Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
DI SELINGKUHI, DUNIA PUN KU HANCURKAN.

DI SELINGKUHI, DUNIA PUN KU HANCURKAN.

siboo | Bersambung
Jumlah kata
53.9K
Popular
100
Subscribe
13
Novel / DI SELINGKUHI, DUNIA PUN KU HANCURKAN.
DI SELINGKUHI, DUNIA PUN KU HANCURKAN.

DI SELINGKUHI, DUNIA PUN KU HANCURKAN.

siboo| Bersambung
Jumlah Kata
53.9K
Popular
100
Subscribe
13
Sinopsis
18+FantasiFantasi TimurHaremBalas DendamKultivator
Setelah melihat tunanganya bermesraan dengan lelaki lain, Nicolas Alsan pulang dengan rasa kecewa yang mendalam. Sesampainya di kediaman keluarga alsan, Nicolas justru melihat ayahnya tewas bersimbah darah setelah di tusuk sebilah pisau oleh ibu tirinya. Setelah kejadian itu nicolas pun di fitnah dan di buang dari keluarga alsan oleh ibu tirinya sendiri. Di sini lah nicolas sekarang, hampir mati di dasar jurang iblis. Setelah sadar dia pun mulai menjelajah jurang itu dan bertekad untuk membalas dendam kepada semua orang yang telah membuatnya seperti ini. singkat cerita nicolas pun sampai kembali di permukaan setelah mengalahkan barbagai monster di jurang iblis, dan bahkan sekarang level nya sudah mencapai 9999/?. Dengan kekuatan yang di milikinya Nicolas pun mulai aksi balas dendamnya dan membuka sebuah konspirasi yang melibatkan banyak orang di dalamnya.
Si level rendah dan Pengkihanataan

Di ujung timur benua Javaneca tepatnya di kota Ansena, salah satu kota di kekaisaran Mahardika.

Langit pagi di kediaman megah keluarga alsan masih diselimuti kabut tipis ketika suara tebasan pertama terdengar.

"Swish!"

Nicolas Alsan berdiri sendirian di halaman belakang Paviliun Timur, tempat yang bahkan para pelayan jarang datangi. Bajunya basah oleh keringat lama, pedang besinya penuh goresan, dan telapak tangannya sudah dipenuhi kapalan.

Satu tebasan.

Lalu satu lagi.

Dan satu lagi.

Gerakannya sederhana. Tidak indah. Tidak megah. Bahkan tidak disertai aura kultivasi yang mencolok.

Namun… konsisten.

Jika ada kultivator lain melihatnya, mereka pasti akan mencibir.

“Masih latihan dasar?”

“Level 50 tapi sok rajin.”

“Percuma, bakatnya sudah mentok.”

Dan mereka benar, setidaknya di atas kertas.

Di usia sembilan belas tahun, Nicolas masih berada di Level 50.

Sementara itu para kultivator sebayanya, para putra dan putri keluarga bangsawan lainya, bahkan orang yang berbakat sedang, sudah menembus Level 100 atau lebih.

Ada yang naik level lewat pil roh.

Ada yang lewat teknik rahasia keluarga.

Ada yang dibimbing tetua secara langsung.

Sedangkan Nicolas?

Ia hanya mengayunkan pedang.

Swish!

Tebasan ke 317.

Nafasnya berat. Otot lengannya bergetar. Setiap tarikan napas terasa seperti pisau tipis mengiris paru parunya.

“Sepuluh ribu,” gumamnya pelan.

“Satu hari… sepuluh ribu.”

Tidak kurang. Tidak lebih.

Ia tidak peduli apakah hari itu hujan, badai, atau tubuhnya hampir runtuh. Selama ia masih bisa berdiri, pedangnya akan terus bergerak.

Swish! Swish! Swish!

Kabut di sekelilingnya mulai terbelah, bukan oleh aura, melainkan oleh ketepatan lintasan. Udara seperti sudah hafal jalur pedangnya.

Tebasan ke 1.243.

Pedang besi itu bergetar pelan, seolah mengeluh. Nicolas menggenggamnya lebih erat.

