
- Jumlah kata
- 7.0K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 10
Sinopsis
Roynaldo Pratama pernah berada di titik terendah hidupnya. Miskin, dipecat, dihina, dan tidak dianggap oleh siapa pun. Saat dunia menutup semua pintu, sebuah sistem muncul Sistem Kapital Absolut. Sistem yang tidak memberinya uang instan, namun memaksanya memahami satu kebenaran pahit: Di dunia ini, yang lemah tidak didengar. Yang miskin tidak punya pilihan. Dengan misi, risiko, dan hukuman nyata, Roynaldo perlahan bangkit. Dari usaha kecil, perang bisnis, intrik politik, hingga menantang oligarki global yang mengendalikan dunia. Namun, semakin tinggi ia berdiri, semakin sedikit manusia yang tersisa di sekitarnya. Cinta yang tulus menghilang. Teman berubah menjadi angka. Kepercayaan digantikan strategi.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
1
Roynaldo Pratama duduk di bangku panjang depan gedung kantor dengan map cokelat tipis di tangannya. Map itu terasa lebih ringan dari biasanya, bukan karena isinya sedikit, tapi karena hampir seluruh hidupnya barusan dikeluarkan dari sana.
Pemecatan.
Kata itu masih terasa asing, meski barusan ia mendengarnya dengan jelas, tanpa ragu, tanpa empati.
"Kami menghargai kontribusi Anda selama ini, Roynaldo, tapi perusahaan memutuskan untuk berjalan ke arah lain."
Arah lain. Kalimat paling sopan untuk mengatakan bahwa ia tidak lagi dibutuhkan.
Roynaldo menatap lantai marmer yang mengilap. Orang-orang lalu lalang di depannya. Ada yang tertawa, ada yang menelpon, ada yang berjalan cepat dengan wajah penuh percaya diri. Tidak satu pun dari mereka peduli pada seorang pria dua puluh empat tahun yang baru saja kehilangan satu-satunya sumber penghidupan.
Ia merogoh saku celananya. Ponsel. Layar retak di sudut. Ia buka aplikasi perbankan.
Saldo: Rp 52.430
Angka itu menatapnya seperti ejekan.
Roynaldo menghela napas panjang. Bukan ini yang membuatnya hancur. Ia sudah terbiasa hidup pas-pasan. Yang membuat dadanya sesak adalah cara ia diperlakukan. Ide yang ia susun berbulan-bulan diambil begitu saja. Dipresentasikan oleh atasannya. Dipuji. Lalu ia dikeluarkan.
Ia bangkit perlahan dan berjalan tanpa tujuan. Langkahnya membawanya ke halte bus yang jarang dipakai. Ia duduk, menunduk, dan untuk pertama kalinya dalam waktu lama, ia membiarkan dirinya merasa kalah.
Di ponselnya, ada satu pesan masuk.
Ayu.
"Kamu sudah pulang?"
Roynaldo menatap layar itu lama. Jemarinya ragu. Ia tidak ingin menjawab. Tidak ingin menjelaskan. Tidak ingin terlihat lemah. Tapi akhirnya ia mengetik.
"Sudah. Ada urusan."
Kebohongan kecil. Ayu tidak pernah menuntut penjelasan panjang, tapi Roynaldo tahu, wanita itu selalu bisa merasakan ada yang tidak beres.
Ia menutup ponsel dan menyandarkan punggung. Langit Jakarta sore itu kelabu. Udara panas, tapi ia merasa dingin.
Dalam benaknya, suara ayahnya terlintas. Suara yang dulu sering ia dengar sebelum sang ayah jatuh sakit karena tekanan ekonomi.
"Hidup ini keras, Nal. Kalau kamu tidak punya pegangan, kamu akan diinjak."
Dulu Roynaldo mengira pegangan itu kerja keras. Kejujuran. Kesabaran.
Hari ini, semua itu terasa naif.
Tiba-tiba ponselnya bergetar. Bukan notifikasi biasa. Layarnya menyala dengan cahaya putih yang tidak wajar. Aplikasi asing muncul begitu saja.
Ia mengernyit. Ia yakin tidak pernah mengunduh apa pun.
Tulisan itu sederhana, hitam di atas putih.
