
Bekas jeruji di punggung hidup
Aruna senja|Bersambung
- Jumlah kata
- 30.3K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 2
- Jumlah kata
- 30.3K

Aruna senja|Bersambung
Raka adalah anak kedua dari dua saudara yang tumbuh dalam keluarga sederhana dengan kondisi ekonomi pas pasan. Ayahnya bekerja sebagai buruh harian lepas, sementara ibunya berjualan kecil- kecilan demi mencukupi kebutuhan hidup. Sejak kecil, Raka terbiasa hidup dalam keterbatasan dan tekanan untuk menjadi anak yang berguna bagi keluarga.Namun, pencarian jati diri dan pengaruh lingkungan pertemanan membawa nya dalam keputusan yang salah. Dari teman - temannya Raka mengenal narkoba awal yang terlihat sepele ,namun perlahan menyeretnya ke kurang kehancuran. kesalahan itu berujung penangkapan dan hukuman penjara selama 4 tahun.Dibalik jeruji besi,Raka menghadapi kehidupan yang keras dan penuh penyesalan.Hari- harinya diisi dengan rasa bersalah, kesepian, dan kerinduan pada keluarga. orang tuanya tetap datang menjenguk dengan kondisi ekonomi yang terbatas menjadi pengingat bahwa kesalahannya tidak hanya melukai dirinya sendiri.Di masa hukuman itu pula Raka kehilangan kekasihnya yang memilih menikah dengan pria lain, meninggal kan luka batin yang semakin dalam. 4 tahun berlalu Raka pun bebas.Namun kebebasan tidak serta merta mengembalikan hidupnya. stigma sebagai mantan narapidana menjadikannya sulit mendapatkanka pekerjaan dan kepercayaan. Dalam kondisi rapuh itu, Raka bertemu seorang wanita yang mampu menerima kekuranganya dan memahami masa lalunya tanpa banyak bertanya.Wanita itu menjadi tempat Raka bersandar,memberinya rasa dihargai dan ditemani di masa-masa terendahnya,meski kenyataannya wanita tersebut telah memiliki suami. Hubungan mereka berkembang dalam ruang yang salah, lebih banyak disisi kedekatan emosional dari pada masa depan.Meski diliputi rasa bersalah, Raka terlanjur bergantung pada kehadiran wanita itu. ia menjadi saksi perjuangan Raka membangun hidup kembali, menemani jatuh bangun tanpa pernah menutut apapun.Hubungan yang seharusnya berhenti justru semakin dalam, hingga perlahan menjadi beban bagi hati dan nurani Raka. Di tengah kebimbanganitu, Raka bertemu wanita lain seseorang yang datang dengan niat yang jelas, masa depan yang memungkinkan, dan keinginan untuk membangun rumah tangga secara sah. tanpa banyak pertimbangan, Raka mimilih arah baru tersebut, meninggal kan wanita yang selama ini menemaninya dalam diam. keputusan itu membuka luka baru ,bukan hanya bagi orang lain , tetapi juga bagi diri dia sendiri. "'Bekas jeruji di punggung hidup" adalah kisah tentang kesalahan yang membekas , hubungan yang tumbuh di tempat yang keliru, serta pencarian makna hidup setelah kehilangan.sebuah perjalanan batin tentang tanggung jawab, penghianatan perasaan dan upaya manusia untuk berdiri tegak meski bayang- bayang masa lalu terus mengikuti langkahnya.
kedipan senja di kampung kedungjati.
Kampung kedungjati selalu tampak tenang ketika matahari mulai condong kebarat. cahaya senja memantul dipermukaan sawah yang luas, menciptakan kilau keemasan seolah kampung itu sedang berkedip pelan, menyimpan cerita sederhana yang tak pernah benar-benar benar pergi. Dikampung itulah Raka tumbuh, menjalani hidup yang jauh dari kata mewah, namun kaya makna.