“Bertahanlah,” katanya lirih, entah pada pedang atau pada dirinya sendiri.

Di kejauhan, dua orang warga sekitar kebetulan lewat.

Mereka berhenti dan menatap dengan ekspresi aneh.

“Dia lagi?”

“kasihan sekali ya keluarga alsan.”

Salah satu dari mereka terkekeh.

“Level 50 latihan sepuluh ribu tebasan. Kalau rajin bisa menutup bakat, keluarga lain yang seumuranya saja sudah jadi tetua sekarang.”

Mereka pergi sambil tertawa.

Nicolas mendengarnya.

Ia selalu mendengar.

Namun pedangnya tidak berhenti.

Swish!

Tebasan ke 4.000.

Tangannya mati rasa. Kulit robek, darah merembes membasahi gagang pedang. Tapi gerakannya tetap sama, sudut, kecepatan, dan jarak hampir identik dengan tebasan pertama pagi itu.

Jika ada tetua pedang sejati di sana, mereka akan terdiam.

Karena ini bukan latihan kekuatan.

Ini bukan latihan kultivasi.

Ini adalah latihan kehendak.

Tebasan ke 7.500.

Langit sudah cerah. Kabut menghilang. Di tanah, bekas tebasan tipis terukir seperti garis garis tak terlihat, terlalu rapi untuk ukuran pedang tumpul.

Nicolas mengangkat pedangnya sekali lagi.

Tangannya gemetar hebat.

“Sedikit lagi…”

Swish!

Tebasan ke 10.000.

Saat pedang berhenti, Nicolas berdiri terdiam. Nafasnya tersengal. Darah menetes ke tanah.

Dan pada saat itu, sangat singkat, sangat halus, udara di depan pedangnya bergetar.

Bukan aura.

Bukan energi spiritual.

Melainkan sesuatu yang lebih dalam.

Nicolas tidak menyadarinya.

Ia hanya menyarungkan pedang, berbalik, dan berjalan pergi, tanpa tahu bahwa suatu hari nanti, dunia akan mengingat nama Nicolas Alsan bukan karena level kultivasinya…

melainkan karena satu tebasan yang lahir dari sepuluh ribu pengulangan.

***

Malam Festival Lentera selalu menjadi malam paling terang di Kota Ansena.

Ribuan lentera melayang ke langit, membawa doa, harapan, dan janji masa depan. Jalan-jalan dipenuhi tawa, musik lembut, serta cahaya keemasan yang menari di wajah para kultivator muda.

Di antara keramaian itu, Nicolas berjalan dengan langkah sedikit kaku.

Ia mengenakan jubah bersih berlogokan keluarga Alsan. Di tangannya, sebuah kotak kayu sederhana berisi jepit rambut giok pucat. Tidak mahal. Tidak langka juga.

Namun nicolas mengukirnya sendiri.

Untuk Araya…

Dewi Araya.

Putri keluarga Araya.

Tunangannya sejak kecil.

Nicolas mengangkat pandangan, mencari sosok yang seharusnya menunggunya di bawah pohon lentera pusat, tempat mereka berjanji bertemu setiap festival.

Namun yang ia lihat membuat langkahnya terhenti.

Di bawah cahaya lentera merah, Dewi Araya berdiri sangat dekat dengan seorang pria tinggi berwajah tampan. Jubah pria itu bertatahkan lambang Keluarga Wijaya, keluarga besar yang pengaruhnya bahkan membuat bangsawan lainnya berhati-hati.

Pria itu tersenyum santai sambil merangkul pinggang Dewi.

Terlalu akrab.

Terlalu intim.

Jantung Nicolas berdegup keras.

“Itu… hanya salah paham,” gumamnya, seolah meyakinkan dirinya sendiri.

Ia melangkah lebih dekat.

Dan mendengar tawa Dewi.

Tawa yang tidak pernah ia dengar saat bersamanya.

“Nicolas?”

Dewi akhirnya menyadari kehadirannya. Senyumnya membeku, lalu berubah tipis, dingin.