Sistem Kapital Absolut terdeteksi
Mengikat pengguna
Roynaldo mengira ini iklan. Atau virus. Ia menekan tombol kembali. Tidak bisa. Ia mengunci layar. Ponsel tetap menyala.
Jantungnya berdetak lebih cepat.
Sebuah suara datar, tenang, terdengar langsung di kepalanya. Bukan suara manusia. Tidak beremosi.
Pengguna Roynaldo Pratama terkonfirmasi
Status hidup kritis secara finansial
Sinkronisasi dimulai
Roynaldo berdiri refleks. Ia menoleh ke sekeliling. Orang-orang tetap berjalan. Tidak ada yang bereaksi. Tidak ada yang mendengar apa pun.
"Apa ini…" gumamnya pelan.
Layar ponsel berubah.
Pengguna:Roynaldo Pratama
Level Kekayaan:1
Status:Miskin Absolut
Saldo:Rp 52.430
Roynaldo menelan ludah. Ini terlalu spesifik untuk disebut lelucon.
Apa ini macam prank?Hipnotis?Halusinasi karena stres?
Suara itu kembali terdengar.
Sistem ini tidak memberikan uang instan
Sistem ini memberikan peluang
Kegagalan akan berdampak nyata
Ia tertawa kecil, getir. "Kalau ini mimpi, ini mimpi yang kejam."
Misi Utama pertama muncul di layar.
Bangkit dari Nol
Target:Total aset satu miliar rupiah
Batas waktu: 180 hari
Gagal:Seluruh aset dibekukan dan sistem nonaktif sementara
Roynaldo mematung.
Satu miliar.
Dalam hidupnya, angka itu hanya pernah ia lihat di berita. Ia bahkan tidak berani membayangkannya.
"Ini tidak masuk akal," bisiknya.
Tidak ada yang memaksa pengguna
Sistem akan berhenti jika pengguna menolak
Tulisan itu muncul seolah menjawab pikirannya.
Roynaldo menatap layar lama. Tangannya sedikit gemetar. Ia bisa menolak. Menutup ini sebagai halusinasi. Pulang. Mencari kerja lain. Mengulang siklus yang sama.
Ia membayangkan dirinya lima tahun ke depan. Lebih tua. Lebih lelah. Masih menunduk pada orang-orang yang mengambil kredit atas kerja kerasnya.
Ia teringat wajah Ayu saat menyodorkan kopi murah di kos sempit mereka. Senyum kecil yang tulus. Kepercayaan tanpa syarat.
Ia tidak ingin hidup selamanya seperti ini.
"Apa risikonya kalau aku menerima?" tanyanya pelan, merasa bodoh karena berbicara pada sesuatu yang mungkin tidak nyata.
Setiap keputusan akan dicatat
Setiap kesalahan akan dihitung
Sistem tidak memiliki empati
Roynaldo menarik napas dalam-dalam.
Ia tidak tahu apakah ini penyelamat atau jerat. Tapi untuk pertama kalinya sejak siang tadi, ada sesuatu yang bergerak di dadanya.
Bukan harapan. Bukan juga kegembiraan.
Tantangan.
Ia menyentuh layar.
Terima misi.
Layar bergetar ringan. Tidak ada ledakan cahaya. Tidak ada efek dramatis. Hanya satu kalimat yang muncul.
Misi dimulai
Hitungan mundur: 179 hari 23 jam 59 menit
Roynaldo menurunkan ponsel. Dunia di sekitarnya tetap sama. Bus datang. Orang-orang naik. Tidak ada yang berubah.
Kecuali dirinya.
Ia duduk kembali, menatap jalanan dengan pandangan berbeda. Untuk pertama kalinya, ia tidak melihat gedung-gedung tinggi sebagai simbol ketidakadilan. Ia melihatnya sebagai target.
Di dalam kepalanya, suara sistem menghilang, meninggalkan keheningan yang berat.
Roynaldo menggenggam ponselnya erat.
"Kalau ini permainan," katanya pelan, "aku tidak akan kalah."
Dan di kejauhan, matahari mulai tenggelam, seolah menandai bahwa hidup Roynaldo Pratama baru saja masuk ke fase yang tidak bisa ia batalkan lagi.
Daftar bab
14 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








