

Tahun 1903....
Sudah lewat tengah malam, suara gamelan bertalu talu makin ramai terdengar dari kejauhan. Sepertinya, adegan yang sedang dipentaskan Ki Dalang adalah pertemuan Antasena dengan Bagong.
Adegan saat Antasena dihibur oleh punakawan Bagong, adalah pertemuan antara bendoro denga kawula alit. Uniknya, seolah tiada sekat diantara keduanya. Sifat dua tokoh yang mirip, berani dan lugas.
Api dari lampu minyak tanah, blencong bermotif bentangan sayap garuda, terlihat dimainkan angin sepoi sepoi.
Demikian juga api lampu obor bambu yang ditancapkan di beberapa titik sekitaran pendopo desa, terlihat api meliuk liuk pelan dimainkan angin.
Malam itu adalah malam bulan purnama, yang sinarnya menambah kemeriahan pagelaran wayang.
Babak adegan Antasena dihibur oleh punakawan Semar, Gareng, Petruk dan Bagong, dalam segmen goro goro. Segmen goro goro merupakan segmen jeda dengan hiburan berisi tembang tembang Jawa, juga merupakan babak Ki Dalang menyampaikan pesan pesan kebaikan, dan pesan "pesanan" tuan rumah atau dari pemerintah setempat, disampaikan dengan media pagelaran wayang.
Pagelaran wayang malam cerah bulan purnama malam itu adalah tanggapan hiburan yang di prakarsai beberapa kampung, dalam rangka syukuran sedekah bumi atas hasil panen yang melimpah.
Ki Dalang dengan enerjik mampu mengolah cerita dan suara pesinden yang merdu membawakan tembang tembang Jawa, seolah menyihir penonton untuk tetap ditempat, karena dirasa sangat menghibur penonton. Gelak tawa, canda antar tokoh wayang, diselingi tembang dan pesan pesan, membuat suasana terasa sangat cair.
Tak berapa lama, tiba tiba mendung berarak seolah menyelimuti langit. Suasana yang awalnya damai dengan terang bulan purnama, tiba tiba berubah redup, lama lama terasa kelam dan mencekam!
Suasana yang berubah drastis, dirasakan oleh Ki Dalang, maka spontan Ki Dalang memberi aba aba, isyarat agar semua penabuh gamelan berhenti sejenak.
"Saudara semua, mohon kita berhenti sejenak dari pagelaran wayang malam ini. Suasana saat ini sepertinya berubah tanpa sebab yang pasti. Mari sama sama kita berdoa, dengan harapan niat sedekah bumi diterima oleh Maha Pencipta." Kata Ki Dalang.
Suasana serta merta hening, tak ada suara dari penabuh gamelan maupun dari warga penikmat pagelaran wayang.
Ki Dalang nampak memusatkan pikiran, nampak berkomat kamit memanjatkan doa keselamatan dan penjagaan kepada Sang Maha Esa.
Angin kencang tiba tiba bertiup beberapa kali menerpa layar geber, membuat api dari lampu blencong dan api obor bambu seperti pontang panting, meliuk liuk liar.
Pet !!!
Api lampu blencong dan api obor bambu mati total secara serentak.
Suasana yang semula tenang dan menghibur, berubah menjadi hiruk pikuk dalam suasana gelap gulita.
Petir tiba tiba juga seperti tidak mau ketinggalan, saling bersahutan dan tindih menindih.
Blar.. Jlegeeer.. Duuuum...
Tiga petir berturut turut membelah langit, dengan kekuatan cahaya super, membuat gelapnya tengah malam itu sepersekian detik menjadi terang benderang.
Sreeeeet... buuuum.
Satu kilatan mengarah ke kain geber, mengenai tiga wayang sekaligus ; Antasena, Bagong dan wayang gunungan.
Kilatan petir itu menerangi sejenak orang orang yang kalang kabut dalam pekatnya malam dengan suasana mencekam.
Ki Dalang, pesinden dan penabuh gamelan, serta warga desa tercerai berai, berlarian tak tentu arah seolah berpacu kecepatan menyelamatkan diri.
Jeritan dan teriakan ketakutan, tangis histeris bercampur baur dengan suara panggilan nama sanak saudara yang terpisah dalam kekalutan.
Clereeeeeet... buum.
Kilatan kedua, ekor petir menghantam rumah yang berjarak dua ratus meter dari tempat pagelaran wayang. Seorang suami yang menemani istri hendak melahirkan dibantu seorang dukun bayi. Ketiganya kontan meninggal terkena sambaran petir. Tanpa jeritan, tanpa teriakan kesakitan. Korban keempat adalah bayi yang belum sempat lahir!
Slaaaaap... duaaaar
Kilatan petir ketiga, menghantam sebidang tanah kosong. Lokasinya seratus kilometer dari lokasi pegelaran wayang kulit.
*****
Seratus tahun kemudian, tahun 2003.
Di kampung pinggiran kota kabupaten, malam itu akan diadakan pagelaran wayang kulit sebagai sarana hiburan di acara hajatan khitanan massal gratis yang diadakan secara swadaya warga dan sponsor dari Kecamatan dan Kabupaten.