Di sisi dewi, pria itu menatap Nicolas dari ujung kepala sampai kaki, lalu terkekeh pelan.

“Jadi ini,” katanya malas, “tunanganmu?”

Nicolas menatap Dewi.

“dewi… apa maksudnya ini?”

Erick Wijaya.

Putra keluarga Wijaya.

Level kultivasi 150.

Aura yang ia lepaskan saja sudah membuat udara terasa berat.

Dewi menarik tangannya dari pelukan Erick, bukan karena bersalah, melainkan karena risih.

“Nicolas,” katanya, suaranya datar. “Kau tidak seharusnya datang.”

Kata-kata itu menghantam lebih keras dari tamparan.

“Festival ini… kita selalu merayakannya bersama,” suara Nicolas bergetar. “Kau bilang akan menungguku.”

Dewi menghela napas, jelas tidak sabar.

“Berhentilah berpura-pura,” katanya. “Aku lelah.”

Ia menatap Nicolas dengan tatapan yang membuat dada Nicolas terasa kosong.

“Kau masih Level 50.”

Setiap kata diucapkannya jelas.

“Sepuluh ribu tebasan per hari?” dewi tertawa kecil, jijik.

“Itu menyedihkan, Nicolas. Dunia ini tidak butuh kerja keras tanpa bakat.”

Nicolas mengepal tangannya.

“Jadi semua janji kita—”

“Janji?” Erick menyela sambil tertawa. “Kau pikir wanita seperti dewi pantas mengikat masa depan dengan seseorang yang bahkan tidak bisa menembus Level 100?”

Erick melangkah maju. Tekanan auranya menghantam Nicolas tanpa ampun.

Huff—!

Nicolas terpaksa mundur setengah langkah.

“Kau mengganggu kemesraan kami,” lanjut Erick santai. “Pergilah. Sebelum kau mempermalukan dirimu lebih jauh.”

Namun Nicolas tidak bergerak.

“dewi,” katanya lirih. “Katakan padaku… setidaknya sekali saja… bahwa ini tidak pernah berarti bagimu.”

Dewi menatapnya lama.

Lalu memalingkan wajah.

“Itu masa lalu,” katanya dingin.

“Dan aku menyesal pernah berharap pada seseorang sepertimu.”

Sesaat kemudian—

BAM!

Tinju menghantam perut Nicolas.

Tubuhnya terlempar dan jatuh ke tanah berbatu. Sebelum ia sempat bangkit, kaki menghantam punggungnya.

“Beraninya Level 50 melawan Tuan Muda Wijaya!”

“Hajar saja!”

Anak buah Erick bergerak tanpa ragu.

Tendangan.

Pukulan.

Hinaan.

“Dasar sampah kultivasi!”

“Sepuluh ribu tebasan? Tebas harga dirimu sendiri saja!”

Nicolas menggertakkan gigi.

Ia tidak melawan.

Bukan karena takut, melainkan karena ia tahu… satu gerakan saja, tulangnya akan remuk.

Erick menatapnya dari atas, ekspresinya penuh penghinaan.

“Ingat ini, Nicolas Alsan,” katanya pelan.

“Di dunia ini, yang lemah tidak berhak mencintai.”

Mereka pergi.

Tawa, cahaya lentera, dan musik festival terasa sangat jauh.

Nicolas bangkit tertatih. Wajahnya bengkak. Darah mengalir dari pelipis. Kotak kayu di tangannya retak, jepit rambut giok di dalamnya patah jadi dua.

Ia berjalan pulang sendirian.

Di bawah langit penuh lentera, tidak ada satu pun yang ia lepaskan.

Malam itu, Nicolas Alsan pulang dengan tubuh babak belur…

dan hati yang hancur sepenuhnya.

Namun jauh di dalam dadanya, sesuatu yang telah ditempa oleh sepuluh ribu tebasan setiap hari mulai retak.

Dan ketika retakan itu terbuka sepenuhnya,

dunia akan membayar harga yang mahal.

Lanjut membaca
Lanjut membaca