Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
PUTRA HALILINTAR

PUTRA HALILINTAR

Kawe SM | Bersambung
Jumlah kata
58.0K
Popular
100
Subscribe
6
Novel / PUTRA HALILINTAR
PUTRA HALILINTAR

PUTRA HALILINTAR

Kawe SM| Bersambung
Jumlah Kata
58.0K
Popular
100
Subscribe
6
Sinopsis
FantasiIsekaiKekuatan SuperPendekarPertualangan
Ranu, seorang pemuda pendaki gunung yang tersesat di Gunung Gora setelah terpisah dari empat sahabatnya akibat badai aneh yang datang tiba-tiba. Di saat nyawanya hampir melayang, ia diselamatkan oleh makhluk gaib penguasa petir bernama Nyi Kelebat, sosok perempuan berwibawa yang dijuluki Ratu Petir. Di alam lain yang tersembunyi di lipatan Gunung Gora, Ranu dirawat, dilatih, dan ditempa hingga menjadi pemuda perkasa dengan kekuatan halilintar. Namun ketika ia kembali ke dunia manusia, orang tuanya justru telah berkabung. Tim SAR telah menemukan jenazah yang diyakini sebagai Ranu, lengkap dengan pakaian dan identitasnya. Siapakah sebenarnya mayat itu? Dan bagaimana nasib Ranu, manusia yang telah membawa kekuatan langit ke dunia fana? Ikuti ceritanya di novel Putra Halilintar.
1. Undangan Misterius

Tak semua gunung ingin didaki. Tapi kadang memanggil siapa saja yang dikehendaki dengan jalan misterius.

***

Orang-orang desa di kaki gunung percaya, Gora bukan tumpukan tanah yang ditumbuhi pepohonan dan dihuni binatang. Ia adalah tempat langit dan bumi saling menyimpan rahasia. Di sanalah petir kerap menyambar tanpa hujan, dan kabut turun seperti tirai yang sengaja ditarik untuk menyembunyikan apa pun yang tak boleh dilihat dan dijamah manusia.

Banyak pendaki datang dengan keyakinan diri dan peralatan lengkap. Sebagian turun dengan cerita aneh. Sebagian lagi turun dengan mata kosong dan ingatan mengerikan. Bahkan sebagian kecil hilang misterius tanpa cerita. Nama mereka hanya tersisa di papan kayu pos pendakian, di antara tanggal dan tanda tangan yang pudar.

Malam itu, Gunung Gora sedang gelisah.

Angin berputar tak wajar. Pepohonan raksasa berderit seolah berbisik satu sama lain. Di puncak, awan menggumpal hitam kebiruan, meski laporan cuaca menyebut langit cerah. Sesekali cahaya putih menyambar seperti urat cahaya yang menjalar di dalam awan.

Gunung itu seperti sedang menahan napas ketika lerengnya mulai diinjak lima anak manusia yang sedang menantang takdir.

Ranu melangkah paling belakang. Setiap langkahnya terukur, seolah tanah di bawah sepatunya bisa mendengar bisikan halus. Ia bukan pendaki paling berpengalaman di antara mereka, tapi nalurinya sering lebih tajam dari peta dan kompas.

“Lu ngapain sih, Nu? Dari tadi nengok ke belakang terus,” seru Bima dari depan.

Ranu tersenyum tipis. “Nggak apa-apa. Kayak… ada yang ngikutin aja.”

Empat temannya tertawa.

“Pikiran lu kebanyakan baca cerita mistis,” sahut Wira. “Ini gunung real, bukan alam gaib.”

Ranu tak membalas. Ia hanya menatap sejenak ke arah hutan di sebelah kanan jalur. Gelapnya terlalu pekat untuk sekadar bayangan pepohonan. Ada kesan seolah sesuatu sedang berdiri di sana, diam, menunggu.

Angin tiba-tiba tak bergerak.

Hening yang jatuh seperti bunyi alam yang mendadak ditelan. Burung tak bersuara. Serangga lenyap. Bahkan langkah kaki mereka terdengar terlalu keras, seperti memukul ruang kosong.

Ranu berhenti.

“Eh, kenapa berhenti?” tanya Dimas.

“Denger nggak?” Ranu berbisik.

“Denger apa?”

“Itu…”

Belum sempat Ranu menyelesaikan kalimatnya, petir menyambar.

Dari balik kabut yang mendadak muncul. Cahaya putih kebiruan menyambar tanah beberapa puluh meter di depan mereka, disusul suara menggelegar yang membuat dada seperti dipukul dari dalam.

“Duh! Dari mana itu?!” teriak Bima.

Kabut turun dengan cepat, terlalu cepat. Dalam hitungan detik, jarak pandang tinggal satu meter. Jalur pendakian lenyap, seolah disedot ke dalam putih pekat.

