
Setelah Diselingkuhi, Aku Bisa Melihat Masa Depan
Eliza Naga|Bersambung
- Jumlah kata
- 31.7K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 14
- Jumlah kata
- 31.7K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 14
Sinopsis
Setelah Diselingkuhi, Aku Bisa Melihat Masa Depan
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
1 Diselingkuhi. Aku bisa Melihat Masa Depan
Ruang rapat utama Alvaro Grup terasa dingin, meski pendingin ruangan telah disetel pada suhu yang nyaman. Di tengah meja bundar dari kayu mahoni itu, Kevin Alvaro duduk dengan punggung tegak, mencoba mempertahankan wibawa sebagai bagian dari keluarga pendiri dan pemimpin perusahaan nomor satu di Negara A.
Namun, tatapan para pemegang saham dan direksi lainnya tidak lagi memancarkan rasa hormat yang biasa ia terima selama beberapa tahun terakhir ini. Ada sesuatu yang ganjil dalam keheningan itu, sebuah ketegangan yang menusuk seperti jarum halus.
Pintu ruang rapat terbuka lebar. Vina, istri Kevin yang biasanya tampil anggun dan lembut, melangkah masuk dengan langkah pasti. Di sampingnya berjalan Rivo, direktur keuangan yang selama ini dikenal sebagai tangan kanan Kevin. Ekspresi mereka bukan ekspresi kekhawatiran atau keseriusan bisnis, melainkan senyuman tipis yang penuh kemenangan.
Kevin mengerutkan kening, bingung melihat kehadiran mereka di sesi yang seharusnya hanya membahas laporan kuartalan. Vina tidak menunggu untuk dipersilakan duduk. Ia langsung meletakkan sebuah dokumen tebal di atas meja, tepat di depan Kevin. "Kamu harus baca ini."
"Apa artinya ini, Vina?" tanya Kevin dengan nada datar namun tajam.
Sebelum Kevin sempat menjawab, seorang notaris yang berdiri di sudut ruangan membacakan isi dokumen tersebut dengan suara lantang. Isinya adalah pengalihan hak kepemilikan saham sebesar tujuh puluh persen dari nama Kevin Alvaro kepada Vina Alvaro, yang ditandatangani semalam oleh Kevin sendiri dalam keadaan dirayu Vina dan saat Vina meminta hadiah terbesar dari kevin yaitu kepercayaan mutlak Kevin kepada Vina, saat makan malam perayaan ulang tahun pernikahan mereka.
Kaki Kevin gemetar saat menyadari kenyataan pahit itu. 'Dia telah menyerahkan seluruh kekaisarannya, warisan keluarga Alvaro, kepada wanita yang dia cintai.' Dan kini, wanita itu berdiri di sana bukan sebagai istri, melainkan sebagai Komisaris Utama dan pemilik tunggal Alvaro Grup dan dengan sikap mengancam.
"Ada apa ini?" batin kevin, mulai menyadari ada yang tidak beres.
Dengan wewenang mutlak yang baru saja ia dapatkan, Vina mengumumkan pemecatan Kevin dari semua jabatannya di perusahaan. Tidak ada proses hukum, tidak ada dengar pendapat, hanya perintah sepihak yang didukung oleh mayoritas suara saham yang kini berada di tangannya Vina. Sebagai gantinya, Vina menunjuk Rivo sebagai CEO baru.
Tawa kecil lolos dari bibir Rivo, diikuti oleh Vina. Mereka saling bertatapan dengan pandangan mesra yang ditambah dengan saling genggam tangan seolah dua sejoli yang telah lama saling cinta.
Dalam sekejap, potongan-potongan teka-teki selama beberapa bulan terakhir tersusun rapi di benak Kevin. Lembur Rivo yang sering terjadi di rumah dinasnya, sikap Vina yang semakin dingin, dan janji-janji manis Vina yang membujuk Kevin untuk menandatangani berbagai dokumen penting tanpa membacanya secara teliti. Semua itu adalah bagian dari skenario licik mereka berdua ini.
Para pemegang saham lain, yang tadi tampak ragu, kini mulai bergerak. Mereka berlomba-lomba mendekati Vina dan Rivo, menjabat tangan mereka, dan mengucapkan selamat dengan wajah penjilat. Tidak ada satu pun yang berani menoleh ke arah Kevin. Pria yang dulu mereka agungkan kini dianggap sebagai sampah yang harus segera dibuang agar tidak mencemari citra baru perusahaan.
"Bawa dia keluar!" perintah Rivo kepada dua orang satpam bertubuh besar yang sudah siap siaga di pintu.
Kevin mencoba berdiri untuk melawan, tetapi tubuhnya terasa lemah karena kenyataan menyakitkan yang baru dia terima. Satpam-satpam itu menyeretnya keluar dari ruang rapat mewah tersebut.
Di lorong utama, Rivo memberikan bisikan kepala. Para satpam mulai memukuli Kevin. Pukulan demi pukulan mendarat di tubuh dan kepalanya. Rasa sakit yang tajam menjalar ke seluruh sarafnya, hingga akhirnya sebuah pukulan benda tumpul menghantam bagian belakang kepalanya. Dunia menjadi gelap. Kesadaran Kevin lenyap dibawa oleh rasa sakit yang tak tertahankan.