Raka adalah seorang pemuda dari keluarga sederhana.ia adalah anak kedua dari dua bersaudara. ayahnya pak Wiryo, bekerja sebagai buruh harian yang penghasilannya tak menentu, sedangkan ibunya Bu Muryani setiap pagi berjualan gorengan dan bubur di depan rumah. Kakaknya merantau kekota sejak 2 bulan lalu.
Sejak kecil, Raka sudah terbiasa hidup dengan keterbatasan.ia harus bersyukur atas hal- hal kecil. Baginya, melihat orang tuanya tersenyum sudah cukup menjadi alasan untuk terus bertahan dan berusaha. Setelah lulus SMP Raka memilih bekerja di pencetakan batako milik pak Andi yang masih tetangganya. Bukan tak memiliki mimpi, melainkan ia hanya ingin segera membantu keluarganya.
Setiap pagi, sebelum berangkat kerja Raka selalu membantu ibunya menyiapkan jualanaya, Tangan kasarnya terbiasa memindahkan baskom dan meja kayu yang sudah menemani usaha kecil keluarga mereka bertahun-tahun.
Dibalilik kesibukannya,Raka memilih dua orang yang sangat berati dalam hidupnya.Yang pertama adalah Sari kekasihnya. Sari adalah gadis kampung yang sederhana, dengan senyum lembut yang selalu mampu menangkan hati Raka.Mereka saling mengenal sejak remaja tumbuh bersama di kampung yang sama dan belajar memahami satu sama lain lewat kesederhanaan.
Sora hari adalah waktu favorit mereka.Raka dan sari sering duduk di tepi sawah, menatap matahari yang berlahan tenggelam. Di saat -Saat seperti itu, mereka berbagi cerita tentang lelahnya hari ini , sari yang masih sekolah kelas 3 SMA menceritakan kegiatan nya di sekolah.sari selalu menjadi tempat Raka pulang, bukan hanya fisik tapi juga batin.
Orang kedua adalah Bima , sahabat kecilnya. Bima dan Raka hampir tak pernah terpisahkan. Mereka tumbuh bersama, main bersama di sungai, berlari dipematang sawah, dan belajar tentang kehidupan dari kesalahan - kesalahan kecil yang mereka buat Bima dikenal ceria dan blak- blak an berbeda dengan Raka yang lebih pendiam dan banyak berfikir.
Digardu ronda kampung, mereka sering duduk hingga larut malam, berbincang tentang masa depan. Bima kerap mengida Raka tentang sari, sementara Raka hanya tersenyum malu. Tak hanya bima dikampung itu banyak juga pemuda seumuran Raka yang suka berkumpul digardu ronda mereka bercanda ria .
Malam itu dikampung yang sunyi, hanya suara jangkrik dan angin yang menyapu dedaunan. Dari beranda rumahnya, Raka sering menatap langit penuh bintang dan berfikir tentang masa depan tentang bagaimana kelak ia ingin membahagiakan orang tuanya, membangun kehidupan bersama sari. Dan tetap menjaga persahabatan dengan bima serta kawan - kawan lainnya.
Hidup memang tidak selalu mudah, namun Raka belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari hal besar. Kadang, ia hadir dalam tawa sederhana, dalam obrolan hangat di gardu ronda, atau dalam kedipan senja yang perlahan menyelimuti kampung kedung jati.
Namun, kehidupan memang tak seindah senja dikampung kedungjati.saat hari demi hari kebutuhan semakin bertambah banyak dan membawa Raka pada perubahan . Raka sering bergaul dengan teman-teman dari luar kampung. Beberapa dari mereka adalah kenalan dari tempat Raka bekerja. Ada pula teman sekampung yang sudah lebih dulu mengenal dunia malam dan kebebasan. Awalnya Raka hanya ikut nongkrong sekedar duduk ,bercanda dan menghabiskan waktu tapi berlahan pergaulan itu mulai berubah arah. Raka mulai pulang lebih malam. Ia sering mengabaikan waktu istirahat, dan sesekali berbohong pada ibunya dengan alasan lembur.Dalam pergaulan itu, Raka merasakan sesuatu yang baru rasa bebas, rasa dianggap dewasa, dan perasaan diterima tanpa banyak pertanyaan. Tenan - temanya sering berkata bahwa hidup harus dinikmati, bahwa usia muda tidak seharusnya dihabiskan untuk bekerja dan menahan diri.
