Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Pewaris Pedang Langit

Pewaris Pedang Langit

Alfisha Wulandari | Bersambung
Jumlah kata
61.0K
Popular
321
Subscribe
65
Novel / Pewaris Pedang Langit
Pewaris Pedang Langit

Pewaris Pedang Langit

Alfisha Wulandari| Bersambung
Jumlah Kata
61.0K
Popular
321
Subscribe
65
Sinopsis
18+FantasiFantasi TimurPedang
Di sebuah kerajaan yang menjunjung kekuatan sebagai takdir, lahirlah seorang bayi lelaki, iya terlihat tanpa adanya tanda aura maupun cahaya kekuatan. Sehingga sang, Raja—ayah kandungnya sendiri—menganggapnya sebagai aib. Tanpa belas kasihan, bayi itu dibuang ke dunia luar, dianggap tak layak menyandang darah kerajaan. Namun sebelum perpisahan itu terjadi, sang ibu menyelipkan sebuah kalung misterius ke balik selimut putranya. Bayi itu di temukan oleh sang lelaki tua yang memiliki ilmu dan kekuatan yang tidak terkalahkan. Tahun demi tahun berlalu. Anak yang dianggap lemah itu tumbuh di tengah dunia yang keras, ditempa oleh penderitaan dan kesunyian. Hingga suatu hari, kalung itu bereaksi—membangunkan kekuatan yang bahkan para pendekar langit tak mampu bayangkan. Ia bukan pewaris tahta. Ia adalah pewaris pedang langit. Ketika takdir memanggilnya kembali ke kerajaan yang pernah menolaknya, ia harus memilih: membalas masa lalunya… atau mengubah masa depan seluruh dunia.
BAB 1: Pewaris yang Dibuang

Angin gunung berembus dingin di halaman belakang rumah kayu itu.

Aku berdiri dengan pedang kayu di tangan, keringat menetes dari dagu ke tanah yang retak-retak. Nafasku berat. Tanganku gemetar.

“Ulangi lagi.”

Suara kakek terdengar tenang, namun mengandung tekanan yang tak bisa kutolak.

Aku mengangkat pedang kayu dan kembali menebaskan jurus dasar yang sudah kulatih ribuan kali sejak kecil. Tebasan itu lambat. Tidak ada aura. Tidak ada energi yang mengalir.

Hanya gerakan kosong.

Aku menunduk.

Sudah tujuh belas tahun aku hidup, namun aku tetap tidak bisa merasakan sedikit pun kekuatan spiritual di tubuhku.

Di dunia ini, itu adalah kutukan.

“Cukup,” kata kakek.

Aku berhenti dan menancapkan pedang kayu ke tanah. Dadaku naik turun. Dalam hati aku bertanya seperti biasa:

Kenapa aku berbeda?

Kakek berjalan mendekat. Rambut putihnya digerai sederhana, pakaiannya lusuh, namun tekanan dari tubuhnya membuat udara di sekitarnya terasa berat. Ia adalah pendekar sakti yang memilih mengasingkan diri di pegunungan ini.

Orang-orang memanggilnya Pendekar Awan Retak.

Bagiku, ia hanya kakek.

“Kau sudah bekerja keras hari ini,” katanya sambil duduk di bangku kayu. “Istirahatlah.”

Aku mengangguk. Namun sebelum pergi, aku bertanya, “Kakek… kenapa aku tetap tidak bisa merasakan energi?”

Kakek terdiam.

Pandangan tuanya menatap langit yang mulai memerah oleh senja. Untuk beberapa saat, hanya suara burung dan desir angin yang menemani kami.

“Ada hal yang belum pernah kakek ceritakan padamu,” katanya akhirnya.

Aku menegang.

“Kau sudah cukup dewasa untuk tahu.”

Jantungku berdetak lebih cepat.

Kakek mengeluarkan sesuatu dari dalam jubahnya: sebuah kalung giok hijau pucat. Giok itu berbentuk lingkaran kecil dengan ukiran awan dan simbol pedang di tengahnya.

Hatiku bergetar saat melihatnya.

Kalung itu… sangat familiar.

“Kau mengenali ini, bukan?” tanya kakek.

Aku mengangguk pelan. “Aku memimpikannya,sejak kecil.”

Kakek tersenyum tipis. “Karena itu memang milikmu.”

Ia bangkit dan menggenggam bahuku. “Duduklah. Kakek akan menceritakan bagaimana aku menemukanmu.”

Tujuh Belas Tahun yang Lalu

Aku membayangkan cerita itu seperti kabut yang terbuka perlahan.

“Kau ditemukan di kaki Gunung Langit Timur,” ujar kakek. “Saat itu malam hujan. Petir menyambar tanpa henti. Di tengah badai, aku mendengar tangisan bayi.”

Aku menahan napas.

“Aku mengira itu suara binatang. Tapi ketika kudekati, aku melihat seorang wanita.”

“Kondisinya sangat buruk. Tubuhnya penuh luka dalam. Pakaiannya adalah pakaian bangsawan dunia kultivasi.”

Tanganku mengepal.

“Kau ada di dalam pelukannya,” lanjut kakek. “Ia menangis, memelukmu erat, seolah takut dunia akan merenggutmu darinya.”

Aku merasakan dadaku sesak.

