupnya sedikit berubah sedikit lebih baik, tapi tetap saja nasib buruk selalu ada padanya.

Mungkin masih ini sudah melekat pada diri Agus, Agus selalu menerima kejahatan dari rekan kerjanya, dan Agus selalu menerima itu.

Agus pernah merenungkan nasibnya dan takdirnya, tapi sepertinya Agus sulit menemukan nasib baiknya.

"Sepertinya besok akan ada pemilik dari SA Company ke sini, jadi kau harus tetap menjaga sikap baikmu padanya, karena sepertinya besok saya tidak bisa menemani pemilik Apartemen ini," ucap Joko.

Seketika Agus terdiam, ia mulai mencerna apa yang dikatakan oleh mandornya, lalu ia berkata. "Baik!" Seperti itulah Agus, selalu menurut.

Setelah Joko menjelaskan pada Agus, Agus kembali bekerja dan tidak ingin menyia-nyiakan waktunya hanya untuk beristirahat.

**

Pukul 5 sore. Pekerjaan selesai, Agus bersiap-siap pulang, Agus tinggal di sebuah mess yang sudah disediakan oleh perusahaan.

Agus sangat bersyukur sekali bertemu dengan Joko, jadi Agus tidak perlu memikirkan harus tinggal di mana.

Awalnya Agus tinggal di sebuah desa terpencil, dan desa tersebut adalah kampung halaman Joko, mereka bertemu saat Joko sedang mendapatkan cuti dan kebetulan sekali Joko membutuhkan pegawai tambahan untuk pembangunan tersebut.

"Sepertinya sebentar lagi selesai," gumam Agus yang takjub melihat pembangunan Apartment tersebut yang hampir selesai.

Agus lelah, ia mulai melangkahkan kakinya menuju mess. Agus sengaja tidak menggunakan kendaraan, karena Agus lebih nyaman berjalan kaki.

Jarak pembangunan ke mess tidak terlalu jauh, tapi cukup lelah jika berjalan kaki. Namun, itu adalah keinginan Agus.

"Sepertinya aku harus mampir ke supermarket," gumam Agus yang teringat jika perlengkapan mandinya hampir habis.

Agus ingin mampir ke supermarket, tapi tiba-tiba saja seseorang menutup kepalanya dengan kain hitam.

"E ... Eh, apa-apaan ini!" Agus memberontak saat lengannya sudah dipegangi oleh seseorang.

"TOLONG!" Agus berteriak sekuat tenaga. Namun, kepalanya langsung dipukul benda tumpul.

Agus mulai tidak sadarkan diri, Agus pingsan. Orang yang berada didekatnya mulai menyeret Agus ke tempat yang sepi.

Cukup lama Agus diseret ke tempat itu. Kain hitam yang menutup kepala Agus mulai terbuka, dan tidak lama kemudian Agus membuka matanya dengan merintih sakit.

"E ... Edi!" Agus tidak percaya jika yang memperlakukan ini adalah rekan kerjanya.

Edi dan Udin.

Edi tersenyum mengerikan, ia seperti psikopat yang sudah siap memangsa musuhnya. "Kali ini kau sudah keterlaluan, kau harus menanggung akibatnya!"

"A ... Apa maksudnya?" Agus tidak paham.

Edi dan Udin langsung menghajar Agus, Agus tidak bisa berontak karena lengan dan kakinya sudah diikat kuat.

"E ... Edi, berhentilah!" Agus berteriak, memohon supaya rekan kerjanya menghentikan aksinya. "U ... Udin, cukup!" Suaranya mulai melemah.

Wajah Agus sudah babak-belur, ia mulai tidak berdaya dengan apa yang dilakukan kedua rekan kerjanya.

Edi dan Udin benar-benar tidak memiliki hati nurani, mereka berdua terlihat senang memukuli Agus seperti itu.

Darah segar mulai mengalir dari hidung dan bibir Agus, Agus benar-benar tidak berdaya.

"Ayo kita buang ke jurang!" Edi menoleh pada temannya.

"Ayo!" Udin tersenyum, ia terlihat senang melakukan itu.

"Ju ... Jurang?" Walaupun Agus sudah tidak berdaya, ia masih mendengar pembicaraan itu.

Edi dan Udin tidak menghiraukan Agus, mereka berdua mulai menggotong Agus menuju jurang yang mereka maksud.

"Be ... Berhenti!" Agus tidak berdaya, tubuhnya sangat sakit, apa lagi wajahnya. "Ja ... Jangan bawa saya ke sana." Agus memohon.

Namun, Agus tidak mendapatkan respon apapun dari dua rekannya tersebut.

'Tuhan, kapan nasibku akan baik? Kenapa aku selalu mendapatkan nasib yang buruk?' batin Agus menangis, ia benar-benar pilu dengan kisah hidupnya yang tidak seberuntung orang-orang.

Agus hanya sebatang kara di kota tersebut, ia tidak pernah tau siapa orang tuanya, Agus tau wajahnya pas-pasan dan tidak ada wanita yang ingin bersamanya.

Namun, setidaknya Agus ingin merasakan hidup normal tanpa gangguan sekitarnya, tapi sepertinya itu sulit.

"Akhirnya aku bisa melenyapkan kau di sini," ucap Edi yang benar-benar senang.

Mereka sudah berada di dekat jurang. Edi dan Udin sudah siap melemparkan tubuh Agus ke jurang tersebut, tapi tiba-tiba saja seseorang memanggil.

"E ... Edi!" teriak seorang gadis.

Edi langsung menoleh pada suara itu, karena ia sangat mengenal suara itu.

Edi langsung menjatuhkan Agus di dekat jurang itu, dan Udin juga melakukan hal yang sama. Agus samar-samar menatap sosok gadis yang mulai menghampiri mereka.

Namun, Edi mulai menghampiri gadis itu. "Sari, ngapain kamu di sini?" tanyanya.

Lanjut membaca
Lanjut membaca