Awalnya Raka ragu hatinya sering berontak, teringat wajah ibu dan bapaknya .mengingat bapaknya adalah seorang imam masjid di kampung kedungjati. Raka juga teringat senyum sari yang tulus namun tekanan dari lingkungan dan keinginannya untuk tidak ketinggalan berlahan mengikis batas yang selama ini ia pegang, ia mulai jarang duduk bersama Bima dan semakin jarang menghabiskan waktu bersama sari.
Bima menyadari perubahan itu
" Ka, kamu kenapa ahir- Ahir ini jarang nongol?" Tanya Bima suatu malam
Raka hanya tersenyum singkat" lagi capek aja"
Padahal di dalam dirinya Raka sedang berperang dengan fikiranya sendiri ada rasa bersalah setiap kali iya pulang larut dan ibunya masih terjaga.Ada kegelisahan saat ia melihat pesan sari yang tak sempat ia balas. Namun ada juga dorongan untuk terus berada di lingkaran pergaulan itu karena di sana ia merasa seolah masalh hidup bisa dilupakan.
Kampung kedungjati tetap sama tenan, sunyi
, dan setia menyimpan cerita.Namun Raka mulai merasa asing di tempat yang membesarkannya senja yang dulu selalu ia nikmati bersama sari kini sering ia lewatkan. Kedipan cahaya matahari di sawah tak lagi diperhatikan.
Saripun mulai merasakan jarak diantara mereka.percakapan mereka menjadi singkat, dan Raka sering terlihat lelah dan gelisah. Sari tak banyak bertanya, namun hatinya penuh kekhawatiran.ia tahu Raka sedang berada di persimpangan jalan.
Di malam-malam malam sepi Raka sering duduk sendiri menatap langit dan bintang. Ia bertanya pada dirinya sendiri apakah kebebasan yang ia cari benar-benar benar membuatnya bahagia, atau justru menjauhkannya dari hal - hal yang selama ini ia jaga?
Ia sadar, pergaulannya bisa menjadi jembatan atau jurang, tergantung bagaimana seseorang melangkah dan kini Raka berada di tepi jalan itu .Dikampung kedungjati cerita Raka belom berahir. Ini baru permulaan tentang seorang pemuda yang sedang mencari jati diri, terombang Ambing antara tangung jawab dan kebebasan, antara cinta yang tulus dan godaan sementara. Senja akan terus berkedip, menunggu Raka memutuskan kemana ia akan melangkah.
Malam itu, Raka berdiri di persimpangan jalan kampung, tempatlampu tua berkedip tak menentu. Ponselnya bergetar nama sari muncul di layar, bersamaan dengan pesan singkat dari teman-teman nya yang menunggu.Angun membawa suara jangkrik dan aroma tanah basah, seolah kampung memangilnya pulang. Raka menghela nafas panjang. Ia sadar, satu langkah kedepan bisa mengubah segalanya ia menatap jalan gelap dihadapanya lalu menunduk, menggenggam ponsel erat. Senja telah berlalu, namun keputusan Raka baru saja dimulai. Lampu jalan itu kembali berkedip, lali redup, Raka melangkah pelan bukan kekanan, bukan kekeiri tapi berhenti sejenak. Untuk pertama kalinya, ia berfikir sebelum mengikuti siapapun.di dadanya, harapan dan ketakutan saling berkejaran menunggu arah yang akan dia pilih.
29 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
Lanjutkan membaca di aplikasi
Buka aplikasi untuk membaca bab terkunci.