Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Pemuda Desa dan Buku Terlarang

Pemuda Desa dan Buku Terlarang

Restu Agung Nirwana | Bersambung
Jumlah kata
87.4K
Popular
1.3K
Subscribe
373
Novel / Pemuda Desa dan Buku Terlarang
Pemuda Desa dan Buku Terlarang

Pemuda Desa dan Buku Terlarang

Restu Agung Nirwana| Bersambung
Jumlah Kata
87.4K
Popular
1.3K
Subscribe
373
Sinopsis
18+PerkotaanSlice of lifeHaremUrbanDarah Muda
Cerita tentang pemuda Desa yang pindah ke kota untuk melanjutkan pendidikannya. Buku catatan milik pamannya yang ia temukan telah merubah dia menjadi pemuda penakluk wanita
Salah Kamar

Ada satu hal yang tidak pernah diceritakan orang-orang yang sudah pernah ke Jakarta kepada orang-orang yang belum pernah ke Jakarta.

Kotanya tidak peduli kamu datang.

Bis ekonomi Purwokerto–Jakarta menurunkan Aryo Pratama jam dua siang di Terminal Lebak Bulus, dan yang pertama ia rasakan bukan kagum, bukan takut, bukan antusiasme klise anak desa yang pertama kali ke ibu kota.

Yang pertama ia rasakan adalah mual.

Delapan jam duduk di kursi nomor dua belas yang sandarannya tidak bisa dikunci tegak, di sebelah bapak-bapak yang tidur dengan mulut terbuka dan sesekali miring ke bahunya, dengan bau solar dan mie instan rebus dan pengharum ruangan vanila yang justru membuat semuanya lebih buruk. Dan sekarang ia berdiri di bawah matahari yang menyengat ubun-ubun, dikelilingi manusia yang bergerak ke segala arah tanpa saling memandang, dengan satu koper hitam yang rodanya berbunyi seperti tikus sekarat dan dua lembar seratus ribuan di saku celana yang ia periksa empat kali sejak dari Cirebon untuk memastikan masih ada.

Di sampingnya, seorang ibu-ibu menyikut lengannya tanpa permisi dan berjalan terus.

Tidak ada maaf. Tidak ada anggukan. Tidak ada pengakuan bahwa ia ada.

Aryo berdiri di sana selama tiga detik penuh, siku masih terasa dari sikutan itu, dan menyadari bahwa ia seperti tak terlihat oleh seseorang yang berjalan tepat di depannya.

"Selamat datang," batinnya.

Ia keluarkan ponsel pintarnya. Layar retak, baterai sebelas persen, sinyal dua strip, dan ketikan alamat yang sudah ia hafal sejak minggu lalu. Jalan Kemang Raya, blok C nomor tujuh. Rumah Om Doni. Tempatnya tinggal selama empat tahun.

Empat tahun.

Aryo tidak pernah benar-benar menghitung apa artinya empat tahun sampai sekarang, berdiri di terminal ini, dengan sadar bahwa bis yang membawanya pulang sudah balik ke arah barat.

GPS loading... masih loading...

Baterai: sepuluh persen.

Ia menekan tombol brightness ke level paling rendah, memesan taksi online dengan jari yang agak gemetar, bukan karena takut, ia yakinkan dirinya sendiri, tapi karena kram setelah delapan jam digenggam dan menunggu di tempat yang kelihatannya paling jauh dari arus manusia.

Dua puluh tiga menit kemudian, di dalam taksi yang pengemudinya tidak bicara sepatah pun sepanjang perjalanan, Aryo menatap kota yang mengalir di luar kaca.

Gedung-gedung. Reklame. Flyover. Kemacetan yang bukan sekadar macet tapi seperti sebuah ekosistem dengan aturannya sendiri. Dan di mana-mana, manusia yang kelihatannya tahu persis ke mana mereka pergi dan mengapa.

Ia tidak tahu ke mana ia pergi.

Secara harfiah, ya ia punya alamat. Tapi secara lain, ia merasa seperti seseorang yang melangkah ke dalam sebuah permainan tanpa pernah membaca aturannya.

Pagar hitam tinggi. Tanaman rapi. Interkom di tiang kiri.

Aryo berdiri di trotoar dengan kopernya yang berbunyi mencicit saat ia menariknya dari bagasi taksi. Rumah di balik pagar itu lebih besar dari rumah siapapun yang pernah ia kenal.