Sekitar lima puluhan anak anak, sebagian lagi anak menjelang remaja, menjadi peserta khitanan massal gratis, yang telah dilaksanakan sejak tadi pagi hingga tengah hari.
Suasana gembira mewarnai wajah warga yang anak anaknya ikut khitanan massal gratis. Karena selain mendapat amplop uang saku, juga mendapat bingkisan baju koko, peci dan sarung.
Malam itu, menampilkan Ki Dalang Supo, dalang lokal berusia lima puluhan tahun yang lumayan dikenal sebagai Dalang kondang se Kabupaten. Uniknya, selama pagelaran, Ki Dalang Supo ditemani dan dibantu adik kembarnya, Nyi Supi.
Nyi Supi, selain berperan sebagai pembantu Dalang dalam mempersiapkan tokoh tokoh wayang yang akan dimainkan, juga merupakan pesinden. Selain itu, Nyi Supi juga punya keahlian lain, yaitu sebagai tukang urut khusus bayi serta dukun bayi tradisional, dengan panggilan akrab Mak Supi.
Hingga tengah malam, diacara adegan goro goro, hiburan khas ditengah pertunjukan wayang kulit, saat Ki Dalang Supo, dalang sepuh melakonkan babak adegan Antasena sedang dihibur ponokawan Bagong dengan lagu lagu Jawa bernada riang gembira.
Pesinden favorit saat itu, Nyi Supi, sedang melantunkan tembang Caping Gunung ciptaan alm. Gesang, dengan merdunya dan cengkok yang pas.
Tiba tiba, suasana cerah berubah menjadi mendung. Awan hitam berarak, berkumpul di langit sekitaran balai desa.
Suara gemuruh guntur di atas langit, terdengar berkali kali, menindih suara gelegar sound system horeg.
Beberapa kali kilatan petir membuat lampu listrik generator mati hidup sekilas.
Blaaaar....
Kilatan petir memekakkan telinga, mematikan genset penerangan khusus untuk pagelaran dan sound system.
Ujung petir menuju kain pagelaran. Cahaya kilat petir mampu membuat semua yang mamandangnya seperti buta sejenak.
Spontan Ki Dalang Supo menghentikan pagelaran.
Lalu, untuk kesekian kali, di langit terdengar suara petir yang bersahut sahutan .
Petir kedua kembali terdengar memekakkan telinga.
Ujung petir mengarah ke rumah seorang bidan, dua ratus meter dari balai desa tempat pagelaran hiburan wayang.
Di dalam rumah itu, sedang ada usaha persalinan bayi yang di bantu bidan setempat.
"Ayo mbak.. kejan sedikit lagi, sudah bukaan penuh lho. Jadi tinggal ngejan untuk mengeluarkan si adik." Bujuk Rahma, nama bidan itu.
"Ayo dik... semangat. Yang kuat ya, agar jagoan kita segera lahir. " Ucap Ratno, sang suami menyemangati Kedasih, istrinya. Sang istri hanya manggut manggut sambil mengumpulkan tenaga mengejan.
Blaarrr....!!!
Petir masuk menerobos atap rumah, menghantam perut ibu yang melahirkan itu. Anehnya, sang ibu hanya ketakutan sampai wajahnya makin pucat pasi. Tidak ada luka apapun akibat sambaran petir.
Namun suara petir yang menggelegar, membuat jantung suami istri itu langsung berhenti total selamanya!
Bidan Rahma tak kurang terkejutnya, sampai hampir jatuh terjengkang. Saat petir menyambar perut ibu itu, secara aneh dan spontan membuat jabang bayi keluar separo dari rahim, separo sudah di alam dunia.
Yang membuat bidan terperanjat sampai mata melotot, adalah bayi yang keluar berupa bungkusan putih dilapisi lemak tipis. Keanehan itu membuat bidan Rahma menjerit sambil keluar ruangan, sambil gemetaran, mengigil seluruh tubuhnya.
"Toloooong, segera panggil mak Supi untuk membantu persalinan." Teriak bidan Rahma kepada orang orang kerabat dari suami istri tersebut yang mengantar dan menunggu persalinan.
"Kang Parjo, ayo ke balai desa jemput mak Supi. Kita bawa motor masing masing.." ajak kerabat Ratno.
"Ayo..." jawab Parjo singkat.
Serentak, dua orang membawa dua sepeda motor langsung ke balai desa untuk menjemput sinden mak Supi, yang juga dukun bayi tradisional.
Dua sepeda motor sampai di balai desa. Keduanya tertegun melihat kegaduhan dan hiruk pikuk disana.
Tanpa bertanya apa yang terjadi, keduanya mencari keberadaan mak Supi. Ketemu di dekat kotak wayang.
"Mak Supi, diminta bantuannya oleh bidan Rahma. Lahiran anak pertama Kedasih, gawat.. ada masalah." kata Parjo, paman Kedasih ketika ketemu mak Supi.
Hati mak Supi tiba tiba bergetar hebat, seolah jiwanya tersambung dengan peristiwa aneh kelahiran di rumah bidan Rahma.....