“Pegang tali! Jangan lepas!” teriak Wira.

Namun angin berputar, liar dan tak beraturan. Tali penghubung terlepas. Ranu meraih ke depan, tapi yang ia sentuh hanya udara dingin yang berdenyut seperti aliran listrik halus.

“Bima! Wira!” teriaknya.

Suara mereka menjauh, seperti ditarik ke lorong lain.

Tanah di bawah kaki Ranu mendadak hilang.

Ia jatuh..

Ranu tak tahu berapa lama ia terlempar di kegelapan. Yang ia tahu, tubuhnya seperti ditarik, bukan jatuh bebas. Angin berputar di sekelilingnya, membawa bau logam dan humus hutan lindung. Dalam kepanikan itu, ia sempat melihat kilatan cahaya berulang kali, seperti mata yang membuka dan menutup.

Lalu… hening.

Ia terbaring di atas batu dingin. Anehnya, tubuhnya nyaris tak terasa sakit. Ketika membuka mata, ia mendapati dirinya berada di sebuah lembah yang tak pernah ia lihat di peta mana pun.

Langit di atasnya berwarna kelabu berkilat, seolah awan menyimpan cahaya di dalamnya. Udara bergetar halus, membuat rambut di lengannya berdiri. Di kejauhan, suara gemuruh terdengar terus-menerus, bukan seperti guntur yang datang dan pergi, melainkan detak jantung raksasa.

“Ini… di mana?” gumam Ranu.

Ia mencoba berdiri, namun lututnya lemas. Saat itulah ia menyadari, luka-luka yang seharusnya ada akibat jatuh dari ketinggian… tidak ada. Pakaiannya masih sama, robek di beberapa bagian, tapi tubuhnya utuh.

“Aneh…”

“Karena kau belum seharusnya mati.”

Suara itu datang dari belakang.

Ranu menoleh cepat.

Seorang perempuan berdiri beberapa langkah darinya. Pakaiannya menyerupai kain panjang berwarna abu-abu gelap, berkilau seperti diselimuti cahaya petir. Rambutnya hitam legam, tergerai hingga pinggang, bergerak pelan meski tak ada angin. Wajahnya cantik, namun dingin, dengan mata yang memantulkan kilat kecil di dalamnya.

Ranu mundur satu langkah. “Si-siapa kau?”

Perempuan itu menatapnya lama, seolah membaca lapisan demi lapisan dirinya.

“Aku Nyi Kelebat,” ucapnya akhirnya. “Penjaga simpul petir Gunung Gora.”

Jantung Ranu berdegup keras. Nama itu bukan asing. Ia pernah mendengarnya dari cerita warga desa, disebut dengan suara setengah berbisik.

Ratu Petir.

“Aku… saya cuma pendaki,” kata Ranu lirih. “Kalau saya salah atau melanggar, saya minta maaf.”

Nyi Kelebat tersenyum tipis. Senyum yang tak membawa kehangatan, tapi juga bukan ancaman.

“Kau tidak tersesat,” katanya. “Kau dipanggil.”

“Dipanggil?”

“Gunung ini sedang butuh penghuni baru. Dan langit telah memilihmu.”

Di atas mereka, petir menyambar tanpa suara. Cahaya itu tidak menghantam, melainkan menari, mengelilingi lembah seperti lingkaran penjaga.

Ranu menelan ludah. Nalurinya ingin lari, tapi kakinya seolah tertancap ke tanah.

“Teman-teman saya…” ucapnya. “Mereka di mana?”

“Mereka berjalan di jalurnya sendiri,” jawab Nyi Kelebat. “Sedangkan kau… harus tinggal di duni. Lupakan teman-temanmu.”

“Tidak!” Ranu menggeleng keras. “Saya harus kembali. Orang tua saya pasti cemas mebungguku.”

“Kau akan kembali,” potong Nyi Kelebat. “Tapi bukan sebagai pemuda yang sama.”

Ia melangkah mendekat. Udara di sekelilingnya bergetar lebih kuat. Ranu bisa merasakan sesuatu bergerak di dalam dadanya, seperti benang cahaya yang perlahan ditarik keluar.

“Mulai malam ini,” ucap Nyi Kelebat pelan, “kau bukan lagi milik dunia sepenuhnya.”

Petir menyambar tepat di belakangnya.

Cahaya putih memenuhi pandangan Ranu.

Dan di dunia lain, jauh di bawah lereng Gunung Gora, lima nama mulai ditulis dalam laporan pencarian.

Salah satunya diberi keterangan sementara:

Hilang. Diduga tersesat dan meninggal dunia.

Gunung Gora kembali menarik napasnya menyimpan rahasia besar.

# Bersambung

Lanjut membaca
Lanjut membaca