Ia tekan bel interkom.

Menunggu.

Telapak tangannya basah. Ia hapus di celana.

"Ya, tunggu sebentar"

Suara perempuan. Jernih, sedikit terburu-buru.

"Tante Rani?" Suaranya keluar lebih tinggi dari yang ia rencanakan. "Saya Aryo. Keponakan Om Doni dari..."

"Aryo!" Nada berubah seketika, lebih hangat. Seperti pintu yang tiba-tiba dibuka lebar. "Tunggu ya, sebentar."

Klik.

Di balik pagar, suara langkah. Ringan, cepat. Gerendel terbuka.

Dan Aryo, untuk pertama kalinya dalam delapan belas tahun hidupnya yang tidak pernah kekurangan kata-kata di saat yang paling tidak penting, mendadak lupa cara kerja mulut manusia.

Perempuan di hadapannya mengenakan dress linen putih selutut, rambut hitam panjang disanggul asal dengan sumpit kayu yang menancap miring di atasnya, dan tatapan yang langsung melihat wajah Aryo seperti seseorang yang terbiasa membaca ruangan sebelum masuk ke dalamnya.

"Astaga." Senyumnya muncul tanpa peringatan, dan ada sesuatu di sudutnya yang membuat Aryo merasa seperti baru saja gagal ujian yang tidak ia tahu sedang ia ikuti. "Ibumu bilang kamu kurus. Tidak bilang kamu setinggi ini."

"Saya..." Aryo membuka mulut. Menutupnya. "Iya, Tante. Maaf."

"Maaf untuk apa?" Ia sendiri tidak tahu.

Tante Rani melirik kopernya. "Dari Purwokerto naik bis?"

"Delapan jam."

"Sudah makan?"

"Roti. Di bis." Sahut Aryo.

Sesuatu bergerak di wajah Tante Rani, bukan kasihan, tapi sesuatu yang lebih dekat ke keputusan.

"Ayo masuk Aryo"

Rumah itu memukul Aryo dengan cara yang tidak ia antisipasi.

Bukan ukurannya. Bukan furniturnya yang jelas mahal dengan cara yang tidak perlu dipamerkan. Yang memukul adalah tanaman-tanamannya yang berada di mana-mana. Di sudut, di meja, menggantung di dekat jendela, menjalar di rak buku yang memenuhi satu dinding penuh dari lantai ke langit-langit.

Seperti ada seseorang yang memutuskan bahwa rumah ini tidak boleh lupa bahwa di luar sana ada hal-hal yang hidup.

"Duduk." Tante Rani menunjuk sofa sambil berjalan ke dapur. "Saya panaskan makanan."

Aryo duduk di tepi sofa. Ia tidak berani bersandar, takut merusak sesuatu yang kelihatannya tidak pernah bersentuhan dengan punggung manusia. Kopernya ia sandarkan ke tembok dengan hati-hati.

Dari dapur: suara kompor, suara sendok, dan tipis sekali, hampir tidak terdengar, suara Tante Rani bersenandung. Tidak jelas lagunya. Tapi ada.

Matanya jatuh ke foto di dinding.

Om Doni dan Tante Rani di depan gedung konstruksi, helm proyek, senyum kamera. Foto pernikahan yang keduanya kelihatan sangat serius. Dan satu foto kecil di sudut, sedikit tidak sejajar. Itu foto Om Doni muda, duduk di tepi pantai, rambut berantakan, senyum miring, mata yang menatap lensa seperti tantangan.

Aryo hampir tidak mengenalinya.

"Itu saat usianya Dua puluh tiga tahun."

Ia menoleh. Tante Rani berdiri di ambang dapur dengan dua gelas jus, menatap foto yang sama.

"Sebelum dia jadi pengusaha yang lebih sering di luar kota daripada di rumah." Nada suaranya ringan. Terlalu ringan, seperti kata-kata yang sudah dilatih untuk tidak punya berat. "Beda sekali ya?"

Aryo menatap foto itu lagi.

Beda sekali memang.

Makan berlangsung dengan percakapan yang mengalir lebih mudah dari dugaan Aryo. Tante Rani bertanya tentang kampung, tentang jurusan, tentang kenapa Manajemen. Ia menjawab dengan jujur, kadang terlalu panjang, kadang terpotong karena ia sadar sudah terlalu panjang. Tante Rani mendengarkan dengan cara yang membuat Aryo merasa jawabannya layak didengar, yang entah kenapa justru membuat ia lebih gugup dari kalau diabaikan.