“Apa, yang terjadi pada ibuku?” tanyaku lirih.

Kakek menatapku lama.

“Dia dipaksa berpisah darimu.”

Kakek melanjutkan dengan suara lebih dalam.

“Seorang pria datang. Aura kekuatannya luar biasa. Bahkan aku saat itu tidak berani bergerak.”

“Pria itu, ayahmu.”

Dadaku seperti dipukul palu.

“Ayahmu berkata bahwa kau tidak memiliki inti spiritual. Tidak ada sedikit pun potensi kultivasi dalam tubuhmu.”

Aku menelan ludah.

“Dia mengatakan kau adalah aib klan. Jika tetap hidup di sana, kau hanya akan dipermalukan.”

Tanganku gemetar.

“Ibumu berteriak. Ia memohon. Ia menangis. Ia menampar ayahmu sendiri. Tapi pria itu tetap dingin.”

Kakek menutup mata sejenak.

“Akhirnya, dia meletakkanmu di tanah. Berbalik pergi. Tidak menoleh lagi.”

Aku terdiam.

Di dadaku muncul rasa perih yang tak pernah bisa kujelaskan sebelumnya.

“Dan ibumu?” tanyaku.

“Ibumu berlari mengejarmu. Tapi sebelum pergi, ia melepas kalung giok ini dari lehernya dan menggantungkannya di lehermu.”

Kakek menyerahkan kalung itu padaku.

“Dia berkata: Jika suatu hari anakku hidup, dan ingin mencariku, kalung ini akan menjadi bukti bahwa dia adalah darah dagingku.”

Tanganku gemetar saat memegang giok itu.

Hangat.

Seolah hidup.

“Lalu, apa yang terjadi pada ibuku?”

Kakek terdiam cukup lama.

“Aku tidak tahu. Tapi aku tahu satu hal.”

“Apa?”

“Ibumu bukan wanita biasa.”

Aku memandangi kalung giok itu di telapak tanganku.

Selama ini aku hidup tanpa tahu siapa aku.

Tanpa asal-usul.

Tanpa tujuan.

“Kenapa kakek baru memberitahuku sekarang?” tanyaku.

“Kau belum siap sebelumnya,” jawab kakek. “Dan aku takut.”

“Takut apa?”

“Takut kau akan pergi dan mati.”

Aku mengangkat kepala. “Sekarang pun aku bisa mati.”

Kakek tersenyum kecil. “Sekarang kau punya pilihan.”

Ia berdiri dan menghunus pedang dari pinggangnya. Pedang itu memancarkan cahaya tipis kebiruan.

“Arthas.”

Aku berdiri.

“Jika kau ingin mencari orang tuamu, kau harus memasuki dunia kultivasi. Dunia yang kejam. Dunia yang tidak memaafkan kelemahan.”

Aku menggenggam kalung giok itu erat-erat.

“Aku tidak punya kekuatan.”

“Kau belum punya,” jawab kakek. “Tapi bukan berarti kau tidak bisa.”

Ia mengangkat pedangnya dan menancapkannya ke tanah.

“Pedang Langit pernah memilih seorang pewaris yang tidak memiliki inti spiritual.”

Aku terkejut. “Pedang Langit?”

“Itu legenda lama,” kata kakek. “Pedang yang hanya bereaksi pada jiwa, bukan pada kekuatan.”

Ia menatapku tajam.

“Dan kalung giok ini, bukan benda biasa.”

Aku menatap giok di tanganku.

Saat itu, sesuatu terasa aneh.

Giok itu, berdenyut.

Pelan.

Seperti jantung.

Aku terkejut dan hampir menjatuhkannya.

“Kakek… ini—”

“Pakailah,” kata kakek.

Aku menggantungkan kalung itu di leherku.

Begitu giok menyentuh dadaku, panas menyebar ke seluruh tubuhku.

Dunia seakan berhenti.

Aku melihat cahaya putih di mataku.

Dan di dalam kegelapan, sebuah suara bergema.

“Pewaris terpilih, darah langit telah kembali.”

Aku terjatuh berlutut.

Nafasku memburu.

“Kakek… tubuhku—”

“Tenang,” kata kakek sambil memegang bahuku. “Itu tandanya segel mulai terbuka.”

“Segel?”

“Kau tidak lemah. Kau disegel.”

Aku menatapnya dengan mata terbelalak.

“Siapa yang menyegelku?”

Kakek menggeleng. “Itu yang harus kau cari sendiri.”

Angin berhembus lebih kencang.

Awan di langit berputar perlahan, membentuk pusaran kecil tepat di atas rumah kami.

Aku berdiri.

Di dalam dadaku, untuk pertama kalinya… aku merasakan sesuatu.

Hangat.

Berat.

Seperti bara api yang baru menyala.

“Aku akan mencari mereka,” kataku.

Kakek tersenyum bangga.

“Besok, kita mulai latihan yang sesungguhnya.”

Aku menggenggam kalung giok itu.

Di hatiku hanya ada satu tekad:

Aku bukan anak yang dibuang.

Aku adalah pewaris.

Dan aku akan menemukan kebenaran tentang diriku sendiri.

Langit senja perlahan berubah menjadi malam.

Dan di antara bintang-bintang, takdir mulai bergerak.

Lanjut membaca
Lanjut membaca