
Cincin Pembongkar Topeng
Mr.Pras|Bersambung
- Jumlah kata
- 76.5K
- Popular
- 2.0K
- Subscribe
- 268
- Jumlah kata
- 76.5K
- Popular
- 2.0K
- Subscribe
- 268
Sinopsis
Dewa Erlangga, pemuda yang terkenal angkuh dan playboy, tidak peduli dengan bisnis peninggalan ayahnya. Tapi, semuanya berubah ketika Dewa menerima cincin dalam mimpinya yang mampu membocorkan isi hati semua orang di sekitarnya. Di balik kemewahannya, Dewa harus menghadapi kenyataan pahit, tak satu pun wanita yang benar-benar tulus bahkan orang yang dianggapnya sebagai keluarga, menjadi pengkhianat terbesar dalam hidupnya.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1 cincin pemberian nenek
"Dewa, kamu kok dari tadi diam saja sih? Masih mikirin bisnis ya?" bisik wanita bergaun merah, jemarinya yang berkutek merah menyala bergerak perlahan mengelus dada Dewa.
"Bisnis? Malam ini tidak ada urusan bisnis, Maya. Malam ini cuma tentang merayakan hidup... dan menikmati kehadiran dua wanita tercantik di ruangan ini," Ucap Dewa sambil menatap wanita bergaun merah itu dengan tatapan mata yang dalam dan menggoda.
Dewa mengambil gelas kristal dari tangan wanita di sebelah kanannya, memutar-mutar es batu di dalamnya hingga berdenting halus.
"Kamu selalu tahu cara bikin cewek senang ya, Dewa. Pantas saja semua teman-temanku pada rebutan ingin dikenalkan sama kamu," Sahut Siska, wanita berambut pirang, wajahnya merona.
"Rebutan? Mereka tidak perlu berebut. Aku ini ibarat takdir, Siska. Tidak semua orang bisa beruntung dapat kesempatan berada di dekatku," Ucap Dewa, menyesap minumannya yang terasa membakar tenggorokan, lalu tersenyum miring.
Sikap arogan itu bukannya membuat kedua wanita itu menjauh, justru malah semakin memikat mereka. Bagi mereka, Dewa Erlangga adalah kombinasi sempurna dari ketampanan, kekayaan yang tak habis tujuh turunan, dan karisma yang berbahaya.
Malam terus bergulir menembus batas dini hari, tapi dentuman bass di dalam klub malam itu seolah tak kenal lelah. Botol demi botol minuman keras kelas atas yang dipesan Dewa telah kosong, berpindah sepenuhnya ke dalam tubuh pria itu.
"Dewa... kamu sudah mabuk berat deh kayaknya. Udah ya? Kita jalan ke luar aja yuk, aku cariin taksi atau kita minta driver klub yang anterin kamu," bisik Siska, tangannya berusaha menahan lengan Dewa yang hendak menyambar gelas berikutnya.
Dewa menepis tangan Siska dengan kasar. Dia tertawa terkeh-kekeh, sebuah tawa yang dipaksakan dan terdengar agak sengau.
"Aku Dewa Erlangga! Minum begini doang nggak akan bikin aku roboh. Aku nggak butuh taksi... Aku punya mobil paling cepat di kota ini!" igau Dewa, berdiri dari sofa empuknya dengan tubuh yang langsung sempoyongan.
Tanpa memedulikan panggilan Maya dan Siska yang terus meneriakkan namanya, Dewa melangkah keluar dari area VIP lounge. Langkahnya oleng, sesekali bahunya menabrak pengunjung lain atau dinding koridor klub malam yang sempit.
"Hah... cuma alkohol murahan," umpat Dewa pada dirinya sendiri. Dia menginjak pedal gas dalam-dalam, membuat ban mobilnya mencicit keras menggesek aspal sebelum akhirnya melesat membelah jalanan kota yang lengang.
Jalanan subuh itu hampir tak berpenghuni. Indikator kecepatan di dasbor terus merambat naik. Suara raungan mesin menjadi satu-satunya hal yang mengisi kesadarannya yang kian menipis.
Tapi tepat saat mobil mewahnya melesat mendaki sebuah tikungan halus di dekat area pasar tradisional yang belum buka, pandangan Dewa tertuju pada sebuah bayangan di tengah jalan.
Di sana, di bawah remang-remang lampu jalan yang samar, seorang nenek tua berjalan sangat lambat. Nenek itu membungkuk, membawa sebuah bakul bambu berisi sayur-mayur yang hendak dia jual di pasar.
"Syittt!!" pekik Dewa. Matanya terbelalak lebar, alkohol dalam darahnya seolah tersentak seketika oleh gelombang kepanikan.
Pandangan Dewa membayangkan benturan dahsyat yang akan menghancurkan tubuh ringkih wanita tua itu. Dalam refleks setengah sadar dan panik yang membakar dada, Dewa membanting setir ke kiri secara drastis sambil membakar rem.
Krrrrrrrrrrrrooooogggshhhhh!
Suara decitan ban yang bergesekan hebat dengan aspal memecah keheningan subuh. Mobil mewah itu meluncur liar, hilang kendali, melewati trotoar, dan bergerak lurus menuju sebuah pohon peneduh berukuran raksasa di pinggir jalan. Nenek tua itu berhasil terhindar, tapi mobil Dewa menghantam batang pohon tua itu dengan kecepatan yang teramat tinggi.