***
Ketika Kevin membuka matanya kembali, bau busuk menyengat langsung memenuhi hidungnya. Ia terbangun di atas tumpukan sampah yang basah dan lengket. Langit di atasnya berwarna abu-abu, berbeda dengan langit biru cerah di ibu kota Negara A. Ia mencoba mengingat apa yang terjadi, namun kepalanya masih berdenyut nyeri.
Ia meraba saku jaketnya. Kosong. Dompet, ponsel, jam tangan mahal, semuanya hilang. Ia bahkan tidak memiliki kartu identitas. Setelah mengamati lingkungan sekitarnya, Kevin menyadari bahwa ia tidak berada di Kota A lagi. Papan reklame usang di kejauhan menunjukkan bahwa ia berada di Kota C, sebuah kota industri tua yang terletak ratusan kilometer dari ibu kota, tempat orang-orang buangan dan kaum marginal berkumpul.
Kevin bangkit dengan susah payah. Tubuhnya kotor, pakaiannya robek, dan martabatnya hancur lebur. Rasa marah, dendam, dan penghinaan membakar dadanya. 'Ia ingin menghancurkan Vina dan Rivo. Ia ingin mengambil kembali apa yang menjadi miliknya.' Namun, di sini, di tempat asing ini, tanpa uang dan tanpa koneksi, ia merasa seperti semut yang ingin menggulingkan gajah. Ia tidak tahu harus mulai dari mana.
Sambil menahan rasa lapar dan sakit, Kevin berjalan menyusuri trotoar yang retak. Matanya menangkap pemandangan di depan sebuah gang sempit. Seorang pria tua berpakaian rapi namun terlihat ketakutan sedang berdiri di pinggir jalan. Di hadapannya, seorang pemuda berbadan kekar dengan tatapan ganas mengacungkan pisau pada pria tua itu.
Kevin menyaksikan adegan itu seolah-olah ia menonton film bisu. Pemuda itu menusuk dada pria tua tersebut. Darah menyembur. Pria tua itu jatuh terduduk, napasnya tersengal-sengal. Dengan sisa tenaga terakhirnya, pria tua itu berbisik kepada kerumunan orang yang hanya menonton dari jauh, ia menawarkan sejumlah besar uang ahkan perusahaan bagi siapa saja yang mau menolongnya. Namun, tidak ada seorang pun yang bergerak. Ketakutan dan ketidakpedulian membeku di tempat itu. Pria tua itu menghembuskan napas terakhirnya, dan pemuda pembunuh itu lari menghilang ke dalam gang.
Kevin ingin menolong pria tua itu. Tapi baru saja dia hendak bergerak, tiba-tiba, kepalanya terasa pusing hebat. Sebuah sensasi aneh mengalir di pelupuk matanya, seolah-olah ada selaput tipis yang luruh dan terlepas. Penglihatannya menjadi kabur sesaat, lalu kembali jelas.
Kevin mengedipkan mata, heran. Di depannya, pria tua itu masih berdiri tegak. Masih hidup. Masih utuh. Seolah apa yang terjadi sebelumnya tidak pernah terjadi.
Kevin mengucek-ngucek matanya berkali-kali. Dia menoleh ke sekitar. Masih bingung dengan apa yang terjadi ini. Dia tidak melihat pemuda berbadan kekar itu. Kerumunan orang juga belum terbentuk. Kevin menyadari dengan ngeri bahwa apa yang ia lihat sebelumnya tidak benar-benar terjadi. Atau setidaknya.... be;um terjadi.
Saat akhirnya Kevin melihat pemuda kekar itu yang mulai bergerak mendekati pria tua itu, maka Kevin sadar, kalau dia baru saja melihat sebuah visi dari masa depan yang belum terjadi. Ia baru saja menyaksikan kematian pria itu sebelum kematian itu benar-benar terjadi.
Dari ujung gang, sosok pemuda itu muncul. Ia berjalan mengendap-endap, matanya mengincar pria tua yang sedang asyik memegang sebuah kertas di tangannya. Pisau di saku pemuda itu, siap untuk dikeluarkan.
Jantung Kevin berdebar kencang. 'Ini adalah kesempatan. Bukan hanya untuk menyelamatkan nyawa seseorang, tetapi mungkin juga kunci untuk mulai mengubah nasibnya yang hancur. Jika pria tua itu benar-benar kaya seperti yang dikatakan pria itu dalam visi yang dilihat kevin sebelumya, maka menolongnya bisa menjadi jalan permulaan bagi Kevin.'
Tanpa berpikir dua kali, Kevin mengumpulkan sisa tenaganya. Ia berlari cepat menuju pria tua itu, tepat ketika pemuda pembunuh itu hendak menerjang. Dengan gerakan instingtif yang lahir dari adrenalin murni, Kevin menabrak tubuh pemuda itu, membuatnya kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Pisau itu terlepas dari genggaman pemuda tersebut dan terlempar jauh.
"Siapa kau?" bentak pemuda itu sambil bangun dengan wajah merah padam karena marah.
Kevin tidak menjawab. Ia berdiri melindungi pria tua itu, menatap tajam ke arah penyerang. Untuk pertama kalinya sejak ia diusir dari Alvaro Grup, Kevin merasa ada tujuan yang jelas di depan matanya. Permainan baru saja dimulai.
Daftar bab
28 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