Om Doni belum pulang saat Tante Rani mengantar Aryo ke kamarnya.

"Kamar mandi di ujung lorong." Ia berhenti di depan kamarnya. "Pintu kamar kami nomor dua dari tangga. Kalau butuh apa-apa, ketuk saja."

"Terima kasih, Tante."

Senyum itu muncul lagi, hangat tapi dengan sesuatu di tepinya yang tidak bisa langsung Aryo baca. Kemudian ia berbalik dan berjalan ke ujung lorong.

Aryo menutup pintu kamarnya. Menghela napas sampai paru-parunya kosong.

Kasur empuk. AC dingin. Bau kayu yang menenangkan.

Ia bisa bertahan di sini.

Jam dua dini hari, tubuhnya akhirnya menyerah.

Ia tertidur dengan baju masih menempel, lampu masih menyala, koper masih belum dibuka dan mimpi yang tidak ia ingat saat terbangun tiga jam kemudian oleh suara pintu di lorong.

Langkah. Pelan. Kemudian hening.

Aryo membuka mata. Langit-langit asing. Tiga detik untuk ingat di mana ia berada.

Jakarta. Kemang. Rumah Om Doni.

Kandung kemih yang memprotes delapan gelas air minum sejak sore.

Ia bangkit. Mengusap mata. Membuka pintu kamarnya ke lorong yang gelap, diterangi hanya cahaya tipis yang merembes dari bawah pintu di ujung.

Kamar mandi. Ujung lorong.

Kamar mandi ujung lorong.

Aryo berjalan dengan mata yang belum sepenuhnya membuka, kemudian menghitung pintu. Satu.. dua... dan kemudian ia membuka pintu nomor dua dari tangga.

Di dalam kamar, di bawah cahaya lampu tidur yang temaram kekuningan, Tante Rani duduk di tepi ranjang.

Punggung menghadap pintu. Rambut terurai panjang. Mengenakan baju tidur lengan pendek model terusan sampai atas lutut. Tipis berwarna krem sehingga terlihat jelas setiap inci lekuk tubuh dan kulit kuning langsat nya yang masih terlihat seperti gadis duapuluh tahunan, tidak terlihat seperti 33 tahun. Dan wajahnya, masih cantik. Mulus tanpa ada kerutan yang menghalangi kecantikannya.

Waktu berhenti.

Aryo tidak bernapas.

Satu detik. Dua detik. Tangannya masih memegang gagang pintu karena itu satu-satunya hal konkret yang bisa ia pegang.

Tante Rani menoleh.

Matanya menatap mata Aryo di kegelapan..Dan di sana, di wajah perempuan yang sepanjang malam terlihat seperti seseorang yang tidak pernah kehilangan kendali atas apapun, untuk sepersekian detik yang singkat Aryo melihat sesuatu yang lain.

Bukan marah. Bukan kaget.

Sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari keduanya.

Kemudian wajah yang terlihat sedikit berbeda itu kembali rapi, sempurna, seolah tidak pernah bergerak.

"Mau ke Kamar mandi?" Kata Tante Rani, suaranya sama tenangnya dengan tadi pagi, sama tenangnya dengan seseorang yang memberi tahu arah ke minimarket, "di ujung lorong"

Aryo menutup pintu.

Berdiri di lorong gelap, jantungnya berdegup di tempat yang salah, dan baru sadar bahwa selama tiga detik tadi ia lupa sepenuhnya kenapa ia keluar dari kamar.

Kandung kemihnya masih protes.

Tapi ia tidak bergerak.

Di balik pintu yang baru saja ia tutup, tidak ada suara. Tidak ada gerakan. Hanya hening yang terasa seperti seseorang yang menahan napas dan menunggu untuk memastikan langkah kaki sudah menjauh.

Aryo berjalan ke ujung lorong dengan kaki yang tidak sepenuhnya bisa ia percaya.

Dan satu pertanyaan yang menempel di kepalanya seperti duri kecil yang tidak berbahaya tapi tidak mau pergi:

"Kenapa ia tidak berteriak?"

Lanjut membaca
Lanjut membaca