BRRRRRAAASHHH!
Suara remukan besi, kaca yang hancur berkeping-keping, dan raungan mesin yang mati mendadak bergema hebat. Kap depan mobil terlipat seperti kertas. Airbag mengembang seketika, menahan dada dan wajah Dewa yang terlempar ke depan.
Seketika itu juga, dunia di sekitar Dewa menjadi sangat sunyi. Dari pelipis Dewa, aliran darah hangat mulai mengalir perlahan, melewati alisnya, dan menetes ke dagunya. Dewa mencoba bernapas, tapi dadanya terasa sangat sesak. Pandangannya kabur, perlahan-lahan meredup menjadi kegelapan yang pekat.
Di luar mobil, samar-samar terdengar langkah kaki gemetar yang mendekat. Suara bakul kayu jatuh ke aspal, disusul oleh derap langkah cepat namun renta.
"Nak! Nak, kamu tidak apa-apa? Tolong! Ada yang kecelakaan! Tolonggg!" suara serak seorang wanita tua terdengar bergetar hebat di luar jendela mobil yang sudah hancur.
Kegelapan yang pekat dan dingin perlahan-lahan mengikis rasa sakit fisik di tubuh Dewa Erlangga. Suara sirine ambulan, bunyi derit roda ranjang rumah sakit, serta riuh suara para medis yang berteriak menyebutkan tekanan darah dan denyut nadinya yang menurun, semuanya memudar.
Dewa kini tenggelam semakin dalam ke dasar kesadarannya sendiri, memasuki alam bawah sadar yang ganjil.
Di sana, tak ada lagi dinding rumah sakit yang dingin atau aroma karbol yang menyengat. Dewa terbangun di sebuah ruang tanpa batas, diliputi kabut tipis berwarna putih keperakan yang mengambang tenang di atas lantai transparan bagaikan cermin.
Dewa berdiri tegak, meraba dadanya. Di hadapannya, berdirilah sosok nenek tua yang tadi menyeberang jalan. Wanita tua itu mengenakan kebaya lusuh yang sama, memegang sebuah tongkat kayu sederhana.
Melihat keberadaan nenek itu, darah Dewa langsung mendidih. Kesombongan dan ego pria idaman yang terbiasa hidup mewah kembali menguasai pikirannya. Dia melangkah maju dengan gusar, menunjuk wajah nenek itu dengan telunjuknya.
"Gara-gara wanita tua gila seperti kamu, mobil miliaran rupiahku hancur! Kalau kamu tidak menyeberang sembarangan seperti orang buta, aku tidak akan bernasib tragis seperti ini!" Seru Dewa dengan nada tinggi.
Nenek tua itu tidak bergeming. Dia tidak melangkah mundur, tidak pula tampak takut oleh gertakan Dewa. Dia hanya menarik napas panjang, tatapannya menyiratkan rasa iba yang mendalam pada pria muda di hadapannya.
"Anak muda...Kamu mengutuk takdir dan menyalahkan orang lain, padahal langkahmu sendiri yang sudah oleng oleh racun yang kamu minum. Jika aku tidak ada di jalan itu pun, kesombonganmu cepat atau lambat akan menghancurkan dirimu sendiri," ucap nenek itu dengan suara lembut.
"Diam! Jangan sok menasihatiku! Orang miskin dan tua renta sepertimu tidak punya hak untuk mengajariku tentang hidup! Kamu itu cuma sialan yang merusak malamku!" potong Dewa dengan teriakan serak. Matanya membelalak penuh amarah.
Nenek tua itu perlahan membuka telapak tangan kanannya. Di atas telapak tangannya yang keriput dan kasar, terbaring sebuah cincin perak bersahaja dengan ukiran sulur-sulur halus yang memancarkan pendar cahaya biru lembut.
"Ambillah ini, Dewa. Ini bukan barang sembarangan. Ini adalah cincin ajaib yang dikirimkan untuk melindungimu, sebuah perantara agar kamu bisa belajar menjadi manusia yang lebih baik, berhati mulia, dan berhenti merendahkan sesamamu," kata nenek itu pelan, mendorong tangannya sedikit ke depan.
Dewa menatap cincin itu, lalu meledak dalam tawa ejekan yang renyah dan penuh keangkuhan.
"Ha! Apa-apaan ini? Cincin ajaib? Kamu pikir ini dongeng anak-anak?” sahut Dewa dengan melempar cincin itu ke arah belakang nenek tersebut.
Melihat tindakan Dewa, raut wajah nenek tua itu berubah. Kehangatan yang tadinya memancar dari wajahnya kini berganti menjadi ketegasan yang dingin dan serius.
"Sikapmu sungguh keras, Dewa Erlangga! Kamu merasa berkuasa hanya karena ketampanan dan hartamu. Kamu jadikan wanita-wanita di luaran sana sebagai mainan pemuas gengsimu, lalu kamu buang setelah kamu merasa puas," ucap nenek itu, suaranya kini bergetar dengan keheningan yang menakutkan.
"Itu urusanku! Wanita-wanita itu sendiri yang datang mendekatiku!" tangkas Dewa dengan dagu terangkat.
"Maka dengarkan baik-baik peringatan ini Dewa Erlangga! Cincin itu akan kembali kepadamu, suka atau tidak. Dan ingatlah satu pantangan ini…”
Daftar bab
72 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








